
icky POV
Aku baru saja menyelesaikan pekerjaan dan hendak keluar untuk makan siang, ketika ada ketukan pintu membuat ku mengehentikan kegiatan ku untuk menghubungi Kikan. Aku melihat asisten perawat yang bertugas membantuku masuk setelah meminta izin.
"Maaf Dok, ada yang mencari Dokter diluar" ujar nya memberitahukan ku, membuatku sedikit bingung siapa gerangan yang mencari ku.
"Baiklah segera suruh datang kemari, karena aku tak punya banyak waktu" ujar ku akhirnya, membuat Suster Nina segera beranjak keluar, aku berkutat kembali dengan ponsel ditangan ku untuk mengirimkan pesan pada Kikan akan datang sedikit terlambat, dan sebuah ketukan heels menggema di ruang ku, membuat ku mendongakan wajah ku untuk melihat siapa gerangan yang di maksud Suster Nina tadi.
Saat seketika tubuhku diam membeku melihat nya, gadis yang bagai mimpi buruk di hidupku, gadis yang tak seharusnya datang dalam kehidupan ku, Aku melihat dia tersenyum lebar ke arah ku sambil membuka kaca mata hitam nya menantapku tajam seakan menunjukan keangkuhan nya, membuat ku muak karena melihat dia sudah berdiri tepat di hadapan ku.
"Long time no see, Bee. Merindukan ku?" Ujarnya sambil menyusuri jari lentiknya didadaku membuat ku langsung mencekal tangan nya karena aku tak sudi di sentuh oleh nya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Ujar ku menekan setiap kata karena menahan amarah, bukan nya takut dia malah tertawa dengan keras seakan sudah kehilangan akal nya.
"Kenapa? Bukan kah wajar aku datang, karena merindukan tunangan ku" ujar nya santai tak terintimidasi sama sekali akan tatapan ku yang dingin.
"Lebih tepat nya calon tunangan yang gagal" ujar ku mengoreksi setiap kata-kata nya, membuat senyum di bibir nya pudar seketika di gantikan dengan tatapan amarah seakan terhina akan perkataan ku.
"Aku datang karena meminta pertanggung jawaban mu" ujar nya akhirnya membuat ku mengangkat sebelah alis tak tau maksud dari ucapan nya.
"Pertanggung jawaban apa? Bahkan tak pernah sekalipun aku menyentuh mu"
"Aku meminta pertanggung jawaban karena kamu telah mempermalukan aku dan juga keluargaku, bagaimana kamu bisa, meninggalkan ku disaat acara pertunagan kita akan di gelar, tak pernah sekalipun aku merasa di permalukan seperti kamu mempermalukan aku waktu itu" ujar nya tanpa jeda membuat ku tersenyum culas.
"Karena bukan kamu wanita yang pantas bersanding dengan ku" ujar ku mantap membuat Rachel memandang ku tak percaya, Anggap saja aku pria yang kejam, lebih baik aku berterus terang walau menyakitkan dari pada aku memberi harapan palsu yang tak pernah bisa aku wujutkan.
__ADS_1
"Lalu perempuan mana yang pantas bersanding dengan mu? Apakah perempuan miskin yang aku lihat jalan dengan mu beberapa hari ini?" Ujar nya mencemooh membuat ku tubuhku kaku, bagaimana dia tau tentang Kikan? Tidak, jika Rachel sudah melihat Kikan aku tak bisa memastikan Kikan tak akan di sakiti oleh nya.
"Kenapa? Terkejut, aku tau segalanya? Nicky__Nicky, aku nggak nyangka kamu menolak ku hanya karena gadis murahan itu, bahkan dia tak ada apa-apa nya, di bandingkan dengan ku, dia hanya karyawan biasa, dari keluarga rendahan dan tak punya kekuasaan apapun. Aku tak bisa membayangkan, bila orang tuamu mengetahui hal ini, akan seperti apa reaksi mereka, melihat putra semata wayang mereka telah mencoreng kehormatan keluarga kalian dengan menikahi gadis dari kalangan rendahan" ujarnya membuat ku mengepalkan tangan karena tak terima mulut kotor Rachel menghina Kikan sesuka hatinya.
"Tutup mulut kotor mu itu, jangan pernah kamu menghina dia sesuka hati mu, aku tak pernah mencintai seseorang dari kedudukan nya, bagi ku dia lebih berharga dibandingkan dengan mu, kau bahkan tak pantas bila di sandingkan dengan Kikan" ujarku berapi-api membuat Rachel tersenyum culas.
"Benarkah? Kalau begitu kita buktikan, sepantas apa dia untuk mu? Jangan pernah menyesal karena bila kamu kecewa" ujar nya sambil menyentuh wajah ku, dan langsung aku tepis dengan tangan ku, aku melihat tatapan terluka tapi tak membuat ku terenyuh. Aku tau akal bulus seorang wanita ketika ingin mendapatkan sesuatu, apalagi wanita seperti Rachel yang terbiasa mendapatkan apapun yang ia inginkan.
"Aku minta kamu pergi dari sini sekarang juga" ujar ku menunjuk ke arah pintu.
"Kamu mengusirku? Ayolah__ aku datang jauh-jauh tidak untuk menerima usiran mu, berlakulah yang baik pada tunangan mu ini, aku datang karena ingin mengajak mu makan siang" ujar nya tanpa rasa malu.
"Ya tuhan__ aku sudah muak dengan perempuan ini" geramku dalam hati, sambil menjambak rambut ku frustasi.
"Aku tidak bisa"
"Itu sama sekali bukan urusan mu" tekan ku membuat Rachel menatapku dengan tatapan tak sukanya.
"Tentu saja ada, karena dia telah merebut calon tunangan ku, bagaimana aku bisa diam saja atas sebuah penghianatan yang kamu lakukan terhadap ku" ujarnya membuat ku langsung memandang nya tak percaya.
"Penghianatan apa? Bahkan kita baru ketemu Dua kali, itupun aku tak pernah menyetujui pertunangan itu, semua hanya paksaan dari Daddy ku, dan asal kamu tau, dia tak pernah merebut ku darimu, bahkan dari dulu hatiku hanya miliknya, miliknya" tekan ku atas setiap ucapan ku, membuat wajah Rachel yang awalnya biasa saja jadi mengeras menahan emosi, tak tak lama senyum licik terlihat di raut wajah nya.
"Aku tak peduli, apa yang sudah di takdirkan menjadi milik ku, tak akan bisa di miliki oleh orang lain, aku beri pilihan padamu, pergi bersama ku hari ini, atau kamu lebih memilih melihat wanita mu terluka, dengan kekuasaan yang aku miliki, detik ini juga aku bisa membuat wanitamu dipecat dari pekerjaan nya dan membuat dia tak akan bisa bekerja diperusahaan manapun, bahkan kalau perlu akan ku buat kluarganya menderita" ujar nya membuat ku langsung menatap nya marah, berengsek jadi ini sifat aslinya iblis betina yang berharap masuk dalam hidup ku, tak ada pilihan lain selain menuruti dulu permintaan nya, setelah itu akan ku jelaskan pada Kikan atas situasi yang terjadi saat ini.
"Jangan sekali-kalu menyentuh atau menyakiti Kikan, aku tak akan pernah melepaskan mu bila kamu melakukan itu" ujar ku memperingatkan nya, sambil menyembar jas yang tersampir di kursi ku.
__ADS_1
"Pria pintar, aku tahu kamu akan lebih memilihku dari pada menemui wanita itu" ujar nya menang sambil berjalan mendahului ku menuju pintu, sebelum mengikuti nya aku sempatkan untuk mengirim pesan singkat pada Kikan, bahwa ada operasi dadakan yang mengharuskan ku tinggal lebih lama dirumah sakit dan meminta maaf tidak bisa datang untuk mengajak nya makan siang.
Tak mungkin aku berterus terang, bahwa sedang keluar bersama wanita lain aku belum siap kehilangan Kikan saat ini, aku janji setelah ini akan aku jelaskan segalanya pada nya, aku mengikuti langkah Rachel dengan malas bahkan sedari tadi pikiran ku hanya tertuju pada Kikan, meski ragaku disini Rachel seolah tak berhenti menyiksaku dengan selalu bergrlayut manja pada lengan ku, membuatku muak dengan sikap nya.
"Aku sudah menuruti keinginanmu untuk keluar tapi tidak dengan sentuhan fisik" ujar ku tegas membuat dia melepaskan lengan ku saat itu juga, membuatku sedikit lega, dia memilih menuju Lestoran favoritku yang menyajikan sup iga kesukaan ku, meski sedikit bingung tak ayal membuat ku mengikuti langkah nya untuk duduk di pojokan bersama nya.
"Kamu mau pesan apa Bee?" Ujar nya membuat ku menoleh malas pada nya.
"Aku minum air putih saja, aku sedang tidak bernafsu makan apapun hari ini"
"Ayolah__ jangan kolot begitu, bersikaplah baik padaku, tak bisakah kamu memperlakukan aku seperti halnya wanita itu? Aku bukan orang lain untuk mu, bahkan aku calon ibu dari anak-anak mu kelak" ujarnya bangga, membuatku tertawa lucu mendengar ucapan nya.
"Jangan bermimpi terlalu jauh, bahkan sekalipun aku tak pernah bermimpi menikahi wanita manapun selain Kikan, kalaupun Kikan menolak ku, apa boleh buat lebih baik aku hidup sendiri dari pada harus menikah dengan gadis sepertimu" ujar ku mencemooh membuat Rachel menggeram marah, dia tak akan bisa mengamuk di sini, aku tau wanita sekelas Rachel tak akan sanggup bila Imeg nya yang selama ini ia jaga, hancur karena melihat dia mengamuk di depan umum.
"Jangan pernah membandingkan aku dengan wanita itu, bahkan seujung kukupun tak pantas dia di bandingkan dengan ku, kita lihat saja semampu apa kamu melawan takdir, bahkan Tuhan lebih memihak padaku dari pada pada nya, apa kamu lupa orang tuamu bahkan sudah memikirkan kerajaan bisnis yang dibangun nya akan semakin besar bila kamu menikah dengan ku"
"Sampai mati pun aku tak akan mau menikah dengan mu, jangan bersikap seolah-olah kamu sudah menang karena orang tuaku lebih memihak pada mu, akan aku buktikan bahwa aku bisa memperjuangkan perasaan ku pada Kikan" ujar ku serya berdiri, aku sudha muak berlama-lama dengan nya lebih baik aku pergi untuk menjelaskan seuatu pada Kikan sebelum semuanya terlambat.
"Mau kemana kamu?" Ujar nya sambil menarik tangan ku.
"Kemanapun aku pergi itu bukan urusan mu, aku sudah muak berlama-lama di sini" aku langsung pergi meninggalkan Rachel tak ku perdulikan dia berteriak memanggilku, sekalipun tak mengehentikan langkah ku, betapa bodohnya aku menuruti keinginan nya cukup sekali aku termakan ancaman nya, aku harus segera menemui Kikan, akan aku jelaskan semua nya sebelum terlambat.
Bila Rachel sudah mengetahui keberadaan ku, tak dipungkiri bila Daddy bisa melacak keberadaan ku disini, sebelum semuanya terlambat aku harus cepat bertindak, aku melaju kan mobilku membelah kemacetan kota jakarta, bahkan kecemasanku semakin memuncak saat aku mendapati Nomer Kikan sudah tidak aktif lagi.
"Tuhan__ tolong bantu aku, dalam memperjuangkan perasaan ku" jeritku dalam hati.
__ADS_1
💘💘💘💘💘💘