Seven World Of Fantasy

Seven World Of Fantasy
Chapter 25: Di Dalam Jeruji Besi


__ADS_3

...


...


...


Bug!


"Aww!!"


Aku terbangun setelah di lempar ke sebuah penjara. Mereka melemparku dengan kasar ke lantai yang kotor dan dingin ini, lalu mengunci kembali jeruji besinya.


"Nikmatilah sisa waktumu." Setelah selesai menguncinya, bandit itu pergi entah kemana.


Kepalaku masih terasa pusing setelah pingsan tadi. Mereka memukul dengan sangat kuat hingga aku tidak sadarkan diri, bahkan aku masih bisa merasakan lebam yang ada di pipiku ini.


"A-a-a-Aww." Salah sendiri aku memegangnya.


...


Jadi aku sudah tertangkap, lalu dibawa ke markas mereka dan dikurung di penjara bawah tanah. Mungkin saja ini bisa menjadi akhir dari hidupku. Diculik oleh bandit, lalu dijual ke seseorang untuk menjadi budak mereka.


Tidak, aku tidak ingin hal seperti itu terjadi.


Bagaimana caranya agar aku bisa kabur dari sini?


"Kak Riel?"


Eh? Suara itu!


Aku menengok ke belakang, dan menemukan seorang gadis kucing yang sedang memeluk tubuhnya sendiri di pojok ruangan. Dia menyendiri di sana seperti sedang kedinginan.


"Momo!" Aku beranjak berdiri untuk menghamprinya. "Aakkh!" Belum sempat berdiri dengan sempurna, aku kembali terjatuh karena kehilangan keseimbangan.


"Kak Riel!"


Kaki kananku terasa sangat nyeri saat kucoba untuk menggerakkannya. Aku mencoba meraba-raba dengan tanganku, lalu sepertinya terdapat bekas luka di bagian paha.


Aakkh, benar. Saat itu kakiku tertancap oleh panahnya Hugo. Lukanya masih berbekas dan terbuka lebar. Jika dibiarkan ini bisa menjadi lebih gawat.


"Kak Riel, kakimu terluka parah!" Momo tiba di sampingku dan mulai memperhatikan lukanya.


"Tidak apa, Momo. Luka ini tidak akan membunuhku."


"Tapi jika dibiarkan lebih lama, luka ini dapat membusuk dan membuat kakimu harus dipotong."


Jangan katakan hal yang menyeramkan ituu!!!


"A-aww!" Aku merintih kesakitan.

__ADS_1


Momo memegang sekitar lukaku dengan tangan kecilnya. Aku bisa merasakan tangannya yang dingin dan agak gemetaran.


"Wahai Peri Air yang menjaga danau suci, berikanlah kepada kami karuniamu yang murni dan penuh belas kasih, ciptakanlah sebuah air suci yang dapat membersihkan kejahatan pada tubuh ini. Holy Water."


Embun air bermunculan dan terkumpul di tangan Momo. Lalu dia perlahan mengarahkan air itu menyentuh luka di pahaku.


"Hmmmpp!!" Aku menahan sakit yang teramat sangat perih. Meski air itu dingin dan mulai terasa nyaman, tapi tetap saja di awal rasanya sangat tidak enak. "Aahh~" Akhirnya selesai.


Momo menyobek sebagian bajunya dan menggunakannya untuk membalut lukaku. Tangannya terlihat cukup lihai saat membaluti pahaku dengan potongan kain tersebut. Dia seperti sudah terbiasa melakukan hal itu.


"Sudah selesai." Momo menyeka keningnya.


"Terima kasih, Momo. Kau membuatku merasa lebih baik." Luka di pahaku sudah agak mendingan sekarang. Mungkin masih terasa sulit untuk digerakkan, tapi ini lebih baik dibanding membiarkannya terbuka.


"Maaf, Kak Riel. Aku tidak bisa menggunakan sihir penyembuhan, aku hanya bisa membuat air suci untuk membersihkan lukamu saja."


"Tidak apa, Momo. Ini sudah lebih dari cukup." Kataku dengan senang hati.


Saat itu Momo tiba-tiba memelukku begitu saja. Dia memelukku dengan erat sambil terisak, aku dapat merasakan detak jantungnya yang sangat menyatu dengan tubuhku.


"Hiks, hiks, Kak Riel... aku minta maaf..." Air mata Momo mulai turun dan membasahi pakaianku.


Tanpa kau beritahu apa yang ingin kau katakan, aku sudah dapat mengetahuinya.


"Karena aku... karena aku kita berdua jadi berakhir di sini. Maafkan aku Kak Riel... maafkan aku karena telah  telah menyeretmu dalam masalahku ini..."


"Tenang saja. Kita pasti bisa keluar bersama-sama dari tempat ini."


Apa yang aku katakan tadi? Kenapa aku selalu merasa optimis meski sudah berada diambang hidup dan mati? Aku bahkan tidak yakin bisa mencari cara untuk keluar dari sini.


Selama ini aku selalu bergantung pada orang lain di sekitarku. Entah itu Shin, Clara, ataupun Paman Reinald saat di desa itu. Jika aku bertingkah seenaknya sendiri, entah kenapa kesialan selalu saja datang padaku.


Aku menyandarkan tubuhku pada dinding penjara. Pencahayaan disini hanya berasal dari sebuah obor yang berada di lorong saja. Dan meski kami berada di bawah tanah, tapi di sini lebih dingin daripada yang aku kira.


Momo aku biarkan beristirahat di pangkuanku lagi. Kali ini aku tidak akan pindah darinya, seperti malam saat kami tidur di penginapan. 


Aku tidak ingin lagi meninggalkan dia sendirian.


...


Entah sudah berapa lama waktu berlalu, aku masih belum mengantuk hingga saat ini. Ruangan ini sangat sunyi, terkadang ada beberapa suara rintihan seseorang dari ruangan di sebelah kami. Sedangkan di depanku hanyalah ruangan kosong yang diisi beberapa rongsokan.


Mereka melucuti senjataku dan juga barang-barang milik Momo, bahkan perlengkapanku yang ada di dalam inventory juga disita oleh mereka. Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa mengetahuinya, yang jelas sekarang aku tidak bisa berbuat apapun di dalam tempat ini.


"Mmm~" Momo menggeliat dalam tidurnya. Sepertinya dia sedang merasa tidak nyaman atau mungkin bermimpi buruk.


Setelah posisinya berubah, Momo pun membuka matanya. Bekas tangisan masih terlihat di bagian bawah matanya yang datar itu.


"Aku ketiduran?"

__ADS_1


"Tidak apa, Momo. Kau boleh tidur lagi sekarang."


"Tidak, terima kasih. Aku sudah merasa lebih baik sekarang."


"..."


Momo beranjak dari pangkuanku, dan dia berdiri kembali dengan tegak seperti biasanya.


"Momo, apa kau bisa menggunakan sihir untuk mengakali jeruji besi itu?"


"Maaf, aku sudah mencobanya tapi sia-sia saja. Jeruji besi itu memiliki penangkal yang dapat memantulkan sihir yang diterimanya. Dan itu malah melukai diriku sendiri."


"Oh, ya ampun. Apa kau baik-baik saja?"


"Ya. Aku baik-baik saja."


Aku bingung apa yang harus dilakukan lagi oleh kami sekarang. Jika kami diam saja hingga esok hari, mereka bisa saja mulai beraksi duluan untuk membawa kami pergi ke tempat lain. 


Kali ini aku hanya bisa mengandalkan orang lain lagi. Apa Shin akan datang untuk menyelamatkan kami? Tapi kami berada di suatu tempat yang jauh di dalam hutan.


Aku menyesal tidak mendengarkan kata-katamu, Shin. Lain kali aku mendengarkan jika kau melarang untuk melakukan sesuatu. Tapi aku mohon, datanglah ke sini untuk menyelamatkan kami.


"Kak Riel?" Panggil Momo. "Di sini tidak ada teman-temanku. Apa kau tahu apa yag terjadi kepada mereka?"


Oh, Iya. Tujuan kami ke sini adalah untuk menyelamatkan teman-temannya Momo. Tapi begitu kami sampai di tempat tujuan, tidak ada satupun dari mereka yang terlihat.


Malahan sekarang jadi kami berdua yang perlu diselamatkan.


"Aku tidak tahu. Aku baru sadar begitu mereka membawaku ke tempat ini. Aku tidak bisa melihat orang lain yang juga mereka culik."


"Aku tidak bisa mendengar suara teman-temanku di sini. Mereka seperti tidak ada di tempat ini."


Momo bisa mendengar dengan baik suara yang berasal dari kejauhan. Ruangan ini adalah tempat tertutup yang mana seharusnya suara apapun akan lebih terdengar olehnya.


Aku dapat melihat kekhawatiran di wajahnya. Kami tidak dapat menemukan mereka meskipun sudah tiba di markas para bandit. Kemungkinan besar sesuatu yang buruk telah terjadi pada mereka.


"Bagaimana ini, Kak Riel? Aku takut teman-temanku disakiti oleh para bandit."


Apa yang harus aku katakan untuk menenangkannya kali ini? Bohong jika aku bilang dapat menyelamatkan mereka, sedangkan kami saja masih berada di dalam tempat ini.


Pikiranku sudah mentok untuk mencari jalan keluar. Jika kami terus gelisah seperti ini, malah akan berdampak buruk bagi kesehatan kami.


Malam ini aku putuskan untuk beristirahat saja. Aku hanya bisa berharap Shin akan datang menyelamatkan kami. Meskipun Momo menjadi cerewet dan tidak bisa diam sekarang, aku tetap melayani pertanyaannya sebisaku saja.


Maafkan aku, Momo. Aku belum bisa membantumu karena kemampuanku masih belum cukup. Andai saja aku tahu para petualang itu berniat menipu kami, hal ini tidak akan terjadi pada kami.


Atau jika aku lebih kuat, aku bisa mengalahkan para bandit itu sendiri dan juga menghindari panah yang menembak ke arahku. Tapi sekarang sudah sia-sia saja.


Kali ini aku tidak bisa berbuat apapun, dan hanya menunggu seseorang untuk menyelamatkanku.

__ADS_1


__ADS_2