Shocking love

Shocking love
G


__ADS_3

Sudah satu jam berlalu sejak kepergian Rere yang membuat kupingku panas karena ceramahnya tentang kesehatanku yang menurun drastis. Aku harus ekstra sabar menahan amarah kala Rere terus-terusan menasihatiku yang lalai menjaga kesehatan. Meskipun begitu, aku akui ini memang kesalahanku--harus berakhir di rumah sakit seperti ini.


Cklek


Suara pintu yang terbuka langsung membuyarkan lamunanku. Aku langsung menoleh ke asal suara dan mendapati Mama langsung menerobos masuk ke dalam kamar inapku dan langsung memelukku erat.


"Aduh, Ki, gimana keadaanmu, Sayang? Mana yang sakit? Apa kata dokter tentang kesehatanmu? Kamu tuh, nggak pernah dengerin nasehat Mama, ya, seenaknya aja nyepelein kesehatan," cerocosnya tanpa henti, membuatku nyengir.


"Ma ... satu-satu dong ngomongnya. Bingung nih mau jawab yang mana dulu," jawabku sedikit malas karena ekspresi mama yang terlalu berlebihan, membuat mama langsung melepas pelukannya dan melotot ke arahku.


"Kamu tuh anak cewek satu-satunya, kok susah banget diatur, Mau kalau Mama larang kamu untuk tinggal di apartemen dan balik lagi tinggal di rumah? Biarin aja jauh dari kantor kamu, yang penting Mama bisa pantau kesehatan kamu," ucapnya berapi-api sambil berkacak pinggang.


"Ma ... jangan tega sama Kikan. Kan Kikan banyak deadline, jadi Kikan keteteran masalah kerjaan." Aku beralasan sambil memasang puppy eyes andalanku.


"Ngeles aja bisanya. Terus kalau sampai kayak gini, gimana urusannya? Pokoknya Mama nggak mau tahu, kamu harus ambil cuti sampai keadaanmu benar-benar membaik dan Mama akan awasi selama kamu nggak kerja. Jadi, Mama akan tinggal sama kamu sampai keadaanmu benar-benar pulih."  Ucap Mama tidak mau kalah.


"Tapi--"


"Nggak pakai tapi-tapian! Atau ... kamu lebih milih tinggal sama Mama daripada di apartemen kamu?" Mama masih tetap teguh dan aku cuma bisa mengembuskan napas sebal.


"Kikan baik-baik aja kok, jadi Mama nggak perlu jagain selama Kikan sakit. Kasian Mama kalau sampai kurang istirahat. Nanti malah ikut-ikutan sakit, gimana?" Aku masih berusaha membujuk mama agar mau mengubah keputusannya.


"Kamu nggak perlu khawatir, kakakmu yang akan gantian jagain kamu selama di sini. Mama juga ajak Bi Na untuk pindah ke apartemen- mu sementara, sampai kamu benar-benar sembuh. Sebelum ke sini, Mama mampir ke apartemen -mu dulu untuk menaruh barang-barang keperluan Mama selama tinggal di sini," jelas Mama dengan raut wajah puas melihatku terdiam pasrah menerima keputusan mama--aku memang sudah tidak ada pilihan lain selain menuruti keputusan mama.


Mama memperlihatkan beberapa kantong plastik putih berisi buah-buahan dan menawarkan untuk mengupaskan buah yang kuinginkan. Namun, aku menolak karena saat ini memang sedang tidak ingin.


Tiba-tiba pintu kamarku terbuka kembali. Di sana muncullah Nicky dengan suster di belakangnya.


Jujur aku sedikit terkejut mendapati Nicky dalam pakaian kebesarannya. Orang-orang yang tidak mengetahui karakter Nicky yang sebenarnya, mereka akan beranggapan bahwa ia adalah dokter muda yang tampan dan berkharisma. Tetapi, tidak denganku yang sudah mengenal Nicky luar dan dalam.

__ADS_1


"Selamat siang, saya dokter Nicky yang akan menangani keadaan Anda selama Anda berada di rumah sakit ini. Saat ini jam praktik saya untuk mengunjungi pasien yang dirawat inap. Boleh saya memeriksa keadaan Anda sekarang?" ucap Nicky sopan dan berusaha seprofesional mungkin di depan mama dan suster yang menjadi asistennya itu. Dia berakting dengan sangat sempurna seolah-olah tidak mengenalku.


Cih, dasar! Kenapa dia berbuat seperti itu? Aku membiarkan dia memeriksa keadaanku dan aku menangkap dia tersenyum padaku. Aku langsung membuang muka kala dia memegang pergelangan tanganku untuk ia periksa--entah disadari atau tidak oleh mama yang berada tepat di sampingku.


"Gimana keadaan anak saya, Dok?" tanya mama kala Nicky telah selesai memeriksa.


"Keadaan Putri Ibu sudah lebih stabil daripada tadi pagi. Meski belum maksimal, tapi sudah menunjukkan perkembangan. Apakah ada keluhan seperti mual atau pusing, misalanya?"


Aku menanggapi dengan gelengan.


"Oke, kalau ada keluhan lain, mohon segera memberitahu, ya, agar kami bisa memeriksa lebih lanjut. Anda kekurangan cairan karena tidak mendapatkan asumsi makan yang bergizi, dan saya lihat lambung Anda juga sedikit bermasalah. Kalau Anda mempunyai riwayat penyakit maag, saya sarankan berhenti mengonsumsi minuman berkafein seperti kopi atau minuman bersoda karena itu bisa mengakibatkan lambung Anda semakin parah," ucapnya panjang-lebar.


Aku tidak banyak menyimak apa yang Nicky bicarakan. Aku sibuk memikirkan apakah pria yang berbicara seserius itu di hadapanku ini benar-benar Nicky? Aku sungguh tidak mengenali Nicky, pria yang sering kuanggap tengil dan jago bikin onar.


"Terima kasih banyak, ya, Dokter," ucap mama setelah Nicky berpamitan. Kemudian mama menoleh padaku. "Kamu denger kan tadi apa yang dikatakan dokter?" ucap mama sambil membantuku menarik selimut yang tersingkap saat tadi Nicky memeriksaku.


"Iya, Ma, Kikan dengar kok, dan Kikan akan mengingatnya," jawabku sambil menekan tombol remot TV untuk mengganti saluran yang sedari tadi aku tonton.


"Nggak, ah, biasa aja." Aku pura-pura tidak terpengaruh dengan omongan mama, padahal dadaku bergemuruh melihat reaksi mama saat bertemu Nicky untuk pertama kali.


"Tadi Mama lihat reaksi kamu loh, waktu dokter muda itu periksa kamu. Jangan dikira mata tua Mama nggak berfungsi." Mama masih penasaran pada Nicky.


"Ih ... Mama apaan, sih, kepo banget kayak anak muda." Aku berusaha mengelak.


Mama tersenyum lebar seraya menatapku. Jika seperti itu, mama tampak terlihat jauh lebih muda dari umurnya. "Kayak orang yang malu pas ketemu sama gebetan," cetus mama, membuatku melongo.


"Omongan Mama ngaco. Aku nggak malu sama Nicky, yang ada aku eneg ngeliat tampangnya!" ucapku tanpa sadar dan langsung menutup mulut kala menyadari kebodohanku.


"Tuuh kaaann, ketahuan kan, pasti ada apa-apa antara kamu dengan dokter muda tadi! Kamu udah kenal ya, sama dokter tadi?" Mama masih penasaran dan aku paling malas dengan sifat mama yang satu ini, kepo kayak Rere.

__ADS_1


"Nih, ya, Ma, aku nggak ada apa-apa dengan dokter tadi," aku berdeham sebelum melanjutkan, "dia itu temen sewaktu SMA dulu, lagian aku nggak suka sama dia." Aku berusaha menjelaskan.


"O ya? Hebat banget dong, masih muda udah jadi dokter! Calon mantu idaman tuh!" cetus mama sambil tersenyum ke arahku dan aku langsung bergidik ngeri mendengar ucapannya.


BIG NO! teriakku dalam hati.


♡♡♡


Sudah dua hari aku dirawat di rumah sakit ini dan sudah dua hari pula aku menahan sebal melihat tingkah mama setiap ada Nicky saat jam periksa. Mama masuk ke kamar tempatku dirawat dan berusaha menahan Nicky untuk tetap berada di kamar. Dan, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Nicky. Pria itu malah dengan senang hati menanggapi celotehan mama. Aku tak habis pikir dengan jalan pikiran mama yang langsung bisa akrab dengan Nicky, padahal baru beberapa kali bertemu. Apalagi mama tahu dari Rere bahwa Nickylah yang sudah menolong dan membawaku ke rumah sakit ini. Dan, selama itu pula aku harus bisa pasrah kala mama dengan senang hati membawakan makan siang untuk Nicky dan dimakan bersama di dalam kamarku.


Aku melihat mama dengan bahagianya berceloteh ria bersama Nicky--aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan sehingga membuat mereka tertawa gembira--dan aku hanya menonton TV agar tidak kepergok menguping pembicaraan mereka. Meski tatapan mataku mengarah pada televisi, tetapi tidak dengan pendengaranku. Kadang aku sebal sendiri melihat Nicky yang berakrab ria bersama mama.


Cari muka banget sih, tu cowok!


"Ma ... kok Mama mau aja sih repot-repot masakin buat Nicky? Kurang kerjaan banget, gitu," ucapku sebal kala Nicky sudah selesai dengan makan siangnya dan pergi dari kamarku untuk melanjutkan pekerjaan.


"Hush ... kamu nggak boleh kayak gitu. Biar bagaimanapun, Dokter Nicky yang udah nolongin kamu. Nggak ada salahnya dong Mama ucapin rasa terima kasih lewat makanan." Mama tersenyum senang sambil mengupas jeruk.


"Tapi kan nggak usah tiap hari juga kali, Ma." Aku masih setengah kesal.


"Lagian kan Mama masaknya banyak, kamu juga makannya dikit banget, dari pada makanannya kebuang, apa salahnya Mama kasih ke Dokter Nicky? Mama merasa utang budi sama dia karena dia udah nolongin kamu. Kalau nggak ada Dokter Nicky, entah nasib kamu gimana."


Aku menghela napas. "Ya, deh, terserah Mama aja," ucapku pasrah, tidak bisa melawan kehendak mama.


"Kamu kenapa sih? Kayaknya nggak suka banget sama Dokter Nicky? Mama lihat dia anaknya baik, kok, sopan lagi, tapi kamunya kayak nggak suka gitu sama dia," ucap mama berusaha menginterogasiku.


"Mama gampang banget bilang dia baik padahal baru beberapa kali ketemu sama dia. Mama nggak tahu aja Nicky kayak apa orangnya."


"Dengar, ya, Sayang, apa yang terlihat itu belum tentu kenyataannya. Kadang kita hanya salah paham dengan sikap yang ia tunjukkan. Mama seorang ibu, jadi bisa merasakan mana yang beneran tulus dan mana yang cuma mau manfaatin kamu. Inget kata-kata Mama, suatu hari nanti pasti kamu paham." Mama membelai rambutku dengan lembut.

__ADS_1


Aku hanya mampu terdiam ketika Mama tak membahas masalah Nicky lagi, tapi aku cukup terganggu dengan kata-kata yang diucapkan nya, meski hati nuraniku membenarkan apa yang diucapkan Mama tapi ego ku menolak untuk menerima. Mama beranjak berdiri dan berpamitan untuk pergi ke toilet aku hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.


***


__ADS_2