
Aku mematut diri ku di depan cermin, memperhatikan penampilan ku malam ini, dres warna putih sepanjang lutut membungkus tubuh ramping ku, dengan riasan yang aku buat senatural mungkin, biar terkesan alami, dipadukan dengan stileto warna merah, setelah puas dengan penampilan ku, aku segera keluar dari kamar memperhatikan meja makan yang sudah aku ubah sedimikian rupa dengan Lilin dan bunga ditasnya menambah kesan romantis di dalam nya.
Malam ini aku dan Nicky sudah merencanakan Cendlelight Dinner pertama kami dalam merayakan hari jadian kami. Keadaan Nicky yang tidak memungkinkan membuatku lebih memilih untuk melakukan nya di dalam Apartemen ku, meski aku tak begitu bisa memasak tapi aku berusaha untuk menyajikan yang terbaik untuk nya anggap saja persiapan sebagai seorang isteri, aku terkikik geli kalau memikirkan nya, bahkan hubungan kami belum genap satu minggu aku sudah berpikiran sejauh itu.
Setelah memastikan tatanan meja sempurna, aku duduk sebentar untuk menunggu kedatangan Nicky, dia janji akan datang jam tujuh tepat, tapi aku seakan tak sabar karena saat ini masih menunjukan pukul 18:50 menit kurang sepuluh menit lagi tapi aku sudah nggak sabar, sambil menunggu aku berusaha mengalihkan perhatian ku dengan menata meja berusaha melihat kira-kira apa lagi yang sekiranya kurang, Dua piring dengan stik sapi yang sudah aku masak tadi, dan menuang jus jeruk untuk mengganti anggur merah meski terkesan nyeleneh tapi aku lebih mengutamakan kesehatan Nicky, yang tidak memungkinkan untuk meminum alkohol disaat keadaan nya belum membaik.
Aku semakin tersenyum lebar, ketika mendengar bel apartemen ku berbunyi, dada ku sudah berdetak begitu kencang karena menantikan kehadiran Nicky, setelah dirasa dadaku berdetak sedikit lebih normal, aku segera melangkah menuju pintu dan membuka nya dengan segera tanpa mengira siapa sebenarnya yang datang.
"Selamat da__" wajahku yang semula sumringah langsung memudar, digantikan dengan wajah pucat karena terkejut mendapati Mama dan Kak Roby yang berdiri di depan pintu dengan wajah bingung mereka.
"Mama, ngapain kesini?" Tanya ku dengan lancang karena terkejut atas kedatangan nya yang secara tiba-tiba, Mama yang mendengar pertanyaan ku hanya berdecak kesal memandangku.
"Pertanyaan macam apa itu? Mama datang ingin menengok anak gadis Mama yang sudah nggak pulang selama satu bulan puas" ujar Mama sambil melangkah untuk masuk diikuti Kak Robi yang sudah terkikik geli karena sindiran Mama aku menyingkir untuk memberi Mama jalan sambil memberengut sebal.
"Kamu mau pergi?" Tanya Mama yang sudah duduk di sofa ruang tamu, melihatku dari atas sampai ke bawah, sedangkan Kak Roby langsung menghilang menuju dapur tanpa memperdulikan nasipku yang akan segera di sidang oleh Mama.
__ADS_1
Aku menggit bibir karena lupa akan penampilanku malam ini, bahkan aku lupa sebentar lagi Nicky akan datang kemari bagaimana ini? Belum sempat aku berpikir untuk mencari jalan keluar tiba-tiba Kak Roby berteriak dari arah meja makan membuat aku dan Mama menoleh seketika.
"Ma, sini deh lihat, sepertinya kita datang disaat waktu yang kurang tepat" teriak Kak Roby, membuat Mama yang tadi asik memperhatikan penampilanku langsung beranjak dari duduknya, dan langsung melangkah menuju dapur, membuatku gugup setengah mati mengikuti Mama dari arah belakang.
Mama berdiri sambil memperhatikan meja makan yang sudah aku hias, setelahnya menoleh ke arah ku mencari penjelasan.
"Apakah kamu sedang menunggu seorang pria?" Tanya Mama To the point dengan wajah berbinar nya, terlihat sekali Mama bahagia aku telah membuka hatiku kembali untuk pria lain setelah berakhirnya hubungan ku dengan Andrian, aku hanya menggigit bibir karena tak tau harus menjelaskan apa.
"Ma, itu__, aku__" aku tergagap karena tak tau harus berkata apa, tak mungkin juga aku berterus terang telah menjilat ludah ku sendiri karena sekarang aku sudah jatuh cinta terhadap Nicky, padahal dulu tiap Mama berbicara soal Nicky aku selalu saja marah-marah tak jelas.
Kak Roby yang sudah tau aku terpojok dengan santai nya duduk sambil mencomot kentang goreng diatas piring, membuatku melotot ke arah nya. Mama yang sudah kepo terus saja menatap ku membuat ku memejamkan mata sejenak berusaha menengkan detak jantungku, belum sempat aku membuka mulut tiba-tiba bel pintu apartemen ku berbunyi kembali membuat aku dan Mama serentak menengok ke arah pintu.
"Ka,kamu__" ujar Kak Roby terkejut mendapati Nicky di depan pintu, sedangkan Nicky yang melihat Kak Roby hanya mampu menggaruk tengkuk nya karena rasa canggung karena dengan tiba-tiba harus berhadapan dengan nya.
"Selamat malam Bang" ujar Nicky mencoba membuka suara, Kak Roby yang masih terkejut belum membuka suara, Mama langsung melangkah menghampiri mereka membuatku semakin was-was, aku hanya mampu mematung di tempat ku tak berani beranjak sedikitpu.
__ADS_1
"Ooh__ jadi Dokter Nicky kirain siapa, mari masuk " ujar Mama santai sambil menarik tangan Nicky membuat ku dan Kak Roby terkejut bukan main karena Mama sama sekali tak menunjukan keterkejutan nya.
Aku hanya mampu memandang Mama yang menarik Nicky untuk duduk di sofa memperhatikan sebelah tangan Nicky yang masih diperban dengan alis terangkat aneh, Kak Roby segera menutup pintu dan mengikuti Mama untuk duduk di sofa, membuat ku terpaksa mengikuti nya, dengan takut-takut aku duduk disamping Kak Roby dengan wajah menunduk karena tak berani mengangkat wajah ku untuk menatap Nicky.
"Jadi, sudah berapa lama kalian berhubungan" ujar Mama To the point membuatku memutar mata jengah, selalu saja Mama kepo dengan segala urusan yang berhubungan dengan ku.
"Baru beberapa hari yang lalu Tan, sebenarnya saya ingin berbicara dengan Tante dan Abang secara pribadi" ujar Nicky serius membuat Mama dan Kak Roby memandang intens terhadap Nicky, aku yang sedari tadi menunduk kan wajahku, mengangkat wajahku karena ikutan penasaran apa sebenarnya yang ingin Nicky bicarakan.
"Apa?" Mama bertanya kepo seakan tak sabar dengan apa yang ingin utarakan padanya.
"Mohon restui hubungan Saya dan Kikan, saya berjanji tak akan mengecewakan tante, saya serius ketika saya memutuskan untuk berhububgan dengan putri tante" Nicky berujar serius membuat ku menelan ludah dengan susah payah, aku melirik ke arah Mama yang hanya terdiam mematung memandang lekat Nicky, Kak Roby tetap bungkam tanpa berusaha untuk mengeluarkan suara sedangkan aku semakin berdebar karena menunggu jawaban apa yang akan diberikan Mama.
"Seserius apa?" Ujar Mama memecah keheningan, pertanyaan Mama membuat ku semakin berdebar kencang menunggu jawaban apa yang akan Nicky beri.
"Saya serius ketika mengajak Kikan berhubungan, bahkan saya tak pernah main-main akan sebuah komitmen, bahkan kalaupun Tante meminta Saya menikahi putri tante detik ini juga Saya siap" ujar Nicky mantap membuat Mama dan Kak Roby terbengong-bengong dengan jawaban yang Nicky berikan, bahkan aku langsung menatap Nicky seakan belum percaya dia berani berbicara seperti itu di hadapan Mama.
__ADS_1
"Apa? Menikah? Yang benar saja" teriak ku dalam hati.
********