
Setelah keributan di kaki gunung tadi, aku dan yang lainnya menuntun para kesatria menuju desa ras kucing. Sebuah kebetulan yang mengejutkan kami bertemu dengan mereka di sini.
Sebelumnya aku mengira para kesatria itu memperlakukan sesuatu yang buruk kepada teman-temannya Momo. Apalagi Shin juga berpikiran yang sama denganku. Dia terlihat seperti membenci para kesatria.
Kemudian saat aku mengingat kembali bagaimana desa ras kucing memperlakukan Momo, aku jadi berpikir apakah teman-temannya juga sama.
Maksudku, Momo dikucilkan para penduduk desa karena dia menjadi penyebab penculikan tersebut. Itulah yang kutangkap sewaktu kami pertama kali tiba di desa.
Sejauh ini Momo masih belum menceritakan apapun tentang dirinya, desanya, dan apa yang menimpanya dengan lebih detail. Jadi aku cukup terkejut saat mengetahuinya.
"Jadi, apa kalian sedang menjalankan sebuah permintaan, atau hanya sebuah petualangan biasa?" Kesatria itu bertanya kepada Shin.
Melihat dirinya diajak bicara, Shin hanya melirik sebentar lalu memperlambat langkahnya. Sekarang akulah yang berhadapan dengan kesatria itu. Singkat kata, dia menyuruhku meladeninya bicara.
"Aah... semacam itulah." Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Daripada berbohong, beri jawaban yang menggantung saja.
"Oh, begitukah? Menjadi petualang sangat menyenangkan, ya." Keluh kesatria itu.
"Hmm? Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Sebelum menjadi kesatria, dulunya aku juga sangat ingin menjadi petualang. Tapi karena saudara-saudara di dalam keluargaku mengabdi kepada kerajaan, mau tidak mau aku juga harus mengikuti jalan mereka."
"Waah! Apakah kau berasal dari keluarga bangsawan?" Tanyaku.
"Ya, begitulah. Meski terdengar hebat, tapi tidak terlalu bisa dibanggakan." Jawabnya. "Malahan aku berharap terlahir dari keluarga yang biasa saja. Karena aku ingin bebas melakukan apa yang aku suka."
"Apakah seketat itu menjadi keluarga bangsawan?"
"Tidak juga sih. Hanya saja kau harus menghadiri setiap acara keluarga bangsawan lainnya, belajar tata krama yang rumit, dan harus memilih pergaulan dengan baik. Kami juga tidak diperbolehkan berteman dengan rakyat jelata."
Cukup miris sewaktu aku mendengar jawabannya.
"Yaa... meskipun begitu, kami sebagai kesatria tetap harus menjalankan tugas kami mengabdi pada kerajaan serta melayani masyarakat. Kami tidak boleh pandang bulu dia itu seorang bangsawan, atau rakyat jelata."
Bohong. Kau hanya akan mengatakan itu di depan orang-orang saja. Aku dapat melihat ekspresi wajah Shin yang berubah saat mendengarnya mengatakan itu.
Dia masih saja menatap curiga sejak tadi. Meski penilaianku terhadap kesatria sedikit lebih baik, aku masih belum bisa menghilangkan cerita-cerita yang kutahu tentang mereka. Mau itu di dunia ini, ataupun yang kubaca dari duniaku sebelumnya.
Kebanyakan dari mereka memanfaatkan status dan posisinya untuk merugikan orang lain, atau menyenangkan dirinya sendiri. Kurang lebih begitulah yang kutahu tentang kesatria dari beberapa cerita bertema kerajaan.
Jika kalian melihat para kesatria adalah sekumpulan orang hebat dengan pakaian zirah yang berkilau, maka syukurilah karena kalian berada di lingkup dunia yang baik.
"Hei, tuan kesatria." Panggilku.
"Ya?"
Ini agak berhubungan dengan apa yang kami lakukan sebelumnya. "Kami sempat melihat kalian berangkat dari Kota Deedalee beberapa hari yang lalu. Setelah kami berangkat, kami malah datang lebih dulu dari kalian."
"Ah... itu..." Kesatria itu ragu-ragu untuk menjawabnya.
Mencurigakan.
"Hei, apa yang harus kita jawab?" Dia berbisik pada teman di sebelahnya.
"Ha? Eetoo... bilang saja roda kereta kudanya rusak di pertengahan jalan."
"Kalian terhenti di pertengahan jalan? Tapi kami tidak menemukan kalian di sepanjang perjalanan." Sahutku.
Mereka berdua cemas karena ingin mengelak dari pertanyaanku, tapi aku lebih dulu menyanggahnya. Hayo... apa yang kalian lakukan di sepanjang perjalanan?
Kalian membawa banyak sekali anak-anak ras kucing yang imut, lho. Aku tidak bisa berhenti curiga kepada kalian.
"Bagaimana ini?"
"Jawab saja dengan jujur. Lagipula ini semua salahmu."
"Aakh... Jangan salahkan aku lagi dong."
Hmm? Mereka berbisik-bisik lagi, tetapi tidak terdengar mencurigakan.
__ADS_1
"Jadi sebenarnya..." Kesatria itu kembali menghadap ke arahku untuk menjawab. "Kami tersesat di pertengahan jalan."
"He!?" Serius? "Orang-orang seperti kalian bisa tersesat di wilayah kerajaan sendiri?"
"Tidak, tidak, tidak. Bukan begitu... benar sih, tapi bukan begitu juga maksudku." Kesatria itu terlihat panik.
"Sewaktu kami berangkat, kami sudah dibekali sebuah peta menuju desa ras kucing. Tapi sewaktu di pertengahan jalan, tanpa sengaja peta itu dijatuhkan oleh salah satu dari mereka. Jadi kami kebingungan mencari jalan, termasuk jalan kembali."
Aah! Jadi begitu ceritanya.
"Kami minta maaf. Kami masih berada di tahun pertama sebagai kesatria di kota. Jadi kami masih belum cukup pengalaman."
Tidak ada bangsawan yang mengincar anak-anak ras kucing, penyelundupan budak, atau kesatria yang memanfaatkan jabatan mereka. Hanya ada kesatria amatiran yang tersesat karena kehilangan peta mereka.
Tunggu, untuk apa kalian minta maaf?
"Riel," Shin memanggilku. "Kemarilah."
Aku memperlambat langkahku dan menyelaraskannya kembali dengan Shin. Kami berada agak jauh dari kereta kuda kesatria yang mengobrol denganku tadi.
"Sudahi mengobrol kalian. Tetap waspada pada mereka." Kata Shin dengan pelan.
"Ada apa, Shin? Kau masih berprasangka buruk pada mereka? Para kesatria itu hanya ceroboh kok, tidak ada niatan buruk."
"Aku tidak peduli. Yang jelas, tidak perlu berbicara lagi dengan mereka."
Hei, ada apa denganmu? Jika tidak suka dengan mereka, tidak perlu bawa-bawa aku juga, kan?
Aku tahu Shin akan memaksaku untuk menjauhi mereka, dan aku tidak menyukainya. Jadi aku turuti saja apa maunya sekarang.
"Baiklah," jawabku dengan sebal.
Aku mempercepat langkahku dan menyejajarkannya dengan kesatria di depan. Saat aku melirik Shin, dia menatapku dengan serius.
Huu, ada apa sih dengan bocah itu?
"Ya?"
"Sebentar lagi kita akan sampai. Setelah keluar dari hutan ini, kita akan tiba di desa ras kucing."
"Baiklah. Terima kasih sudah memberitahu kami jalannya."
Aku mengangguk, lalu kembali ke belakang bersama dengan Shin. Tidak, aku ingin bersama dengan Momo saja.
Sejak tadi dia hanya berjalan sendirian di belakang. Dia tidak menemui teman-temannya di dalam gerbong, dan hanya merenung sambil menatap ke bawah.
"Momo?" Panggilku.
Dia hanya melihat ke arahku dengan diam. Wajahnya muram, tidak terlihat datar seperti biasanya.
"Kenapa kau tidak menemui teman-temanmu?"
"..." Momo kembali menundukkan kepalanya. "Mereka tidak akan menyukaiku."
...
Aku... tidak tahu harus berkomentar apa lagi sekarang.
Selanjutnya kami semua terus diam, sampai akhirnya tiba di desa ras kucing sekali lagi.
***
"Mama!"
"Anakku!"
"Mamaa!"
Saat para kesatria membuka gerbong keretanya, anak-anak ras kucing melompat turun dan berlari ke orang tua mereka.
__ADS_1
Suasana di desa itu kembali ramai. Para penduduk berkumpul di pintu masuk desa untuk bertemu dengan anak-anak mereka yang diculik.
Banyak dari mereka yang menangis karena dapat bertemu dengan anaknya lagi.
Sebagian dari mereka masih takut sewaktu melihat kesatria. Tapi karena mereka sedang dalam posisi bahagia, maka para kesatria itu tidak terlalu dihiraukan. Semuanya sedang berada dalam tangis haru.
"Terima kasih, manusia. Terima kasih karena sudah menyelamatkan anak-anak kami." Ucap salah seorang penduduk desa.
"Tidak apa. Itu adalah tugas kami untuk mengantarkan mereka kembali ke rumah."
Dari semua anak ras kucing yang memeluk orang tua mereka, ada satu yang tidak melakukannya.
Dia tidak punya orang tua, tidak punya keluarga, dan tidak ada yang memperhatikannya.
Sejak tadi dia berada paling jauh di belakang kami. Hanya memperhatikan teman-temannya kembali pulang dengan selamat dan bertemu dengan keluarga mereka.
Sedangkan dirinya, tidak memiliki tempat kembali.
"Momo," saat aku mencoba menghampirinya, dia pergi meninggalkan kami ke dalam hutan. "Momo!" Akupun berlari mengejarnya.
"Ada apa Kak Riel?"
"Kau mau pergi kemana?"
"... ke tenda."
Benarkah? Seingatku jalan menuju tempat kami mendirikan tenda bukan di sini.
"Momo," panggilku lagi.
"Terima kasih, Kak Riel."
Hmm?
"Terima kasih. Berkat kalian, teman-temanku dapat kembali dengan selamat"
"Momo?"
"..."
"..."
Tanpa banyak kata, aku langsung memeluknya dari belakang.
"Eh! Ka-Kak Riel? Apa yang kau lakukan?"
"Tidak apa, Momo."
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!"
"Tidak apa, Momo. Kau tidak perlu menahannya."
"Lepaskan aku... Lepaskan..." Setelah itu, Momo langsung menangis sejadi-jadinya.
Suara tangisnya mungkin menyatu dengan suara tangisan lain dari desa. Namun, Shin tetap bisa menemukan kami.
Sambil menangis, Momo berbalik dan memelukku juga dengan sangat erat.
Air matanya sangat banyak hingga membasahi bajuku. Tubuhnya juga menjadi sangat lemah sehingga aku harus menahannya agar tidak terjatuh.
"Huaaa... Huaaaa..."
Sekali-kali aku mengelus kepalanya. Kedua telinganya menghadap ke bawah mengikuti perasaannya. Ekornya juga terjatuh dengan lemah.
"Tidak apa, Momo. Tidak apa-apa."
Kondisi Momo sedang sangat lemah saat ini. Oleh karena itu, aku akan menjaganya.
"Aku akan selalu bersamamu."
__ADS_1