
Karena aku sudah terlalu sering mendengar nasihat mama yang menyuruhku cepat-cepat berumah tangga——mengingat umurku yang tak lagi muda——aku menghargai perasaannya. Aku juga tahu perasaan mama seperti apa, pasti beliau berharap yang terbaik untukku karena aku selalu berusaha menyenangkan hatinya. Semenjak ayah meninggal, mama sedikit lebih posesif padaku dibandingkan pada kakakku.
Kakakku sudah berkeluarga dan lebih memilih hidup terpisah, jadi mama hanya tinggal sendiri ditemani pembantu rumah tangga.
Meskipun sama-sama tinggal di Jakarta, jarak tempuh kantor dari rumah membutuhkan waktu kurang lebih dua jam, belum lagi saat macet, bisa lebih lama. Makanya, aku lebih memilih tinggal di apertemen daripada pulang-pergi ke rumah. Meski aku tinggal sendiri di apertemen, bukan berarti aku jarang pulang. Aku masih menyempatkan pulang dua minggu sekali untuk menengok mama, tetapi jika pekerjaan sedang numpuk, terkadang sebulan sekali baru sempat berkunjung.
Sebetulnya, mama bukan tipikal orang tua yang rewel, hanya saja terlalu khawatir padaku karena aku anak perempuan satu-satunya. Jadi, sebisa mungkin mama berharap yang terbaik untuk kelangsungan hidupku. Bukan mauku juga aku masih melajang sampai sekarang, huh ...! Sudahlah, mungkin memang belum saatnya aku mewujudkan kemauan beliau yang satu itu.
Saat ini, aku sedang disibukkan dengan beberapa desain yang hampir selesai kukerjakan karena minggu lalu aku sedikit kurang konsentrasi gara-gara masalah Andrian dan Nicky. Tetapi, minggu ini aku berusaha mati-matian memperbaiki kesalahan dan menyelesaikan pekerjaanku tepat waktu meskipun harus lembur setiap hari.
Kulirik Rere yang masih setia menemaniku di kantor meskipun jam dinding sudah menunjukkan pukul 20:17.
"Ki, udah jam segini, kita dinner dulu ya, ntar lanjutin lagi," kata Rere sambil meregangkan otot-ototnya.
"Kamu duluan aja, nanggung, nih, tinggal dikit lagi." Aku masih belum mengalihkan pandangan dari laptop.
"Kerja sih boleh-boleh aja, tapi tahu waktu jugalah." Rere berusaha membujuk.
"Ya, aku tahu, tapi beneran nanggung nih, kurang dikit lagi. Kamu duluan aja, ntar aku nyusul." Aku masih tetap fokus pada pekerjaanku.
Rere menyerah dan memutuskan untuk menunggu di cafe.
Aku hanya menjawab sekenanya dengan dehaman sebab masih tetap fokus pada pekerjaanku. Tiba-tiba dering ponsel membuyarkan konsentrasiku dan mau tak mau aku meninggalkan laptop untuk mengangkat ponsel yang menjerit dari tadi tanpa melihat nama yang tertera di layar. Aku menggeser layar hijau. "Halo," jawabku malas.
"Ki, kamu udah pulang, ya? Aku udah nunggu dari sejam yang lalu di lobi kantormu, tapi nggak ngeliat kamu dari tadi," ucap seseorang di seberang sana.
__ADS_1
Aku tahu dia siapa karena aku hafal betul dengan suara ini. "Bukan urusanmu, lagian ngapain nemuin aku lagi? Kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi," jawabku jutek, berusaha menahan amarah.
"Aku mau ngajakin kamu dinner. Itu keputusan sepihak aja kan, aku belum nyetujuin hubungan kita berakhir begitu aja," ucapnya lagi.
"Apa lagi, sih? Bukannya kamu malah senang kalau hubungan kita berakhir? Jadi, nggak akan ada lagi orang yang bakal nyuekin kamu, dan kamu bisa cari cewek lain yang lebih perhatian daripada aku. Kamu sendiri yang bilang kalau aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, makanya aku nggak ada waktu buat kamu," ucapku setengah emosi karena tingkah laku Andrian yang betul-betul tak kumengerti.
Apa maunya? Kenapa dia masih terus menghubungiku? Padahal aku sudah memberitahukan jika hubungan kami sudah berakhir sejak aku memergokinya berselingkuh beberapa minggu yang lalu.
"Ki ... dengarkan aku dulu, aku nggak serius waktu itu, aku cuma berniat mancing kamu." Andrian berusaha membujukku, tetapi aku tidak peduli. Memangnya aku ikan yang dengan mudahnya terpancing oleh umpan sialanya itu?
"Itu tandanya kamu kekanakan. Memangnya aku anak remaja yang dengan gampangnya bisa kamu bohongi? Dengar, ya, nggak ada satu laki-laki pun yang bisa mengobrak-abrik perasaanku dengan alasan cinta! Kalau memang kamu serius padaku, seharusnya kamu mendukung karier aku, bukannya main-main kayak anak SMP gitu," ucapku masih tak mau kalah.
"Ki, kamu dengerin penjelasanku dulu, dong."
Aku memutar bola mata dengan malas. Sekali aku dikecewakan, jangan harap aku akan memberi kesempatan kedua, batinku menjerit tetapi mulutku masih terkunci rapat.
Aku meluapkan semua keluh kesah yang selama ini menjadi beban dalam hati. Aku bukan perempuan yang mementingkan ego. Karena alasan itulah aku berusaha mati-matian agar tidak kesepian setiap Andrian jauh dariku. Siapa, sih, perempuan yang tidak suka dimanja dan diperhatikan pacar? Aku pun berharap seperti itu, tetapi pada kenyataannya, hubunganku tidak seharmonis itu. Ada saja kendala setiap ingin menghabiskan waktu bersama Andrian. Aku berusaha menghargai setiap kesibukannya, tetapi dia sama sekali tidak menghargai kesibukanku, malah dia membalas setiap pengorbananku dengan berselingkuh. Siapa yang tidak merasakan sakit?
Jujur, aku masih sayang Andrian, tetapi ego dan sakit hati yang lebih besar membuatku harus melakukan hal ini.
Aku menutup telepon dan me-non-aktifkan ponselku untuk menghindari Andrian sebab aku tak bisa konsentrasi pada pekerjaan jika pikiranku sudah terbelah. Segera aku membereskan berkas dan mematikan laptop, lalu menyambar tas tanganku. Aku melangkah keluar seraya menelepon Rere untuk memberi tahu bahwa aku pulang duluan dengan alasan sedikit pusing agar Rere tak memberondongku dengan berbagai pertanyaan yang membuat mood-ku makin hancur. Aku segera melangkah ke basement untuk mengambil mobil. Segera kulajukan mobil menuju apertemen. Aku malas bertatap muka dengan Andrian, jadi aku memilih gerbang belakang untuk menghindari Andrian yang masih menunggu di gerbang depan.
Setelah beberapa menit, aku tiba di apartemen. Dengan langkah lelah aku menuju lobi, lalu segera memencet tombol lift. Begitu pintu lift terbuka, aku segera masuk. Saat aku menekan angka lantai kamarku dan lift hampir saja menutup, tiba-tiba ada tangan besar yang menghalangi pintu lift. Secara otomatis pintu itu terbuka kembali.
"Tunggu sebentar," ucap pria itu dan segera masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Saat melihat sosok pria itu, seketika aku menahan napas. Udara seolah menghilang dari sekitarku dan aku kesusahan untuk menghirup oksigen. Aku masih terpaku menatap pria yang juga manatapku dengan seringai di bibir. Kuharap ini hanya mimpi. Kenapa dari sekian manusia di dunia ini, harus dia yang berdiri di hadapanku saat ini? Apa Tuhan benar-benar sedang menghukumku?
"Ohh ... siapa yang berdiri di depanku saat ini?" tanya pria itu dengan seringai liciknya, "ternyata Tuhan lebih mendengar doaku ya, daripada doamu," ucapnya lagi setengah meledek.
"Shit!" umpatku dalam hati. Mood-ku makin hancur malam ini. Setelah Andrian, sekarang cowok tengil ini yang membuat hariku berantakan. Pantas dari tadi perasaanku tidak enak. Aku mendengus kesal sambil mundur satu langkah.
"Ngapain kamu ke sini? Nguntitin aku ya?" ucapku setengah curiga. Mungkin saja saat aku di jalan, Nicky melihatku lalu mengikuti sampai ke sini.
"Whoa ... to the point banget kamu, Ki," ucapnya sedikit menyunggingkan senyum yang menurutku terkesan mengejek, "jadi kamu suka kalau aku ngikutin kamu?" Nicky setengah menggodaku dan kutanggapi dengan gelengan. "Aku nggak ngikutin kamu, aku ke sini karena memang aku tinggal di sini," ucapnya sedikit tergelak melihat ketegangan di wajahku.
Tadi dia bilang apa? Tingal di sini? What ...? Aku nggak salah dengar kan? Dari sekian apertemen di Jakarta, kenapa Nicky harus memilih tinggal di apertemen ini?
"Kamu nggak lagi ngerjain aku kan? Sejak kapan kamu tinggal di sini?" tanyaku tak percaya.
Nicky maju satu langkah. "Aku mau menagih janji tempo hari."
"Ap ... apa yang ...?" Aku tergagap karena melihat Nicky yang seolah akan menerkamku saat ini.
"Apa lagi, aku mau menagih janji tempo hari," ulang Nicky dengan seringai jahatnya.
"Ja, janji apa?" Aku masih belum mengerti maksud ucapannya.
"Beneran kamu nggak ingat atau pura-pura lupa?" ucapnya seraya maju satu langkah lagi, membuatku secara refleks mundur satu langkah untuk menghindari Nicky yang makin mendekat.
Ya Tuhan, tolong aku, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Nicky saat ini ....
__ADS_1
***