She'S My Wife

She'S My Wife
hati yang hancur berkeping-keping


__ADS_3

hari demi hari dilewati oleh pasangan suami istri yang sangat romantis ini.


"bunda tolong Bun" terdengar teriakan Prawita dari dalam kamarnya.


bunda dan ayah mertuanya langsung berlari menuju kamar Cakra untuk melihat kondisi menantunya itu.


ceklek


pintu kamar di buka


"ya Allah wita kamu kenapa?" bunda panik melihat air ketuban wita sudah berceceran dimana-mana.


"Bun, wita nggak tau kenapa, tadi pas mau ambil minum perut wita sakit terus tiba-tiba ada rasa meledak di dalam perut dan keluar air keruh ini" cerita wita.


"ayo yah siapkan mobil bunda akan papah wita ke mobil" ujar ibu mertua wita


ayah mertuanya langsung menuju mobil dan menyiapkan mobil untuk membawa menantunya menuju rumah sakit langsung.


"ayo sayang naik kita ke rumah sakit langsung, apa perutmu terasa mules?" tanya ibu mertuanya


"sedikit Bun diperut wita terasa mulas dan ada yang berputar" jelas wita.


"ayo cepat yah bawa mobil ke rumah sakit terdekat saja, bunda akan hubungi Cakra dan juga Zahra" bunda langsung mengeluarkan ponselnya


dikediaman Zahra dan Marvel.


"mba wita mau melahirkan Bun?" tanya Zahra ketika mendapat telepon dari bundanya


"baik Bun Zahra akan menuju rumah sakit sekarang" Zahra menutup teleponnya dan bergegas kerumah sakit.


"ada pa sayang?" tanya Marvel ketika melihat istrinya seperti orang terburu-buru.


"mba wit melahirkan kita harus kerumah sakit sekarang menemaninya karena bang cakra ada katanya hari ini juga sedang ada operasi untuk pasiennya" jelas Zahra.


Marvel dan Zahra bergegas menuju rumah sakit yang akan menangani persalinan Prawita kakak ipar Marvel.


"sayang kamu tenang ya, jangan panik nanti kalo panik perut kamu keram" ujar Marvel.


"Iyah sayang enggak kok" Zahra berusaha tenang.


dirumah sakit.


"suster tolong anak saya mau melahirkan" teriak bunda meminta bantuan.


datang beberapa suster membawa kursi roda dan langsung menuju ke ruang persalinan.


"ibu bapak karena air ketubannya sudah mau habis kita akan lakukan tindakan operasi segera, tolong isi dan tanda tangani formulir persetujuannya" ujar dokter.


"yah kita telepon Cakra lagi kasih tau kalo wita harus di operasi" bisik bunda.


"ayah akan coba hubungi Cakra semoga dia juga sudah dijalan menuju rumah sakit" ujar ayah.


"bunda gimana keadaan mba wit?" tanya Zahra sesampainya dirumah sakit.


"harus operasi tidak bisa melahirkan normal sayang" ujar bunda kepada Zahra.


"Abang sudah kesini Bun?" tanya Zahra


"sudah itu ayah sedang menghubungi Abang mu lagi" bunda melirik kearah suaminya.


"Cakra halo nak kamu sudah dimana?" tanya ayah


"Cakra sudah hampir sampai yah, Cakra berusaha secepatnya" ujar Cakra ditelepon..


braaaak


terdengar suara hantaman yang sangat keras.


"nak, Cakra, Cakra" teriak ayah ditelepon.


semua mata tertuju ke arah ayah Zahra dan langsung berlarian menuju laki-laki paruh baya itu.


"yah Cakra kenapa?" tanya bunda khawatir.

__ADS_1


"ayah nggak tau Bun, tiba-tiba ada suara seperti tabrakan" jelas ayah dengan suara panik.


"halo halo pak" terdengar suara seseorang dari telepon


"halo, maaf ini siapa ya?" tanya ayah.


"saya Ahmad pak, mohon maaf pria yang bapak telepon mengalami kecelakaan" orang itu memberitahukan ayah Zahra.


sontak laki-laki paruh baya itu lemas seperti tak bertulang, ia tak tahu apa yang harus disampaikan kepada istri dan anak-anaknya.


"halo pak saya dengan adik ipar pria tersebut, bisa tolong di bawa kerumah sakit harapan agar bisa segera ditolong" Marvel langsung mengambil alih percakapan ditelepon.


"baik pak akan kami bawa kesana" ujar orang yang menjadi saksi tabrakan tersebut.


akhirnya Marvel dan Zahra yang menandatangani surat persetujuan dilakukannya operasi untuk Prawita agar bisa segera bersalin.


"bunda, ayah kita berdoa untuk bang cakra agar selamat dan berdoa agar persalinan mba wit berjalan lancar" ujar Zahra sambil menahan tangisnya.


ia tak tahu lagi bagaimana mengungkapkan isi hatinya yang sangat khawatir terhadap kondisi abangnya, disatu sisi kakak iparnya sedang berjuang melahirkan dan disisi lain kakaknya sedang mengalami kecelakaan, sungguh hari yang sangat menegangkan.


"suster ini anak saya, bagaimana kondisinya" ujar bunda Zahra saat melihat suster membawa cakra.


"kami akan bawa korban ke ruang UGD mohon dapat ditunggu" suster langsung berlari membawa cakra menuju ruang UGD.


hati mereka semua semakin hancur melihat kondisi Cakra yang sangat memprihatikan, darah yang bercucuran dan terlihat Cakra yang tidak sadarkan diri, ketakutan menyelimuti hati mereka semua, doa terus mereka panjatkan karena hanya itu lah yang bisa mereka lakukan saat ini.


"keluarga ibu Prawita" panggil suster.


"saya suster" ibu mertua yang sangat menyayangi menantunya itu langsung berlari menuju suster.


"bagi perempuannya sudah lahir dengan selamat, dan sekarang sedang di susui oleh ibunya" ujar suster.


"Alhamdulillah terimakasih ya Allah engkau menyelamatkan cucu dan menantuku, selamatkan lah juga putraku" doa bunda Zahra.


terasa sedikit lega dihati zahra mendengar persalinan kakak iparnya berjalan dengan lancar.


"segera panggilkan keluarga korban informasikan korban butuh donor darah segera" teriak dokter dari balik pintu ruang UGD.


teriakan itu membuat Zahra menjadi panik dan tak bisa mengendalikan emosinya lagi ia menangkis sekencang-kencangnya dan membuat Marvel menjadi khawatir.


saat kondisi biasa saja Zahra bisa sangat sensitif apalagi melihat semua kejadian ini pasti membuatkan tidak stabil dan akan terus menangis


"sayang kamu kenapa?" Marvel panik melihat Zahra menahan sakit.


"Marvel Zahra pendarahan" teriak bunda Zahra


"cepat panggil dokter" teriak Marvel.


ayah Zahra langsung mencari dokter dan Zahra dibawa keruang persalinan.


"terus Bu dorong yang kuat Bu sedikit lagi" teriak susteremberi aba-aba untuk membantu Zahra bersalin.


sedangkan diluar keluarga semakin panik, Marvel tak henti-hentinya berjalan mondar-mandir seperti gosokan.


"aaah dokter sakit, sakit" teriak Zahra


"ayo Bu kepala anaknya sudah terlihat, semangat sedikit lagi akan lengkap persalinannya"


Zahra terus mengikuti aba-aba dari suster dan dokter, persalinan yang tak terduga membuatnya tidak mempersiapkan apapun.


eaaa eaaa eaaa


suara tangisan bayi pecah didalam ruangan tersebut, keringat yang bercucuran menjadi saksi perjuangan Zahra untuk melahirkan putri cantik ya.


"anaknya sudah lahir dan berjenis kelamin perempuan" ujar dokter kepada keluarga Zahra.


"perempuan dokter?" tanya Marvel kaget.


prediksi dokter saat usia kandungan Zahra memasuki lima bulan calon anak mereka adalah laki-laki namun ternyata putri cantik yang terlahir didunia seperti harapan Marvel


"permisi ibu kami ingin sampaikan putri ibu yang beberapa jam lalu melahirkan" suster terdiam sejenak.


"ada apa suster dengan menantu saya?" tanya bunda.

__ADS_1


"ini ada surat dari menantu ibu sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya" suster memberitahukan berita duka.


"witaaaaaaaa" tangisangan demi tangisan pecah saat itu juga.


hati yang sudah hancur ini semakin remuk tak tersisa.


"ayah kita lihat wita dan cucu kita" bunda langsung berlari menuju ruang bersalin.


didalam ruang bersalin.


"wita kenapa kamu tinggalin kita semua, lihat anakmu yang sangat cantik dan lucu ini nak" bunda mengusap wajah menantunya yang tertidur untuk selamanya.


Zahra yang melahirkan secara normal dibawa keruang perawatan untuk perawatan lebih lanjut setelah bersalin.


"sayang terimakasih kamu sudah berjuang dan selamat untuk melahirkan bayi cantik kita" Marvel menitikkan air matanya.


"bunda dan ayah dimana?" tanya Zahra.


"bunda dan ayah sedang mengurus jenazah mba wita" ujar Marvel.


bagaikan disambar petir disiang bolong Zahra tak tahu lagi cara untuk menghentikan air matanya disatu sisi kebahagiaan keluarga mereka hadir namun disatu sisi duka menyelimuti mereka semua.


"aku mau liat mba wit" Zahra langsung mencopot infusannya.


"sayang sabar pakai kursi roda kamu belum boleh banyak bergerak" ujar Marvel.


Zahra mengikuti kata-kata suaminya dan duduk di kursi roda.


"mba wita" Zahra langsung memeluk jenazah wita dengan erat dan sambil berlinang air mata.


"mba kenapa tinggalin Zahra mba, lihat Dede utun sudah lahir kedunia mba, kenapa mba tinggalin utun mba" Zahra benar-benar terguncang.


"sayang mari kita urus pemakamannya" ujar ayah sambil menangis.


"ayah juga akan keruangan Cakra katanya sudah siuman, kita harus memberitahukan Cakra hal ini" ujar ayah yang tak kuat menahan tangis.


"Bun biar Zahra yang keruangan Abang" Zahra langsung membelokkan kursi rodanya dan dibantu Marvel keruangan UGD.


diruang UGD.


"Ra, kamu kenapa kok dikursi roda?" tanya cakra


"aku sudah melahirkan bang dan kita sama-sama punya anak perempuan" Zahra berkata sambil menahan tangis.


"anak Abang sudah lahir Ra, pasti wita sangat senang dan pasti ia terus menciumi dan memeluk anaknya" ujar Cakra.


air mata Cakra menetes tak henti karena bersyukur ia sudah bisa menjadi seorang ayah.


"beberapa hari lalu wita merasa sangat sedih dia bilang dia ingin diberikan kesempatan untuk menggendong dan mencium anaknya sekali saja, pasti saat ini wita sedang terus menggendong putrinya" perkataan Cakra membuat Zahra menangis lagi.


"mba apa keinginanmu sudah tercapai untu mengecup dan memeluk putri mu sebelum mba wita menutup mata?" tanya Zahra dalam hati.


"Ra Abang titip mba wit dan bayi Abang, tolong berikan nama caramel untuknya agar ia semanis caramel" Cakra berkata seakan ia juga akan pergi.


"Abang jangan bilang begitu" Zahra langsung memeluk abangnya.


"Ra apa mba mu baik-baik saja?" tanya cakra.


Zahra tak tahu harus berkata apa, ia terdiam membisu.


"Ra tadi sebelum Abang membuka mata, mba mu datang dan bilang, bang kita harus pergi bersama anak kita sudah sampai didunia dengan selamat" ujar Cakra


"apa mba mu selamat Ra?" tanya cakra yang seperti sudah punya firasat.


"mba wita sudah meninggal bang" Zahra semakin erat memeluk Cakra.


"kalau begitu Abang titip anak Abang anggap dia seperti anakmu sendiri, Abang sayang kalian" Cakra berhenti bicara dan melepas pelukannya kepada Zahra.


terdengar suara mesin berbunyi menandakan detak jantung yang tak lagi berfungsi.


"abaaaaaaaang" Zahra kembali berteriak.


ia tak tahu mengapa duka ini datang menyelimuti mereka dengan sangat dasyatnya.

__ADS_1


duka ketika kehilangan orang yang sangat dikasihi bagaikan kehilangan separuh jiwa kita sendiri.


__ADS_2