
Aku memanggil mereka bertiga, dan menyuruh ketiganya untuk berdiri di depanku.
Riel, Momo, dan juga bocah itu. Sebelumnya aku sudah yakin kalau Riel tidak akan mengikutiku jika aku membuatnya marah. Namun tanpa diduga, dia malah merencanakan sesuatu seperti ini hanya demi tujuannya.
Pagi ini setelah aku pergi dari penginapan mereka, aku mampir ke beberapa tempat terlebih dahulu untuk membeli persiapan. Aku juga sekali lagi pergi ke bar milik Adele untuk menanyakan sesuatu, dan baru sempat mencari kereta kuda menjelang sore hari.
Selama itu aku tidak tahu apa sedang mereka lakukan di penginapan. Mungkin saja masih marah, atau menggerutui diriku? Namun ternyata dia sudah bergerak duluan sebelum diriku.
"Mmmm." Aku bergumam, sengaja membuatnya terdengar oleh mereka.
Aku duduk di sebuah batu yang cukup besar, di depan ketiga orang yang sedang berdiri menghadapku. Riel menelan ludah, Momo terus menunduk, dan si bocah tampak gemetaran.
Tindakannya tidak boleh aku biarkan begitu saja kali ini. Karena jika aku tidak bertindak tegas, seterusnya dia akan tetap keras kepala.
"Jadi?" Aku menunggu suatu jawaban dari mereka, tapi tidak ada yang berinisiatif untuk memulainya. Aku tidak berniat membuat mereka ketakutan, tapi nampaknya aku sudah melakukannya.
Shin.
Kenapa kau tidak bilang padaku sejak tadi?
Aku ingin bilang kalau Riel pasti akan mengikutimu, tapi menurutku kau juga pasti tidak akan peduli dengan yang kukatakan.
Lalu aku tidak tahu jika mereka berada di dalam kotak itu tadi. Efek dari cincin yang mereka kenakan, membuatku tidak bisa merasakan kehadiran keduanya.
Baiklah, aku terima penjelasanmu. Ini juga salahku karena lagi-lagi lengah darinya.
"Ada yang ingin kalian katakan?" Tanyaku. "Bagaimana jika dimulai darimu, Momo."
"Mm?" Momo melihat ke arahku, lalu kembali menundukkan kapalanya. "Aku hanya ingin ikut dengan Kak Riel."
Sebelumya dia mengatakan kalau tidak ingin pergi ke desanya, lalu pada akhirnya dia ikut dengan Riel menuju ke desanya juga.
"Begitu, ya." Aku menganggukkan kepala. "Lalu?"
Riel bergidik saat aku melihat ke arahnya. "Ahaha. Aku... hanya ingin berkunjung ke desanya Momo. Jadi aku mencari kereta kuda yang bisa mengantarku, lalu menemukanmu dengan tujuan yang kebetulan sama."
Alasan yang cukup menarik. Padahal tinggal katakan saja yang sebenarnya, karena jawaban itu tidak akan lebih panjang dari alasan tadi.
"Lalu, bagaimana denganmu? Ada yang ingin kau katakan?" Aku menatap bocah yang memberikan kami tumpangan.
"Aku minta maaf, tuan petualang! Mereka membayarku, dan aku hanya menjalankan apa yang mereka katakan." Dia membungkuk kepadaku.
Bocah itu memang tidak bersalah, karena dia hanya menjalankan bisnisnya saja untuk memberi tumpangan. Namun dia juga ikut dalam rencana Riel yang menyebalkan.
Haah... Sebenarnya aku sudah cukup terbiasa dengan hal seperti ini. Hanya saja karena sudah lama aku tidak mengalaminya, rasanya jadi lebih melelahkan dari biasanya.
Kemudian tidak mungkin juga aku menyuruh mereka berdua pulang sekarang menuju Kota Deedalee yang sudah sangat jauh, dan hari yang sudah mulai malam.
Karena sudah terjadi, maka tidak ada pilihan lain selain membiarkan mereka ikut bersamaku ke desa itu. Buruknya urusanku akan bertambah banyak jika mereka ada bersamaku. Jika terjadi pertarungan, mereka bisa saja menjadi beban nantinya.
Tapi sekali lagi, sudah tidak ada pilihan lain. Mau tidak mau aku harus tetap menerimanya.
"Segeralah beristirahat. Kita akan segera berangkat dalam beberapa jam." Ujarku.
"Tapi tuan... Maksudku, Shin. Bukankah malam hari terlalu berbahaya untuk bepergian?"
"Selama ada diriku, itu tidak perlu dikhawatirkan."
__ADS_1
"Aye, aye! Captain!" Bocah itu bergegas pergi untuk menyiapkan tempat beristirah. Dia sedang menyiapkan tenda kecil untuk para gadis tidur di dalamnya.
Kemudian, Riel dan Momo masih berdiri pada tempatnya. Riel memperhatikanku dengan wajah heran, dan Momo juga ikut melakukannya.
Apa? Apa ada sesuatu di wajahku?
"Apakah kau Shin?" Tanya Riel.
"Hah?" Aku tidak paham dengan maksud pertanyaannya.
"Haha, tidak jadi. Tumben saja kau pasrah dengan apa yang aku perbuat kali ini. Baiklah, aku akan pergi membantu Roger menyiapkan tendanya. Ayo, Momo!"
"Ya."
Mereka berdua pergi ke tempat kereta kuda terparkir, dan membantu bocah itu menyiapkan tempat beristirahat.
Apa aku salah?
Tidak. Biasanya kau memang begitu 'kan?
Baiklah. Aku... akan membantu mereka juga.
Aku beranjak dari tempatku duduk, kemudian berjalan ke tempat mereka menyiapkan tenda. Di dekat sini hanya ada sedikit pohon. Jadi akan sedikit memakan waktu untuk menyiapakan api.
Kira-kira apa yang akan dilakukan Clara di Kota itu sendirian dengan setumpuk uang? Setahuku dia bukanlah orang yang pemboros, dan juga bukan korban yang tepat bagi para pencuri. Aku yakin dia akan baik-baik saja.
***
Semalam itu cukup tumben Shin membiarkanku lepas. Tapi sebenarnya itu sudah termasuk ke dalam rencanaku sih. Hehehe.
Dia tidak mungkin membiarkan kedua gadis ini pulang sendiri ke kota yang sudah sangat jauh, ditambah hari yang sudah mulai larut. Jadi Shin tidak akan punya pilihan lain selain membiarkan kami ikut bersamanya hingga sampai ke desa Momo.
"..."
Begitu kami tiba di sana, tidak ada seorangpun dari kami yang berkomentar. Bahkan untuk sekadar bilang 'kita sudah sampai'.
Setelah melewati hutan, lintasan yang cukup sulit, dan akhirnya kami tiba di desa tempat tujuan kami. Namun kenyataannya tidak sesuai ekspetasi.
Desa ini terlihat sangat kumuh dari kelihatannya. Pagar desa yang hanya dari potongan kayu rusak, dinding kayu di setiap rumah penduduk juga banyak berlubang, hingga pakaian yang mereka kenakan tidak lebih dari sekadar menutupi tubuh saja.
Tempat ini lebih buruk dari yang aku kira sebelumnya.
"Selamat datang di desaku." Ucap Momo dengan pelan.
Aku sempat berpikir kalau Momo tidak ingin kembali ke desanya karena sudah merasakan hidup di kota. Tapi aku tidak percaya dia adalah orang yang seperti itu.
Shin berjalan duluan mendahului kami. Dia mendekati pintu masuk desa, yang mana di sana sudah bersiaga beberapa orang bertelinga kucing dengan tombak di tangannya.
"Si-siapa kalian? Ada tujuan apa kalian ke desa kami?" Penjaga itu dengan ketakutan, memberanikan dirinya untuk menghadang Shin.
Sejak kami tiba di desa ini, semua penduduknya berkumpul dan memperhatikan kami dengan jijik. Mereka juga melempar tatapan curiga, tatapan marah, dan tatapan yang tidak nyaman lainnya. Ada juga sebagian dari mereka yang bersembunyi begitu melihat kami datang.
"Tidak perlu khawatir. Kami datang dengan damai ke desa ini. Aku hanya memiliki sedikit urusan, dan akan segera pergi setelah selesai." Shin mencoba membujuk penjaga itu, yang sedari tadi menodongkan tombaknya pada Shin.
"Maaf. Tapi kami tidak menerima tamu manapun dari luar. Silahkan pergi sekarang juga." Penjaga itu tetap menolak kami.
"Tentu saja kami tidak datang ke desa ini secara cuma-cuma. Kami bisa menawarkan bantuan kepada kalian—"
__ADS_1
"Kami tidak butuh bantuan kalian!" Penjaga itu memotong omongan Shin dengan marah.
Mereka semua terlihat marah, kesal, dan ingin mengusir kami dengan paksa. Tapi penjaga itu saja gemetaran memegang tombaknya. Apa jadinya dengan penduduk biasa yang lain?
Momo masih terdiam di sampingku. Para penduduk desa belum menyadari kalau ada seorang dari mereka yang bersama kami. Itu karena Momo masih mengenakan tudung untuk menyembunyikan telinganya.
*Cium* *Cium*
Penjaga itu terlihat sedang mencium sesuatu di arah kami. "Kau yang di sana!" Dia menunjuk ke arah Momo. "Tunujukkan dirimu yang sebenarnya!"
Penjaga itu merasa curiga dengan Momo yang masih mengenakan tudungnya. Sudah kuduga, cepat atau lambat identitas Momo pasti akan ketahuan oleh mereka.
Perlahan Momo membuka tudungnya dan memperlihatkan telinga kucing yang sama seperti mereka. Para penduduk terkejut, dan mulai berbisik satu sama lain di belakang.
"Kau? Kau Momo 'kan!? Apa yang kau lakukan bersama para manusia!"
"Mereka... menyelamatkanku dari para bandit." Jawab Momo.
"Hah!? Padahal sudah bagus kau tidak ada di desa ini. Lalu untuk apa kau kembali lagi ke sini!?"
Apa!?
"I-itu..."
Apa yang mereka katakan?
Aku, Shin, dan juga Roger sempat terkejut begitu mendengarnya.
Apa yang mereka katakan pada Momo? Barusan aku tidak salah mendengarnya 'kan?
"Pergilah kalian dari desa kami! Bawa juga anak aneh itu bersama kalian! Kami tidak menerima penyihir di dalam ras kami!"
"Ya! Bawa saja dia pergi!"
"Cepat pergi dari sini! Kau tidak akan diakui oleh ras kami!"
Mereka semua tidak menerima Momo hanya karena dia bisa sihir? Tapi bukankah ada seseorang yang mengajari kalian di desa ini?
Suasana menjadi panas, kami menerima banyak hujatan dari para penduduk desa. Mereka meneriaki kami dari balik pagar,melempar sumpah serapah pada kami, dan terkhusus kepada Momo.
"Cepat pergi dari desa kami, dasar anak aneh!"
"Kau hanya pembawa bencana!"
Tubuh Momo gemetar menerima semua ucapan mereka. Namun dia masih berusaha menahannya.
Ini? Apa yang sebenarnya terjadi di desa ini?
"Maaf jika aku menyela kalian, tapi-"
"Sudah diam kau, manusia! Kalian semua juga membawa bencana bagi ras kami." Lagi-lagi penjaga itu memotong omongan Shin. "Kalian menculik anak-anak kami! Kalian merusak tempat tinggal kami! Kalian membunuh keluarga kami!"
Beberapa penduduk terdiam, bahkan ada yang menangis saat mendegar kata-kata itu.
"Bukankah gadis-gadis kucing yang diculik sudah dipulangkan dengan selamat oleh para kesatria? Kenapa kalian tidak bersyukur atas hal itu, dan malah menyalahkan kami semua?" Tanya Shin dengan kesal.
Belum ada jawaban dari para penduduk untuk pertanyaan Shin. Mereka semua masih terdiam dan menundukkan kepalanya. Mendadak suasana panas tadi berubah menjadi suram. Ekspresi mereka juga mulai berubah, dan yang menangis semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
"Mereka semua belum kembali."