
"Momo?" Panggil Master.
"Ya?" Sahutku.
"Apa tubuhmu masih terasa tidak enak?"
"Mhmm." Aku menggeleng. "Sepertinya sudah baik-baik saja."
"Haah, syukurlah." Master bernafas lega.
"Oh iya, Master. Aku ingin bertanya sesuatu tentang latihanku."
"Hmm, apa itu? Katakan saja."
Ini sudah hari ketiga sejak aku meminum sekotak penuh ramuan itu. Karena rasanya manis, aku ketagihan sampai tidak sengaja meminum habis semuanya.
Kemudian setelah itu aku merasa dunia seakan berputar, dan terjatuh akibat kehilangan keseimbangan. Aku juga melihat ada naga susu yang terbang di atas langit.
Tak lama berselang Master datang dan merapalkan sihir penyembuhannya kepadaku. Sakit di kepalaku hilang, dan naga susu yang terbang di atas langit tadi juga lenyap. Namun setelah itu aku muntah-muntah dan mengalami sakit perut yang teramat sangat.
Dan sekarang, aku sudah sembuh. Hanya saja aku merasa seperti ada yang berubah dengan diriku.
"Kemarin aku berlatih menggunakan sihir seperti biasanya,"
"Yaa?"
"Lalu tanpa sengaja aku membekukan air terjunnya!"
"Waa!!" Master terkejut hingga menutup mulutnya, yang padahal dia menggunakan topeng. "Maksudmu. Maksudmu sekarang kau bisa merapalkan mantra sihir selain sihir air?"
"Ya!"
"Itu... Itu sungguh luar biasa! Momo sangat hebaat!!" Master meraih tanganku dan melompat-lompat kegirangan.
"Aneh. Kasus overdosis ramuan mana biasanya dapat merusak kualitas dan kapasitas mana seseorang. Tapi kali ini malah membuat penggunanya bisa menggunakan jenis sihir yang berbeda." Kata temannya Master.
"Ya! Itu juga bisa berarti mana yang berada di dalam tubuh Momo menjadi lebih baik sekarang. Selain kapasitas manamu yang dapat berkali-kali lipat, proses regenerasi hingga pengaplikasiannya pun bisa meningkat jauh baik!" Master menambahkan.
"Regenerasi? Pengaplikasi? Apakah itu artinya Momo bisa menjadi lebih hebat?"
"Benar, Momo! Jika kau terus berlatih dengan sungguh-sungguh, kau bisa menjadi penyihir hebat yang melampauiku suatu hari nanti."
"Momo bisa menjadi hebat seperti Master?"
"Aku bilang menjadi hebat, dan juga dapat melampauiku." Master mencubit pipiku.
"Hebat! Hebat! Momo ingin berlatih lebih keras mulai dari sekarang!" Dengan mantap, aku mengambil buku sihir milik Master dan berlari menuju tempat biasanya aku berlatih.
"Hati-hati, Momo! Jika kau bisa menggunakan sihir api juga, jangan coba-coba membakar hutan, ya!"
"Master! Apakah aku boleh meminum satu kotak minuman manis itu lagi?"
"Tidak boleh. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya."
Saat mengetahui aku bisa menjadi penyihir yang hebat melebihi master, aku mulai berlatih lebih giat lagi setiap harinya di air terjun. Aku menghafalkan mantra, lalu merapalkannya, dan melakukannya berulang-ulang.
Sejauh ini, aku bisa menggunakan sihir air yang kupelajari pertama kali bersama Master. Kemudian saat aku mencoba-coba merapalkan mantra sihir angin, aku juga bisa menggunakan beberapa mantra tingkat dasarnya.
Puncaknya, saat aku mencoba merapalkan mantra gabungan dari sihir air dan angin, aku bisa membekukan air sungai yang ada di tempat latihanku!
Aku berlatih sihir dari pagi hingga siang, beristirahat sebentar, lalu lanjut latihan lagi hingga sorenya. Dalam sehari aku bisa merapalkan mantra sebanyak delapan hingga sepuluh kali! Jika rapalan berturut-turut, aku bisa merapalkan sebanyak tiga mantra saja.
Seperti yang Master katakan sebelumnya. Proses pemulihan mana milikku sekarang lebih cepat dari biasanya. Selain karena faktor banyak makan dan cukup istirahat, seringnya aku berlatih ternyata juga bisa meningkatkan kapasitas mana milikku.
Setelah itu, tak terasa sudah satu bulan sejak pertama kali aku bertemu dengan Master dan berlatih sihir bersama mereka. Kata Master, sekarang aku sudah menjadi penyihir yang cukup hebat.
Namun, hari itu juga Master bilang adalah hari terakhirnya menjelajah di reruntuhan. Selepas itu, Master dan temannya akan pergi meninggalkan hutan ini.
"Master?" Panggilku.
"Ada apa, Momo? Maaf, ya. Jika kau ingin meminta untuk ikut bersama kami, maka aku tidak bisa melakukannya."
"Ya. Kau memiliki keluarga yang menunggumu di rumah, bukan? Kami juga tidak bisa membawa seorang anak kecil dalam perjalan kami yang berbahaya."
Aku tidak punya keluarga. Kemudian, aku juga sudah bukan anak kecil lagi.
Sekarang aku bisa menggunakan sihir. Sekarang aku bisa melindungi diri sendiri. Namun, bukannya aku ingin ikut pergi bersama dengan mereka dan meninggalkan desaku begitu saja.
"Aku..." Master dan temannya mendengarkan apa yang ingin aku ucapkan. "Izinkan aku ikut bersama kalian ke reruntuhan! Sekali saja!"
Mereka berdua nampak terkejut dengan yang barusan aku katakan.
"Apa tidak apa-apa? Di dalam sana penjaganya sudah kita habisi 'kan?" Bisik Master kepada temannya.
"Ya. Hanya tersisa beberapa monster kecil. Mungkin itu bisa menjadi latihannya juga untuk menyerang menggunakan sihir."
Aku dapat mendengar apa saja yang mereka bisikkan, karena telinga kucingku cukup sensitif dengan suara yang kecil ataupun jauh.
"Baiklah, Momo. Ayo ikut kami ke pintu masuk reruntuhan. Kita akan jalan-jalan di dalamnya sebentar, dan membasmi beberapa monster bersama." Jawab master.
"Baik!"
Setelah sedikit persiapan, kami bertiga berangkat menuju reruntuhan tempat Master dan temannya menjelajah setiap hari. Karena Mereka sudah menemukan apa yang mereka cari di dalam sana, otomatis mereka sudah mengalahkan sebagian besar monster yang mereka temui selama di perjalanan, dan menyisakan sedikit yang lemah.
__ADS_1
Letak reruntuhan itu tidak terlalu jauh dari tempat berkemah. Sekitar setengah jam berjalan kaki menyusuri hutan, lalu akan terlihat pintu masuk berupa berupa mulut gua yang terletak di bawah tebing curam. Saat aku perhatikan lebih lama, pintu masuk reruntuhan itu ternyata bukan sekadar mulut gua biasa.
Terdapat dua buah pilar batu di pintunya dengan ukiran unik yang menurutku cantik. Lantai di sekitar tempat itu juga terlihat seperti tersusun dari batu dengan motif yang mirip, hanya saja sudah hancur sebagian. Kemudian aku juga bisa merasakan aliran mana yang kuat mengalir dari dalam gua tersebut.
"Apa kau bisa merasakan aliran energi sihir dari dalam sana?" Tanya Master.
"Ya! Aku bisa merasakannya! Rasanya sangat kuat hingga membuatku merinding."
"Benarkah? Hehe, sebelumnya bahkan lebih kuat dari ini, lho. Karena penjaganya sudah kami kalahkan, energi yang keluar dari dalam sana berkurang hingga separuhnya."
"Ayo kita masuk, Master!"
"Apa kau tidak ketakutan? Monster di dalam sana cukup besar untuk memakanmu." Tanya temannya.
"Aku akan membuat mereka lebih ketakutan, karena aku yang akan memakan mereka!" Balasku.
"Itu adalah semangat yang hebat." Tambahnya.
Kami bertiga pun masuk ke dalam sana, lalu tiba di lantai pertama reruntuhan. Di dalam sini tidak segelap perkiraanku sebelumnya. Aku dapat melihat langit-langit gua yang cukup besar dan luas, serta beberapa bangunan hancur di dalam. Tempat ini seperti kota mati di dalam gua.
"Baiklah. Ada satu monster yang datang ke arah kita. Kau sudah siap, Momo?"
"Hm!"
Tak lama kemudian, seekor kalajengking raksasa datang dengan cepat ke arah kami. Dia hanya sendiri, dan ukurannya sebesar temannya Master. Selagi dia masih jauh, aku menggunakan kesempatan ini untuk merapalkan mantra sihirku.
"Water Ball!"
Bum!
Serangan bola air yang besar menghantam dan membuat kalajengking itu terpental. Monster itu menabrak tembok di belakangnya hingga runtuh sebagian, namun masih bisa bangkit setelah terkena serangan sihirku.
"Kau tidak bisa melukainya hanya dengan air, Momo. Coba gunakan serangan sihirmu yang lainnya."
"Baiklah!"
Kalajengking itu kembali datang, namun diikuti dengan beberapa monster lainnya. Suara berisik tadi menarik perhatian banyak monster di sekitar kami. Sekarang di depanku ada seekor kalajengking, laba-laba, dan dua ekor semut. Semuanya berukuran besar.
Aku mulai merapalkan mantra lain yang kupelajari dari buku sihir milik Master.
"Icicle Strike!"
Aku membentuk sebuah es berbentuk tombak, dan menembakkannya ke para monster itu.
Whush! Whush!
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!
Hebat!
Aku sempat melirik ke arah Master. Aku berharap dia akan bangga melihatku mengalahkan keempat monster tadi. Tapi, karena mereka berdua memakai topeng, aku jadi tidak dapat membaca ekspresi mereka.
Shaaaa!!
Tiba-tiba seekor ular besar menerjang kami dari belakang. Warnanya hitam keunguan, dan di bagian kepalanya agak melebar seperti ular cobra. Atau jangan-jangan itu memang ular cobra!
"Awas, Master!"
Aku berusaha memperingatkan mereka. Tapi entah mereka tidak mendengarku atau apa, mereka berdua tidak bergerak sama sekali. Jika mereka tidak menghindar, ular besar itu bisa memakan Master dan temannya!
Dengan reflek, aku merapalkan sebuah mantra yang singkat dan mungkin akan berguna di situasi seperti ini.
"Wind Blow!"
Whuush!!
Bug! Bug! Bug!
Aku merapalkan sihir angin dan mengarahkannya untuk menyerang ular itu. Karena di sekitar kami banyak reruntuhan, beberapa bongkahan batu besar ikut terhempas bersama angin yang kubuat dan menghantam telak ular tersebut.
Aku berhasil menggagalkan serangannya, dan menyelamatkan Master bersama temannya. Ular itu sekarang sempoyongan, dan sekaranglah saatnya aku merapalkan mantra penghabisan kepada monster jahat itu!
"Lighting Arrow!!"
BZZZZZTTT!!!
CTAR!!!
Sebuah panah dari petir melesat dan menembus kepala ular itu.
Ular tersebut terjatuh, lalu perlahan berubah menjadi kepulan asap dan menjatuhkan kristal yang sama seperti yang lainnya.
"Ha, ha, aku berhasil!" Dengan nafas terengah-engah, aku mencoba menahan tubuhku yang rasanya akan terjatuh.
"Aku tidak menyangka kau bisa sehebat itu, Momo." Ucap Master.
"Melebihi dugaanku. Kau bahkan lebih hebat dari para penyihir pemula di kerajaan."
"Benarkah?"
"Ya! Sekarang ayo kita pulang. Nampaknya batas rapalan berantaimu hingga empat kali saja." Master memeluk dan menggendongku di atasnya.
__ADS_1
Aku digendong oleh Master!? Betapa bahagianya aku.
Sorenya kami sampai di kemah, dan Master serta temannya mulai mengemasi barang-barang mereka. Tenda mereka sudah turunkan, perapian sudah dipadamkan, dan barang-barang sudah dirapihkan.
Aku hanya bisa memperhatikan mereka dari tempatku berdiri sambil memegangi buku catatan yang diberikan Master untukku. Dia bilang aku boleh memegangnya, dan dia juga menyuruhku untuk tidak pernah berhenti berlatih seterusnya.
Saat semuanya sudah rapih, Master berjalan menghampiriku.
"Kami akan pergi, Momo."
"Biarkan aku ikut." Pintaku.
"Tidak boleh. Kau masih memilki tempat dimana terdapat orang-orang yang akan menunggumu."
"Tidak. Tidak ada yang menungguku. Aku... Aku tidak memiliki siapapun di desa, bahkan... kedua orang tuaku..."
Master dan temannya saling menatap satu sama lain. Temannya menggeleng pelan, dan Master mengangguk dengan berat.
"Kau pasti akan menemukan tempatmu di sana. Sejauh ini kau bisa melewatinya, bukan? Teman-temanmu, paman atau bibimu, atau tetua desa di sana. Mereka pasti selalu ada untukmu."
"Aku... Aku..." Aku menggelengkan kepalaku, menolak semua yang Master katakan.
Tidak ada yang bisa kusebut teman di desa. Tidak ada paman maupun bibi yang masih kumiliki. Aku hanya hidup sebatang kara di rumah, sendirian di kamar, dan... dan...
"Sekarang kau sudah bisa menggunakan sihir 'kan? Sekarang kau sudah menjadi penyihir yang sangat hebat. Kau bisa menggunakan sihir itu untuk membantu penduduk desa, hingga melindungi teman-temanmu dari bahaya."
"Master... Aku... aku..."
"Berjanjilah padaku, jangan gunakan sihir yang kau pelajari untuk menyakiti seseorang yang kau benci. Kecuali jika dia memang orang jahat yang mengancam nyawamu. Gunakanlah untuk melindungi diri sendiri dan juga orang yang kau sayangi."
"Baiklah." Tanpa sadar aku menjawabnya begitu saja. Padahal... padahal aku sama sekali tidak memiliki seseorang yang aku sayangi.
Kecuali... Master.
"Sampai jumpa, Momo."
Mereka berdua pergi. Saat hari sudah menjelang malam, mereka semakin hilang di balik pepohonan.
Aku terus terdiam di tempatku berdiri, masih memegang erat catatan yang diberikan Master untukku.
Sejak tadi wajahku sudah basah dengan air mata. Aku selalu mengelapnya saat sudah membanjiri mataku, agar tidak menghalangiku untuk melihat kepergian Master bersama temannya.
Matahari sudah tenggelam, dan aku masih berdiri di sana seperti patung. Kedinginan, dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke desa.
Dengan sihir yang kumiliki ini, semoga bisa bermanfaat bagi orang-orang di desa, dan semoga aku bisa mendapatkan banyak teman baru setelah ini.
***
Namun, kenyataannya tidak sesuai keinginanku.
"Apa-apaan kau!? Kenapa kau bisa menggunakan kekuatan terkutuk seperti itu?"
"Momo? Selama ini kau merahasiakannya dari kami? Jangan-jangan kau memiliki suatu niatan buruk kepada desamu sendiri?"
"Dari mana kau belajar hal seperti itu? Katakan padaku! Kau pasti diam-diam berhubungan dengan orang luar dan memberitahu keberadaan desa kami!"
Semua orang mulai mencaci-maki diriku. Padahal ketika itu aku hanya membantu mereka menyirami tanaman dengan sihir air, mencabuti rumput liar dengan sihir angin, serta menyelamatkan seorang anak yang hampir tertimpa bongkahan batu dengan sihir petir.
Tanpa kusadari, semua orang mulai mengelilingiku dari berbagai arah. Mereka melempari dengan kata-kata hujatan, bahkan juga dengan batu kerikil kepadaku.
"Kami tidak menerima penyihir di desa kami!"
"Mereka adalah orang-orang terkutuk! Kau sama saja seperti para manusia!"
"Pantas saja kedua orang tuamu sangat mencurigakan. Sebuah keberuntungan mereka berdua pergi meninggalkan desa, tapi rupanya anak mereka juga sama saja."
Tidak! Jangan bawa-bawa kedua orang tuaku dalam masalah ini!
Mereka tidak ada kaitannya! Mereka tidak mempelajari sihir sepertiku! Mereka adalah penduduk desa biasa seperti kalian!
"Pergi!" Ucap salah seorang anak seumuranku.
"Tinggalkan desa kami!"
"Kami tidak ingin berteman dengan penyihir berbahaya seperti dirimu!" Bahkan gadis yang baik di depanku, kini melempar tatapan jijik kepadaku?
Aku ingin menangis. Kenapa... kenapa mereka semua menghujatku?
Padahal... padahal aku hanya ingin lebih berguna untuk mereka.
Aku juga ingin memiliki teman!
"Wah, wah, wah. Lihatlah! Ada banyak sekali benih emas di tempat ini."
Suara seseorang yang tiba-tiba datang membuat kami semua terkejut.
"Si-siapa kalian!?"
Dari arah pintu masuk desa, datang beberapa kereta kuda ke dalam desa kami. Dari dalamnya turun banyak sekali orang-orang menyeramkan dengan tubuh yang lebih besar dari ras kami.
Mereka semua...
"Manusia!!"
__ADS_1
Seorang dari mereka yang tadi berbicara, menatap kami semua dengan seringaian yang menyeramkan.
"Tangkap semua anak-anak di desa ini."