She'S My Wife

She'S My Wife
dibalik kebahagiaan


__ADS_3

udara terasa sangat sejuk hari ini, membuat hati pun menjadi lebih tenang dan merasa sangat bersyukur dapat hidup dan menghirup udara pagi.


setiap hari semua orang akan menyibukkan diri mereka dengan bekerja, begitu juga dengan Zahra dan Marvel.


kehamilan Zahra kali ini akan sangat ia jaga namun ia sadar memiliki tanggung jawab di resto milik keluarganya, tidak mungkin ia meninggalkan bisnis yang baru ia bangun yaitu EO.


"sayang udah dulu dong kerjanya kamu harus fokus sama anak mu" geram bunda Zahra yang melihat anak nya terus bekerja meski berada dalam perawatan medis


"bunda Zahra kan nggak cape, kerjaannya cuma ketik sambil duduk ditempat tidur dan telponan itu juga kadang sambil tiduran" kelak Zahra sambil terus menatap laptopnya


bundanya hanya bisa menggelengkan kepala melihat sifat keras anaknya, Zahra memang selalu mengutamakan tanggung jawabnya.


"okeh selesai" Zahra merentangkan tangannya ke atas.


"sekarang aku mau makan, minum vitamin, dan minum air putih yang banyak biar janin ku sehat" Zahra memberikan kata-kata yang membuat bundanya tersenyum.


"kamu itu bisa ajah bikin keselnya bunda ilang" senyum bundanya.


"Bun, waktu bunda hamil aku dulu, apa aku suka bikin bunda kesel?" tanya Zahra


"hmmm gimana yaaa, bunda harus jawab jujur apa jawab bohong?" ledek bundanya


"bunda aku serius tanyanya" rengek Zahra


"diperut bunda kamu anak yang manis, tapi nggak tau kok sekarang sukanya bikin bunda kesel" bunda kembali meledek Zahra.


"ah bunda bilang ajah aku anak bunda yang paling cantik, baik dan "


"dan nyebelin" cakra abang Zahra langsung memotong perkataannya adiknya itu.


"bang cakra" Zahra langsung lari memeluk abangnya.


"Zahra hati-hati nanti kamu jatuh" teriak bundanya.


"maaf bunda, Zahra kangen bang cakra' sifat manja Zahra langsung muncul ketika melihat abangnya


"mba wit mana?" tanya Zahra sambil mencari-cari keberadaan kakak iparnya.


"mba wit ada diresto, untuk sementara waktu pekerjaan kamu dihandle sama dia" cakra menyentil kecil hidung adiknya.


"loh kok bisa?" tanya Zahra heran.


"bisa dong, kamu nggak liat tuh wajah bunda yang khawatir sama kamu karena seharian ini kerja terus" jelas cakra.


"jadi bunda ngadu ke abang?" Zahra cemberut.


"sudah jangan terlalu difikirkan mba mu itu seneng banget diminta tolong bantu kamu" cerita bundanya


"mba wit emang selalu Bantu aku, dia kan kakak asli aku" jelas Zahra sambil meledek cakra.


"hohohooo dasar adik durhaka, abang sendiri diacuhkan giliran kakak iparnya disanjung terus" kesal cakra.

__ADS_1


"jadi kamu cemburu sama istri mu sendiri?" tanya ayah Zahra yang tiba-tiba muncul


"bukan gitu yah, kesannya aku nggak pernah bantu dia gitu" protes cakra lagi.


"sudah sudah istrimu disukai adikmu malahan protes, bersyukur adik ipar dan kakak iparnya akur dari pada berantem" jelas bundanya


mereka semuapun tertawa bersama karena bisa berkumpul dan bercanda tawa kembali, meski adik Zahra tidak bisa mengunjungi Zahra dirumah sakit karena sedang ujian.


dirumah bunda Zahra.


"sayang kamu kenapa? kok aku lihat mukanya murung" tanya cakra pada istrinya.


"enggak apa-apa kok" wita menyembunyikan perasaannya


"aku tau kamu, kalo sudah seperti ini pasti ada yang mengganggu fikiran kamu" cakra berusaha membujuk istrinya agar bicara.


"aku tadi ke rumah sakit" wita membuka suara.


"kerumah sakit tempat Zahra dirawat?" tanya cakra


"Iyah, aku lihat kalian sangat bahagia dengan kabar kehamilan Zahra, rasanya hati ku sakit karena sampai sekarang belum bisa memberikan keterunan untuk mu dan membuat orang tuamu bahagia" WITA meneteskan air matanya.


"sayang kamu jangan berfikir begitu, kita mungkin belum dapet anugrah itu dari Tuhan tapi kita harus percaya kita pasti dikasih kesempatan sayang" cakra memberikan ketenangan kepada istrinya.


"ya udah sekarang kita tidur dan jangan berfikir macem-macem" lanjut cakra.


ketika kita memiliki hati yang merasakan kecemburuan pasti tidak dapat berfikir dengan jernih, itu lah yang sedang dihadapi oleh wita, kecemburuan terhadap Zahra membuatnya merasa seperti tersingkirkan dan merasa bersalah karena belum bisa memberikan kebahagiaan yang sempurna untuk keluarganya.


"hallo" sapa Zahra


"mba nanti siang kerumah sakit ya aku kangen mba wit" ujar Zahra dengan nada manjanya.


"Iyah nanti mba kesana, mba beresin kerjaan dulu ya" wita menutup teleponnya.


~rumah sakit~


"Vel nanti makan siang aku mau burger sama sate" pinta Zahra pada Marvel yang sedang mengupas apel.


"sate? tumben kamu mau makan sate siang-siang" kata Marvel sambil melirik Zahra.


"lagi pengen ajah sayang, bawaan bayi kali ya" tawa Zahra.


"hmmm hari ini sate nanti apa nih alesan bawaan bayinya" Marvel meledek Zahra


"ooh gitu jadi kamu nggak mau nih turutin calon anak kita" baper Zahra.


"kamu lagi hamil atau nggak hamil pun aku akan penuhi semua keinginan istriku tercinta" Marvel memasukkan apel ke dalam mulut Zahra.


"iiih kamu mah mau suapin apel ngak bilang-bilang dulu" ujar Zahra sambil mengunyah apel didalam mulutnya.


dua insan yang sangat bahagia ini terus menerus bersenda gurau sampai waktu tak terasa sudah siang.

__ADS_1


tok tok tok


pintu kamar perawatan terketuk.


"masuk" ujar Marvel


"hai" sapa wita seperti tak bertenaga.


"mba wit, sini masuk" girang Zahra melihat kakak iparnya mengunjungi dirinya


"sayang kamu makan dulu sana aku mau ngobrol sama mba wit" Zahra langsung menarik tangan wita untuk duduk disampingnya.


Marvel keluar dari kamar perawatan untuk membiarkan istrinya memiliki momen bersama Kakak iparnya.


"selamat ya kami udah hamil lagi" kata wita.


"mba wit kenapa? cape ya ngurusin resto?" tanya Zahra yang melihat wajah wita murung.


"enggak kok" ujar wita


"mba wit aku lihat kemaren mba wit ada diluar kamar tapi kok nggak masuk?" tanya Zahra langsung.


wita hanya diam ditanya seperti itu oleh Zahra, ia tak tahu apa yang akan ia ungkapkan kepada Zahra, apa tentang rasa bahagianya atau rasa kesedihannya.


"mba, Zahra minta maaf" Zahra meminta maaf pada wita


"Ra kamu kenapa minta maaf?" wita heran adik iparnya meminta maaf kepadanya tiba-tiba.


"mba apa karena Zahra hamil jadi mba wit murung?" ujar Zahra lagi.


"Ra maafin mba, karena merasa cemburu sesaat sama kamu" ujar wita.


"mba Zahra tau perasaan mba sekarang, tapi Zahra yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk mba wita dan bang cakra" Zahra menggenggam tangan wita erat.


"mba nggak tau kapan akan diberikan kebahagiaan untuk aku dan bang cakra" ujar wita sambil menitikkan air matanya.


"bahkan mba pun nggak berani lagi berharap dan coba testpack padahal udah satu bulan mba nggak datang bulan" wita menunduk sedih.


"mba hari ini dokter obgyn ku praktek gimana kalo mba periksa, mba rencana Tuhan nggak ada yang tau" Zahra mencoba membujuk kakak iparnya


Prawita atau yang sering disapa mba wit oleh Zahra hanya bisa terdiam, ia takut kecewa lagi, ia takut berharap lebih lagi karena ia sadar hormonnya memang kurang bagus dan ia juga sudah sering terlambat datang bulan namun hasilnya nihil.


"selamat siang ibu Zahra" seorang dokter masuk kedalam ruang perawatan Zahra


"selamat siang dokter, waaah pas banget nih dokter kesini, dok kakak ipar saya sudah terlambat datang bulan satu bulan boleh diperiksa" pinta Zahra.


"boleh dong, selesai pemeriksaan Bu Zahra ibu bisa ikut saya ke ruang obgyn" ujar dokter sambil tersenyum.


#mohon dukungannya,like,komen dan tolong rekomendasikan kepada Teman/saudara untuk baca novel ku#


#kalau aku dapat promosi dan view ku banyak kita adakan give away#

__ADS_1


terimakasih


k


__ADS_2