
Aku mengerjapkan mata karena silau matahari yang masuk dicela-cela tirai jendela, saat akan bangun untuk meregangkan otot ada sebuah tangan kekar yang melingkar erat mengelilingi pinggangku, aku terpekik kaget karena terkejut, bagaimana tidak untuk pertama kalinya aku terbangun dalam posisi seintim ini. Aku memejamkan mata untuk mengingat apa yang terjadi semalam, hingga aku teringat setelah mengungkapkan perasaan satu sama lain kami berpelukan hingga membuatku terdidur disini, Dengan sangat hati-hati aku berusaha menoleh ke arah belakang punggung ku, melihat Nicky masih mejamkan dalam damai, demi tuhan aku tak bisa menyembunyikan rasa malu karena dengan gampang nya aku terditur dalam pelukan seorang pria, bahkan dengan Andrian sekalipun aku tak pernah melakukan nya.
Karena tak tega membangunkan Nicky, dengan pelan-pelan aku berusaha menyingkirkan tangan Nicky yang melingkar erat pada pingganku, dengan hati-hati aku mengangkatnya tapi bukanya terlepas pelukan Nicky malah semakin mengencang membuat ku sadar bahwa sebenarnya Nicky sudah terbangun dari tidurnya, karena gemas dengan terpaksa aku mencubit punggung tangan nya karena dengan sengaja membuatku harus terkurung lebih lama bersama nya.
"Aduduh__" ujar nya menahan sakit di tangan nya membuatku langsung beranjak setelah tangan nya melonggar dari pinggang ku.
"Lagian kamu usil banget sih, sudah bangun malah pura-pura tertidur" gerutuku sambil membenarkan baju ku dan hendak pergi karena rasa malu yang tiba-tiba merayap di wajah ku, tapi gerakan ku kalah ceoat dengan Nicky dia sudah emnarik tangan ku terlebih dulu hinggaq kembali terduduk di atas tempat tidurnya.
"Kamu tau ki, inilah hari yang aku nantikan dalam seumur hidup ku, terbangun di pagi hari sambil mendekapmu ke dalam pelukan ku, tiada kebahagiaan yang aku harapkan selain melihat mu dipagi hari seperti ini"ujarnya membuat ku tak bisa menyembunyikan senyum ku, meski malu sebenarnya aku juga mangamini ucapan Nicky, entah kenapa aku begitu yakin Nicky tak pernah membual akan kata-kata nya.
"Bisakah kamu membolos untuk hari ini saja Ki, karena aku masih membutuhkan mu" lanjutnya membuatku menghela napas dengan berat.
"Tapi sayang nya itu tak bisa Nick, aku harus berangkat kerja sebentar lagi, aku sudah terlalu banyak mengambil cuti akhir-akhir ini, aku tidak mau kehilangan pekerjaan karena ketidak profesional dalam bekerja" ujarku menyesal meski aku tau keadaan nya belum pulih benar tapi aku tak bisa mengabaikan pekerjaan begitu saja untuk mengurusnya.
"Baiklah, tapi jangan mengabaikan ku lagi seperti kemaren, jawab pesan ku setiap aku mengirimkan pesan dan jangan lupa juga pulang tepat waktu, aku tidak suka melihat mu lembur dan lebih meluangkan waktu untuk pekerjaan dari pada aku" ujarnya posesif aku hanya tertawa pelan melihat Nicky bisa sebawel ini ketika kami sudah resmi berpacaran, karena setauku Nicky tipe cowok yang tenang sedari dulu.
"Kenapa malah tertawa, apa perkataan ku ada yang lucu" ujarnya sambil mengerutkan keningnya.
"Aku tidak tau kalau kamu tipe pria pecemburu dan posesif, padahal sedari dulu kamu selalu terlihat tenang dan cuek, sehingga membuat ku terkejut melihatmu seperti ini" ujar ku menjelaskan, Nicky merangkum wajahku dengan sebelah tangan nya yang tak diperban dan mengunci mataku hingga membuat ku berdebar tak tenang.
"Itu karena kamu yang telah membuatku tak bisa mengontrol diriku sendiri, aku tidak suka wanita lain terlalu mengusik ku, tapi aku tak suka melihatmu mengabaikan aku, hanya kamu yang aku inginkan hingga membuatku hampir gila karena melihatmu" ujar Nicky seperti frustasi, sedalam itukah perasaan dia pada ku hingga bisa membuat Nicky begitu menggilaiku, Aku tersneyum lembut sambil menangkup wajah nya hingga membuat Nicky memandang ku lemah.
"Aku tahu, aku akan selalu berusaha mengimbangi setiap rasa yang sudah kau beri pada ku, terimakasih, kamu telah membuat ku semakin berarti, tak pernah aku mendapat perlakuan semanis ini dari pria lain" ujar ku tulus, membuat Nicky mendekatkan wajahnya dan mengecup kening ku dalam seakan ingin mencurahkan semua rasa lewat sentuhan bibir nya, demi tuhan hati ku bergetar akan perlakuan Nicky, meski bukan pria pertama yang melakukan nya, tapi entah kenapa hanya dia yang bisa membuat perasaan ku benar-benar bergetar dan nyaman dalam waktu yang bersamaan.
💋💋💋💋💋💋
Aku tak bisa menghilangkan wajah berseri ku meski sekarang aku sudah berkutat dengan berkas-berkas, bahkan hati ku masih berbunga-bunga akan kejadian tadi pagi. Padahal ini bukanlah pertama kali nya aku berpacaran, tapi kenapa hanya dengan perlakuan kecil dari Nicky bisa membuat ku seperti remaja Tujuh belas tahun yang baru saja ditembak oleh cowok yang ia taksir sejak dulu. Karena mood ku sedang bagus pagi ini, tanpa terasa aku bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan dalam waktu singkat bahkan rancangan yang semula membuat ku pusing kini sudah selesai dengan hitungan jam saja.
__ADS_1
"Tau gini sejak dulu aja Ki kamu jadian sama Nicky, biar kerjaan kita lancar tanpa hambatan" ujar Rere tanpa rasa bersalah, membuatku mendongak ke arah Rere yang sedang berkutat dengan berkas desain yang aku buat barusan.
"Udah deh, nggak usah bawel, cepat selesain, biar nanti aku bisa pulang cepat waktu"
"Udah kayak Bini aja Ki, pulang cepat waktu trus nyiapan keperluan suami" ujarnya sambil tertawa mengejek membuatku melempar bulpoin ke arah nya, Sialan ucapan Rere sedikit banyak membuat ku tersipu malu, semenjak Rere tau segela nya, dia selalu saja membuatku bahan ledekan nya sehingga membuatku harus extra sabar menanggapi semua celotehan yang lemparkan olehnya.
"Aku hanya tak tega meninggal kan nya lama-lama, lagian kamu tau sendiri keadaan nya seperti apa, dia seperti itu juga kan karena aku, lagian apa salahnya aku membalas kebaiakn nya dengan merawat hingga sembuh" ujarku membuat Rere semakin tertawa keras aku tau apa yang ada di isi kepala nya. Tiba-tiba obrolan kami terputus karena suara gaduh dari luar ruangan ku membuat aku dan Rere saling pandang, belum sempat Rere melangkah untuk melihat apa yang terjadi, pintu ruangan ku terhempas dengan kerasnya minumbulkan suara yang nyaring mebuatku terjengkit kaget.
"BRAK"
Disusul langkah kaki cepat diikuti derap langkah beberapa orang yang mengikutinya, membuatku terkejut mendapati kehadiran Amanda berdiri di ruangan ku.
"Ada apa ini?" Tanya Rere saat mendapati orang yang tak dikenal memaksa masuk dan di ikuti beberapa satpam di belakangnya.
"Bu Kikan maaf tadi saya sudah berusaha menahan nya untuk masuk, tapi dia memaksa untuk menemui Ibu dan memberontak untuk masuk ke ruangan Ibu" ujar Pak Parmin menjelaskan, Aku hanya mengangguk paham sambil melangkah ke arah orang yang sudah membuat keributan dikantor ku.
"Terimakasih Pak parmin, maaf mengganggu kerja kalian, biarkan saya yang akan menangani masalah ini" ujar ku sopan, setelah berpamitan Pak parmin dan Dua satpam lain nya segera meninggalkan ruangan ku meninggalkan kami bertiga yang masih berdiri di tempat masing-masing.
"Bisakah aku berbicara dengan mu, tapi aku hanya ingin berbicara empat mata saja" ujar nya sambil melihat ke arah Rere berharap Rere mengerti maksud ucapan Amanda untuk meninggalkan nya berdua saja dengan ku.
"Siapa kamu? Berani nya ka__"
"Re, please__" ujar ku cepat sebelum dia menyelesaikan ucapan nya, meski aku tau Rere tak terima akan perlakuan Amanda tapi aku akan menjelaskan semuanya nanti, dengan kesal Rere segera melangkah meninggalkan ruangan ku membuatku kembali memusatkan pandangan ku pada Amanda yang sudah melngkah menuju Sofa di sudut ruangan aku mengikuti nya untuk duduk di seberang nya.
"Jadi__, apa yang membuat mu datang kemari dengan tiba-tiba?" Ucap ku masih berusaha tenang, dia hanya memandang ku datar aku melihat tatapan kebencian terhadap ku.
"Aku tak akan berbasa-basi dengan mu, Aku mau kamu meninggalkan Nicky" ujar nya To the point, membuatku tersenyum tenang.
__ADS_1
"Atas dasar apa kamu memintaku untuk meninggalkan Nicky?" Ujarku menantang nya, aku tak akan gentar meski dia menekan ku sekalipun, Amanda menyeringai melihat ku tak takut akan permintaan nya.
"Aku tau pasti Nicky sudah menceritakan semuanya kepada mu, asal kamu tau, aku bisa berbuat lebih untuk menyakitimu bila kamu tak mengindahkan ucapan ku" ujarnya tegas mengancamku, tapi sama sekali aku tak pernah takut akan ancaman nya.
"Aku tak perduli, sejauh apapun kamu berbuat untuk memisahkan aku dengan Nicky, aku akan tetap bertahan di sisinya" ujar ku santai membuat amanda semakin murka melihatku.
"Kau__" ujar nya sambil menunjuk murka ke arah ku " Nicky tak pernah cocok bersanding dengan wanita sepertimu" lanjutnya lagi membuatku tersenyum mengejek.
"Lalu gadis seperti apa yang cocok untuk mendampingi nya? Apakah seperti mu?" Aku tertawa karena dia terlalu percaya diri akan hal itu "Aku ingatkan padamu, aku tak akan pernah melepaskan Nicky sebelum dia sendiri yang meminta pergi dari ku" ujar ku masih berusaha tenang di hadapan nya .
"Apa yang di lihat Nicky darimu? Kamu tak lebih dari gadis biasa yang tak punya apa-apa, Aku beri kamu satu kesempatan, mundur dan lepaskan Nicky sekarang juga, maka aku tak akan pernah lagi mengusik hidupmu"
"Aku tak butuh kesempatan apapun, karena aku akan tetap bertahan untuk mempertahankan Nicky, dengar, sebesar apapun kamu berusaha untuk menekan ku sebesar itulah aku akan tetap bertahan, meski aku tak punya kekayaan apa-apa, tapi aku masih punya hati tulus untuk mencintai Nicky" Amanda semakin tersenyum sinis pada ku, membuat ku was-was apa lagi yang akan dia katakan.
"Kamu begitu yakin Nicky begitu mencintaimu, apakah kamu tau bahwa sebenarnya Nicky sudah memiliki tunangan?" Cih, Amanda berusaha membual, dengan mengarang cerita Nicky sudah bertunangan, kalau dia tau Nicky sudah bertungan lalu kenapa dia masih terus mengejar Nicky.
"Kalau kamu sudah tau Nicky memiliki tunangan, kenapa kamu masih terus mengejarnya?" Tanyaku menyuarakan isi pikiran ku.
"Karena Nicky sama sekali tak pantas dengan wanita itu, termasuk kamu wanita murahan, sedikit pun kamu tak layak mendampingi Nicky, lihat saja aku akan mengancurkan mu membuat mu menyesal telah mencari urusan dengan ku"
"Tunjukan saja, sejauh mana kamu berani mengancamku bahkan sedikit pun aku tak pernah takut akan ancaman mu, kamu menghinaku gadis murahan? Lalu seperti apa dirimu sendiri, kamu bahkan rela menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pria yang kamu inginkan" ujar ku tak mau kalah, dia seperti kehilangan kontrol akan dirinya.
"Jadi kamu lebih memilih menantangku?"
"Ya, aku menantang mu, tak peduli apapun aku akan memperjuangkan Nicky karena dia juga tengah memperjuang kan aku, betapa menyedihkan nya dirimu, kamu memperjuangkan pria yang jelas-jelas tak pernah menaruh rasa padamu" ujar ku semakin menantang, dia pikir aku bakal takut dengan ancaman nya "Aku sudah selesai, silahkan pergi karena waktuku tak banyak, pintu kleuar ada di sebelah sana" ujar ku sinis, dia terlihat terhina dengan tidakan ku mengusirnya.
"Berengsek, aku pastikan kamu akan menyesal telah menolak kesempatan yang aku berikan" ujar nya sambil berdiri dan melangkah keluar dari ruangan ku, aku mengepalkan tangan karena menahan amarah sedari tadi.
__ADS_1
"Tidak, dia pasti hanya membual, Nicky tak mungkin sudah bertunangan" aku berusaha menenangkan rasa gelisah di hati, meski tak ku pungkiri aku sedikit termakan omongan Amanda, aku percaya bahwa Nicky tak akan membohongiku Nicky tak akan tega membohongiku.
*********