
Ini hari ketiga aku menginap di rumah sakit, dan aku mulai jenuh terus-terusan berada di dalam kamar. kuutarakan keinginanku pada mama untuk keluar kamar sebentar, sekadar mencari udara segar di taman.
Mama yang sedang membereskan piring bekas makanku menyahut pelan, "Boleh, tapi jangan lama-lama." Mama lalu menawarkan diri untuk menemaniku karena takut aku tersesat.
Mama membantuku turun dari ranjang dan menuntunku pelan menuju taman di samping rumah sakit seraya memegangi tiang infusku.
Rumah sakit ini cukup besar, terdiri dari tiga lantai——kamarku sendiri terletak di lantai dua. Aku berjalan pelan di samping mama. Meski tak banyak yang bisa dilihat, tetapi cukup membuatku sedikit senang karena bisa melihat udara luar lagi. Pekerjaanku yang membuatku lebih banyak berkutat di luar kantor karena sering meninjau langsung lokasi membuatku terbiasa dengan suasana outdoor. Aku tipe orang yang cepat jenuh apabila terus-menerus berada di dalam ruangan lebih dari sehari, makanya tiga hari tidak keluar kamar benar-benar membuatku jenuh dan stres.
Setelah sampai di taman, aku segera duduk di salah satu bangku besi bercat putih ditemani mama yang masih setia di sampingku. Aku memandang sekeliling taman yang banyak ditumbuhi bunga-bunga berwarna-warni. Terdapat kolam ikan di sudut taman dengan air mancur di tengah-tengahnya. Suasana seperti ini cukup membuatku tenang.
Tiba-tiba tatapanku jatuh pada sosok yang tak asing lagi. Dia berjalan sambil tersenyum ramah kepada orang-orang yang dijumpainya——hei, dia berjalan ke arahku!
Aku sedikit kesal pada Nicky. Semenjak dirawat di sini, aku mendapati Nicky selalu berusaha mendekatiku, entah itu lewat mama ataupun kakakku——yang bergantian menjagaku di saat mama pulang untuk istirahat. Entah sengaja atau tidak dia melakukan hal itu, membuatku merasa sebal luar biasa.
"Ki, Mama tinggal ke toilet bentar ya, kamu di sini aja, ntar Mama balik lagi." Ucapan mama membuyarkan lamunanku, dan kutanggapi dengan anggukan.
Setelah mama pergi, aku kembali dikagetkan dengan keberadaan Nicky yang sudah berdiri di hadapanku.
"Ngapain kamu di sini?" ucapnya sambil menatapku.
"Kamu sendiri, ngapain di sini?" tanyaku ketus sambil membuang muka karena jujur aku sedikit gugup saat berduaan seperti ini dengannya.
"Aku habis cek pasien, terus pas lewat sini aku lihat kamu duduk sendirian. Mau aku temenin?" Nicky tersenyum.
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, datang perawat muda dengan map di tangannya. "Maaf, Dok, mengganggu, ada beberapa berkas yang harus Dokter periksa," ucap perawat itu sambil menyerahkan map pada Nicky. Pria itu segera memeriksanya sementara aku bergeming di tempatku sambil memerhatikan sang perawat yang sedang menunggu hingga Nicky selesai memeriksa laporan. Si perawat terlihat masih muda dan jelas sekali mengagumi sosok Nicky.
"Gimana keadaanmu pagi ini, Ki?" tanya Nicky tanpa mengalihkan perhatiannya——pria itu masih fokus pada berkas yang ia pegang.
Kini perawat muda itu menatapku sedikit curiga campur cemburu, membuatku sedikit salah tingkah.
"Em ... baik," jawabku singkat tanpa menoleh ke arah Nicky karena aku tahu perawat itu masih saja memandangku.
Beberapa menit kemudian Nicky telah selasai mengevaluasi laporan dan menjelaskan pada si perawat beberapa hal yang harus dilakukan olehnya. Meskipun Nicky sudah selesai berbicara, tetapi perawat itu tetap berdiri di hadapannya seperti tidak rela untuk meninggalkan Nicky berduaan denganku. Kontan Nicky bertanya apakah perawat tersebut masih ada perlu dengannya. Perawat itu menggeleng dengan wajah merah padam karena malu.
__ADS_1
Aku jadi bertanya-tanya dalam hati apakah Nicky mempunyai hubungan pribadi dengan si perawat? Oh ... kenapa juga aku jadi memikirkan hal itu? Siapa yang peduli kalau Nicky ada affair dengan sang perawat? Kubuang jauh-jauh pikiran konyolku ketika kulihat perawat itu melangkah pergi dengan pandangan kecewa.
"Sorry ya, Ki," ucap Nicky yang kini memfokuskan perhatiannya kepadaku.
"It's Okay," jawabku singkat. "Emm ..." ucapku sedikit ragu dan salah tingkah karena bagaimanapun aku belum mengucapkan terima kasih kepada Nicky yang tempo hari udah repot-repot mau menolongku. Setiap aku mau bilang selalu tidak ada waktu yang pas——kadang ada mama, atau kakakku, ataupun Rere yang tengah menemaniku di kamar. Sebenarnya bisa saja aku mengucapkan terima kasih di depan mama ataupun Rere, tetapi entah kenapa aku sedikit gengsi dan takut nanti malah disalahartikan lagi oleh mereka.
Meskipun aku tidak suka pada sifat Nicky yang super duper rese itu, tetapi bukan berarti aku orang yang tidak tahu berterima kasih.
"Kamu mau ngomong apa?" Nicky mengernyit bingung dengan sikapku.
"Aku ... mau ngucapin terima kasih karena tempo hari kamu udah nolongin aku," ucapku sambil tertunduk malu. Tanpa kusadari tangan Nicky terulur untuk meraih tanganku yang bebas——karena tanganku yang satu lagi dalam keadaan diinfus. Aku kaget karena perlakuan Nicky yang tiba-tiba dan entah kenapa aku jadi gugup dan berdebar-debar, padahal selama ini aku tak pernah punya rasa terhadap pria itu!.
Dengan refleks aku mendongak dan manatap ke manik matanya. Pria itu tersenyum tulus padaku dan aku seperti menemukan sebuah kerinduan di sana, seperti seseorang yang telah lama tak bertemu dengan kekasih hatinya. Namun, aku menepis pemikiran itu. Tak mungkin Nicky punya rasa terhadapku. Dari dulu dia selalu saja tidak pernah bersikap baik terhadapku, malah terkesan suka sekali mencari masalah denganku.
"Ehem ... ehem," ucap sebuah suara, membuyarkan lamunanku, membuatku sontak langsung menarik tanganku dari genggaman Nicky dan duduk dengan sedikit salah tingkah karena kedatangan mama yang kurang tepat.
Wajahku semakin merona kala mendapati mama memandangku dengan pandangan seakan menginterogasi.
"Eh, Tante," ucap Nicky sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan salah tingkah.
Oh, Tuhan, kalau sudah berurusan dengan mama memang tidak akan ada habisnya.
"Nggak kok, Tante, tadi aku kebetulan lewat, terus lihat Kikan di sini duduk sendiri, jadi aku samperin," jelas Nicky.
Aku hanya bisa memutar bola mata dengan malas. Aku paling sebal kalau mama sudah berganti profesi menjadi reporter——seperti saat ini. Aku buru-buru mengatakan ingin kembali ke kamar sebelum mama mulai bertanya macam-macam pada Nicky.
Untungnya mama mengangguk setuju lalu berpamitan pada Nicky. Tidak lupa beliau mengingatkan Nicky untuk mampir ke kamarku, "Tante udah masakin opor ayam. Kamu pasti suka." Mama tersenyum ke arah Nicky dan aku hanya menanggapinya dengan malas.
Aku diam saja saat menyadari tatapan Nicky mengarah padaku. Setelah berpamitan, aku meninggalkan taman dan kembali ke kamar.
***
Malamnya, Kak Robi yang kebagian giliran untuk menjagaku. Mama sudah pulang sejak sore tadi. Kak Robi datang bersama Mbak Disa, istrinya, dan juga Theo, anaknya. Suasana kamar yang awalnya sepi jadi riuh karena keberadaan Theo yang lucu. Aku sangat menyayangi bocah yang baru berusia tiga tahun itu. Entah kenapa Theo selalu menempel seperti anak koala setiap bertemu denganku dan mengabaikan bundanya sendiri——kadang membuatku sedikit tidak enak pada Mbak Disa. Namun, Mbak Disa tidak pernah keberatan dengan kedekatan putranya itu denganku.
__ADS_1
"Aunty, Theo mau nginep di sini ya, nemenin Aunty biar nggak kecepian," ucap bocah itu polos sambil menggelayut manja padaku, membuatku makin gemas kala Theo seperti ini.
Aku mencium pipi gembulnya dan dia terkikik geli karenanya. "Jangan, nanti badan Theo sakit semua. Di sini cuma ada satu ranjang. Theo pulang aja sama bunda, istirahat di rumah. Kan besok Theo masih harus sekolah," ucapku berusaha membujuk Theo sambil mengelus sayang rambut tebalnya.
"Nggak mau, Theo mau nginep di sini sama Aunty! Boleh kan, Bunda?" ucapnya memelas sambil memasang wajah chubby-nya ke arah Mbak Disa, dan aku hanya bisa **** senyum melihat tingkah konyol Theo.
"Besok kan Theo harus sekolah, lagian Aunty kan besok udah pulang, jadi Theo nginepnya pas Aunty udah pulang aja, ya? Nanti bisa ketemu sama oma juga main-main sama oma." Mbak Disa berusaha membujuk Theo, dan aku melihat Theo mengerucutkan bibirnya tanda dia menolak keputusan bundanya.
"Atau gini aja, kalau Theo mau pulang terus nurut kata Bunda, nanti kalau Aunty udah sembuh, Aunty bakal ajak Theo main ke taman hiburan, gimana? Kita bisa naik kincir angin sambil makan gulali, terus beli banyak mainan." Aku berusaha membantu membujuk Theo. Aku melihat mata bocah itu yang awalnya akan menangis karena keinginannya tidak terkabul menjadi berbinar karena ucapanku.
"Beneran, Aunty?" tanyanya lagi dan aku mengangguk membenarkan ucapanku. "Horeeee ... main ke taman bermain! Bunda nggak usah diajak ya, Aunty, soalnya nanti Bunda pasti larang ini dan itu!" pintanya sambil jingkrak-jingkrak di atas ranjang yang kutempati.
Aku tersenyum mengangguk.
Setelahnya, Mbak Disa menggendong tubuh gempal Theo untuk segera dibawa pulang.
Ruangan kembali sepi setelah Theo dan Mbak Disa pergi.
"Besok kamu udah boleh pulang kan, Dek?" tanya Kak Robi sambil mengupas jeruk sementara matanya menonton tv.
Aku mengangguk mengiyakan. "Bosen juga cuma makan dan tidur tiap hari," ucapku sambil memainkan gadget ditanganku.
"Omong-omong, kata mama kamu makin deket aja sama Dokter Nicky."
Deg
Ucapan Kak Robi sedikit membuat jantungku hampir mencelos karena kaget. "Jangan dengerin ucapan mama, Kak, kayak nggak tau mama aja. Aku ngobrol sama satpam pun dikira deket ma satpam," ucapku asal, berusaha mengelak, takut kakakku diberi tahu mama lagi soal kejadian tadi pagi di taman.
"Oh ... kirain," jawabnya pendek.
Aku hanya mengernyit karena bingung dengan sikap Kak Robi yang tidak seperti biasanya. Biasanya dia tidak pernah peduli aku dekat dengan siapa. Atau jangan-jangan mama yang mengompori kakakku untuk menginterogasiku setelah putusnya aku dan Andrian?
Duh, makin bikin frustrasi aja! Padahal niatku hanya untuk mengucapkan terima kasih, tetapi malah berujung rumit begini! Padahal setelah kejadian terpergoknya Nicky yang tengah menggenggam tanganku, aku sudah sangat takut mama bakal mencecarku dengan pertanyaan ini dan itu yang akan membuatku kelimpungan sendiri, tetapi ternyata tebakanku salah. Setelah kembali ke kamar, mama sama sekali tak membahas masalah itu dan bersikap biasa aja. Namun, siapa sangka mama malah berkompromi dengan Kak Robi untuk menginterogasiku?
__ADS_1
Ya Tuhan ... bagaimana ini? Nicky sialan! Ngapain sih tadi pakek pegang-pegang tanganku segala? jeritku dalam hati.
***