
Setelah keluar dari kantor kesatria, kami berenam memutuskan untuk makan siang bersama di suatu bar. Untuk sekarang, uang tunai yang kami pegang sekitar 1 juta nira. Jadi kami memutuskan untuk menghabiskannya bersama.
Apakah itu boros? Tenang saja, kami hanya akan menghabiskannya sekitar 100.000 nira saja agar jumlah sisanya bisa dibagi rata. Jadinya masing-masing dari kami akan menerima 150.000 nira, dan usulku diterima oleh semua.
"Kita akan pergi kemana, Kak Riel?" Tanya Momo. Suasana hatinya sedang sangat baik sejak kami pulang dari markas bandit kemarin.
Teman-temannya yang ditangkap oleh para bandit ternyata sudah selamat dan pulang ke desanya. Lalu kami juga berhasil menyelamatkan diri dari tempat mereka tanpa mengalami luka parah.
"Hmm, mungkin kita akan mencari bar yang terkenal makanannya paling enak, paling mewah, paling mahal..."
"Tidak. Tidak boleh menghambur-hamburkan uang secara berlebihan." Shin memotong kalimatku dengan ceramahnya.
"Heee, memangnya kenapa? Padahal kita akan mendapatkan 10 juta nira dari rampasan perang, dan sekali-kali makan mewah tidak akan menghabiskan uangmu sekaligus."
"Bukan itu masalahnya. Jika kau mulai mencoba menikmati kemewahan, kau akan menjadi terbiasa melakukannya."
Haah, entah kenapa dia jadi seperti orang bijak sekarang.
"Lalu, kita akan makan dimana?"
Shin hanya menjawab dengan menyuruh mengikutinya. Aku mengira dia akan memberi kejutan tempat makan yang enak menurutnya, tapi jarang diketahui orang-orang di sini.
"Oh, iya. kakak-beradik suci di sana, kalian berasal dari mana?" AKu bertanya kepada Mika dan Christa. Suci yang kumaksud karena mereka adalah seorang Priestess dan Cleric. Kalian pasti sudah tahu latar belakang mereka seperti apa.
"Kami berasal dari Kota Atria, Ibukota kerajaan Itonia. Kami lahir, tumbuh besar, dan belajar di sana." Mika menjawabnya dengan lancar. Itu karena dia sedang membawa pedang dan perisai miliknya, maka sifatnya akan berubah seperti lelaki sungguhan.
"Lalu setelah lulus, aku dan kakak mencoba menjadi petualang untuk melihat dunia luar. Ternyata menjadi petualang lebih menyenangkan dari yang kukira." Christa menambahkan.
Sikapnya sangat ceria, tapi aku merasa ada sisi lain dari keceriaan yang dia tampakkan olehnya. Itu hanya menurut pengalamanku. Karena bisa jadi kakak-beradik ini sebenarnya memiliki sifat yang berlawanan.
"Benarkah? Saat menjadi petualang, apa saja yang sudah kalian capai?" Aku penasaran dengan pengalaman mereka. Sembari berjalan mengikuti Shin, tidak ada salahnya memecah keheningan dengan sedikit obrolan.
"Saat pertama kali menjadi petualang, aku dan kakakku mengambil permintaan untuk seorang pemula. Kami mencari tanaman herbal yang ada di dalam hutan, berburu hewan liar, dan mengawal seorang pedagang dalam perjalanan mereka.
Aku juga masih ingat saat pertama kali masuk ke dungeon. Kakak menjatuhkan senjatanya, lalu aku menjadi pangeran yang melindunginya selama di dalam sana. Kami terjebak di dalam hingga datang sekelompok petualang lain."
"Ahh, aku masih sangat lemah kala itu. Maaf karena tidak bisa melindungi adik kecilku yang manis di dalam sana."
"Huu, kakak bisa aja. Tapi sekarang kakak sudah hebat kok, meskipun kemarin kakak diculik karena dikira gadis cantik."
"Hei, tidak boleh seperti itu dengan kakakmu sendiri."
"Hehehe."
Mereka ini sebenarnya terlalu akrab, atau brocon dan siscon? Meski begitu, yang penting aku terhibur dengan kelucuan mereka.
"Kalian pernah ke dungeon? Dungeon apa yang pernah kalian kunjungi?" Aku kembali bertanya, agar mereka tidak terus bermesra-mesraan.
"Di dekat ibukota, ada sebuah dungeon paling besar dan terkenal bernama Dungeon Amber. Nama dungeon itu diambil oleh penemunya yang bernama Amber. Dulu dia adalah seorang petualang yang sangat hebat dan terkenal. Namun sekarang dia sudah pensiun dan mengasingkan dirinya entah kemana." Christa menjelaskannya padaku.
Aku pernah mendengar nama dungeon itu dari kelompok petualang yang menipuku. Namanya Clem, petualang wanita seusia kami di kelompok itu. Tapi ironisnya kekompakan yang mereka tunjukkan padaku ternyata hanyalah akting.
"Kita sudah sampai." Shin menghentikan langkahnya, kami ikut berhenti di belakangnya.
__ADS_1
Kami berada di sekitar distrik perdagangan dan distrik petualang. Ada beberapa bar di depan kami, tapi kami berhenti di depan bar yang terlihat sangat mewah.
"Bar ini lagi?" Tanya Momo ragu.
"Yaa, aku sudah menduganya. Jadi aku hanya diam saja." Clara menambahkan.
Mika dan Christa terlihat ragu dengan tempat makan yang kami datangi. Dari kelihatannya, mereka berdua pasti belum pernah ke tempat ini. Mereka hanya petualang asal ibukota yang kebetulan singgah di kota ini. Entah karena permintaan atau apa.
Lalu, seperti yang sudah kalian duga. Ini adalah bar yang pernah kami kunjungi sebelumnya.
Bar sepi milik seorang kelinci bernama Adele.
"Kenapa kau memilih tempat ini, Shin?" Tanyaku.
"Kau akan tahu setelah mencoba masakannya." Jawabnya singkat.
Oh, oke. Sebelumnya aku hanya memesan minuman sari apel yang cukup enak, tapi tidak mencoba makanannya. Namun jika bar ini sepi pengunjung, aku ragu dengan cita rasa masakannya.
Tanpa banyak bicara, kami berenam memasuki bar sepi tersebut. Benar-benar sepi, sama sekali tidak ada orang di dalamnya.
"Selamat datang." Adele, si kelinci bartender menyambut kami. Dia berdiri dengan tenang di mejanya sambil mengelap sebuah gelas.
Begitu kami berenam memasuki bar tersebut, Adele berhenti sesaat mengelap gelasnya dan memperhatikan kami.
"Cukup ramai di sini."
"Hanya ingin mengadakan perayaan kecil. Bisakah kau menyiapkannya untuk kami?" Shin menghampiri meja Adele. Mereka berdua terlihat seperti sudah saling mengenal.
"Tentu saja lebih. Porsi enam orang, dan..." Shin menengok ke arah kami semua. Dari kami berlima, semuanya menggelengkan kepalanya kecuali Clara. Dia mengangguk. "Dua bir. Sisanya tolong carikan yang lain."
"Baiklah, silahkan cari tempat yang nyaman untuk kalian. Hana, tolong carikan minuman tanpa alkohol di luar!"
"Oke!" Seseorang menyahut dari ruangan dalam.
Suaranya terdengar seperti perempuan. Aku baru tahu kalau ada orang lain yang bekerja di tempat ini.
Shin memberitahu kami untuk mengambil tempat duduk di pojokan. Tempat ini sebenarnya tidak gelap karena siang hari, tapi setidaknya siapkanlah cahaya lilin meski hanya beberapa di setiap pojokkan.
Kesan ruangan ini tidak terlihat nyaman untuk makan. Mika dan Christa juga terlihat tidak nyaman dengan tempat ini karena kurangnya pencahayaan.
"Maaf membuat kalian menunggu." Seseorang datang dari balik ruangan di dalam bar. Dia adalah seorang gadis yang berpakaian sama seperti Adele, tapi memiliki telinga kucing seperti Momo. Warnanya mungkin agak gelap, tapi tetap saja aku tertarik saat melihatnya.
Kalau dari nama yang dipanggil tadi, mungkin saja dia adalah Hana. Dengan gesit dia membuka jendela toko, merapihkan meja yang berantakan, dan menyalakan lampu dari kristal sihir yang sudah terpasang di dinding.
"Tempat seperti ini memiliki penerangan kristal sihir?" Mika menatap heran.
"Hebat, padahal kristal sihir adalah benda yang cukup mahal di pasar." Christa ikut berkomentar.
Dari yang aku pahami, aku juga merasakan hal yang sama dengan mereka. Tidak sembarang orang memiliki kristal sihir yang dapat mereka jadikan sebagai penerangan. Karena sumbernya berasal dari dungeon, maka harga jualnya pun cukup tinggi.
Mereka meragukan hal itu karena bar ini terlihat sepi dan tidak berpenghasilan cukup untuk membeli benda tersebut. Seketika, tempat ini berubah menjadi lebih baik setelah Hana membereskan semuanya.
"Tempat apa sebenarnya ini?" Sekarang giliranku yang berkomentar.
__ADS_1
Hana mengambil sesuatu dari meja bartender. Itu adalah sebuah papan kayu dengan tali, kemudian dia gantungkan di depan bar agar terlihat oleh orang-orang. Tulisannya, "Tempat ini sudah dipesan."
Keren.
Setelah memasang papan itu, Hana tidak kembali ke dalam bar. Dia keluar dan pergi ke suatu tempat dengan berlari.
Sembari menunggu, kami berbasa-basi sedikit mengenai bar ini. Terutama kakak-beradik itu. Mereka terlihat kagum saat menemukan bar yang bisa berubah seperti ini sesuai pelanggannya.
"Itu karena penjualan utama dari bar ini bukanlah makanannya. Tapi jika kau ingin membeli makanannya, bar ini juga menyediakannya." Jawaban Shin penuh dengan teka-teki.
Aku sedikit memahami apa yang di katakan Shin. Jurnalis Juan juga menyukai tempat ini karena hal tertentu. Oh, iya!. Apakah dia ada di lantai 2 sekarang?
Tidak, aku tidak boleh meninggalkan mereka di sini hanya karena urusan pribadiku. Aku harus bisa menikmati makan bersama ini dengan sebaik mungkin.
Kalau dari yang aku ingat, makan bersama atau semacam perayaan para petualang itu biasanya dilakukan saat jam makan malam. Melakukannya siang hari sebenarnya mengurangi nilai dari perayaan tersebut. Tapi tidak apalah, sebab Mika dan Christa harus segera kembali ke ibukota.
"Terima kasih sudah menunggu." Sepuluh menit kemudian, Adele datang membawa banyak makanan di kedua tangannya. Hana juga ikut di belakangnya membawakan minuman untuk kami berenam sekaligus.
"Ini! ?" Aku tidak percaya saat melihat hidangan yang mereka sajikan di hadapan kami.
Hanya dengan sepuluh menit, mereka berdua dapat menyajikan makanan yang menakjubkan ini? Dari aroma dan warna setiap bahannya, cara mereka memasak sama sekali tidak bisa diremehkan.
Aroma bumbu yang sangat terasa, warna dari daging dan sayuran yang di masak sempurna, sangat membangkitkan nafsu makanku.
Momo sudah meneteskan air liurnya, dan Kakak-beradik itu juga terlihat tidak sabar ingin mencicipinya.
"Apa yang kalian tunggu? Nikmatilah selagi masih hangat." Ucap Shin.
Tentu saja, kami semua sudah tidak sabar ingin menikmati hidangan ini.
"Selamat makan!"
GILAAA!!! ENAK BANGET!!!
Rasanya seperti masakan restoran bintang 5 di duniaku.
Momo menyantap daging dengan sangat lahap, sedangkan kakak-beradik itu menikmati hidangan ini dengan tenang dan bahagia.
Kalau Shin dan Clara, mereka berdua terlihat rindu menikmati makanan yang mereka santap. Seperti yang kuduga, mereka pasti sudah pernah ke tempat ini sebelumnya.
"Adele sangat pandai memasak, kenapa kau tidak?" Shin melirik ke arah Clara.
"Hee, itu kan memang pekerjaannya." Clara merengut sebal." Aku hanyalah seorang resepsionis guild. Apa yang kau harapkan dari pensiunan petualang sepertiku?"
Hahaha, bisa-bisanya mereka berdua bercanda seperti itu. Kalau soal memasak, aku juga sangat hebat dalam membuat makanan instan.
Tapi untuk sekarang ini, aku menikmati makanan yang mereka sajikan dengan sepenuh hati. Sejak datang ke dunia lain, pertama kalinya aku merasakan makanan yang sangat enak, yang membuatku semakin betah tinggal di dunia baru ini.
Sambil makan, pastinya menyenangkan jika ada semacam obrolan yang menyenangkan. Berhubung bar ini menjadi milik kami untuk sementara, aku jadi merasa lebih nyaman untuk membicarakan apapun kepada mereka. Mumpung Mika dan Christa juga belum berangkat ke ibukota.
Aku ingin tahu tentang barang-barang yang kami dapat dari markas bandit. Bagaimana cara Shin dan Clara menjual semuanya menjadi uang? Jika mereka pernah menjadi petualang, mungkin mereka tahu beberapa tempat menakjubkan lain selain tempat ini.
Aku tidak sabar ingin melihat apa yang akan kutemukan selama menjadi petualang. Aku ingin kembali ke dungeon dan masuk lebih dalam, juga mengambil permintaan berbahaya melawan monster besar dan mengerikan.
__ADS_1