
Lima hari semenjak kejadian di kamar hotel yang memalukan itu, aku jadi uring-uringan tidak jelas. Seperti sekarang, aku mendapat teguran dari atasanku gara-gara pekerjaanku ngaret dari jadwal yang sudah ditetapkan, padahal semestinya aku sudah harus menyerahkan desainku tiga hari yang lalu, namun baru bisa kuselesaikan hari ini.
Pikiranku benar-benar terbelah karena kejadian di malam sialan itu. Setelah aku terbangun pagi harinya, aku dikagetkan dengan keberadaan Nicky di dalam kamar yang sama dengan yg kutempati. Bagaimana aku tidak kaget? Aku melihat Nicky keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya dalam keadaan bertelanjang dada, sedangkan aku sendiri dalam keadaan setengah telanjang. Bisa kalian bayangkan sendiri apa yang ada dalam pikiranku waktu itu. Tentu saja aku ketakutan setangah mati!
"Ka ... Kamu ngapain di sini?" ucapku setengah tergagap karena syok dengan keberadaan Nicky di dalam kamar yang sama dengan yang kutempati. "Apa yang sudah kamu lakuin sama aku?" tanyaku lagi dengan rasa bingung dengan apa yang sudah terjadi.
"Kamu nggak inget apa aja yang udah kita lakuin semalam?" ucapnya dengan nada yang setengah menggodaku.
"Memangnya apa yang udah kita lakuin?" ucapku sedikit menggigit bibir bawah, pertanda benar-benar bingung dengan situasi yang sudah kulewati selama tak sadarkan diri semalam.
"Memangnya kamu benar-benar berharap kita melakukan sesuatu semalam?" tanya Nicky malah membalikkan kata-kataku, makin membuatku bingung, sedangkan pria itu hanya tersenyum geli karena dengan mudahnya dia bisa membohongiku.
"Nggak ada yang terjadi di antara kita, Ki," ucapnya kemudian berusaha menjelaskan kesalahpahaman yang ada di pikiranku.
"Terus kalau aku dan kamu nggak ngelakuin apa-apa, ngapain kita di kamar hotel ini?" tanyaku masih belum mengerti dengan situasi yang terjadi.
"Semalam kamu mabuk dan muntahin baju ku. Karena aku juga nggak tau alamat rumah mu di mana, sedangkan aku dalam keadaan setangah mabuk juga, nggak mungkin bawa kamu pulang ke rumah ku, makanya aku putusin buat nyewa kamar hotel buat istirahat sambil naruh baju kotor bekas muntahan ke laundry," jelasnya lagi.
"Fyuuuhhh ...." Aku mengurut dada setelah mendengar pernyataan Nicky, tanda aku lega karena tidak terjadi apa-apa di antara aku dan Nicky.
"Lagian kalau kamu nggak bisa minum, jangan sok-sokan ikutan minum kayak semalam," katanya sambil berkacak pinggang menatapku, sedikit kesal terhadapku.
Kenapa mesti dia yang marah? Kan aku tidak minta dia untuk menolongku? ucapku dalam hati. "Terus ... kok di sini cuma ada aku dan kamu doang? Memangnya yang lain pada ke mana?" tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Mereka pulang ke rumah masing-masing," ucapnya enteng.
Seketika aku menatap tajam dan memicingkan mata, sedikit curiga terhadapnya.
__ADS_1
"Jangan salah paham dulu," sergahnya cepat. Sepertinya ia mengerti apa yang sedang kupikirkan. "Semalam setelah mabuk, kamu langsung ambruk ke badan ku yg posisinya emang pas di samping mu. Inget kan kamu semalam kalo aku duduk di samping mu?" jelasnya kepadaku.
Seingatku memang semalam kami bertujuh memilih duduk di sofa berbentuk L yang posisinya mengelilingi meja bundar dan aku duduk di antara Nicky dan Karin yang posisinya duduk di kiri dan kananku. "Terus kenapa nggak Karin atau Elsa aja yang nemenin aku nginep di sini?" tanyaku masih belum terima dengan penjelasan Nicky.
"Pas kamu ambruk ke badan ku, kamu langsung muntah dan otomatis kena baju aku dan kamu sendiri. Yang lain mana mau bawa pulang kamu dalam keadaan teler dan baju penuh dengan muntahan. Karin sama Elsa juga gak sanggup gendong kamu, jadi terpaksa aku yang bawa kamu ke sini," jelasnya lagi dan aku cuma menanggapinya dengan mengangguk-angguk paham dengan penjelasannya.
"Terus yang buka baju ku siapa?" tanyaku seketika mengingat keadaanku yang cuma memakai dalaman.
"Emm ... kalau itu aku yang buka baju kamu," ucapnya sedikit salah tingkah dengan ucapannya sendiri.
"Jadi ...." ucapku sedikit kaget dengan jawabannya sambil menunjuk bergantian aku dan Nicky.
Nicky dengan entengnya mengangguk sambil nyengir kuda dan secara refleks aku menyilangkan tanganku di depan dada sambil melotot ke arahnya. "Nggak ada yang mesti dikagumi dari badan mu, rata depan belakang gitu, mana bikin nafsu," ucapnya dengan tampang tanpa dosanya. Dia lalu berjalan menuju sofa, mengambil baju yang sudah selesai di-laundry dan berjalan ke arah kamar mandi tanpa menghiraukanku yang sedang melongo setelah mendengar perkataannya.
"Dasar cowok mesum!" ucapku sambil melempar bantal ke arah pintu kamar mandi, masih dalam keadaan kesal gara-gara ucapan Nicky.
"Kikan!" teriak Rere sambil mengibas-kibaskan tangannya di depan wajahku, membuyarkan lamunanku. "Kamu ngelamunin apa sih, dipanggil dari tadi nggak nyaut-nyaut?" ucapnya dengan wajah kesal sambil berkacak pinggang dan kutanggapi dengan cengiran rasa bersalah karena tak menghiraukan keberadaannya di sampingku.
"Sory, kamu bilang apa tadi?" tanyaku berusaha konsentrasi pada pekerjaan yang sedang kugeluti bersamanya.
"Hari ini kita ada meeting dengan PT. ADIGAMA di luar kantor, kalau kamu lagi nggak enak badan biar aku aja yang dateng," ucapnya seraya membereskan berkas yang berserakan di atas meja kerjaku.
"Nggak perlu, aku baik-baik aja kok. Jam berapa meeting-nya?" ucapku berusaha konsentrasi.
"Jam makan siang, mereka meminta bertemu untuk membahas konsep pembangunan sambil makan siang bareng katanya," ucapnya lagi.
"Oke, siapkan berkasnya, kita berangkat sekarang."
__ADS_1
***********
Meeting siang ini lumayan membuatku rileks, tidak setegang biasanya. Mungkin karena meeting yang bertempat di outdor dan klien yang tak begitu rewel dalam menuntut konsep rancangan membuatku benar-benar bisa 100% berkonsentrasi.
Setelah selesai membahas pekerjaan, aku, Rere, dan dua orang pria utusan dari PT. Adigama mengobrol sambil makan siang bersama. Kami mengisi obrolan ringan mengenai PT. Adigama yang sukses menembus pasar International. Ya, memang harus kuakui PT. Adigama bukan cuma perusahaan biasa. Perusahaan ini bergerak di bidang perhotelan dan membuka beberapa outlet supermarket yang berada di beberapa kota besar di Pulau Jawa dan Sumatera. PT. Adigama juga mempunyai cabang di beberapa kota di Indonesia dan berpusat di Jakarta. Tak kupungkiri, aku sedikit tersanjung karena dipercaya mengerjakan salah satu proyek yang tengah mereka garap saat ini.
Usai makan siang setelah kepergian klien kami, aku dan Rere saat ini masih berada di kawasan parkiran restoran. Kami dikagetkan dengan kedatangan laki-laki yang sudah tiga minggu ini aku hindari. Dia muncul secara tiba-tiba di hadapanku dengan tampang tak berdosanya, tersenyum ke arahku.
"Hai, Babe ... sudah tiga minggu ini kamu tak menghiraukan teleponku dan membalas smsku. Tak merindukanku, eh ...?" tanyanya sambil merentangkan tangan berusaha memelukku, tetapi langsung kutepis. Aku berusaha mengelak dari pelukannya.
"Tsk ... kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi, Andrian. Ngapain aku harus beramah-tamah mengangkat dan membalas setiap pesan yang kaukirim kepadaku?" jawabku ketus sambil bersidekap di depan dada.
"Kata siapa? Kita bahkan belum meluruskan kesalahpahaman di antara kita."
"Tidak ada kesalahpahaman, Andrian. Semuanya sudah jelas, kamu selingkuh di belakang aku. Daripada kamu selingkuh, lebih baik kita akhiri saja hubungan kita," ucapku tegas berusaha menutupi rasa kesalku.
"Oh, ayolah Babe, kemarin aku cuma bercanda. Aku cuma mau manas-manasin kamu supaya kamu mau perhatiin aku karena beberapa bulan ini kamu selalu nyuekin aku. Soalnya kamu lebih mentingin pekerjaan kamu itu," ucapnya dengan tampang memelas.
Tetapi, aku tidak boleh lemah terhadap rayuan Andrian. Tak boleh ada yang menginjak-injak harga diriku atas nama cinta. Memangnya siapa dia, berani menarik-ulur perasaanku begitu saja?
"Tapi kan nggak harus gitu juga caranya," sela Rere yang sama tak terimanya dengan perlakuan Andrian yang seenaknya sendiri datang dan pergi dalam kehidupanku.
"Re, please jangan malah memperkeruh suasana," ucap Andrian tetap berusaha membujukku.
Di saat Rere dan Andrian masih bersitegang, tiba-tiba dari arah kiri ada lengan besar dan kokoh yang merangkul pundakku, seketika membuatku terlonjak kaget dan segera menoleh. Kudapati sosok laki-laki yang sudah ku-blacklist dari daftar hidupku, muncul dengan tampang tak berdosanya.
"Hai, Kikan, gak nyangka ya kita bisa ketemu lagi di sini," ucapnya sambil menyeringai ke arahku.
__ADS_1
***