
"Lepaskan! Lepaskan aku!" Teriak seorang gadis.
"Berisik kau! Jangan melawan!" Bentak seorang pria.
Orang-orang itu sangat berisik dan mengganggu tidurku. Awalnya aku mengira itu hanyalah sebuah mimpi, tapi aku mulai terbangun dan menyadari kalau suara itu memang sungguhan.
Aku mendengar suara jeruji besi yang menderit kasar. Bandit itu membuka pintu penjara dan memaksa masuk seseorang yang dibawanya.
"Di sini tidak akan ada yang bisa menemukan kalian. Jadi nikmatilah sisa waktu bersama teman barumu." Kata bandit tersebut.
Setelah gadis yang dibawanya sudah masuk ke dalam penjara, dia kembali mengunci pintunya dan beranjak pergi dari tempat ini.
"Tunggu! Aku mohon lepaskan aku. Aku ingin pulang kembali ke rumahku, aku tidak ingin berada di tempat ini..." Gadis itu terus meratap sambil memegangi jeruji besi.
"Hah! Kalau begitu berharaplah keluargamu akan datang dengan membawa banyak uang, atau kau akan dibeli lebih dulu pelanggan kami yang lain. Hahaha!"
"Tidak... Aku mohon..."
"Menangis dan berteriaklah sepuasmu di tempat ini. Tidak ada siapapun di dalam hutan ini kecuali kami. Dadah"
Bandit itu akhirnya pergi setelah basa-basi yang menjengkelkan. Aku dapat mendengar suara bantingan pintu dari ujung ruangan, yang terus bergema di penjara bawah tanah ini.
"Hiks, hiks... aku ingin pulang ke rumah. Hiks, hiks..." Gadis itu masih saja menangis.
Dia memiliki rambut pirang sebahu dan memakai kacamata bulat. Pakaiannya terlihat seperti seragam kesatria berwarna putih dengan motif emas dan biru, namun bawahan yang dia pakai adalah celana.
"Hei, kau." Panggilku.
Gadis itu menengok ke arahku dengan ketakutan. Tubuhnya gemetaran dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Di matanya juga terlihat bekas tangisan yang masih baru.
"Aku turut kasihan padamu, tapi tidak ada gunanya kau meratap seperti itu." Ucapku masih dalam posisi tiduran. Aku sudah mengira kejadian seperti ini akan terjadi, meski tidak terpikirkan olehku jika seorang gadis kesatrialah yang akan ditangkap oleh mereka.
"Kemarilah, duduk bersama kami. Ceritakanlah apa yang membuatmu bisa sampai tertangkap oleh mereka. Kita para gadis mungkin bisa berbagi cerita satu sama lain."
Aku tenang sekali padahal sedang diculik oleh para bandit. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan mereka padaku cepat atau lambat, tapi tidak ada gunanya juga berpasrah diri pada situasi ini. Jadi mengobrol dengan pendatang baru mungkin akan sedikit mencerahkan pikiranku.
Momo sudah bangun lebih dulu dariku. Dia pasti dapat mendengar suara berisik keributan tadi dari kejauhan. Sekarang dia berada di sampingku sedang menatap gadis itu.
"Kak Riel."
"Hmm?"
"Aku mencium suatu aroma yang aneh darinya."
"Hah?" Aku tidak mengerti maksudnya. Apa gadis itu belum mandi selama tiga hari? Kalau begitu penciumanmu berbahaya juga, ya.
"Maaf." Gadis itu akhirnya berbicara. "Tapi... aku adalah seorang laki-laki."
Ohh...
Begitu rupanya.
Pantas saja Momo mencium aroma yang tidak biasa darinya. Momo dapat membedakan aroma perempuan dan juga laki-laki. Maka dia mengoreksi perkataanku tadi yang menganggap kita semua gadis, karena yang kuanggap gadis ini ternyata adalah laki-laki.
Yaa, istilahnya adalah karakter trap. Meski begitu, dari tubuhnya jelas juga sih kalau dia bukan perempuan, terutama bagian yang hilang dari pandanganku ini.
Hanya sebuah papan cucian.
...
Bruk!
Aku memojokkannya ke jeruji dan menatap dengan lamat wajah cantik ini.
"Bohong." Kataku.
"A-aku, aku tidak berbohong! Aku adalah seorang laki-laki!" Bantahnya. Suaranya sangat mirip dengan perempuan.
Ini mimpi 'kan? Seseorang yang cantik di depanku ini adalah perempuan sungguhan 'kan? Tidak mungkin aku berpindah dunia lagi setelah tertangkap oleh para bandit, lalu tiba ke dunia baru dimana laki-lakinya cantik.
Momo berjongkok di sampingku dan mengecek sesuatu...
"Ada."
"Kyaaa!!" Gadis... maksudku laki-laki itu berteriak dan melepaskan dirinya dari kami. "Mesum! Kalian semua mesum! Anak kecil tidak boleh memegang sembarangan punya seseorang!"
__ADS_1
"Jika sudah besar, apa aku boleh memegangnya?"
"Tidak boleh juga!!"
"Hmmm, berarti memang masih kecil."
"Bukan begitu!!"
Sementara mereka berdua berdebat, aku masih tidak percaya dengan orang yang baru datang ini. Mungkin para bandit itu juga salah mengira dan menangkapnya tanpa dicek terlebih dahulu.
Aku mencubit pipiku dan sudah bisa merasakan sakit. Okeh, ini bukan mimpi. Cowok cantik di depanku ini memang benar-benar real no fake.
"Siapa namamu?" Tanyaku.
Gadis... maksudku laki-laki yang masih berusaha menghindari Momo itu mulai melihat ke arahku. Momo juga sudah berhenti berbuat iseng agar dia bisa memberitahukan namanya.
"Namaku... Mika."
Mika, ya. Namanya saja agak feminim buatku.
Aku dan Momo membiarkannya dulu sebentar agar dia tenang kembali. Berhasil sih, dia tidak lagi meratap seperti saat pertama kali dimasukkan ke penjara ini. Dengan begitu kami dapat berbicara dengan lebih nyaman kedepannya.
"Namaku Riel. Begitulah orang-orang memanggilku."
"Aku Momo."
Kami lanjut mengenalkan diri kepada Mika. Dia sepertinya mulai sedikit terbuka kepada kami, itu lebih baik daripada mengajaknya berbicara saat masih menangis tadi.
Mika terlihat masih ketakutan begitu kami menghampiri. Tapi setelah kami duduk di dekatnya, dia tidak lari atau berteriak lagi seperti tadi.
"Apa yang terjadi dengan kalian berdua?" Tanya Mika.
Yess! Dia sudah tidak ragu untuk bertanya.
"Kami berdua sebenarnya ingin menyelamatkan teman-teman Momo yang diculik oleh para bandit. Tapi kami malah tertangkap oleh mereka, dan tidak menemukan teman-temannya juga di sini. Konyol bukan?" Jawabku.
"Teman-teman gadis kucing ini ditangkap oleh para bandit?" Mika terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Tapi kemarin aku melihat sekelompok anak-anak ras kucing datang ke kantor kesatria di Kota Deedalee. Sepertinya mereka sudah terselamatkan."
"Mereka semua selamat?" Tanya Momo tidak percaya.
"Sepertinya begitu. Mereka semua memiliki telinga kucing yang sama denganmu."
Jadi, usahaku menolongnya sia-sia dong?
Jadi perintah dari dewa itu tidak ada maksud tujuannya dong?
Untuk apa aku repot-repot mengorbankan diri pergi ke markas bandit jika mereka semua pada akhirnya akan selamat?
"Kak Riel." Panggil Momo. "Maafkan aku karena telah memintamu melakukan hal yang sia-sia ini. Mereka semua sudah selamat, tapi aku malah membuat keadaan kita menjadi lebih buruk."
Momo hampir menangis saat mengatakannya.
Apa yang aku pikirkan tadi? Seharusnya niatku untuk membantu Momo tulus tanpa pamrih. Tapi kenapa aku sempat merasakan penyesalan di dalam pikiranku?
Mika tidak berkata apapun. Dia tidak tahu masalah kami dan tidak bisa memberi masukan apapun kepada Momo.
"Tidak apa-apa, Momo. Setidaknya mereka semua sudah selamat dan tinggal kita yang harus menyelamatkan diri dari sini. Aku yakin pasti ada jalan jika kita berusaha." Mendadak aku menjadi seperti orang bijak.
"Benarkah?"
"Ya, asal kita mau berusaha."
"Terima kasih, Kak Riel."
Momo memelukku dengan tubuh kecilnya. Dia juga masih cengeng jika dihadapi dengan suatu masalah baru. Aku jadi teringat orang cengeng lainnya saat tiba pertama kali di dunia ini.
Mika terlihat iba kepada kami, tapi aku merasa lebih iba kepadanya. Ditangkap oleh bandit karena dianggap perempuan cantik pasti membuatnya berharap tidak pernah terlahir.
"Hei, Mika." Panggilku.
"Y-ya?" Dia seperti tersadar dari lamunan.
"Bagaimana ceritanya kau bisa diculik oleh mereka? Jangan katakan mereka menculikmu karena menganggapmu perempuan."
"Ituu..." Mika malu-malu untuk menjawabnya. "Aku sedang kembali dari ekspedisi bersama kelompokku di dalam hutan, lalu kami terpisah karena bertemu dengan hewan buas di tengah jalan."
__ADS_1
"Kelompok? Kau ini seorang kesatria?" Tanyaku.
"Bukan. Aku hanya seorang petualang."
"Kelompok yang kau maksud itu, party?"
"Iya. Itu maksudku."
Hooh. Aku sempat mengira Mika sebagai kesatria karena pakaiannya terlalu bagus untuk seorang petualang. Mungkin saja dia anak orang kaya, makanya pakaian dan penampilannya terlihat sangat baik.
"Lalu, kau bertemu dengan bandit saat berpisah dengan teman-temanmu?"
"Iya. Mereka menyergapku dan menangkapku saat itu juga. Aku dibawa cukup jauh hingga tidak tahu sekarang ada dimana."
Ya. Para bandit itu pasti melepas hewan buas tersebut, memisahkan kalian, lalu menangkapmu. Mereka sudah mengincarmu sejak awal karena wajahmu yang penuh kebohongan itu.
Artinya kau ditangkap karena mereka memang menganggapmu sebagai perempuan!
Ckckck. Aku turut prihatin dengan nasibmu yang jauh lebih mengenaskan. Hidupmu juga pasti tersiksa karena tidak bisa masuk ke dalam toilet laki-laki.
Saat kami sedang diam satu sama lain, Mika melirik ke paha kananku yang dibaluti kain dengan noda darah.
"Apa kakimu terluka, Riel?" Tanyanya khawatir.
"Eh? Iya. Tapi sudah lebih baik setelah dibersihkan dengan Holy Water."
"Aku bisa menggunakan sihir penyembuhan dasar. Apa kau mau menerimanya?"
"Sihir penyembuhan? Wah, boleh dong!" Aku menjulurkan kaki kananku dan Momo sedikit memberi jarak diantara kami. Setelah itu Mika mendekatkan tangannya di atas pahaku dan mulai merapalkan sebuah mantra.
"Oh ibu pertiwi yang penuh belas kasih. Limpahkanlah karuniamu atas luka yang terdapat pada tubuh rapuh ini. Heal."
Sebuah cahaya hangat muncul dari telapak tangan Mika. Aku juga merasakan sensasi aneh seperti sesuatu yang bergerak di sekitar kulit lukaku, tapi setelah itu rasanya berubah menjadi lebih nyaman dan menenangkan.
"Itukah sihir penyembuhan? Kereen." Momo terkesan sewaktu melihatnya.
"Aku hanya bisa menggunakan itu saja. Karena spesialisasiku bukan di bidang penyembuhan."
"Tidak apa. Aku sudah sangat berterima kasih karena sudah menyembuhkan lukaku." Setelah itu aku mencoba membuka balutan kainnya, dan tidak menemukan bekas luka apapun di kulit pahaku. Seperti hilang begitu saja bersama rasa sakitnya.
Yosh! Aku merasa jauh lebih baik sekarang.
"Mika!"
"Y-ya?"
"Apa senjata yang biasanya kau gunakan?"
"Hmm, pedang dan perisai."
Baiklah. Meski tampangnya seperti seorang gadis, dia tetap memiliki harga diri dari senjata yang digunakannya. Sekarang luka di pahaku sudah sembuh dan kami juga sudah cukup beristirahat semalaman.
Mika memang baru datang ke tempat ini, tapi dia pasti tidak akan mengeluh karena dirinya adalah seorang laki-laki. Jadi aku tidak akan segan untuk memintanya langsung bergerak kembali.
"Baiklah, dengarkan aku semuanya. Kita akan akan kabur dari tempat ini."
"Heh? Memangnya bisa? Penjara ini terbuat dari besi dan juga terkunci rapat. Tidak ada celah juga di setiap dindingnya." Kata Mika.
Hoo. Kau rupanya bisa memperhatikan sekitar dengan cepat juga, ya. Aku mulai sedikit terkesan dengannya.
"Tenang saja. Kita akan keluar dari pintu ini, dan mengalahkan para bandit itu."
"Bagaimana dengan mereka yang juga diculik, Kak Riel?" Tanya Momo.
"Aku rasa kita harus memanggil bantuan dan kembali lagi ke sini sebelum mereka dipindahkan. Bagaimanapun juga, kita bertiga tidak akan mampu melawan semua bandit, apalagi jika pemimpin mereka datang."
"Tidak perlu." Ucap Mika. "Cukup cari senjataku yang diambil mereka, lalu aku akan mengalahkan mereka semua!"
"Wow, wow tahan dulu. Kau saja bisa semudah itu tertangkap oleh mereka."
"Itu karena aku disergap dari belakang! Jika mereka melawanku dari depan, aku pasti percaya diri dengan kemampuanku."
Baiklah, baiklah. Jadi di sini kita memiliki seorang garis depan, penyerang jarak jauh, dan penyihir kucing. Tapi sebelum menyerang, kita harus mencari dulu senjata yang disembunyikan oleh para bandit.
Di dalam kelompok ini ada yang bisa merapalkan sihir penyembuhan. Jadi aku semakin percaya diri untuk melakukan penyerang di dalam markas mereka sekalipun.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau lakukan sekarang, Kak Riel?" Tanya Momo.
"Yang jelas, para bandit itu sudah menculik orang yang salah."