Seven World Of Fantasy

Seven World Of Fantasy
Chapter 42: Keributan di Kaki Gunung


__ADS_3

Kembali bersamaku, Putri Eliana. Kalian bisa memanggilku Riel karena itu adalah nama panggilanku, atau putri juga tidak apa.


Setelah kami sampai di desa terpencil tempat Momo berasal, sambutan yang kami terima tidak sebaik yang pernah kurasakan di desa lainnya. Kami diberhentikan di gerbang desa, dikerumuni oleh banyak orang, lalu dilemparkan berbagai sumpah serapah oleh meraka.


Mereka menyalahkan Momo atas kejadian diculiknya anak-anak mereka, karena sampai sekarang mereka semua belum ditemukan. Kebencian kepada Momo pun masih belum hilang di hati mereka. Bahkan, kami juga terseret hanya karena datang bersamanya.


Penduduk yang tinggal di desa itu semuanya adalah ras kucing seperti Momo. Namun, bagian terburuknya adalah mereka sama sekali tidak menganggap Momo seperti keluarga mereka.


Aku benar-benar terkejut saat itu.


Saat mengetahui apa yang terjadi diantara mereka, aku jadi merasa sangat kasihan kepada gadis kucing ini. 


Pantas saja Momo bersikeras mencari bantuan untuk menyelamatkan mereka yang dia anggap teman. Kemudian setelah mengetahui kalau mereka sudah aman dan dalam perjalanan pulang, Momo pun tidak lagi ingin ikut pulang bersama mereka.


Aku kira karena semuanya sudah kembali, maka keadaan akan baik-baik saja. Tapi begitu kami sampai ke desa ini, teman-temannya yang dibawa oleh para kesatria itu tidak kunjung datang. Padahal mereka pergi lebih dulu daripada kami.


Akibatnya, seperti yang kalian lihat tadi.


"Tendanya sudah siap!" Roger memanggil kami.


Aku mengajak Momo yang masih duduk termenung di pinggir sungai untuk pergi ke tempat mereka. Sejak tadi dia masih merasa sakit hati karena ditolak oleh rasnya sendiri.


Meskipun aku berasal dari ras yang berbeda, tapi aku dapat merasakan apa yang Momo rasakan sekarang.


Shin dan Roger sudah berada tak jauh dari kami. Ada dua tenda yang berdiri di belakang mereka, dan kereta kuda milik roger terparkir tak jauh darinya.


Karena kami tidak diterima di desa, Shin memutuskan untuk mencari tempat beristirahat di dalam hutan tidak terlalu jauh. Beruntung kami mendapatkan sebuah tempat yang cocok untuk membangun tenda, tak jauh dari jalanan, dan ada air terjun juga di dekat kami.


Karena tujuanku tidak terpenuhi, yaitu membawa Momo pulang ke desa dan keluarganya, sepertinya kali ini aku akan ikut membantu Shin dalam pencariannya. Aku tidak ingin memaksa Momo ikut dengan kami juga, dia sedang terlihat patah semangat.


Sebenarnya masalah kami bertambah banyak sejak tiba di desa ini, yaitu mencari teman-teman Momo yang hilang di dalam perjalanan.


Shin mengatakan kalau mungkin saja mereka dibawa ke tempat lain untuk dijual sebagai budak. Bahkan bagi seorang kesatria, tidak menutup kemungkinan mereka memiliki rencana busuk begitu melihat kesempatan di depan matanya.


Sejak pertama kali bertemu Mika dan Christa, aku sempat mengira kalau para kesatria di dunia ini akan sebaik mereka. Tapi semenjak diriku tahu fakta baru yang mengejutkan itu, persepsiku terhadap kesatria jadi menyimpang cukup jauh.


Mungkin kakak-beradik itu adalah pengecualian, dan yang lain adalah para oknumnya.


"Momo, apakah kau sudah lapar?" Tanyaku. Untuk sedikit menghiburnya, aku mencoba mencari beberapa topik baru. 


"Belum." Momo menjawab singkat sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku akan menyiapkan perapian dan alat memasaknya." Di depan kami, Roger langsung sigap mengambil peralatan memasak.


Dia bilang belum lapar, woi!


Tapi... aku yang sudah lapar. 


Menurutku Momo hanya sedang tidak nafsu makan karena sedang banyak pikiran. Sedangkan aku dan mungkin juga mereka berdua sudah merasakan lapar. Sejak sampai di tempat ini, kami belum sempat beristirahat dan makan siang.


"Aku ingin ke beristirahat duluan." Momo berjalan meninggalkanku dan masuk ke salah satu tenda di depan kami.


"Baiklah. Tidak perlu memaksakan dirimu."


Biarkan saja dia menenangkan dirinya dulu. Nanti saat makanannya sudah siap, aku akan memanggilnya lagi.


"Shin?" Panggilku.


"Ya?" Shin sedang berjalan-jalan tidak jelas di sekitar tenda. Dia memperhatikan rumput tempat kami berpijak, pepohonan di sekitar, dan beberapa jalan menuju tempat lain dari sini.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


"Melihat rumput."


"Kalau itu, anak kecil pun juga tahu."


"Yang jelas, bukan urusanmu."


"Hei!!" Aku merengut sebal.


Dia memang seperti ini, sih. Tapi rasanya masih menyebalkan sewaktu dia menjawab dengan asal pertanyaanku.


Kemudian untuk beberapa saat kedepannya, dia masih sibuk dengan urusannya sendiri. Aku yang sejak tadi memperhatikan namun diacuhkan juga, ya tentu saja tidak senang.


"Ada seseorang di tempat ini sebelum kita."


"Hah?" Aku mendengar jelas apa yang dia katakan. Tapi kalau tiba-tiba ngomong kayak gitu ya membingungkan juga. "Jadi... kau merasa ada yang datang ke tempat ini juga sebelum kita?"


"Ya, dan itu belum lama ini. Aku bisa merasakan jejak aktivitas mereka di sekitar sini, namun anehnya bocah itu menempatkan tenda dan api unggun di posisi yang sama seperti seseorang yang datang sebelum kita."


Mendengar apa yang dikatakan Shin, aku langsung melihat tanah di bawah tenda dan perapian yang sedang Roger siapkan.


Benar juga sih. Meskipun sangat tipis, aku masih bisa melihat permukaan tanah yang sedikit berbeda. Seperti bekas pasak, dan juga tanah yang menghitam.


Orang yang datang sebelum kami sepertinya ingin menghapus jejak mereka di sini. Kemudian mereka berpikir karena tidak akan ada orang yang datang setelahnya, mereka pun tidak menghapus jejaknya secara menyeluruh.

__ADS_1


"Hei, bocah! Apa kau tahu kalau sebelumnya ada yang berkemah di tempat ini juga?" Tanya Shin.


Roger yang sedang mengumpulkan ranting kayu menghampiri kami lebih dekat. "Ya. Aku pun mendirikan tenda dan menyiapkan perapian di tempat mereka sebelumnya. Memangnya apa ada yang salah?"


Shin menatap Roger dengan curiga. Jika dia bertemu dengan orang baru, antara sulit untuk menjadi akrab atau akan sering dicurigai olehnya.


"Kau hanya seorang pedagang, bukan?" Tanya Shin dengan ragu.


"Hah? I-iya, kok. Aku sering bepergian dan berkemah di alam liar seperti ini. Jadi aku sudah terbiasa." Roger menjawab dengan lancar.


Shin terlihat berusaha mencari kebohongan di dalam kata-katanya. Tapi menurutku apa yang dikatakan Roger biasa saja, kok. Dia hanya terlihat seperti pedagang muda pada umumnya, yang mungkin sedikit lebih muda dariku.


Tingginya tidak jauh dariku, dan sifatnya juga masih kekanak-kanakan seperti Momo pada saat tertentu.


"Apa yang ingin kau masak malam ini?"


"Rebusan jamur!"


Tiba-tiba Shin bertanya jauh diluar dugaanku lagi. Setelah membahas kecurigaan di tempat kami berkemah, dia langsung mengganti topik tentang makan malam nanti.


Roger berbalik dan kembali ke hutan untuk mencari kayu bakar. Kurasa aku ingin membantunya juga untuk mengumpulkan jamur. Aku merasa sedikit penasaran dengan sup jamur buatannya.


Ternyata, Roger cukup pandai memasak, lho. Selama kami beristirahat di dalam perjalanan, mungkin aku memakan masakan buatannya paling banyak. Yaa, tunggu saja nanti malam.


Saat aku ingin ikut dengannya ke dalam hutan, Shin tiba-tiba merespon sesuatu dan itu membuatku ikut kaget.


Tak lama kemudian, Momo juga mengintip keluar dari tenda untuk memeriksa apa yang terjadi. Kedua telinga kucingnya berdenyut-denyut dan menghadap ke beberapa arah yang berbeda.


Ada apa ini? Apa mereka berdua merasakan sesuatu yang berbahaya di sekitar sini?


Momo memiliki pendengaran yang cukup tajam, dan Shin adalah petualang berlevel 5. Pengalaman dan refleknya tidak perlu diragukan lagi.


"Di sana!" Momo berseru duluan dan langsung berlari dari tendanya.


Dia berlari masuk ke dalam hutan, disusul oleh Shin tak jauh di belakangnya.


"He-hei! Tunggu aku!"


Di dalam jajaran pohon yang tidak rata, kami bertiga berlari secepat yang kami bisa sambil menghindari halangan yang cukup banyak. Mereka berdua mengejar sesuatu yang pasti, sedangkan aku hanya berlari mengikuti mereka saja.


Sesekali aku tersandung atau menabrak ranting dan semak-semak, namun aku masih bisa menyeimbangkan diri setelahnya karena mulai terbiasa. Juga karena jalanannya yang agak menurun, agak sulit bagiku untuk menyeimbangkan kecepatan.


"He-hei! Kalian berdua! Apa yang sebenarnya terjadi?" Sambil berlari, aku mencoba memanggil mereka. Meskipun mereka tetap sibuk berlari dan menghiraukan pertanyaanku.


Sepertinya tidak lama kami berlari di dalam hutan, lalu tiba di sebuah lereng yang terdapat jalan tak jauh di bawahnya.


Saat melewati jalan itu, aku selalu cemas jika suatu saat kedua lerengnya longsor dan menimpa kereta kuda yang kami tumpangi.


Kalau saat ini, aku melihat ada beberapa kereta kuda yang sedang melewati jalan tersebut. Mereka dikelilingi oleh sekumpulan hewan buas yang menyerupai hyena, dan jumlahnya cukup banyak.


Namun yang menjadi perhatianku adalah, kereta kuda yang ada di hadapan kami memiliki bentuk yang cukup mewah. Kuda-kuda yang menarik kereta itu berwarna putih, dengan dua orang kesatria yang mengendarai setiap keretanya.


"Para kesatria?" Pikirku.


Dan yang terlintas di pikiranku sekarang adalah...


"Mereka ada di dalam sana!" Teriak Momo.


Ya! Teman-temannya Momo yang sedang dalam perjalanan pulang menuju desa mereka. 


Tanpa pikir panjang, Momo ingin segera melompat dan segera menyelamatkan mereka. Aku langsung menarik pundaknya sesaat sebelum dia melompat.


"Hei! Berbahaya jika kau ingin melompat dari sini!"


"Tapi, teman-temanku berada di dalam sana! Aku harus menyelamatkan mereka!" Momo tetap bersikeras untuk pergi.


"Mereka adalah kesatria terlatih. Tidak mungkin kalah jika hanya melawan hewan buas di luar dungeon." Ucap Shin.


Kami mengikuti arahannya untuk memantau sedikit lagi yang terjadi di bawah sana. Meskipun Momo tetap khawatir jika hanya menunggu.


Beberapa kesatria keluar dari kereta untuk menghadapi para hewan buas itu. Namun karena jumlah mereka kalah jauh, mereka terpojokkan dan mulai berada dalam bahaya.


"Shin?" Panggilku.


Sekarang sudah waktunya kita turun tangan! Jika terlambat, teman-temannya Momo bisa terluka. Aku tidak peduli dengan para kesatrianya.


"Sekarang." Jawab Shin.


"ICICLE STRIKE!"


Sesaat setelah Shin memberi arahan, Momo langsung melepaskan sihir yang sudah dia rapal sebelumnya.


"Jangan gunakan sihir itu! Kau bisa melukai yang lainnya." Shin mencoba mencegah, tapi Momo sudah melepas sihirnya dan beberapa lingkaran sihir muncul di sekitar kami.


Dari lingkaran-lingkaran itu, keluar satu persatu panah es yang melesat ke arah kereta kuda.

__ADS_1


Aku juga merasakan hal yang gawat sama seperti seperti Shin.


Saat Momo merapalkan sihir ini dan melepaskannya di markas bandit, semua orang hingga separuh tempat itu beku akibat serangan sihir yang Momo berikan. Hanya Mika yang dapat menghindarinya, itupun dengan teknik yang tidak sembarangan.


Lalu kali ini, ternyata tidak seperti yang kubayangkan terjadi.


Panah-panah es yang diciptakan oleh Momo melesat dengan cepat dan mengenai para hewan buas dengan akurat. Semua anak panah itu mengenai dan membekukan sebagian dari jumlah mereka, juga membuat terkejut para kesatria di sana akibat serangan sihir mendadak entah dari mana.


Shin di sampingku tidak mempedulikan serangan Momo yang ternyata lebih baik dari dugaannya, dan langsung turun untuk segera membantu mereka di sana. Dia melompat dengan berani dari tebing yang cukup tinggi, dan mendarat dengan sempurna.


Momo juga ikut melompat turun.


Dengan cepat anak kucing itu terjatuh ke bawah, lalu menggunakan sihir angin tepat sebelum dia menyentuh tanah. Momo bisa mendarat dengan mulus dan langsung ikut berlari di belakang Shin.


Aku? Aku akan membantu dengan tembakanku dari atas sini saja.


Slash! Slash! Slash!


Dor! Dor! Dor!


Shin ikut bersama para kesatria lainnya untuk menyerang sisa hewan buas yang masih tersisa. Saat kami sudah mendekat, ternyata para hewan itu lebih besar dari seukuran hyena.


Bahkan, menurutku ukuran mereka hampir sebesar singa jantan dewasa. Pantas saja para kesatria kewalahan sewaktu menghadapinya. 


"Lightning Spear!"


Momo merapalkan lagi sihirnya untuk menyerang beberapa dari mereka sekaligus.


Ctarr!!


Dor! Dor! Dor!


Dari atas, aku memberi bantuan tembakan kepada hewan yang ingin menyerang. Pistol milikku kali ini sangat terasa keefektifannya. Satu peluru saja bisa langsung melukai hewan-hewan besar itu dengan cukup fatal.


Namun, aku agak kesulitan mengatur hentakan yang diakibatkan oleh pistol ini. Karena tenaganya cukup kuat, recoil-nya juga cukup menggangguku untuk menembak dengan akurat.


Berkat bantuan skill pasif, aku dapat menghindari peluru yang kutembakkan mengenai para kesatria atau kereta kuda.


Roaaarrrr!!!


Beberapa dari mereka mengaum, yang mana aumannya itu mirip dengan singa. Setelah itu yang tersisa dari mereka pergi melarikan diri dari tempat kami. Tersisa belasan dari mereka yang beku, atau mati terbunuh oleh kami.


Aku ingin melompat turun juga ke tempat mereka. Tapi begitu sekali lagi melihat ketinggian tebingnya hingga dasar, aku mengurungkan niatku lagi.


"Kalian semua tidak apa-apa?" Tanyaku dari atas.


"Ya!" Salah seorang kesatria menjawabku. "Kalian bertiga. Terima kasih karena telah membantu kami." Orang itu memberi hormat, diikuti oleh kesatria yang lainnya.


"Tuan kesatria?" Panggil Momo. "Apa teman-temanku ada di dalam kereta?"


Kesatria itu menatap Momo dan seperti baru menyadari sesuatu.


"He! Kau juga salah satu ras kucing seperti mereka? Kau yang baru saja merapalkan sihir, bukan?"


"Ya, itu aku. Tapi tolong jawab pertanyaanku."


"Ah! I-iya. Teman-temanmu ada di dalam sana. Kami sedang mengantarkan mereka menuju desa mereka." Jawabnya.


"Haa, syukurlah." Momo bernafas lega.


"Tenang saja, semuanya. Keadaan sudah aman terkendali. Sekarang kita dapat melanjutkan kembali perjalanan menuju desa kalian." Seorang kesatria lain memberi instruksi pada orang-orang yang ada di dalam gerbong kereta. Mereka pasti teman-temannya Momo.


"Syukurlah. Terima kasih, tuan kesatria." Jawab beberapa suara dari dalam.


Meskipun sudah tahu ada teman-temannya di dalam sana, Momo tetap tidak mau menghampiri mereka.


"Kau, kau pasti Shin Raiden 'kan?" Kesatria itu menyapa Shin.


"Ya, itu aku."


"Wah! Apa yang dilakukan petualang sepertimu di tempat ini?"


Sebentar. Biar kutebak apa yang akan dia jawab.


"Bertualang."


Ha!? Tu-tunggu. Seharusnya kau menjawab 'bukan urusanmu, bukan urusanmu'.


"Ah, iya. Kau adalah seorang petualang, ya. Untuk apa aku menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu sih?" Kesatria itu menggaruk-garuk belakang helmnya. "Sekali lagi kami berterima kasih. Tanpa kalian, hewan-hewan buas itu pasti sudah melukai kami."


"Tidak perlu berterima kasih. Kami hanya berniat membantu." Jawab Shin dengan formal. "Hoi, Riel! Kau tidak ingin turun?"


"Eh," dia tiba-tiba memanggilku. "Te-tebing ini cukup tinggi. Mungkin aku akan menemui kalian di ujung jalan."


"Hanya setinggi pohon. Momo bahkan bisa melompat ke bawah, masa kau tidak." Sahutnya lagi.

__ADS_1


Setelah itu, sekali lagi aku berniat untuk melompat dari atas tebing ini. Bahkan Momo hingga merentangkan tangannya seperti akan menangkapku.


Tapi... tapi tetap saja aku tidak berani!


__ADS_2