
"Shin, kau datang!" Riel terlihat bahagia. Dia sedang memangku gadis kucing yang tidak sadarkan diri itu. Clara segera menghampiri dan memberi bantuan pengobatan kepada mereka.
Gadis kucing itu tidak terlihat terluka atau sebagainya. Tapi dari bekas serangan sihir menakjubkan di depanku ini, aku bisa menyimpulkan kalau dia adalah seorang Sorcerer yang pingsan karena kehabisan mana.
Gadis sekecil dirinya dari ras lain selain manusia atau elf, dapat merapalkan mantra tingkat tinggi seperti ini bukanlah hal yang wajar.
Ini adalah sihir yang hanya bisa di gunakan seorang Mage dengan kelas Sorcerer berlevel 4 keatas. Icicle Storm. Tapi dampak dari Icicle Storm yang sebenarnya dapat lebih menakutkan dari hanya membekukan banyak orang. Jika manamu cukup, kau bisa membekukan sebuah kota sebesar Deedalee.
"Riel, kau tidak apa-apa" Aku berjalan mengampiri mereka. "Kau pasti sudah siap atas tindakanmu 'kan?"
"Ah! Hehehe." Dia malah tertawa nakal.
Para bandit itu sedang sial karena menculik gadis yang salah, dan gadis yang sangat salah. Mereka tidak mengira tindakan tersebut dapat berbalik menyerang mereka dengan telak. Aku bahkan tidak perlu repot-repot mengurus mereka semua begitu tiba di sini.
“Kakak!” Christa berlari ke arah seseorang yang menggunakan pedang dan perisai. Warna rambut dan model pakaian mereka sama, hanya saja kakaknya adalah seorang Cleric. Tapi...
“Christa!”
Kakaknya terlihat lebih cantik.
“Cih, tempat ini menjadi lebih ramai dari sebelumnya.” Orang yang tampak seperti pemimpin mereka itu terlihat ingin melarikan diri.
Saat pertama kali datang tempat ini, aku merasakan sensasi aneh pada sekujur tubuhku. Tepatnya sensasi ini muncul ketika bertemu dengan orang itu.
Bagaimana? Apakah dia benar-benar memiliki sebuah artefak?
Ya. Hanya saja miliknya cuma tiruan buatan manusia, yang tidak lebih dari sekadar sampah.
Hmm, jadi kau merasa dirimu jauh lebih baik darinya?
Tentu saja, hmph!
Aku mengeluarkan pedangku dari sarungnya, dan mulai mengalirkan sedikit mana ke dalamnya. Cahaya ungu keluar dari rune yang terukir di bilah pedang milikku.
Pemimpin mereka sampai bergidik begitu melihatku melakukan hal tersebut. Seperti yang kuduga, dia menyimpan sebuah artefak yang berbahaya.
“Cepat! Kita harus segera pergi dari sini!”
Mereka berdua pun berlari meninggalkan kami.
“Hei, jangan lari!” Riel beranjak berdiri dan ingin mengejar mereka.
“Tahan, Riel.” Aku menghentikan langkahnya. “Biar aku saja.”
“Tapi, aku harus memberikan pelajaran kepada orang itu.”
“Kau bukan seorang guru. Pergilah bersama Priest itu dan kakaknya untuk menyelamatkan para sandera. Clara, tolong urus gadis kucing itu. Dia hanya pingsan kehabisan mana.”
"Baik." Clara mematuhiku.
Aku mulai berlari mengejar mereka yang kabur tadi. Selama dia memiliki artefak tersebut, mudah saja bagiku mencari mereka di seluruh hutan ini.
“Jadi, kau Shin Raiden.” Seseorang menyebut namaku seperti sudah pernah mendengarnya. Dia adalah kakaknya Christa yang seorang Cleric. Aku dapat merasakan aura yang kuat di dalam dirinya.
“Ya.”
“Aku Mika Marletta, dan ini adikku Christa Marletta . Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan petualang terkenal di kerajaan ini.”
"Terima kasih kembali untuk yang sebelumnya." Christa kembali mengatakan itu untuk yang kesekian kalinya.
Ciee, siapa yang malu sewaktu dibilang terkenal oleh seorang gadis cantik?
Seingatku, gadis yang sering mengobrol denganku itu selalu gagal diet. Anehnya dia masih merasa percaya diri.
Aku tidak perlu diet! Memangnya aku jadi gendut bagimu, hah!?
Berat badanmu bertambah sejak terakhir kali aku memegang pedang ini. Itu berarti kau menjadi lebih gemuk.
Aaaaakh!!! Pokoknya aku marah!
Terserah.
“Namaku Shin Raiden. Terima kasih sudah menjaga kedua gadis itu.” Aku juga memperkenalkan diriku pada mereka.
“Ahaha, sebenarnya mereka berdualah yang lebih tepatnya menjagaku.”
Hmm? Aku tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka sewaktu di dalam sana, dan pastinya Riel akan berbuat sesuatu yang di luar pemikiran. Dia memang merepotkan.
“Seperti yang aku katakan tadi, tolong amankan para sandera yang masih berada di dalam sana.”
“Baiklah, serahkan saja padaku.”
***
"Cepat, jalankan kudanya." Seseorang berpakaian bangsawan dengan topi fedora tengah berlari ke arah kereta kuda miliknya.
__ADS_1
Tidak perlu ditanyakan lagi, kereta kuda miliknya juga dibuat sangat baik demi menjaga reputasi dan harga dirinya. Kedua kudanya yang berwarna putih terlihat cantik dan gagah.
Melihat tuannya sedang terburu-buru, kusir tersebut langsung menyiapkan kereta kudanya untuk berangkat.
Begitu tuannya masuk bersama pengawalnya, kusir itu langsung memacu kudanya untuk mulai berjalan. Dia terus memacu kudanya agar bergerak lebih cepat tanpa mempedulikan perasaan mereka.
"Hiyaa! Hiyaa!" Kereta kuda itu berjalan dengan cepat berkat pecutan kusir yang cukup kencang.
Mereka melewati jalan di dalam hutan, pergi meninggalkan markas bandit secepat mungkin. Apa yang sedang terjadi di sana, kusir kereta kuda itu tidak terlalu tahu. Dia hanya menjalankan perintah dari tuannya untuk mengemudikan kereta.
"Ah, sialan! Bagaimana mungkin semua anak buahku bisa dikalahkan oleh para gadis petualang. Lalu setelahnya datang lagi teman-teman mereka yang lebih merepotkan. Aaaggh!!" Dengan emosi yang memuncak, orang itu memukul-mukul dinding kereta.
"Mohon tenanglah, Tuan Kaylin. Kau bisa menghancurkan kereta kuda milikmu sendiri." Seorang pengawal yang berpenampilan seperti Assassin itu mencoba membujuk. Tapi suasana hati tuannya masih tidak kunjung membaik.
"Apalagi bocah lelaki itu." Kaylin mencoba mengingat-ngingat sesuatu di kepalanya. "Aku tahu dia. Dia adalah salah satu petualang pengguna artefak terbaik di kerajaan ini."
"Maksud tuan, petualang Shin Raiden itu?" Pengawalnya mencoba menebak.
"Ya." Eksperesi tuannya sekarang berubah menjadi serius. "Berhadapan dengannya secara langsung merupakan pilihan terbodoh."
Setelah itu, suasana kereta kuda tersebut kembali menjadi hening. Hanya suara tapak kuda dan sang kusir yang masih memacu kudanya dengan cepat. Selama tuannya belum memerintahkannya untuk memperlambat laju kereta, dia akan tetap memacunya secepat mungkin.
"Ha, heii!!" Teriak Kaylin.
Dua orang yang berada di dalam kereta itu terkejut karena kereta mereka berhenti mendadak. Akibatnya, mereka yang berada di dalam kereta terpental dari posisi mereka sebelumnya.
Bruk!
Pengawal di dalam kereta itu berhasil menjaga tuannya dari benturan, meskipun mengorbankan dirinya terbentur lebih parah.
"Apa-apaan ini!? Kenapa kau menghentikan keretanya dengan mendadak, dasar kusir sialan! Kau mau mati, ya?"
"Ma-ma-ma-maafkan aku, tuan! Ta-ta-tapi, di depan sana..." Kusir itu terbata-bata dalam bicaranya. Tuannya pun tidak dapat mendengar apa yang dia katakan dengan jelas.
"Ada apa? Siapa yang berani menghalangi jalan kereta kudaku? Akan aku bunuh orang itu dan keluarganya!"
Karena sudah beberapa saat kusirnya tidak menjawab, akhirnya dia keluar sendiri untuk memastikan apa yang terjadi di luar sana. Di dalam pikirannya, dia sudah berencana ingin membunuh siapapun yang mengganggu dirinya. Termasuk kusirnya itu.
"Mana orang itu? Akan aku..."
Belum selesai kalimatnya, Kaylin terdiam setelah melihat apa yang ada di depan sana.
Kusir kereta kuda itu terjatuh dari tempatnya karena kehilangan keseimbangan. Dia merangkak ketakutan bukan karena orang yang menghalangi kereta kuda mereka, melainkan takut dibunuh oleh tuannya.
Tapi sejak tuannya keluar kereta, tidak ada yang terjadi kepada dirinya. Meski begitu, dia terus kabur hingga masuk ke dalam hutan meninggalkan tuannya sendiri bersama pengawalnya.
Di depan sana, berdiri seorang lelaki yang menyebabkan kereta kuda mereka berhenti. Dia menggunakan pakaian serba hitam dan menggenggam pedang unik di salah satu tangannya.
Kedua kuda putih yang menarik kereta tiba-tiba memberontak tidak karuan. Itu terjadi saat orang di sana membuat pedangnya memancarkan aura berwana ungu. Mungkin saja itu penyebab kuda mereka menjadi tidak tenang.
"Aku tidak perlu menjawab pertanyaan orang yang sebentar lagi akan kubunuh. Benarkan?" Dengan santai lelaki itu berbicara.
"Hah, sombong sekali dirimu. Pengawal! Cepat habisi orang itu!" Kaylin memberi perintah.
Dari dalam kereta kuda, keluar pengawalnya yang masih merasa kesakitan akibat benturan. Dia memaksakan dirinya untuk berdiri demi memenuhi perintah tuannya.
Dari balik jubahnya, pengawal tersebut mengeluarkan belati yang memancarkan aura ungu juga. Dia berlari menerjang ke arah lelaki yang menghalangi jalan mereka.
"Sonic Stab."
Jleb!
Pengawal itu langsung berhenti dan menjatuhkan belati di tangannya. Kemudian setelah pedang ditarik dari dadanya, dia terjatuh ke tanah karena sudah tidak berdaya.
"Tidak mungkin!?" Kaylin menatap pengawalnya yang semudah itu ditumbangkan orang lain. "Kauuu!!"
Lelaki yang telah membunuh pengawal itu, menebaskan pedangnya di udara untuk membuang darah yang menempal di bilahnya.
"Kau tidak akan berakhir secepat ini juga 'kan?"
"Dasar kurang ajar!!!" Kaylin mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya.
Sebuah bola kayu dengan ukiran di setiap permukaanya. Benda itu mengeluarkan cahaya hitam begitu dialiri mana ke dalamnya.
"Hahaha! Apakah kau masih bisa mengalahkanku setelah ini?" Dengan bangga Kaylin memamerkan benda miliknya tersebut.
Beberapa saat kemudian, bola yang memancarkan aura hitam itu berubah menjadi lebih besar, dan lebih besar lagi.
Kali ini aura hitam tersebut berubah menjadi lengan-lengan bayangan dengan jumlah banyak. Kemudian bola tadi memadat dan menjadi sebuah tubuh dari lengan-lengan itu. Sebuah mata besar berwarna merah juga muncul di tengah tubuh mahkluk hitam tersebut.
"Lihatlah, kekuatan dari artefak iblis milikku ini! Kau tidak akan bisa menghadapinya dengan mudah! Mwahaha!"
Kaylin memanggil sebuah mahkluk dari artefak iblis miliknya. Mahkluk itu memiliki sebuah mata besar berwarna merah dan juga banyak lengan hitam di sekujur tubuhnya. Mata besarnya bergerak-gerak seakan mencari sesuatu.
Akibat mahkluk tersebut, kedua kuda yang menarik kereta mereka sudah tidak kuat lagi dan melarikan diri sambil menarik keretanya.
__ADS_1
"Demon Eye. Sudah lama aku tidak melihatnya." Seorang gadis muncul dari belakang lelaki tersebut. Rambutnya panjang berwarna violet, begitu juga dengan warna matanya. Pakaiannya terlihat modis dan mencolok bagi seseorang yang tinggal di dunia itu.
"Tumben kau mau keluar, Violet. Bosan di dalam sana?" Lelaki itu memanggilnya.
"Tentu saja. Kau akan bertanggung jawab untuk itu, Shin." Gadis bernama Violet itu memukulnya dengan pelan.
Dari balik mahkluk besar tersebut, Kaylin ketakutan melihat mereka berdua.
"Tidak mungkin. Jangan katakan kalau kau juga seorang pengendali roh."
"Itu memang benar. Aku bukan hanya seorang pendekar pedang biasa, tapi aku juga seorang pengendali roh tingkat tinggi." Shin bergerak maju dan mengangkat pedangnya untuk menyerang.
Gadis bernama Violet tadi berubah menjadi cahaya ungu dan menyelimuti pedang milik Shin. Sekarang pedang tersebut menjadi lebih panjang dan besar dari sebelumnya berkat diselimuti cahaya tersebut.
"Serang dia, Demon Eye!" Kaylin memberikan perintah, dan mahkluk besar itu menggerakkan semua lengannya untuk menyerang Shin.
Slash! Slash! Slash!
Shin dengan lambat mengayunkan pedangnya menebas lengan-lengan Demon Eye. Karena peningkatan kekuatan pada pedangnya, berat pedang tersebut juga bertambah yang membuat Shin harus memegangnya denga dua tangan.
Slash! Slash! Slash!
Mahkluk itu menyerang Shin dengan cepat, namun satu tebasan pedang Shin mampu menebas beberapa lengannya sekaligus.
"Inikah kekuatan dari artefak iblis? Tidak lebih dari seekor cumi-cumi besar bagiku." Ejek Shin.
Kaylin kesal dengan ejekan tersebut, tapi malah melampiaskan pada mahluk panggilannya sendiri.
"Dasar mahluk payah tidak berguna! Keluarkan seranganmu yang lain!"
Mahkluk besar itu berhenti menyerang Shin dengan lengan-lengannya. Ia bergerak mundur untuk mengambil jarak dari Shin, lalu membuka matanya lebar-lebar ke arah lelaki tersebut. Energi dengan jumlah besar terkumpul pada matanya yang terbuka itu.
"Hindari ini kalau bisa!"
Energi itu semakin padat dan menjadi gumpalan hitam di depan matanya.
BAAMMM!!
Sebuah sinar ditembakkan dari mata mahkluk tersebut. Sinar yang sangat panas dan mampu menghanguskan apapun yang ada di garis serangnya sejauh puluhan meter.
Tapi diantara banyaknya pohon yang musnah akibat tembakan sinar tersebut, Shin masih berdiri tegak tanpa terluka sedikit pun. Dia menggunakan pedangnya sebagai perisai untuk menahan serangan mematikan tersebut.
"Apa!?" Kaylin menatap tidak percaya.
"Rupanya lebih lemah dari yang kubayangkan. Mahkluk itu masih terlalu lemah untuk digunakan bertarung denganku." Shin kembali mengejek.
"Aaagghh!! Apapun yang kau ingin gunakan, cepat habisi orang itu! Demon Eye!" Kaylin murka dan memberi perintah untuk menyerang lagi.
Mahkluk besar itu tidak terlihat kelelahan setelah menembakkan sinar barusan. Sekarang ia kembali menggunakan lengan-lengannya untuk menyerang Shin.
"Blade Storm!"
Shin menebas pedangnya sekali dengan kuat, dan memunculkan puluhan bayangan tebasan yang menyerang Demon Eye sekaligus.
Slash! Slash! Slash! Slash!
Semua lengan di mahkluk itu terpotong akibat serangan Shin. Sekarang ia sudah tidak memiliki apapun lagi untuk menyerang secara fisik. Meski mahkluk itu bisa memulihkan diri, pasti membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
"Tembakkan lagi sinar itu! Cepatlah, dasar mahkluk lemah!"
Meski Kaylin membentaknya dengan keras, mahkluk tersebut tetap tidak bisa menggunakan serangan tadi secara beruntun. Ia tetap membutuhkan waktu untuk mengisi kembali tenaganya sebelum menembak.
"Apa yang kau lakukan? Cepat!"
Mahkluk besar itu menjadi kebingungan. Mata besarnya bergerak-gerak tidak menentu ke berbagai arah.
"Kita akhiri saja sampai di sini." Shin membuat kuda-kuda dengan mengangkat pedangnya ke langit. "Heavy Slash!"
Kali ini Shin mengayunkan pedangnya ke bawah dengan sangat kuat, dan menciptakan bayangan serangan besar di garis tebasannya tadi.
Mahkluk besar itu bergerak terlalu lambat sehingga tidak akan bisa menghindari serangan dari Shin.
Slash!
Demon Eye terbelah dua dan terjatuh di tanah. Tak lama kemudian mahkluk itu berubah kembali menjadi bayangan hitam dan lenyap begitu saja bagai asap.
"Tidak mungkin." Kaylin jatuh berlutut di tempat mahkluk tadi mati. "Tidak mungkin Demon Eye dapat dikalahkan dengan semudah itu."
Shin berjalan mendekati Kaylin yang tak berdaya di tanah. Cahaya di pedangnya berangsur-angsur hilang dan kembali membuatnya menjadi normal. Shin berhenti di depat orang tersebut.
"Ada kata-kata terakhir?"
"..."
"Akan kuanggap tidak ada."
__ADS_1
Slash!