
"Aku sudah kenyang, tapi aku masih ingin makan lagi." Keluh Momo. Tangan kanannya masih memegang potongan daging ayam yang belum habis.
"Tidak boleh makan berlebihan Momo, nanti kau akan kesulitan saat berjalan." Aku menasehatinya sambil menyandarkan badanku di kursi karena kekenyangan.
"Mmm, kau sama saja." Dia melirikku.
Di samping itu, perayaan kecil ini memang sangat luar biasa. Tempat yang disediakan khusus untuk kami, dan makanan enak yang mereka sajikan, sudah melengkapi kepuasan jiwa dan ragaku.
Ini baru permulaan. Kami masih memiliki banyak uang yang belum cair dan siap untuk dibelanjakan. Apakah aku bisa mendapatkan pistol yang lebih hebat lagi dari ini? Bahkan belatinya saja belum sempat aku coba di lapangan.
"Makanmu tidak banyak, Mika? Apakah kau menjalani program diet? " Tanyaku. Aku melihat kakak-beradik itu tidak kekenyangan sepertiku dan Momo. Mereka tampak puas dengan makanannya, dan juga menjaga porsi makannya.
"Tidak, aku tidak diet. Kami akan pergi hari ini, jadi kami tidak boleh kekenyangan ketika bepergian." Jawab Mika.
"Ya. Apalagi kakakku itu orangnya mabuk kendaraan. Kalau dia makan sampai kenyang sekarang, sesampai di tujuan perutnya pasti kosong lagi." Canda Christa.
"Hei, itu tidak benar."
"Memangnya siapa yang selalu merapalkan sihir pemulihan saat kau sedang mabuk?"
"Bilang saja kau sedang diet."
"Aku hanya menjaga pola makanku!"
Yaa, lagi-lagi kakak-beradik itu memamerkan keakraban mereka.
Jujur, aku iri.
Aku juga ingin memamerkan keakraban dengan kakakku, tapi sayangnya dia tidak ada di sini. Meskipun ada, dia pasti sedang pergi bekerja selama berbulan-bulan lamanya dan tidak pernah memperhatikanku jika di rumah.
Saat sedang libur dari tugasnya, selama beberapa hari di rumah aku selalu berusaha memanjakannya. Tapi entah kenapa, dia tidak pernah memujiku selama itu. Dia tidak pernah memujiku, sedangkan meledek gambarku pernah.
Aku iri melihat Mika dan Christa saling tertawa saat sedang mengobrol. Tidak peduli kakaknya dibilang seperti apa, Christa akan selalu menemaninya.
"Riel?"
"Ah, ya! Apa?" Haa, Shin membuatku terbangun dari lamunan.
"Kau terlihat murung sejak tadi. Apa kau tidak enak badan?" Clara bertanya khawatir.
"Tidak kok. Tidak apa-apa. Mungkin ini hanya efek dari kekenyangan saja. Bukankah begitu, Momo?"
"Hmm~."
Ahaha. Dia masih memaksakan dirinya untuk makan hingga mencapai batas. Tuh kan, sekarang kau jadi tidak kuat bahkan untuk duduk dengan benar.
"Adele?" Panggil Shin.
"40.000 Nira. Tidak ada diskon orang kaya baru." Adele menyahut dengan jawaban lain. Mereka berdua sudah mengobrol lewat telepati, ya? Mereka seperti sudah tahu apa yang akan dikatakan satu sama lain.
"Oh, padahal aku ingin mengatakan kalau masakanmu enak."
Pfft!
Adele berhenti mengelap gelas di tangannya. Telinga kelincinya juga menegang seperti saat Clara terkejut. Shin, kau bisa saja menggombali seorang perempuan.
"Ehem. Hana juga membantuku membuatnya. Kau juga harus berterima kasih kepadanya."
"Ya! Seseorang memanggilku?" Hana datang dari ruangan pelayan.
"Makanan buatan kalian sangat enak. Aku beri kalian bintang lima!" Clara mengacungkan jempol kepada mereka.
"Benarkah? Horee!!" Hana melompat-lompat senang.
Jika mereka bisa membuat makanan seenak ini, mengapa mereka tidak menjualnya saja? Jika orang-orang tahu seperti apa rasa makanan buatan mereka, bar milik mereka berdua bisa menjadi yang paling ramai di kota ini.
__ADS_1
"Hei, Momo. Kau dan Hana sama-sama kucing 'kan? Mengapa kalian tidak mengobrol?" Aku juga penasaran dengan mereka. Tadi Clara sempat mengobrol dengan Adele meski kebanyakan dicuekin. Tapi Momo tidak berinteraksi sama sekali dengan Hana.
"Dia ras kucing hutan. Kami tidak terlalu akrab." Jawab Momo dengan malas. Dia masih kekenyangan.
Hmm. Jadi meskipun mereka sama-sama keluarga kucing, ras mereka terbagi menjadi lebih banyak lagi dan belum tentu akur satu sama lain.
"Baiklah. Setelah ini kau kembali ke penginapan, rapihkan barang-barangmu lalu pulang ke Kota Ciatar bersama Clara." Ucap Shin.
"Baik. Serahkan saja padaku." Clara menyahut siap.
"Tunggu. Aku masih harus mengantarkan Momo ke desanya..."
"Tidak ada lagi bepergian semaumu sendiri. Dengarkan kata-kataku, kau selalu membuat masalah." Shin menyela omonganku, dan dia juga mengatakan aku pembuat masalah.
"Hei, tidak perlu mengatakan hal seperti itu juga 'kan."
"Jika kau tidak ingin di bilang seperti itu, maka dengarkan kata-kataku dan Clara. Mengerti?"
"Tapi, bagaimana dengan Momo? Apakah aku harus meninggalkannya begitu saja..."
"Jangan..." Kali ini Momo yang menyela perkataanku. "Jangan tinggalkan aku sendirian lagi."
Momo. Kenapa kau jadi ketakutan seperti itu?
"Kalian bisa mengandalkan para kesatria di kota ini. Tempo hari mereka juga mengantarkan para anak kucing lainnya kembali ke desa mereka." Mika memberi saran kepada kami.
"Tidak..." Sekali lagi Momo menolaknya.
"Ada apa, Momo? Para kesatria adalah orang yang baik, kok. Aku sudah mengenal mereka sejak lama." Kali ini giliran Christa yang angkat suara.
"Tidak, bukan itu." Momo terlihat murung. Tiba-tiba tangan kecilnya meraih tanganku dan memegangnya agak erat. "Aku tidak ingin kembali ke desaku."
"Apa?" Beberapa dari kami kebingungan.
"Aku... aku ingin bersama Kak Riel saja."
Momo menjawabnya dengan menggelengkan kepala. Tangannya menggenggam lebih erat sekarang.
Mika dan Christa juga bingung dengan apa yang di katakan Momo. Padahal kemarin dia bersikeras ingin menyelamatkan teman-temannya. Tapi setelah mereka semua selamat, Momo malah tidak ingin pulang kembali ke desanya.
Clara yang biasanya paling cerewet, kali ini tidak bisa mengatakan apa-apa. Mungkin ini memang bukan urusannya, tapi biasanya Clara memang akan ikut campur urusan siapapun.
Aku bukannya tidak ingin merawat seorang gadis kucing, hanya saja ini bukan tujuan kami sejak awal.
"Ini agak aneh. Riel, antarkan dia pulang ke desanya. Aku dan Clara juga akan ikut. "
Hah, mengapa Shin tiba-tiba merubah pikirannya sejauh mata memandang? Barusan dia menyuruhku untuk pulang bersama Clara dan meninggalkan gadis ini begitu saja, lalu sekarang dia menyuruh kami untuk mengantarkannya pulang ke desa.
Ini memang keinginanku sebelumnya. Tapi melihat Momo yang menolak kembali ke desa, aku jadi urung niat juga untuk melakukannya. Aku juga agak penasaran apa yang membuat Momo tidak ingin kembali ke desanya.
"Aku tidak ingin... pulang ke desa." Momo kembali menolak.
"Momo, memangnya ada apa dengan desamu?" Tanya Christa. Dia mencoba merangkul Momo untuk meredam kesedihannya.
"Pokoknya aku tidak mau."
Shin bangkit dari kursinya dan berjalan ke meja Adele. Dia mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar makanannya.
"Apa kau punya informasi terkait dengan ini?" Shin juga bertanya saat menyerahkan uangnya kepada Adele.
Namun, Adele tidak menjawab, tidak bergerak, dan bahkan tidak berkedip.
"Seperti yang kuduga, terima kasih atas jawabannya."
"Tunggu! Bagaimana kau bisa tahu jawabannya padahal dia hanya diam?" Aku geregetan dengannya. Akhirnya sejak kami berada di kantor kesatria, aku bisa mengatakan apa yang mengganjal pikiranku.
__ADS_1
"Jika Adele tidak ingin menjawab seseuatu. Maka itu ada hubungannya dengan White Shadow."
"White Shadow!?" Reaksi kami berbeda satu sama lain. Kakak-beradik itu terkejut mendengarnya, Clara merinding ketakutan, sedangkan aku dan Momo tidak tahu apa yang dia katakan.
White Shadow? Aku baru mendengar nama itu di dunia ini. Seekor siput?
"Maaf, Riel. Jika ada kaitannya dengan mereka, sepertinya kami tidak bisa membantu lebih jauh." Ucap Mika.
Sebentar, sebentar. Aku masih tidak tahu White Shadow itu apa. Kenapa reaksi kalian menjadi aneh seperti ini? Momo juga sepertinya tidak mengerti apa yang mereka katakan.
"Kalau begitu, sebaiknya kita urungkan niat untuk pergi mengantar Momo pulang. Kita kembali ke Kota Ciatar saja bersama." Clara terlihat ketakutan.
"Tidak. Justru kita akan pergi ke desa kucing itu untuk menyelidiki lebih lanjut. Kita akan pergi ke sana dalam beberapa hari persiapan." Shin masih bersikeras ingin ke sana. Aku sih, bingung ingin memilih yang mana.
"Tapi, Shin. Mereka sangat berbahaya. Kita bahkan pernah hampir dibunuh oleh mereka. Mengapa kau ingin datang menjemput ajalmu lagi." Clara menolak. Dia tidak ingin kita pergi ke desa Momo, yang mana ada kaitannya dengan White Shadow di sana.
"Itu benar, Shin. Aku tahu kau sangat hebat, tapi White Shadow tidak bisa dihadapi oleh kalian. Tingkat ancaman mereka setara dengan level negara." Mika menambahkan.
"Tingkat ancaman level negara?" Aku mendapatkan kosakata baru di dunia ini.
"Itu adalah tingkat ancaman yang bisa membahayakan sebuah negara atau kerajaan. Dia bisa memicu perang atau menyebabkan pertumpahan darah besar-besaran."
Mengerikan. Itu seperti serangan seekor naga, atau mungkin bisa lebih parah lagi.
"Baiklah. Sekarang aku cukup tahu tingkat ancaman mereka. Tapi tolong jelaskan dulu siapa sebenarnya White Shadow itu? Orang, kelompok, organisasi?" Aku tidak tahan sejak mereka ketakutan mendengar nama itu. Aku sangat penasaran.
"White Shadow adalah nama sebuah organisasi yang bergerak untuk kejahatan. Mereka bertindak secara kelompok ataupun perseorangan untuk menjalankan pekerjaan mereka. Sejauh ini masih belum diketahui apa motif dan tujuan mereka, tapi mereka sudah banyak membunuh orang-orang." Mika menjelaskan secara singkat padaku.
"Para anggota White Shadow kemungkinan besar berlevel 5 ke atas. Karena sejauh ini tidak pernah ada yang bisa menghentikan mereka, bahkan sebuah pasukan besar pun dapat mereka hadapi tanpa kesulitan."
"Shin. Tadi kau bilang kalian berdua hampir terbunuh oleh mereka. Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyaku.
"Itu tidak pernting."
Hmmmpphh! Ngajak ribut nih orang!
"Jadi, kalian ingin pergi ke desa Momo untuk menyelidiki tentang mereka? Aku pikir itu terlalu berbahaya." Mika memberi pendapatnya. Dia merasa tidak nyaman sejak mendengar nama itu tadi.
"Iya."
"Bagaimana jika kalian melapor pada para kestria tentang jejak keberadaan mereka? Siapa tahu kerajaan akan mengutus pasukannya untuk menyelidiki mereka. Kalian tidak perlu mengorbankan diri melakukannya."
"Kerajaan tidak akan bergerak jika mereka tidak memulai. Karena kerajaan juga takut berurusan dengan mereka, aku sudah tahu itu."
Gila. Ini menjadi semakin rumit sejak aku mendengar nama itu. Aku masih penasaran dengan White Shadow yang dimaksud. Mereka terlihat hebat.
"Baiklah, sisanya terserah kalian. Aku sudah memberi peringatan di awal"
"Tidak! Kalian tidak boleh mencari mereka!" Christa ikut mengkhawatirkan kami.
"Tenang saja. Riel dan Momo akan menuju ke desa, sedangkan White Shadow adalah urusanku dengan Clara."
"Tidak! Aku tidak ingin ikut."
".... Baiklah. Kalian bertiga akan pergi ke desa, sedangkan White Shadow adalah urusanku."
Nih bocah dendam apa gimana, sih. Dari tadi dia ambisi banget untuk mengejar White Shadow apalah itu.
"Kenapa mereka di panggil White Shadow?" Aku bertanya lagi.
"Itu karena mereka menggunakan topeng hitam-putih." Jawab Mika.
"Topeng hitam-putih?" Momo seperti teringat seseuatu.
Pandangan kami semua langsung tertuju padanya. Sejak tadi Momo tidak tahu apa itu White Shadow, tapi ternyata dia mengetahui ciri-cirinya. Mungkin Momo mengetahui sesuatu tentang mereka.
__ADS_1
"Pria dengan topeng hitam-putih, dia yang mengajariku sihir."