
Setelah selesai acara mandi bersama kucing, kami berdua lantas pergi ke kamar untuk beristirahat.
Pakaian ganti yang dipinjamkan penduduk desa kepada Momo terlihat begitu cocok dengannya. Dia terlihat berbeda dari sewaktu masih menggunakan jubah lusuh itu. Aku bahkan tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahku begitu melihatnya. Aku ingin menerkamnya.
"Mmm, Kak Riel?" Panggil Momo pelan.
"Ya~"
"Bisa kau tidak menatapku seperti itu?"
"Oh, maaf." Ada apa ini? Tiba-tiba sikapnya berubah drastis dari sebelumnya.
Wajahnya yang imut sewaktu aku menyentuh telinganya, dan juga tingkah lucu memberontaknya sewaktu kami mandi bersama, sekarang semuanya pergi kemana? Wajahnya kembali datar tanpa ekspresi.
"Apa kau tidak enak badan, Momo?" Tanyaku heran.
"Tidak. Aku baik-baik saja."
Dia berjalan begitu saja melewatiku dan keluar kamar.
Eh?
"Kau ingin pergi kemana, Momo?" Aku menghentikan langkahnya.
"Tenang saja. Aku tidak akan pergi dari desa ini." Dia hanya menjawab singkat seperti itu sembari menengok ke arahku.
"Tunggu, bukan itu yang kumaksud."
"Kalian tidak ingin membantuku, bukan?" Ucap Momo sembari menoleh kembali ke depan.
"Kalau begitu, tidak ada alasan untukku berharap kepada kalian." Dia kembali berjalan meninggalkan ruangan. "Terima kasih telah mengijinkanku tinggal di sini."
"Tu-tunggu," Aku juga berjalan mengikutinya.
Momo berjalan menuruni anak tangga menuju ke lantai dasar, kemudian berhenti sesaat untuk melihat ke sekitar. Aku mengikutinya berhenti dan juga melihat ke sekitar. Apa ada sesuatu yang dia cari?
Kami berdua keluar dari bangunan dan berjalan di sekitar desa. Dia sempat berhenti beberapa kali untuk melihat sekitarnya. Seperti hewan ternak, kebun buah dan sayur, serta aktifitas umum para penduduk desa. Momo memperhatikan mereka semua dengan ekspresi biasanya.
Sedari tadi aku hanya berjalan mengikuti Momo. Selama aku mengamatinya, hanya tatapan kosong yang dapat kulihat dari wajahnya. Momo melihat ke sekitarnya sembari melamunkan sesuatu. Itu saja yang mungkin bisa kutangkap.
Sepertinya aku mulai mengerti apa yang sedang Momo pikirkan. Dia pasti sedang mengingat desa tempat tinggalnya sebelum para bandit itu menyerang.
"Momo?"
"..." Dia tidak menjawab.
Dia memerhatikan semua aktifitas umum yang dilakukan penduduk di desa ini, yang mungkin tidak jauh berbeda dengan desa tempat tinggalnya. Apalagi dia pasti merasa kecewa karena tidak seorang pun ada untuk mengulurkan tangan kepadanya.
Teman-temannya telah mempercayakan Momo untuk memanggil bantuan dan menyelamatkan mereka. Dengan mempertaruhkan nyawanya, dia berhasil kabur dan berlari dari kejaran para bandit itu sampai tiba di desa ini.
Tapi setelah sampai, dia tidak berhasil mendapatkan bantuan dari para penduduknya. Para pemburu itu dapat menyelamatkan Momo, namun mereka tidak bisa bertindak lebih jauh jika berurusan dengan satu kelompok besar bandit.
Aku? Apa yang aku bisa seorang diri? Pergi ke sana sama saja dengan bunuh diri.
Sekali lagi aku teringat kalau ini bukanlah dunia game, melainkan dunia lain yang nyata. Dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika aku mati.
Aku juga terpisah dari keluargaku, kakakku, rumahku, dan teman-temanku. Aku juga sempat frustasi begitu tahu aku tidak bisa kembali ke dunia lamaku. Tapi dengan adanya Shin dan Clara, serta Paman Guy dan yang lainnya, itu membuatku sedikit merasa aman berada di dunia yang asing ini.
Yang terjadi pada Momo pun tidak begitu jauh berbeda. Hanya saja dia tidak memiliki siapapun yang dia kenal di luar desa. Tidak ada juga orang yang ingin membantunya.
Aku ingin melakukannya. Aku sangat ingin membantunya! Tapi apa yang harus aku lakukan?
"Hoooi, Nona Rieeell!!" Teriak salah seorang penduduk desa dari jauh.
Aku menengok, dan menggunakan telapak tanganku untuk menutupi cahaya matahari yang terik, agar bisa melihat seseorang yang jauh itu.
Begitu aku melihatnya, aku melambaikan tanganku tanda aku mendengar panggilannya.
"Seseorang mencarimu di gerbang desa! Datanglah ke sana!"
Ho! Ada fans! Baiklah, Tunggulah aku.
"Oke!" Aku menunjukkan jempolku padanya. Orang itu mengangguk dan berjalan kembali ke tempatnya semula. Itu si penjaga gerbang yang kutemui kemarin.
__ADS_1
Aku telah tersadar dari lamunanku. Sekarang waktunya kembali beraktifitas seperti seseorang yang produktif, dan jangan meratapi nasib terus.
"Momo," panggilku lagi.
"..." Dia tidak menjawab. Tapi dari kedipan mata setelah aku memanggilnya, itu pertanda kalau dia mendengarkanku.
"Ikutlah denganku!" Aku menggapai tangannya, lalu dengan pelan menariknya berjalan menuju gerbang desa.
"Anu... kita mau kemana?"
"Ikutlah saja dulu."
Momo tidak menolak sewaktu aku mengajaknya berjalan bersamaku. Kami berdua menuju ke gerbang desa, dan aku terus menggenggam tangannya.
Aku mungkin berjalan agak cepat dari langkah yang mampu dicapai oleh kaki kecilnya, tapi dia juga berusaha berjalan lebih cepat untuk mengimbangi langkahku.
Sewaktu aku menoleh ke arahnya, wajah datarnya menatapku dengan penuh keheranan. Dia benar-benar terlihat seperti sudah pasrah dengan apa yang terjadi kepadanya.
Tak butuh waktu lama hingga kami tiba di gerbang desa. Penjaga gerbang yang tadi memanggilku sedang berdiri di depan gerbang dan terlihat tengah mengobrol bersama seorang dari luar desa.
Dari jauh orang itu terlihat seperti seorang petualang yang memakai pakaian serba hitam, dengan pedang tersarung dibalik punggungnya.
Jika di dalam dungeon, orang itu akan meletakkan pedangnya di pinggang. Lalu jika sedang berada di luar, maka dia akan meletakkannya di balik punggung.
Sebenarnya aku tidak menduga dia akan datang kesini. Aku pikir yang memanggilku adalah seorang penduduk yang aku ingin menumpang kepadanya hingga Kota Ciatar.
Lalu aku akan membawa Momo ke sana dan ingin meminta bantuan kepadanya. Tapi ternyata semuanya berjalan tidak sesuai rencana.
"Riel," Panggil orang itu.
"Shin!" Aku membalas panggilannya.
Kami berdua berhenti di dekat mereka. Momo melepas pegangan tangannya dan berdiri di belakang tubuhku. Sepertinya dia tidak nyaman jika bertemu dengan orang asing lagi.
"Tubuhmu sudah lebih baik? Sebenarnya kau tidak perlu sampai datang kesini hanya karena aku pulang telat. Sebentar lagi aku juga akan kembali, kok." Kataku pada Shin.
"Tubuhku akan pulih dengan cepat meskipun sedang sakit." Jawabnya.
"Oh, begitu ya." Cheat sembuh ya?
"Ah, itu... yaa, tadi ada sedikit kejadian yang menimpa desa ini. Jadi aku membantu sebentar para paman pemburu itu untuk mengusir bandit. Tehe."
"Jadi begitu. Kau berbohong padaku kalau kau mengusir mereka, padahal yang sebenarnya terjadi, kau bersama para pemburu menumbangkan bandit-bandit itu, bukan?" Shin membantah alasanku.
"Aah, jadi kau sudah tahu, ya."
Gawat! Aku ketahuan berbohong!
Penjaga gerbang yang berdiri tak jauh dari Shin itu menepuk kedua tangannya untuk meminta maaf padaku. Ya, telat bang.
Shin mengganti arah tatapan matanya menuju Momo.
Menyadari hal itu, Momo bersembunyi di belakang tubuhku sambil memegang erat pakaianku.
"Cukup jarang aku melihat ras setengah kucing. Apa itu gadis yang dikejar para bandit tadi?"
"Ya, namanya Momo. Dia berhasil kabur setelah ditangkap oleh mereka, lalu sedang mencoba mencari bantuan untuk menyelamatkan teman-temannya." Aku menjelaskan kepada Shin. Kali ini harus jujur dan tidak berlebihan. Dia ini terlihat sangat ahli mendeteksi kebohongan seseorang.
"Maaf, kita tidak bisa berurusan dengannya. Tinggalkan gadis itu, dan kita akan pulang ke kota." Shin langsung menyatakan hal itu tanpa berpikir panjang.
"Tunggu dulu, Shin. Kenapa kau tidak ingin membantunya? Padahal aku yakin kau cukup kuat untuk mengalahkan sekelompok bandit itu." Aku menghentikan langkahnya yang menuju salah satu kereta kuda. "Aku saja dapat menumbangkan satu dari mereka dengan sangat mudah. Jika kita bersama, sebanyak apapun mereka..."
"Hentikan pikiran bodohmu itu, Riel!"
"Eh?"
Shin menyela omonganku, Dia juga menyuruhku untuk berhenti berbicara tentang membantu Momo.
"Kenapa? Kenapa kau tidak ingin menolong mereka? Padahal selama ini kau sudah membantuku tanpa alasan yang khusus, lalu kenapa kau tidak ingin membantu Momo?" Aku membantah omongannya dan terus mencoba membujuk Shin.
"Riel, akan aku katakan kepadamu. Gadis itu tidak ada hubungannya denganku, dan tidak ada untungnya aku membantu mereka. Sekarang kemasi barangmu dan kita kembali ke kota."
"Shin! Apa maksud tidak ada hubungannya denganmu? Lalu memangnya aku memiliki hubungan denganmu sehingga kau mau membantuku? Bukankah aku juga bukan siapa-siapa bagimu sebelum kita bertemu?"
__ADS_1
"Sudah kubilang aku tidak perlu mengatakan alasan aku ingin membantumu. Jangan pernah katakan lagi hal itu."
"Kalau begitu, kau juga tidak butuh alasan untuk membantu Momo, bukan?"
"Hentikan!" Teriak Momo.
Kami berdua berhenti berdebat begitu mendengarnya.
Gadis kucing itu keluar dari balik punggungku sambil menahan tangis, kedua tangannya juga terkepal kuat. Sedangkan si penjaga gerbang hanya menonton kami dari jauh. Aku tidak sadar jika dia sudah menjauh.
"Jika kalian... jika kalian memang tidak berniat ingin menolongku... hiks, hiks. Maka tidak usah bertengkar hanya karena aku!" Setelah mengatakan itu, Momo pergi berlari ke dalam desa.
"Momo!" Aku mencoba menghentikannya, tapi dia tidak mau mendengarku.
Aku tidak dapat mendengar tangisnya, dia selalu mencoba untuk menahannya. Tapi dari larinya saja aku tahu dia sedang menahan apa yang bergejolak di dalam hatinya.
Aku hanya bisa melihatnya berlari dari kejauhan tanpa ada niatan untuk mengejarnya. Benar. Aku juga tidak punya niat maupun alasan khusus untuk menolongnya. Tubuhku menolak bahkan hanya sekedar untuk mengejarnya.
"Aku tidak ingin berlama-lama di sini. Cepat kemasi barangmu, lalu kita pulang." Shin kembali menyuruhku dengan agak dingin.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Membantu Momo, atau ikut pulang bersama Shin?
Jika aku membantu Momo, sejujurnya aku sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku akan berhadapan dengan puluhan bandit di markas mereka, dan hanya berdua saja dengan seorang gadis kucing.
"Riel," Shin memanggilku lagi. Kali ini apa lagi, sih?
Aku menengok ke arahnya dan langsung menangkap apa yang dia lempar padaku.
"What! I-i-ini..." Aku memegang kedua benda yang barusan di lempar Shin dengan pas di kedua tanganku.
"Kedua pistolku sudah jadi! Wafuuuu!!" Aku berbinar sewaktu melihat mereka berdua, dan langsung memeluk mereka dengan penuh kasih sayang.
Kedua pistol ini memiliki warna hitam yang sama seperti sisik Black Phantom Snake yang aku lawan minggu lalu. Bahkan aku bisa melihat kilatan cahaya yang memantul dari badan pistolnya. Sangat menawan.
Jika bentuk Tivon milikku seperti USP, maka pistol baruku ini agak mirip dengan Colt .45.
Come to mama, my new boys.
"Aku tidak membawa belatinya. Jadi ayo cepat kita pulang dan selesaikan misi lain. Ingat, senjata itu belum lunas." Ucap Shin.
"Oke! Aku akan mengemasi barang-barangku dulu." Aku menerima ajakan Shin dan siap untuk pulang.
"Aku akan ikut."
"Tidak perlu. Aku hanya ingin mengambil jaketku di jemuran, jadi tidak akan lama. Kau siapkan saja kereta kudanya. Aku juga ingin pamitan dulu dengan Paman Reinald." Aku langsung berlari meninggalkan Shin menuju ke gudang pemburu.
"Baiklah, jangan lama-lama."
Aku membawa kedua pistol baruku juga bersamaku. Selagi berjalan, aku memasangnya di kedua pinggangku, dan memasukkan yang lama ke dalam inventori.
Aku menuju rumah Paman Reinald untuk mengembalikan jaket yang kupinjam darinya, dan mengambil milikku yang sudah kering di jemuran.
Selanjutnya aku masuk ke dalam gudang pemburu dan naik ke lantai 2. Aku masuk kedalam sebuah ruangan yang menjadi kamar tempatku dan momo beristirahat.
Begitu masuk kedalam kamar, aku menemukan Momo yang sedang duduk termenung di pinggir kasur. Aku dapat melihat matanya yang agak membengkak karena menangis. Dia pasti sudah melepaskan semuanya di dalam kamar ini.
"Momo!" Panggilku dengan lantang.
Gadis kucing itu hanya menengok ke arahku tanpa melihat mataku. Aku tahu kau tidak ingin menunjukkan bekas wajah sedihmu kepada orang lain.
"Apa kau bisa merapalkan sihir serangan berskala besar?" Tanyaku padanya, masih berdiri di ambang pintu.
Sekarang matanya berani menatapku. Meski masih sedikit hampa, tapi dia mengangguk menyetujuinya. Lightning Spear miliknya adalah sihir serangan satu target, dia pasti paham kalau serangan berskala besar yang kumaksud bukanlah sihir tersebut. Jadi dia pasti menyimpan sihir lain yang jauh lebih kuat.
"Kalau begitu, tunggu aba-abaku dan kita akan hanguskan para bandit itu!"
Ekspresi di wajah Momo mendadak berubah drastis. Matanya yang masih berkaca-kaca terlihat kembali memantulkan cahaya yang sedikit masuk ke kamar ini. Dia menunjukkan senyuman lebarnya untuk yang pertama kali. Itu adalah senyuman terindah yang pernah kulihat sejak tiba di dunia ini.
"Ya, aku mengerti." Satu tetes air mata kembali jatuh dari matanya.
Pilihan yang akhirnya aku buat, aku akan membantu Momo apapun yang terjadi.
Terima kasih telah mengantarkan pistol baruku tepat pada waktunya, Shin. Itu menjadi salah satu penyebab aku berani mengambil keputusan ini.
__ADS_1
Misi selanjutnya, penyelamatan para kucing!