She'S My Wife

She'S My Wife
pemakaman


__ADS_3

setelah semua diurus jenazah Cakra dan wita dibawa pulang kerumah duka yaitu rumah kedua orang tua Zahra.


"kami turut berduka cita" ujar para tamu yang datang menyelawat.


Zahra yang tidak bisa menemui tamu diluar dan hanya bisa didalam kamar terus berfikir apa yang harus ia lakukan untuk keponakannya ini.


"bang apa aku boleh mengumumkan kepada dunia bahwa anak mu adalah anakku juga?"Zahra bergumam dalam hatinya.


air mata tak berhenti menetes di pipinya, ia terus bertanya dalam hatinya, ia terus mengenang masa-masa indah bersama Abang dan kakak iparnya.


"sayang apa kamu masih memikirkan caramel?" tanya Marvel.


Zahra menjawab dengan anggukan, masih berat rasanya untuk ia bersuara, seakan mulutnya terkunci dan matanya yang berbicara dengan linangan air mata.


"sayang apa kita jadikan caramel sebagai kakak dari Raline?" ujar Marvel seakan tau apa yang sedang difikirkan oleh istrinya

__ADS_1


"aku aku aku" Zahra tak kuat membuka suaranya, saat ia membuka suara rasa sedih menyelimutinya


"sudah sayang nanti kita pikirkan lagi, tidak usah dibicarakan sekarang" Marvel memeluk Zahra.


"sekarang kita tinggal dulu bersama bunda untuk sementara waktu agar kamu bisa mempersiapkan diri dan bisa berfikir yang terbaik untuk caramel" ujar Marvel lagi.


Zahra kembali menganggukkan kepalanya yang masih dalam dekapan Marvel.


~diruang tamu~


"Bun ayah ke masjid dulu untuk menyolatkan jenazah anak-anak kita" ujar ayah yang berusaha tegar.


"bunda enggak sanggup yah dengan keadaan ini" gumam bunda dalam hati sambil menahan tangis.


jenazah diangkat dan dibawa ke masjid untuk disolatkan, keluarnya jenazah dari rumah duka membuat hati seorang ibu semakin teriris, anak yang ia kandung selama sembilan bulan, yang ia kasihi sampai usia tiga puluh lima tahun ternyata pergi terlebih dahulu menghadap illahi ditambah menantu yang sangat ia sayangi juga turut menghadap illahi setelah melahirkan.

__ADS_1


"yang sabar ya nak, mungkin Tuhan lebih menyayangi anak mu" ujar seorang ibu yang mengerti seperti apa duka yang sedang dihadapi oleh anaknya.


eyang yang kehilangan cucunya sama seperti seorang ibu yang kehilangan anaknya kesedihan itu tak dapat ia tepis, cucu laki-laki yang selalu ia banggakan kini sudah tak akan pernah lagi ia temui dan ia dengar suaranya, dulu meski jarang bertemu tp setidaknya masih bisa mendengar suaranya lewat telepon dan bisa melihat wajahnya lewat video call, kini perpisahan ini membuat semua terputus dan saat rindu datang hanya foto dan kenangan indah yang dapat mengobati.


"yang sabar ya Bu, Atun ikut prihatin, semoga mas Cakra dan mba wita diterima disisinya dan surga menanti mereka" ujar Atun salah satu karyawan kepercayaan ibunya.


"terimakasih tun doanya" ujar bunda Zahra yang masih terus berlinang air mata.


"sudah jangan kita tangisi terus nanti berat langkah mereka untuk menuju surga, ikhlaskan walau ibu tau itu sangat berat" eyang memeluk erat putri kesayangannya.


semakin besar tangisan itu ketika ibunya memeluk dan menguatkannya, bunda Zahra tak tahu lagi bagaimana cara menghentikan air mata yang berlinang dan membasahi pipinya karena terlalu berat baginya.


hai para pembaca setia ku, mohon jangan bosan ya untuk terus menanti ceritanya...


maaf aku baru update lagi...

__ADS_1


love u all


__ADS_2