
Marvel tak sanggup menahan air matanya, ia menangis sepanjang jalan dan merutuki dirinya sendiri yang lalai menjaga buah hatinya dan istri tercinta.
"bodoh ..bodoooh" teriak Marvel sambil memukul-mukul stir mobilnya.
"andai hari itu aku tidak membawa Zahra makan malam, pasti hal ini tidak akan terjadi, pasti Zahra tidak akan kehilangan buah hati kami" Marvel terus merasa bersalah dan memakai dirinya sendiri
Marvel menghentikan mobilnya disebuah kantor.
"pak Marvel" sapa seorang staff yang mengenal Marvel
Braaaak Marvel membuka pintu dengan sangat kasar hingga mengagetkan orang-orang yang ada disekitarnya.
"ada apa?" orang-orang berbisik
"kenapa kok pak Marvel seperti itu?" tanya salah satu staff lainnya dengan berbisik kepada rekan kerjanya
"pak...pak Marvel ke..kenapa anda seperti ini?" tanya Olivia pada Marvel dengan perasaan takut.
"kenapa...kenapa kamu tega melakukan hal itu kepada istriku" teriak Marvel.
"maksud bapak apa?" Olivia bingung dengan kata-kata Marvel.
"kamu membuat ku kehilangan calon anakku" teriak Marvel lagi.
"aku benar-benar tidak mengerti, siapa istrimu?" tanya Olivia semakin bingung.
"Zahra,, apa yang kau lakukan padanya sampai kami kehilangan calon bayi kami" Marvel akhirnya menyebutkan nama Zahra.
"zaaa..Zahra istri mu?" kaget Olivia.
"tidak.. tidak mungkin kamu yang dulu selalu aku kejar saat kuliah tidak mungkin jatuh ke pelukan Zahra" Olivia bicara dengan sedikit terbata sambil tatapannya kosong tak menyangka Zahra adalah istri dari orang yang selama ini ia cintai.
"sekali lagi saya tanya kenapa kamu melakukan ini kepada Zahra?" Marvel semakin murka
"aku...aku tidak melakukan apapun kepada Zahra" kata Olivia.
"bohong...jawab yang jujur" paksa Marvel yang hampir mencekik Olivia.
"pak bos tenang pak" Tito berusaha menahan emosi bosnya
"perlihatkan bukti-bukti itu kepadanya" perintah Marvel kepada Tito.
Tito mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan isi video yang ia sudah rekam kepada Olivia.
"nggak ngak mungkin mereka tertangkap" bisik kecil Olivia.
"kau mengakuinya Olivia" ujar Marvel dengan senyuman sinisnya.
__ADS_1
"beri laporan kepada polisi" perintah Marvel lagi.
"baik pak" Tito menjawab dengan sigap
"Marvel apa kamu tidak pernah sekalipun mengingat ku? aku teman satu kampus mu, aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu" teriak Olivia
"lalu kau mencelakai Zahra karena kau tau dia istriku?" ujar Marvel.
"aku tidak tau dia istrimu, aku melihat kalian dekat dan seperti memiliki hubungan jadi aku berusaha membuat Zahra sadar kalau dia tidak pantas untuk mu" keriak Olivia.
"jadi kamu merasa kamu pantas di sisi ku?" ketus Marvel.
"setidaknya aku seorang pengusaha dan keluarga ku bukan orang kecil" jelas Olivia.
"dan saat kau bilang sudah memiliki istri tapi Zahra terus dekat bahkan mesra aku kira ia adalah wanita ketiga didalam rumah tanggamu, jadi aku juga berniat membuatnya tau kau sudah beristri" Olivia kembali membela dirinya.
"apapun alasannya, kamu tetap melakukan hal yang membuat kerugian besar untuk istri saya" Marvel tak menerima alasan apapun.
"SAYA DAN ZAHRA KEHILANGAN CALON BAYI KAMI" Marvel teriak dengan keras sangking marahnya dan pergi dari ruangan Olivia.
"pak ... pak Marvel bisa bicara sebentar" kata Bu Rossa sambil bergetar ketakutan.
Marvel tidak menghiraukan perkataan Bu Rossa dan tetap berjalan keluar kantor.
"Olivia memang apa yang kamu lakukan kepada Zahra?" teriak Bu Rossa setelah Marvel dan Tito pergi.
"aku menyekapnya dan aku tidak tau dia istri Marvel, sejak kapan mereka menikah" Olivia bicara sambil berputar2 seperti orang bingung.
"aku harus membuatnya membayar karna mengambil posisi ku, harusnya aku yang menjadi nyonya Marvel bukan Zahra" kata Olivia.
Olivia sama sekali tidak menyesali perbuatannya, ia malah berfikir inginembuat Zahra membayar karena telah merebut pria yang ia cintai.
"pak bos apa kita kembali ke rumah sakit?" tanya Tito sambil mengendarai mobil
"Iyah" jawab Marvel singkat.
Tito masih merasakan kemarahan yang sangat besar di hati Marvel, ia tahu bossnya sangat mencintai Zahra dan berharap segera memiliki momongan.
"Marvel kamu sudah lebih tenang?" tanya mama nya.
"mah apa Zahra sudah bangun?" tanya Marvel.
"sudah tapi Zahra masih terlihat belum menerima semua ini" ujar mamanya sambil menahan tangis
Marvel masuk kedalam ruangan Zahra diikuti oleh mamanya
"Marvel siapa yang membuat ku seperti ini?" tanya Zahra sambil menangis.
__ADS_1
Marvel bingung menjelaskan semuanya kepada Zahra, disatu sisi Olivia adalah atasn Zahra namun disisi lain Olivia yang membuat mereka kehilangan calon bayi.
"Marvel jaawaaaaab" teriak Zahra
Zahra yang tak sabar menunggu jawaban Marvel berteriak kencang karena Marvel terus terdiam.
"Olivia" kata Marvel
Marvel membuka suara dengan wajah yang datar.
"Olivia maksudnya Bu Olivia atasan ku?" kaget Zahra.
"benar" jawab Marvel.
Marvel menceritakan kronologisnya alasan Olivia melakukan hal itu dan Zahra lalu menangis meratapi nasibnya yang ternyata atasannya sendiri tega melakukan hal ini hanya karena cemburu.
"keluar lah dari kantor itu dan uruslah restoran kita sayang agar kamu tidak ada yang mengganggu" ujar bunda.
mereka semua memeluk Zahra dan menguatkan Zahra.
"sekali lagi maafkan aku yang tidak bisa menjaga mu dan calon bayi kita" bisik Marvel sambil memeluk Zahra erat.
"ini bukan salah mu, ini takdir kita, mungkin kita belum bisa menjadi orang tua nya" jawab Zahra dengan linangan air mata.
"nantikan bisa bikin lagi ya" celetuk Marvel.
"kami" cubit kecil Zahra dengan sedikit senyuman karena digoda suaminya.
semua pun ikut tersenyum kecil karena melihat Zahra juga tersenyum membuat mereka sedikit lega.
kehilangan seorang anak adalah hal paling terberat bagi orang tua, walau masih didalam kandungan namun keberadaanya sudah pasti membuat orang-orang merasa bahagia sehingga menantikan kelahiran nya namun takdir berkata lain, mereka harus kehilangan hal yang berharga itu.
hari demi hari dijalani Zahra dirumah sakit karena harus melakukan perawatan pasca keguguran, kegugurannya sempat membuat Zahra takut akan memiliki momongan dalam waktu yang lama.
"dok apa saya bisa kembali memiliki anak?" tanya Zahra
"tentu bisa nyonya, hanya saja perlu perawatan yang cukup lama" jelas dokter.
"berapa lama dok?" tanya nya lagi.
"perawatan selama enam bulan dan rutin dilakukan jangan sampai ada yang terlewat, obat pun harus diminum enam bulan full" ujar dokter pada Zahra dan Marvel.
"terimakasih dokter atas bantuannya selama ini, aku akan rajin melakukan perawatan" kata Zahra sambil melirik ke arah Marvel.
"selama empat bulan saya sarankan agar tidak berhubungan suami istri dulu karena bahaya untuk kondisi Bu Zahra" kelas dokter yang di sambut wajah lesu Marvel.
teman-teman semua terus baca novel ku yaaaa....
__ADS_1
terimakasih semuanya....
sehat selalu