
Seminggu setelah setatus pacaran ku dan Nicky diketehui Mama dan Kak Roby, membuat hubungan kami semakin memperlihatkan kemajuan, aku tak lagi malu-malu untuk mengandeng tangan Nicky meski di hadapan umum. Keadaan Nicky juga sudah kembali membaik sehingga tak perlu lagi terus-terusan tiduran di dalam Apartmen, sesekali kami menikmati pacaran kami seperti hal nya anak muda pada umum nya, jalan-jalan bahkan nonton di bisokop.
Aku merasa seperti remaja belasan tahun yang baru menikmati hubungan pacaran untuk pertama kali, padahal Nicky bukanlah pacar pertama ku. Nicky selalu bersikap lembut terhadap ku, bahkan pacar-pacar ku sbelum nya tak pernah sekalipun memperlakukan aku selembut itu, Nicky berbeda ketika memperlakukan ku, dia selalu mengutamakan aku diatas kepentingan nya, seperti halnya sekarang kami sedang berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, tak pernah sekalipun dia melepas pegangan tangan nya selama kami dalam keramaian, bahkan tak jarang para wanita yang kebetulan bersisihan dengan kami memperhatikan Nicky, membuatku merasa kesal dengen sendiri nya tapi aku melihat Nicky hanya menanggapinya dengan santai tanpa peduli akan mereka, membuat ku sedikit lebih tenang.
Aku sadar Nicky mempunyai tampang yang Good Locking, bahkan penampilan nya menunjang itu semua, jujur saja aku sedikit minder dengan diriku yang bila di bandingkan dengan nya, bahkan aku membayangkan akan ada banyak sekali gadis-gadis yang akan memusuhiku karena tak terima aku bersanding dengan Nicky yang sempurna, tanpa sadar aku jadi bergidik ngeri membayangkan itu semua.
"Apa kamu kedingan?" Tanya Nicky sambil mengusap-usap pipi ku membuat lamunanku buyar seketika, aku tergagap karena sekarang posisiΒ wajah Nicky sangat dekat dengan wajah ku,menatapku dengan intens membuat wajahku seketika memanas.
"Ng_nggak kok, hanya sedikit bingung hari ini kita mau nonton filem apa" ujar ku beralasan dan syukurlah Nicky hanya tersenyum lembut mendengar alasan ku, dia kembali menegakan badan nya membuat ku bisa kembali bernapas, karena tanpa sadar sedari tadi aku menahan napas karena posisi Nicky yang terlalu dekat dengan ku.
"Kalau begitu kita lihat dulu kira-kira filem apa yang akan tayang hari ini, aku tak mau kamu bosan karena tak suka menonton filem yang tidak kamu sukai" ujar nya sambil menarik pelan tangan ku, aku hanya mengikuti langkah nya tanpa membantah, meski tak ku pungkiri perlakuan manis nya membuat tersipu, aku sadar ada banyak pasang mata menatap iri bahkan ada yang terang-terangan menatap benci ke arah ku, mungkin ini resiko yang harus aku tanggung saat berjalan dengan pria seperfect Nicky, aku sengaja memelankan langkahku agar tak berjalan sejajar dengan Nicky.
Aku sedikit terkejut ketika dengan tiba-tiba, Nicky merangkul pundak ku dengan posesif, bahkan aku tak menyangka Nicky akan melakukan hal tersebut dihadapan umum, belum sempat aku mencerna apa maksud Nicky sebenarnya, dia malah mendekatkan kepalanya untuk membisikan sesuatu ditelingaku.
"Aku tidak suka kamu menunduk ketika bejalan disampingku, aku tau mereka menatap ke arah kita, hingga membuat mu mundur selangkah dibelakangku, aku lebih suka kamu berjalan bersisihan disampingku bukan dibelakang ku" ujarnya pelan membuatku merinding karena sikap nya yang tak terduga, ternyata diam-diam Nicky memperhatikan sekitar kami membuat ku tersipu dengan sendiri nya.
Tanpa banyak kata, aku mengikuti langkah Nicky dan mengabaikan tatapan iri mereka yang masih berdiri disekitaran kami, Nicky membawaku ke sebuah kursi yang disediakan disana, menarik kursi untuk ku dan mendudukan ku disana, Nicky menatapku intes membuatku sedikit gugup.
"Ke_kenapa menatapku seperti itu?" Tanyaku, karena Nicky tak bergeming dengan tatapan nya membuatku sedikit salah tingkah dan gugup dalam waktu bersamaan.
"Kamu malu jalan bareng aku di tempat ramai kayak gini?" Ada nada kecewa disetiap perkataanya membuatku terkejut, aku sudah membuatnya salah paham dengan sikapku membuatku sedikit merasa bersalah.
__ADS_1
"Bukan seperti itu, aku hanya minder saja setiap berjalan di sampingmu membuatku merasa sangat tak pantas" ujarku jujur sambil menunduk, entah kenapa untuk pertama kalinya aku minder dengan diriku sendiri di depan pacar padahal sebelumnya aku cukup percaya diri dengan penampilanku, kurasakan jari Nicky mengangkat daguku pelan mensejajarkan tatapan kami dia tersenyum lembut membuat perasaanku menghangat.
"Dengar, kamu tak perlu minder dengan dirimu, kamu sempurna di mataku bahkan dari dulu hanya kamu gadis yang berhasil mencuri perhatianku" ujar nya tulus membuat pipiku bersemu merah, ini sudah tergitung beberapa kali setalah malam dimana Mama mengintrogasi Nicky membuat ku tak bisa berhenti tersenyum bahkan aku masih saja belum percaya Nicky bisa menjawab setegas itu dihadapan keluargaku.
"Saya serius ketika mengajak Kikan berhubungan, bahkan saya tak pernah main-main akan sebuah komitmen, bahkan kalaupun Tante meminta Saya menikahi putri tante detik ini juga Saya siap"
Kelihatan Gantle banget saat Nicky berkata seperti itu di hadapan Mama dan juga Kak Roby, aku seperti mendapat durian runtuh ketika Nicky terus-menerus memujaku seakan aku lah satu-satu nya perempuan yang di cintai nya, usapan lembut dilengan ku membuyarkan lamunan ku, membuat ku tersenyum lembut ke arah Nicky, harusnya aku tak akan boleh meragukan perasaan nya, aku mengelus lembut pipi nya membuat Nicky memandangku bingun
"Terimakasih__ " ujarku lembut aku tak tau kata apa yang pantas aku lontarkan untuk menggambarkan perasaan ku saat ini, bahkan dadaku membuncah oleh kebhagiaan.
"Jangan berkata terimakasih padaku, yang aku perlukan hanya dirimu selaku disisiku disaat aku susah maupun senang" ujarnya sambil mencubit hiudngku gemas, tuhan, perlkuan Nicky membuatku berdebar sedari tadi tak bisakah Nicky sedikit saja memberika jeda untuk tidak berdebar bisa-bisa aku mati muda karena serangan jantung.
"Lihatlah, kamu harus secepatnya bertindak, kalau tidak mau Nicky semakin terjerumus akan pesona wanita rubah itu, aku tak habis pikir apa yang di lihat dari dari wanita itu dia tak ada apa-apa nya dibandingkan dengan mu" ujar Amanda yang sengaja memanas-manasi Rachel, membuat Rachel memandang intens pada dua sejoli yang sedang dimabuk asmara tersebut.
"Tenang saja, aku akan bertindak secepatnya, apalagi melihat wanita yang di cintai oleh Nicky jauh dari bayangan ku, hanya butuh sedikit strategi dan Boom, aku yakin gadis itu akan menyingkir sendiri dari sisi Nicky" ujar Rachel tersenyum sinis, sudah ada beberapa rencanya yang tersusun rapi dalam otak cantiknya.
"Tentu saja kamu harus melakukan nya, aku tak mau usahaku untuk mendatangan mu sia-sia, lihat saja sebentar lagi aku akan melihat kehancuranmu Kikan, akan ku hapuskan senyum dibibir mu digantikan dengan tangis darah" ujar Amanda dalam hati di ikutai tatapan sinisnya.
πππππ
Aku tersenyum memandang pesan singkat yang dikirim oleh Nicky, Nicky sudah kembali bekerja dirumah sakit, keadaan nya sudah lumayan pulih sehingga membuatnya terpaksa kembali berkerja, ada sedikit kecemasan Nicky kembali bertemu lagi dengan Amanda, tapi aku tak boleh berpikiran negatif, aku harus percaya pada Nicky apapun yang terjadi.
__ADS_1
"Ki, sudah waktunya makan siang" ujar Rere membuyarkan lamunan ku.
"Eh, ya udah yuk berangkat" aku segera mengambil handphone dan dompet lalu segera mengikuti langkah Rere menuju basamand untuk mengambil mobil Rere, hari ini aku tak membawa mobil karena Nicky yang memilih untuk mengantarkan ku ke kantor.
Senangnya sekarang udah ada pacar yang bisa antar jemput, Nicky selalu berusaha meluangkan waktu untuk ketemu dengan ku bahkan dia lebih suka makan siang bersama ku dari pada dikantin rumah sakit meski harus terburu-buru mengingat jarak kantorku dan rumah sakit cukup jauh membuat ku salut akan perjuangan Nicky untuk sekedar Quality Time bersama ku, membuatku semakin mencintai Nicky, tapi tidak dengan hari ini, Nicky sedang ada operasi dadakan sehingga meminta maaf lewat pesan yang dikirim beberapa waktu lalu. Meski sedikit kecewa aku harus belajar untuk mengerti profesi Nicky yang memang berprofesi untuk menyelamatkan nyawa orang.
"Ki mau makan di mana?" Tanya Rere membuyarkan lamunan ku, saat ini kita sudah berjalan di Mall, karena bosan dengan makanan kantin di kantor sehingga membuatku memutuskan untuk makan di luar.
"Aku lagi pengen makan soto iga, yang beberapa hari lalu aku kunjungi bersama Nicky" ujarku sambil menunjuk salah satu lestoran yang berjejer disana.
"Cie... Kikan gitu banget makan aja kepengen nya nostalgia waktu bareng Nicky" ledeknya membuatku tersipu malu, cepat-cepat aku meninggalkan nya karena tak mau kedapatan salah tingkah karena ucapan Rere, wajahku pasti sudah merona malu sekarang aku segera melangkah masuk untuk memilih tempat duduk, mengedarkan pandangan untuk mencari tempat duduk yang masih kosong, karena di jam makan siang seperti ini akan sangat sulit menemukan tempat duduk, saat pandanganku mengarah di kursi pojokan pandanganku terpaku pada seseorang yang aku kenal.
Deg
Jantung ku seketika diremas dengan keras melihat seseorang yang beberapa saat lalu berpamitan karena ada operasi mendadak, tiba-tiba berada di sini dengan seorang wanita yang tak ku kenal aku segera membalikan badan takut kalau Nicky melihat kedatangan nya, Rere yang melihatku memutar arah memandangku bingung sehingga membuat Dia segera mendekatiku.
"Kamu kenapa Ki?" Tanya Rere cemas, tanpa memperdulikan pertanyaan Rere aku segera melangkah meninggalkan Rere yang masih mematung di sana, aku sudah nggak bisa berpikir kagi sekarang, tidak, Nicky nggak mungkin membohongiku, dia tak mungkin melakukan ini padaku, kenapa Nicky harus membohongkiku dengan mengatakan dia ada operasi dadakan, kalau nyatanya dia sedang bersama dengan wanita lain, aku seowrti kehilangan akal aku melangkah mengikuti langkah kaki,Β tak ku pedulikan teriakan Rere yang terus memanggil namaku, hingga saat tanganku ditarik oleh Rere sehingga membuatku langsung berada dalam dekapan nya, saat itu aku langsung menumpahkan rasa kecewaku dengan menangis dalam dekapan Rere.
Detik itu juga aku menyadari, bahwa perasaan ku sudah semakin dalam pada Nicky, bahwa Nicky sudah berhasil membuat ku hanya tertuju padanya, selalu bergantung padanya.
πππππ
__ADS_1