
Aku menghembuskan napas dengan frustasi atas kejadian dimeja makan satu jam yang lalu, tadi yang membuat aku menegang karena aura intimidasi dari orang-orang sekitarku. Siapa lagi kalau bukan Kak Robi dan juga Mama, kalau kakak ipar ku sih meski penasaran tapi aku lihat dia masih bisa mengontrol sikap dengan tenang berpura-pura sibuk menyuapi Theo.
Gimana nggak kesel coba si kunyuk Nicky pakai sok-sok an bikin acara makan malam hari ini jadi seperti ruangan persidangan. Heran aja ngapain dia pakai lebay ngumumin dia dulu pernah suka ma salah satu cewek sekelasnya didepan Mama dan juga Kak Robi. Memangnya siapa sih yang dia maksud? Kan dulu aku juga sekelas sama dia, tapi kok nggak pernah tau Nicky suka ma salah satu cewek sekelas kami? Bentar- bentar aku inget -inget dulu siapa ya cewek sekelas yang menurutku jadi tergetnya si Nicky, kayaknya aku nggak pernah deh liat Nicky deket- deket ma salah satu cewek apa lagi pacaran. Meski dia salah satu cowok most wanted disekolah, karena kecerdasan otaknya. Tapi dia tipikal cowok yang cuek kalau sama cewek.
Aku masih sibuk memikirkan tentang Nicky kala ada yang menjitak kepalaku dan membuat lamunanku buyar seketika.
"Apaan sih kak sakit nih " ucapku sebal sambil mengelus kepalaku bekas jitakan dari Kak Robi.
"Lagian kamu dipanggilin dari tadi nggak nyaut- nyaut, pasti lagi mikirin Nicky ya?" Ucap Kak Robi sambil mengerling mata kepadaku dan aku menanggapinya dengan pandangan horor akan sikapnya yang terkesan alay.
"Dih ngapain juga aku mikirin Nicky kayak nggak ada kerjaan lain apa" ucapku berusaha mengelak nggak mungkin juga aku jujur bisa kena bully habis-habisan dari Kak Robi nih.
"Ya juga nggak apa dek, Kak Robi nggak akan larang kamu berhubungan ma siapapun, Kak Robi percaya kok sama pilihan kamu yang penting kamu bahagia kakak juga ikut bahagia" ucapnya sambil mengelus rambutku dengan sayang dan aku mengernyit bingung dengan ucapan Kak Robi.
"Kak Robi ngomong apaan sih? Yang Kak Robi maksud itu siapa? Pilihan apa?" Ucapku masih setengah bingung dengan ucapan Kak Robi.
"Udah lah dek nggak usah malu-malu gitu bukanya udah jelas banget tadi, Nicky sikapnya sama kamu kayak gimana? Pantesan dia cepat akrab sama mama ternyata mau pedekate sama camer toh" goda Kak Robi lagi sambil menyenggol lenganku dengan bahunya dan aku hanya terbengong-bengong dengan pikiran Kak Robi yang udah melenceng jauh dari kenyataan.
"Bentar... jadi Kak Robi mikirnya aku sama Nicky ada someting gitu?" Tanyaku memastikan apa yang tadi melintas dipikiranku dan ditanggapi anggukan mantap dari Kak Robi. Aku tergelak karena menegetahui pikiranya Kak Robi yang kelewat jauh mikirin hubunganku dengan Nicky.
"Ya ampun Kak nggak ada apa lelucon yang lebih menarik dari pada ini" ucapku masih terbahak-bahak dan menghapus air mata disudut mataku saking nggak bisa nahanya aku untuk tertawa.
"Kamu kok malah ngakak sih kakak bilang gitu?" Ucap kak Robi masih bingung memandangku yang masih saja tertawa tapi tak sekeras tadi.
"Lagian Kak Robi tuh kepo kayak Mama, orang aku nggak ada apa-apa sama Nicky kok" ucapku sambil berbaring ditempat tidur sambil memeluk guling.
__ADS_1
"Elah.... sekarang bilangnya gitu masih malu-malu mo ngakuin, lihat aja nggak lama lagi juga kamu bakal ngakuin sendiri kalau kamu tertarik juga ma Nicky" ucapnya sambil mengacak-ngacak rambutku dan beranjak dari tempatnya duduk dan sontak aku langsung duduk.
"Kak Robi apaan sih nyebelin tau nggak, mana ada sejarahnya aku naksir Nicky yang ada aku makin sebel ma dia" ucapku sambil bersedekap dan memanyunkan bibirku tanda aku benar-benar nggak mood Kak Robi masih aja tetap kekeh nyudutin aku masalah Nicky padahal kan kenyataanya aku nggak segila itu harus naksir sama Nicky perasaan aku biasa aja.
"Yakin nih.... nggak nyesel? entar kalau Nicky berpaling ke cewek lain gara- gara kamu nggak peka sama semua kode yang dia kirim lewat tatapan matanya" ucap Kak Robi sambil menaikan sebelah alisnya dan aku hanya menatap Kak Robi dengan tatapan horor sedangkan Kak Robi malah ketawa ngakak sambil berjalan keluar kamar meninggalkan aku sendiri dengan sebuah perasaan gelisah yang tiba-tiba datang kala mendengar penuturan Kak Robi barusan.
"Kalau beneran terjadi gimana ya? Ah masa bodo emang gua pikirin mau Nicky suka ma cewek lain atau nggak suka-suka dia lah" batinku dalam hati.
*****
Seminggu setelah masa cutiku habis aku kembali lagi bekerja seperti biasanya. Setelah melawati masa cuti dengan ceramah panjang Mama yang mau tak mau aku harus rela makan bubur selama aku sakit dan tetap harus menuruti nasehat ini dan itu yang mau tak mau aku harus menurutinya. Dan setelah kesehatanku benar-benar membaik disinilah aku sekarang diruangan kerja ku yang udah seminggu tak ku jamah, maklum saja aku seorang yang workholic jadi aku lebih mencintai dunia kerja dari pada memilih bersantai dirumah dan membuatku mati bosan karenanya.
"Bruk"
Rere menaruh setumpuk berkas diatas meja kerjaku "Nih setumpuk file yang perlu kamu periksa ulang selama kamu libur sakit" ucap Rere sambil berkacak pinggang disamping meja kerja ku.
"Yap dan satu lagi, kamu nggak lupa kan sama janji kamu tempo hari" ucap Rere dengan sebelah alisnya terangkat menunggu jawaban dariku.
"Ya... kamu dapetin apa yang kamu mau" ucapku dengan pasrah lagian emang Rere butuh hiburan selama dia aku tinggal pasti diapun keteteran meng handle kerjaanku.
"Ya udah, ada lagi yang perlu diomongin?" Ucapku sambil menatap Rere yang tak juga berpindah dari tempatnya.
"Nothing" ucap Rere sambil melangkah meninggalkan ku sebelum dia menghilang dibalik pintu aku melihat dia berbalik dan memandangku.
"Jangan terlalu keras, inget kamu baru sembuh dari sakit. Aku nggak mau kamu tepar lagi kayak kemaren, Selama aku tinggal berlibur kurangi jam lembur kamu" ucap Rere sambil melangkah keluar ruanganku dan aku hanya mengangguk patuh mendengar ucapanya. Meski kadang nyebelin aku tau dia akan tetap menghawatirkanku dan aku benar-benar bersyukur bisa dapetin asisten sekaligus sahabat kayak Rere.
__ADS_1
*******
Malam ini hujan turun dengan derasnya kala aku berdiri didepan lobi kantor tempetku bekerja. Keadaan kantor sudah sangat sepi, maklum saja sekarang sudah lebih dari jam 21:00 malam, aku baru bisa menyelesaikan kerjaan dan baru bisa keluar kantor dijam seperti ini. Aku memutuskan untuk menunggu hujan sedikit reda baru aku akan pulang, maklum saja karena hari ini aku nggak bawa mobil seperti biasanya karena mobilku dipakai Kak Robi untuk nganterin Mama pulang kerumah karena mobil Kak Robi lagi mogok jadi terpaksalah aku berangkat ke kantor naik taksi.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya hujan sedikit reda, aku putuskan untuk segera pulang dan tak butuh waktu lama untuk mendapatkan taksi segera aku menaiki taksi dan memutuskan langsung pulang menuju apertemen ku.
Sesampainya didepan apertemen aku segera turun dari taxi dan berjalan menuju pintu masuk apertemen dan tak ku sadari ada seseorang yang sudah menungguku disana, pria yang sudah beberapa minggu ini aku hindari kehadiranya.
"Kikan..." panggilnya dari arah blakangku dan tak ku hiraukan panggilanya, aku terus saja melangkahkan kakiku dan berharap segera menghilang dari hadapanya namun langkahku kalah cepat darinya, dia langsung mencekal tanganku dan menariku menuju luar pintu apertemen.
"Lepasin tanganku" geramku kala aku sudah berada dihadapanya tapi tak dihiraukan ucapanku dan dia semakin mencekeram lenganku dengan erat dan membuatku meringis kesakitan.
"Kamu kemana aja selama ini? Kenapa sih kamu susah banget buat dihubungin,aku datengin ke kantor kamu katanya kamu lagi keluar kota aku telvon tapi nggak pernah kamu angkat kamu bikin aku hampir gila" ucapnya ber api - api.
"Kamu ngapain masih nyariin aku, bukankah setatus kita udah jelas nggak ada apa-apa lagi sekarang. Mau aku pergi kemanapun itu bukan urusanmu lagi" ucapku tak kalah emosinya aku nggak ngerti sama jalan pikiranya bukankah dia yang udah bikin aku kayak gini sekarang ngapain juga sekarang dia marah-marah nggak jelas sama aku.
"Arrgghhhh... kamu kenapa segampang itu buat ambil keputusan buat akhirin hubungan kita. Bukankah hubungan kita udah terjalin cukup lama? Apakah selama ini hubungan kita nggak ada artinya dimata kamu" teriaknya didepan wajahku dan aku hanya memejamkan mata menahan emosi yang siap meledak karena dia benar-benar udah mancing emosiku.
"Kamu tau aku jadi kayak gini karena siapa?" Ucapku masih berusaha meredam emosiku " Dan kamu dengan seenaknya aja ngelimpahin semua kesalahan sama aku, kamu pikir aku cewek apaan ha?" Sekarang aku udah nggak bisa ngontrol emosiku lagi.
"Dari dulu aku yang selalu ngalah sama kamu, kamu sibuk sama kerjaan kamu aku masih bisa ngertiin kamu, nggak pernah ada waktu buat aku, aku masih mencoba buat sabarin kamu tapi apa yang udah kamu kasih sama aku? Kamu jalan berdua sama cewek didepan mataku sendiri terus kamu berharap aku masih mau memepertahankan kamu dalam hidup aku? Jangan harap" jawabku tak kalah emosi dan aku menarik lenganku dengan kasar dari cengkraman tangan Andrian dan karena sangking kasarnya aku menarik lenganku aku jatuh terjungkal kebelakang dan membuat aku terduduk dilantai dangan kasarnya tas dan semua barang bawaanku berserakan dilantai aku terpekik kaget karena posisiku yang mendarat dengan kasarnya dilantai membuatku meringis kesakitan.
"Ki.." ucap Andrian kaget melihat aku jatuh dan hendak menolongku tapi tanganya segera aku tepis dengan kasarnya.
"Jangan sentuh aku" bentaku sambil mengusap air mataku yang menggenang disudut mata karena menahan sakit dipantatku dan aku melihat Andrian masih bergeming ditempatnya karena tau aku masih enggan untuk disentuh olehnya aku masih terisak sambil memunguti tas dan barang-barangku yang berserakan dilantai, kala aku akan mengambil handfone yang tergeletak disamping kakiku ada tangan lain yang juga terulur untuk mengambil handfone ku dan aku tau itu bukan tangan andrian karena andrian memakai kemaja panjang berwarna putih sedangakan tangan yang mengambil handfone memakai kemeja warna biru gelap dan sontak membuatku memandang orang yang berada tepat disampingku sambil berjongkok menjajarkan tubuhnya dengan tubuhku aku terkejut melihat dia berada didepanku entah setan mana yang menghinggap dibadanku tanpa pikir panjang aku langsung berhambur memeluknya dengan erat sambil menangis meluapkan rasa sakit luar dalam yang ditorehkan oleh Andrian, pria yang aku harapkan akan menjadi pria terakhir dalam hidupku dan ternyata tuhan berkehendak lain bukan Andrianlah orang itu. aku manangis tanpa sadar dipelukan pria ini ya pria yang akhir-akir ini selalu mengusik kehidupan tenangku pria yang aku anggap tak akan pernah berada dalam hidupku dulu maupun sekarang siapa lagi kalau bukan...
__ADS_1
"Nicky.....