Shocking love

Shocking love
D


__ADS_3

Aku masih belum sadar dengan apa yang tengah terjadi. Kemunculan Nicky yang tiba-tiba di hadapanku seketika membuatku melupakan keberadaan Andrian dan Rere di sampingku. Aroma khas parfumnya menguar dari tubuh pria yang masih setia mendekapku sampai detik ini. Dan, aku masih terhipnotis akan aura maskulin yang dipancarkan Nicky hingga aku mendapatkan kembali kesadaranku dan berusaha menormalkan detak jantungku yang seperti roller coaster, naik-turun tak beraturan. Kulirik keberadaan Andrian dan Rere yang tak jauh berbeda denganku yang terkejut dengan kedatangan Nicky yang tiba-tiba.


"Ehm ... ngapain kamu di sini?" tanyaku berusaha memecah keheningan.


"Aku berniat makan siang di restoran depan, tapi kutunda saat melihat kamu ada di sini," jawabnya sambil menarik tangannya dari atas pundakku, dan entah kenapa ada sedikit rasa tak rela saat Nicky melakukannya. Aku melihat Nicky memasukkan tangannya ke dalam saku celana lalu mengambil sesuatu dari sana. Seketika Nicky menarik salah satu tanganku Meletakkan sesuatu di atasnya.


Aku mengernyit bingung mendapati sebuah handphone di tanganku. Saat ingatanku kembali, aku teringat jika aku kehilangan handphone setelah kejadian reuni malam itu dan belum sempat membeli yang baru, mengingat kesibukanku akhir-akhir ini. Saat mengetahui ternyata benda itu ada di tangan Nicky, entah kenapa aku sedikit bingung.


"Jangan salah paham dulu, Ki," ucapnya berusaha menjelaskan kepadaku, "aku menemukan ini terjatuh di samping nakas waktu kamu meninggalkanku sendirian di kamar hotel pagi itu. Saat aku keluar dari kamar mandi, aku tak menemukanmu di mana-mana, membuatku bingung."


Ingin rasanya aku menyumpal mulut Nicky saat ini juga. Kenapa harus bertemu Nicky di saat seperti ini dan kenapa juga harus ada Andrian di sini? Tadi dia mengungkit masalah kamar hotel seolah-olah tanpa dosa. Apa dia berusaha mempermalukan aku di depan Andrian dan Rere? Benar-benar Nicky sialan! umpatku dalam hati.


"Apa maksud pembicaraanmu barusan? Aku sama sekali tak mengerti," kilahku berusaha menghindari perkataan Nicky yang sedikit banyak membuatku panas-dingin.


"Ki, kamu nggak lupa kejadian beberapa hari yang lalu kan? Kam..." perkataan Nicky terpotong karena aku membungkam mulut pria itu dan menariknya menjauh dari Rere dan Andrian——seperti hakim yang mau mengadili tersangkanya.


Setelah merasa cukup aman dari posisi Andrian dan Rere, aku melepaskan tangan dari mulut Nicky dan langsung melotot seraya berkacak pinggang. "Mau kamu apa, sih? Kamu mau mempermalukan aku?" ucapku sedikit menahan emosi agar tidak meledak dan menjadi pusat perhatian orang-orang.


"Siapa yang mau mempermalukan kamu?" tanyanya dengan santai, membuatku ingin menghajar Nicky saat ini juga.


"Terus maksud kamu apa bahas-bahas masalah kemarin? Kamu mau mempermalukan aku di depan teman dan juga mantanku?" ucapku sedikit mendesis, takut ucapanku terdengar Rere dan Andrian yang berdiri tak jauh di belakangku.


"Oh ...  jadi itu mantanmu? Kalau udah jadi mantan, kenapa mesti takut kamu kena skandal dengan cowok lain?" ucapnya dengan tenang, tak termakan tatapan mengancamku yang kutujukan padanya.


"Bukan urusanmu," ucapku sengit mendengar penuturannya.


"Kalau gitu, kamu jadi pacarku aja biar semua tentang kamu jadi urusanku juga."


"A, apa ...? " tanyaku setengah tak percaya terhadap pendengaranku.


Nicky mengulangi perkataannya dengan jelas sambil memegang pergelangan tanganku. Matanya menyorot tajam, menunggu jawaban.


Aku hanya bisa bengong mendengarnya.


***


"Re ... Bisa Berhenti menatapku seperti itu?" ucapku dengan kesal karena sudah hampir satu jam Rere menatapku seperti berusaha menyidangku atas kejadian di parkiran restoran tadi.

__ADS_1


"Lagian aku tanya diam aja," jawabnya tak kalah kesal terhadapku.


"Oke, oke aku menyerah," aku mengangkat tangan tanda menyerah, tak bisa lagi lari dari Rere, "namanya Nicky, dia teman SMA-ku dulu," aku berusaha menjelaskan semuanya agar tidak diteror terus-menerus oleh Rere. Sudah empat tahun aku mengenal Rere dan sudah tahu betul wataknya, jadi tak ada jalan lain selain menyerah dan menjelaskan semuanya sampai akhir. Dan, mengalirlah ceritaku mulai dari siapa Nicky dan bagaimana aku bisa bertemu kembali dengan pria itu termasuk kejadian di parkiran restoran tadi tak luput dari ceritaku.


"Kamu jawab apa? Sayang kalau ditolak, Ki, tu cowok perfect banget. Andrian aja lewat!" Rere bersemangat menanggapi ceritaku, namun kutanggapi dengan memutar bola mataku malas.


"Apanya yang gimana? Pastinya ya kutolak mentah-mentah. Aku tau Nicky itu kayak apa orangnya. Coba kamu bayangin sendiri dari masa awal SMA sampai lulus tuh kerjaannya ngisengin aku dan temen-temen aku. Dia nggak pernah serius, selalu bikin kesel, meski harus aku akui otaknya lebih encer dariku. Tapi, kalau masalah cewek, nggak banget, Re," jelasku panjang kali lebar karena aku tak paham dengan jalan pikiran temanku ini yang malah mendukungku dengan Nicky, padahal aku sudah menceritakan bagaimana hubunganku sebenarnya dengan pria itu selama ini.


"Memangnya apa yang salah? Toh itu kan dulu, pasti udah beda lah. Sudah sepuluh tahun berlalu, siapa tau dia beneran suka sama kamu," ucapnya berusaha membela Nicky.


"Bukanya gitu, tapi emang nggak ada yang mesti dianggep serius dari ucapan Nicky, mungkin dia cuma ngerjain aku kayak dulu. Kamu nggak tau sih, Nicky kayak apa! Meski dulu dia banyak yang suka, nggak ada yang ditanggepin serius sama dia. Gila kan, sok kecakepan banget!" ucapku malas sambil mengingat kejadian di parkiran restoran.


Flashback


"Kamu ngomong apa sih, Nick, jangan ngaco deh!" Aku berusaha menepis  yang menggenggam tanganku.


Pria itu menggeleng. "Aku serius. Lagian kamu juga udah nggak ada apa-apa sama tu cowok," ia berusaha memojokkanku.


Aku memelototinya. Nada suaraku meninggi saat berkata, "kamu udah gila apa? Dari dulu kerjaan kamu tuh nggak ada bosen-bosennya gangguin aku, dan tiba-tiba sekarang kamu ngajak jadian, permainan macam apa yang bakal kamu mainin lagi, Nick?  Udah deh, cukup terakhir kita ketemu hari ini, dan nggak ada lain kali lagi. Kuharap aku nggak akan dipertemuin lagi sama kamu!"


Aku pergi meninggalkan Nicky. Belum sempat melangkah jauh, tanganku dicekal lagi dari belakang. Sontak aku berbalik memandang Nicky, tak mengerti apa maunya.


Flashback of


"Waktu aku melihat Nicky nyium kamu, aku ngelirik Andrian kayaknya dia emosi banget tadi, ngeliatin banget kalau lagi cemburu," Rere menyeruput minumannya dengan santai.


Aku hanya mengangkat bahu, tak peduli soal Andrian, toh kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.


Rere berdeham. "Kalau Andrian berusaha ngejar kamu lagi, gimana?"


"Aku nggak mau bahas masalah kedua pria itu lagi karena mereka sama-sama ngeselin, lebih baik aku mikirin gimana ngelarin proyek kita sebelum jatuh tempo. Kamu itu dari tadi ngajakin ngobrol aja, sampai-sampai aku lupa kerjaanku. Balik gih, kamu jadi asisten yang baik." Aku mengusir Rere halus sebab jika percakapan ini diteruskan, tidak akan ada habisnya.


Rere bergumam sambil setengah manyun lalu berjalan pergi keluar dari ruanganku.


***


Malamnya aku pulang agak sore, jam dinding masih menunjukkan pukul delapan saat aku tiba di lobi apartemen.

__ADS_1


"Malam, Mbak Kikan! Tumben pulang cepet, biasanya lembur," sapa Pak Karim, satpam apartemen yang memang sudah biasa berjaga malam. Jadi, sedikit banyak beliau mengerti jadwalku pulang kantor.


"Eh iya, kebetulan hari ini tidak terlalu banyak kerjaan, jadi lumayan bisa pulang sore," ucapku ramah menanggapi sapaannya, "mari, Pak," pamitku, yang ditanggapi anggukan olehnya. Aku segera menuju lift. Setelah terdengar bunyi ding, lift terbuka dan aku segera melangkah masuk, kemudian menekan angka empat. Setelah menunggu beberapa saat, lift sudah tiba di lantai tempatku tinggal.


Setibanya di kamar apertemen, aku segera membersihkan diri kemudian merebahkan tubuh lelahku di atas tempat tidur nyamanku dan berusaha memejamkan mata. Saat rasa nyaman dan kantuk menghampiri, aku dikagetkan dengan bunyi ponsel yang memekakkan telinga sehingga membuatku tersadar kembali. Segera kuraih ponsel yang tergeletak di nakas samping tempat tidur dan menggeser tombol hijau. Saat mengetahui identitas si penelepon, seketika rasa lelah menguap begitu saja.


"Halo, Ma ...."


" Bagaimana kabarmu, Sayang? Sudah seminggu lebih kamu tidak telepon ke rumah."


"Maaf, ya, Ma, Kikan sedikit sibuk dan lupa ngabarin Mama." Aku meminta maaf lantas menanyakan kabarnya.


"Mama baik-baik saja. Meski sibuk, kamu jangan lupa makan, takutnya kamu makin kurus saja gara-gara kerja karena mengesampingkan kesehatanmu."


"Kikan baik-baik saja, nggak usah khawatir, Kikan selalu rutin makan."


Mama Kikan mengucap syukur dengan nada lega. "Andrian apa kabar? Sudah lama nggak pernah ngobrol lagi saat kamu telepon Mama." Pertanyaan mama sukses membuatku meringis bingung. Aku bingung harus menjawab apa karena bagaimanapun mama tahu betul jangka waktu hubunganku dengan Andrian tidak hanya seumur jagung. Apa aku harus jujur jika hubunganku dengan Andrian sudah kandas? Sebab jika aku berbohong, entah sampai kapan aku dapat menyembunyikannya.


"Em ... aku udah nggak sama Andrian lagi, Ma, sekarang kami udah mutusin buat temenan aja," aku menggigit bibir bawahku karena takut mama akan kecewa dengan jawabanku.


Untuk beberapa saat Mama terdiam. Saat berbicara lagi, suaranya bergetar menandakan bahwa ia sangat khawatir.


"Loh, bukannya kalian udah lama berhubungan? Kok sekarang tiba-tiba putus? Apa yang terjadi sebenarnya? Apa Andrian nyakitin kamu?"


Aku tau mama sangat menyayangiku dan aku sebagai anak perempuan satu-satunya di keluargaku yang hidup berjauhan, tak menyalahkan sikapnya yang sedikit overprotective terhadapku. Aku tidak pandai berbohong jika sudah menyangkut masalah dengan mama, jadi aku berusaha sebisa mungkin terlihat baik-baik saja di depan beliau.


"Nggak, kok, Ma ... Andrian baik, cuma kesibukan yang membuat kami memilih untuk berteman saja. lagian Mama juga tau Andrian sering banget kerja ke luar kota dan Kikan juga kalau udah ada proyek kadang suka lupa waktu buat ngabarin dia. Karena itulah, kita mutusin buat pisah baik-baik," jelasku setengah berbohong. Tidak mungkin aku jujur memberi tahu mama bahwa Andrian selingkuh. Bisa-bisa Andrian dicincang oleh Kak Robi kalau kakakku itu tahu Andrian menyakitiku. Jadi, aku memilih aman saja. Lagi pula aku juga sudah menerima keadaan.


"Tapi kamu sudah berumur lho, Sayang. Sampai kapan mau main-main? Kamu nggak iri ngeliat kakakmu yang udah punya anak lucu kayak Theo? Jangan kerja aja yang dipentingin," omel mama.


Kalau sudah seperti ini bakalan tidak ada henti-hentinya mama membahas masalah umur, pernikahan, dan anak. Aku tahu umurku sudah dua puluh delapan tahun, tidak lagi muda, tetapi masalahnya mau menikah sengan siapa? Andrian yang kuharapkan menjadi laki-laki terakhir dalam hidupku, yang sudah menjalin hubungan selama dua tahun ini, malah selingkuh. Memangnya siapa yang tidak ingin menikah dan punya anak-anak lucu? Aku menghela napas pelan. Aku sangat menginginkannya, tetapi memang Tuhan belum menghendaki.


"Iya, Ma ... Kikan paham. Mungkin memang belum jodoh Kikan sama Andrian," ucapku. Lalu aku meminta doa pada mama agar segera menemukan jodoh.


Mama mengiyakan.


Setelah itu aku pamitan dengan diakhiri kata "I Love You".

__ADS_1


Aku mematikan sambungan telepon lalu berusaha memejamkan mata, namun tidak bisa. Ucapan mama benar-benar mengusik pikiranku.


*** 


__ADS_2