
Nyut... Nyut... Nyut.... Rasa pusing yang menderaku semakin tak tertahankan. Aku mengerang kesal sambil merebahkan badanku di sofa kantorku, sudah seminggu ini aku kejar deadline sehingga membuatku harus rela lembur dan merelakan tidur 4 jam dalam sehari. Makan pun aku tak sempat hingga membuat tubuhku makin menuntut untuk diistirahatkan.
Pikiranku kembali melayang pada kejadian seminggu yang lalu. Andrian, cowok yang sudah dua tahun ini aku pacari, tega menduakanku, dengan alasan menurutnya dia bukan perioritasku lagi, sebab aku hanya sibuk dengan duniaku sendiri sehingga tak ada lagi perhatianku untuknya. Alasan yang sama sekali tak bisa aku terima, bilang saja kalau dia suda bosan padaku sehingga memilih yang lain. Mungkin masih bisa aku terima kalau- kalau dia beralasan seperti itu. Tapi ya sudahlah mungkin memang sudah nasipku harus seperti ini.
Usia yang tak lagi dikatakan remaja, tidak mungkin aku sampai harus nangis bombay cuma gara-gara diselingkuhin pacar. Jadi, pekerjaanlah yang bisa aku jadikan pelampiasan, Setidaknya aku masih bisa mengalihkan pikiran dengan cara kerja, kerja dan kerja. Pekerjaanku yang berprofesi sebagai arsitek, Tidak memungkinkan jika aku terus berlarut-larut dengan masalah pribadi, bisa-bisa aku dipecat karena tidak bisa mengeluarkan ide-ide terbaru dalam mendesain rancangan. Ya.... Hidup adalah sebuah pilihan, mungkin memang andrian bukan yang terbaik untukku.
Aku mengedarkan pandangan dan terpaku pada jam yang terletak di sudut meja kerjaku, pukul 22:49 PM. aku melewatkan waktu makan malamku lagi. Seharian ini cuma makan makan roti isi selai yang aku makan siang tadi dan beberapa cangkir kopi untuk mengisi rasa kantukku.
Tok... Tok... Tok.... Ketukan dipintu mengarahkan pandanganku ke sisi pintu, seketika aku melihat Rere, sahabat sekaligus asistenku muncul dibalik pintu. "Ki sudah jam segini kamu nggak pulang? " tanyanya sambil mendekatiku "pulang... Ini kerjaanku baru beres. Kamu sendiri kenapa belum pulang? Bukankah kamu bilang tadi ada acara dengan tommy? " ucapku sambil berdiri dan melangkah memutari meja untuk mengambil handfone dan tas tanganku yang ku letakan diatas meja.
"Yah... Awalnya sih gitu, tapi nggak jadi gara-gara tommy ada urusan penting sama kakaknya yang mendadak telepone tadi. Ya udah dari pada galau ku selesaykan aja kerjaanku. Mau pulang juga mo ngapain dirumah. Kamu kelihatan pucet banget, kamu sakit, ki? "
"Cuma dikit pusing, paling habis minum obat terus tidur bentar lagi juga sembuh" jawabku santai sambil melangkah keluar ruanganku di ikuti oleh Rere di belakangku.
"Kamu jangan maksain lah kalau kamu capek istirahat saja. Lagian gak bosen apa mikirin mantan cowok lo itu? Kayak gak ada cowok lain aja. Gue tau lo nerima tawaran job
__ADS_1
akhir - akhir ini untuk menghindari masalah dengan adrian kan? "
Cecar Rere sambil berusaha mengintimidasi dengan semua tuduhan yang memang aku benarkan itu.
"Udah kayak cenayang aja lu Re. Tapi lo salah, gua nerima tawaran job akhir - akhir ini ya emang lagi pengen aja. Lagian lumayan nambah - nambah pemasukan," jawabku santai, berusaha menghindari tatapan Rere yang sebenarnya membuatku sedikit ngeri itu.
"Ya.... Syukurlah kalo emang kayak gitu, gue berharap lo segera move on dari Adrian biar gak galau lama- lama. Liat nih, seminggu ini mata lo udah kayak mata panda, di tambah muka pucet lo yang udah kayak zombie , Ki," jelas Rere sambil terkikik gara - gara membahas penampilanku .
Kuhembuskan nafasku dengan kasar sambil melangkah meninggalkan Rere menuju lift, berharap segera sampai apartemen dan bisa berendam di air hangat melepas penat, setelah itu aku bisa tidur nyenyak di bawah selimut hangat ku.
Sesampainya di apartemen aku langsung merebahkan tubuhku di sofa putih ruang tamuku sambil memejamkan mata , berusaha menenangkan sakit kepala yang tak kunjung mereda, Segera ku ambil aspirin di kotak obat dan segera ku teguk dengan air putih hingga tandas. Aku berusaha berusaha memejamkan mata kembali, tapi perhatianku teralih pada selembar undangan berwarna biru muda di atas meja dekat sofa yang aku duduki. Undangan yang aku dapat seminggu lalu waktu aku belum memergoki Adrian menyelingkuhiku. Rencananya aku akan mengajaknya datang ke acara ini, tapi harapanku tinggalah harapan, aku sudah berakhir dengannya. Mungkin tidak buruk juga jika aku datang kesana, berharap bisa mengubah mood-ku saat bertemu dengan teman - teman SMA-ku, pasti menyenangkan.
Setelah aku turun dari honda jazz merahku, aku kembali mematut diriku di kaca mobil. Gaun merah tanpa lengan membungkus sempurna tubuh rampingku sampai ke lutut, di padukan dengan heels hitam setinggi sepuluh sentimeter, menampilkan kaki jenjangku serta tas tangan yang senada dengan sepatuku. Rambutku aku buat ikal di bagian ujungnya. Makeup yang tipis menyamarkan wajah pucatku, serta lipstik merah senada dengan gaun yang ku pakai menyempurnakan penampilanku malam ini dan ku rasa penampilanku sudah cukup memuaskan.
__ADS_1
Kulangkahkan kaki ku memasuki gedung acara , tidak lupa kutampilkan senyum ramah saat berpapasan dengan teman yang ku ingat dengan jelas. Acaranya lumayan meriah , aku bisa melihat panitia menjamu para undangan dengan sederet acara dan mendatangkan DJ untuk mengisi acara ini.
Perhatianku jatuh pada sesosok wanita cantik yang memakai gaun warna hitam sexy dengan anggunnya melangkah ke arahku. Dia tersenyum ramah dan segera menghambur untuk memelukku.
''Kikan.. Ya ampun udah lama kita gak ketemu." ucapnya sambil mencium pipi kiri dan pipi kananku.
"Baik. Rin, Kamu sendiri gimana kabarnya? Makin cantik aja" pujiku terhadap Karin.
"Ya beginilah, seperti yang kamu lihat , nggak ada yang berubah dari aku, Ki, tetap Karin yang dulu, cuma mungkin agak lebih dewasa aja, karna umur kita tak lagi muda hahaha" suara renyah tawanya membuatku ikut menyunggingkan senyum. " kamu sendirian aja, ki, gak ajak pacar apa suami gitu ?"
Tanyanya sambil celingak \- celinguk ke arah pintu.
"Kamu nyariin siapa sih Rin? Nggak ada pacar ataupun suami, aku masih single, masih terlalu nyaman dengan kesendirianku, kamu sendiri gimana?" tanyaku balik berusaha menghindari pertanyaan karin yang berusaha mengintimidasiku. " kalau aku sebenarnya udah punya tunangan ki, tapi sayang hari ini tunanganku nggak bisa datang karena ada urusan pekerjaan diluar kota, jadi terpaksa aku datang sendiri, aku nggak nyangka kamu masih betah sendiri aja, moga cepat nyusul aku ya ki, biar nggak kelamaan ngejomblonya, padahal kamu cantik lo" ucapnya memujiku, sementara aku cuma bisa tersenyum mendengar celotehnya, semoga saja ucapku dalam hati.
Tepat setelah itu, ada ribut\-ribut dari arah pintu masuk, seketika aku memandang ke arah pintu dan mendapati sosok pria tampan yang tinggi dan tegap berbalut jas berwarna hitam dan celana denim yang senada dengan warna jas sedang berdiri diambang pintu, kehadiranya menyedot perhatian seluruh undangan malam hari ini. Siapa dia? Kenapa aku sama sekali tak bisa mengenalinya? Kalau memang dia alumni angkatanku, pasti aku akan ingat pada pria yang aku akui ketampananya bak dewa Yunani itu.
__ADS_1
\*