
Baiklah, kembali lagi bersama Putri Eliana a.k.a Riel, yang akan melakukan penyerangan ke markas bandit malam hari ini.
Kali ini aku ditemani oleh seorang gadis kucing super duper imut, yang bisa merapalkan sihir petir tingkat tinggi. Jadi berhati-hatilah jika kalian ingin mengganggunya, atau kalian akan kesetrum melebihi setruman colokan di rumah.
Kami sudah beristirahat dengan cukup siang tadi, juga menyiapkan beberapa perlengkapan yang akan kami bawa saat penyerangan nanti. Momo terlihat sangat siap dari wajahnya, sama sekali tidak ada keraguan di dalam dirinya.
"Ayo, Momo."
"Hm!"
Setelah semua sudah siap, kami keluar dari penginapan dan berangkat menuju tempat berkumpul. Sebuah rumah kayu rusak di dekat hutan sebelah barat luar kota. Penyebutan posisinya sangat merepotkan, tapi apa boleh buat jika demi menjaga kerahasiaan pekerjaan.
Tiba di gerbang barat kota, para penjaga di sana terlihat sangat waspada. Mereka memeriksa satu-persatu orang luar yang ingin masuk ke dalam kota. Tapi anehnya, mereka tidak mempedulikan orang-orang yang berjalan keluar.
Ini bisa dijadikan celah untuk kami lewat. Cukup berjalan dengan biasa dan tidak boleh terlihat mencurigakan.
Momo dibelakangku sudah memakai tudungnya sejak kami keluar penginapan. Kalau aku membiarkan tudungnya terbuka begitu saja, karena itu menjadi salah satu poin agar kami tidak dicurigai.
Baiklah, ayo kita coba.
Kami berjalan mengikuti beberapa orang yang hendak keluar kota. Mereka merupakan rombongan pedagang dengan dua kereta kuda, dan kami mengikuti mereka di belakang.
Sejauh ini terlihat lancar-lancar saja. Kami melewati pos tempat pemeriksaan orang yang datang dari luar kota tanpa di curigai sedikit pun.
"Hei, gadis yang di sana!" Teriak salah seorang penjaga menghentikan kami.
Ah, sial. Apa keberuntunganku sampai di sini saja? Waktunya bermain pilihan kata.
Aku dan Momo berhenti berjalan karenanya. Penjaga itu datang menghampiri kami dari sebuah ruangan. Rupanya dia adalah penjaga lain yang bukan bertugas di pos.
Apa yang kira-kira akan dia tanyakan?
"Ingin pergi kemana kalian? Ini sudah hampir malam, dan gadis sepertimu tidak boleh berkeliaran di luar kota." Kata petugas itu.
Benar saja, dia melarang kami pergi keluar kota. Lalu sepertinya aku salah memasang strategi, seharusnya aku pakai tudungku juga agar dia tidak menyadari aku seorang gadis.
Ini akan menjadi pengalaman baruku untuk kedepannya.
Bagaimana menjawabnya, ya...
"kami ingin pergi mencari jamur peri." Momo langsung menjawab pertanyaannya.
"Hah, jamur peri?" Aku dan penjaga itu sama-sama bertanya. Lalu kami saling bertatapan.
"Kenapa kau juga bertanya?" Penjaga itu sekarang mencurigaiku.
Aaaaahhh, bodohnya aku. "Ituu... eee... ano..." Tolong aku!
"Aku ingin memberi kejutan ke kakek. Jadi aku meminta kakak ini menemaniku ke dalam hutan untuk mencari sesuatu, dan aku belum mengatakan apa yang ingin aku cari." Momo memberikan jawaban keduanya yang luar biasa. Gadis kucing ini benar-benar pintar.
"Nah, rupanya itu yang ingin kau cari. Aku kira untuk apa kita mencari saat hari mulai gelap." Benar tidak? Benar tidak?
"Hoh." Penjaga itu sepertinya mulai mengerti. "Baiklah kalau begitu. Aku beri kalian waktu satu jam. Jika kalian kembali lebih dari satu jam, aku akan memberikan hukuman berat kepada kalian berdua."
Penjaga itu akhirnya mengijinkan kami keluar. Tapi hukuman yang dia maksud terdengar mencurigakan bagiku.
"Terima kasih, tuan penjaga." Kami berdua kembali berjalan keluar dari hutan.
Tapi maaf ya tuan penjaga, setelah pekerjaan kami selesai, kami tidak akan kembali ke kota ini. Kami akan langsung pergi menuju desa tempat tinggal Momo. Jadi sepertinya kita tidak akan bertemu lagi.
"Hati-hati dengan hewan buas. Jangan mendekati mereka jika kalian bertemu di hutan." Penjaga itu masih saja mengkhawatirkan kami.
Aku balas dengan melambaikan tangan saja, malas mengurusi orang-orang seperti dia.
Hutan di kala sore menjelang malam terlihat cukup menyeramkan bagiku. Namun karena ada Momo di sampingku, aku merasa sedikit lebih berani sekarang.
__ADS_1
Kami berjalan-jalan menyusuri pinggiran hutan tersebut. Letak rumah kayunya agak jauh dari gerbang, tapi tidak terlalu berada di dalam hutan. Mungkin sekitar beberapa menit berjalan baru kami akan menemukannya.
"Hei, Momo. Seperti apa jamur peri itu?" Tanyaku penasaran. Ini juga supaya aku tidak kebingunan lagi seperti tadi.
"Itu adalah jamur yang terlihat biasa, tapi mereka memancarkan cahaya saat hari mulai gelap." Jawab Momo.
"Benarkah? Jamur Glow in the Dark? Kereeenn!" Apa aku bisa menemukan suasana hutan fantasi di dunia ini? Hutan yang di penuhi tumbuhan yang memancarkan cahaya di waktu malam, lalu ada banyak kunang-kunang yang menambah keindahannya.
"Jamur glou in dak? Apa itu?"
"Ehem. Maaf, itu hanya imajinasiku."
Setelah beberapa saat kami berjalan, akhirnya kami menemukan rumah kayu yang terlihat rusak itu. Rumah itu lebih terlihat seperti pondokan, karena seperti itulah umumnya aku menyebut rumah yang seperti ini.
Kami berdua berjalan mendekati rumah kayu itu. Dengan keadaan rumah yang cukup rusak, dan suasana hari yang mulai malam, ini mulai terlihat seperti suasana permainan horor.
Gulp.
Kok aku jadi khawatir jika di dalam sana tidak ada siapa-siapa. Padahal sudah jelas kalau ini adalah rumah kayu yang mereka maksud.
Aku berjalan mendekati pintu rumah kayu tersebut. Pintunya saja sudah terlihat rapuh dan sangat kotor, bagaimana dengan kondisi di dalam rumah ini?
Tenang, tenang Riel. Ini hanyalah tempat untuk berkumpul sementara.
Tok, tok, tok.
Aku memberanikan diri mengetuk pintunya.
"Kata kuncinya?"
Hi! Tiba-tiba terdengar suara dari balik pintu. Itu membuatku cukup terkejut.
Tenang, tenang Riel. Itu adalah suara seseorang yang masih hidup. Ada para petualang lain di dalam sana.
"Pohon ek berwarna hitam." Aku mengatakan kata kuncinya.
Belum ada respon.
"Apakah kau tahu..." Suara itu kembali terdengar. "Kalau pohon ek tidak berwarna hitam, bodoh."
Hah?
Pintu rumah itu terbuka, dan menampakkan seorang petualang lelaki yang masih terlihat muda. Dia terlihat seperti seorang Hunter dengan crossbow di balik punggungnya.
"Hai! Kau pasti klien kami. Maaf jika aku mengatakanmu bodoh, tapi itu tadi hanya bercanda saja. Ahaha." Lelaki itu menggaruk-garuk kepalanya.
"Ah, iya. Apakah kalian kelompok yang akan menyerang markas para bandit itu?" Tanyaku.
"Yap! Silahkan masuk ke dalam, kami baru saja akan berangkat." Lelaki itu membuka jalan dan menyilahkan kami untuk masuk.
Di dalam rumah itu terlihat beberapa orang sedang berkumpul di ruang tengah. Ada satu orang pria besar dengan perisai, satu orang perempuan penyihir yang sedang melambai kepadaku, dan seorang bambu ceking yang kami temui di dekat bar milik Adele.
"Wah, kalian perempuan ya. Asyiik, aku dapat teman mengobrol dalam pekerjaan." Perempuan itu terlihat senang, karena mengetahui di dalam kelompok ini akan bertambah jumlah perempuannya.
"Silahkan masuk, anggap saja seperti rumah sendiri. Meski ini bukan rumah kami." Pria besar itu berbicara dengan nada berat.
"Akhirnya kalian sudah datang. Karena sekarang semuanya sudah lengkap, kita bisa memulai penyerangannya." Kata bambu ceking itu.
Kami berdua masuk ke dalam rumah dan bergabung dengan mereka. Ada sebuah tempat duduk yang mengelilingi meja dengan peta di atasnya. Peta itu sudah dicoret-coret dengan beberapa garis dan tulisan.
"Ini peta penyerangannya?" Tanyaku.
"Ya. Duduklah, aku akan menjelaskannya secara singkat kepadamu." Lelaki dengan crossbow mulai membalikkan peta itu ke arah kami, dan mulai menjelaskannya.
Aku dan Momo ikut duduk diantara mereka. Di sebelahku adalah perempuan yang tadi, dia menggeser duduknya agar dekat denganku.
__ADS_1
"Hai, aku Clem." Perempuan itu menjulurkan tangannya padaku. Dia terlihat seperti seumuran dengan Shin atau Clara. "Salam kenal."
"Ya, salam kenal juga." Aku membalas jabatan tangannya.
Setelah itu lelaki dengan crossbow tadi mulai menjelaskan strateginya.
Markas para bandit itu agak jauh dari tempat kami berkumpul. Sekitar satu jam perjalanan melewati hutan ini. Jika begitu, aku memang sudah tidak bisa kembali lagi ke Kota Deedalee.
Karena kelompok kami berjumlah enam orang, itu akan membuat pergerakan kami semakin beresiko untuk ketahuan. Jadi kami akan dibagi lagi menjadi dua kelompok, para pria satu kelompok dan para wanita satu kelompok juga.
Aku dan Momo berada satu kelompok dengan Clem. Kami bertiga akan bergerak agak jauh di belakang kelompok pria. Mereka akan menyelinap masuk untuk merubuhkan penjaganya dan membuka jalan, lalu kami akan memborbardir mereka.
Clem dan Momo sama-sama seorang Mage, mereka dapat melepaskan sihir pembuka serangan saat para bandit itu mulai berkerumun. Lalu kami akan berkumpul lagi setelah serangan sihir pertama dilepaskan. Aku mendapatkan bagian memantau bersama si crossbow, sedangkan garis depannya adalah pria berperisai dan si bambu ceking.
Aku tidak tahu jika bambu ceking adalah pengguna tombak yang sangat ahli. Mungkin aku akan memanggilnya tombak ceking saja, karena tinggi tubuhnya hampir sama seperti tombaknya.
"Baiklah, ayo kita berangkat!" Kata si bambu ceking.
Kelompok pria bergerak lebih dulu ke dalam hutan, sedangkan kami bertiga masih menunggu di rumah kayu sebelum tiba giliran kami. Beruntung Clem sudah paham dengan strategi dan rutenya, karena aku agak bingung sewaktu mereka menjelaskannya.
"Hei, momo. Apa boleh aku melihat telinga kucingmu?" Kata Clem.
"Mmmm?" Momo menatap mata Clem dengan tajam, dan Clem memasang ekspresi memelas.
"Kau sama saja dengan Kak Riel."
"Heh, kok aku?"
"Horee!!"
Momo melepaskan tudung jubah yang menyembunyikan telinga kucingnya. Telinga itu sedikit berkedut sewaktu pertama kali keluar dari tudungnya.
"Kyaa!! Imutnya!! Boleh aku menyentuhnya?"
"Tidak"
"Huuu..."
Haha. Kau masih butuh waktu 10 tahun lagi untuk menyentuh telinga kucing Momo. karena hanya aku saja yang memiliki akses untuk bisa memainkannya sekarang ini.
Momo kembali memakai tudungnya setelah Clem puas melihat telinganya. Lalu kami sedikit mengobrol tentang keseharian kami seperti teman pada umumnya.
Clem belajar sihir dari ayahnya yang seorang mantan petualang, jadi dia mewarisi tekad ayahnya untuk menjadi petualang hebat.
Kemudian dia bertemu dengan teman-temannya saat menjelajahi dungeon sendirian. Mereka pun membentuk kelompok hingga sekarang. Terus menjalankan permintaan, menjelajahi dungeon, dan menjadi lebih kuat.
"Waah, keren! Dungeon apa saja yang pernah kau jelajahi?" Tanyaku.
"Kami pernah menjelajahi Dungeon Amber, Dungeon Gunung Farest, dan Dungeon Danau Taipan. Tapi kami belum pernah menyelesaikan dungeon tersebut."
Hebat. Di dunia ini masih terdapat banyak dungeon yang belum pernah aku kunjungi. Aku akan membuat daftar untuk menjelajahi dungeon juga nanti.
"Baiklah. Sepertinya sekarang giliran kita untuk bergerak." Clem mulai berdiri dan mengambil perlengkapannya.
"Oke."
"Ya."
Kami bertiga keluar dari rumah kayu dan mulai berjalan menuju markas bandit. Clem yang memimpin perjalanan kami di depan.
"Eehh... Clem? Bukankah kita seharusnya melewati jalan itu?" Tanyaku bingung. Karena seingatku jalan yang diberitahu oleh lelaki crossbow itu bukanlah jalan yang kami lalui sekarang.
"Ya, memang benar. Tapi rencananya sedikit berubah karena kita membentuk dua kelompok terpisah. Jadi kita akan melewati jalan lain yang berbeda, agar meminimalisir bahaya ketahuan." Clem menjelaskan kepadaku.
"Hmm, oke." Aku oke-oke saja. Sejauh ini kami hanya perlu mengikuti Clem hingga ke markas para bandit melalui jalan yang berbeda. Katanya itu akan mengurangi resiko kita ketahuan oleh para bandit.
__ADS_1
Momo di belakangku terlihat sedikit curiga. Setelah aku memberitahunya semua akan baik-baik saja, dia kembali menjadi tenang.
Bersabarlah sebentar lagi, Momo. Kita akan menyelamatkan teman-temanmu dari para bandit itu.