
Hari ini, hari minggu. Aku memutuskan untuk bersih-bersih Apertemen. Sudah lama aku tak melakukan nya, karena kesibukan ku bekerja, Aku mulai mengganti seprei, dan korden, serta mencuci pakaian kerja ku, setelah memasukan ke dalam mesin cuci aku segera beralih mengambil sapu. Apertemen ku terbilang mini, hanya ada dua kamar tidur dan dapur yang disatukan dengan meja makan disebelah nya, ruang tamu jadi satu dengan ruang Tv, ukuran nya cukup luas untuk aku seorang diri tapi tidak bila Mama atau Kak Robi sedang berkunjung kemari.
Setelah selesai semua nya, aku baru merasakan perut ku amat sangat lapar, jelas saja kelaparan sekarang sudah menunjukan pukul 11:45 PM. Sedangkan terakhir aku makan adalah semalam saat dirumah Kak Robi. Aku putuskan untuk memasak sesuatu, saat membuka kulkas ternyata yang ada hanya botol air putih dan dua butir telur, nggak mungkin juga aku hanya makan omelete sebagai makan siang, ku putus kan akan belanja disupermarket disebwrang apertemen.
Setelah berganti pakaian dengan celana jins selutut dan kaos oblong bewarna putih, aku mematut diri ku dicermin setelah puas dengan penampilan ku, aku segera mengambil sendal dan segera melangkah ke luar Apartemen, sudah lama sekali aku tak berbelanja bulanan, mungkin sudah hampir sebulanan lebih karena aku sakit dan terpaksa Mama yang merawat ku.
Langkah ku terhenti dipinggir jalan, meski hari minggu tetap saja jalanan padat kendaraan, aku hendak berjalan pelan-pelan saat aku rasa kendaraan sudah mulai ada jeda, disaat aku akan sampai ditengah jalan raya, tak ku sadari ada pengguna sepeda motor yang melajukan kendaraan nya begitu kencang, aku terpekik kencang saat menyadari motor itu sudah melaju ke arah ku, Karena rasa Syok kaki ku terasa lemas tak bertenaga untuk berlari menghindari keberadaan motor tersebut, kejadian nya begitu cepat, Aku hanya mampu menjerit dan memejamkan Mata.
"Mama, Kak Robi maaf kan aku" hanya itu yang mampu aku ucap kan sebelum aku merasakan ada seseorang yang memeluku erat dan tubuhku terbanting ke tanah sambil berguling-guling kencang diatas aspal yang keras, membuat ku makin memejam kan mata dengan erat, tapi sedetik kemudian aku tersadar bahwa aku tak merasakan sakit apapun selain rasa terkejut, aku membuka mata perlahan ketika aku melihat Nicky tengah meringis pelan menahan sakit.
"Ya ampun nicky__" pekik ku histeris karena melihat keadaan Nicky dengan kepala dan lenganya yang berlumuran darah karena membentur aspal. Orang-orang mulai berdatangan untuk membantu ku dan juga Nicky, aku berusaha membantu Nicky yang sudah tak sadarkan diri, tanpa sadar aku sudha menangis histeris karena menghawatirkan keadaan Nicky.
"Nicky, bertahan lah__ maaf kan aku" ucap ku menguatkan Nicky sambil terus managis, tak lama berselang, mobil ambulance datang, dan segera mengangkut tubuh Nicky yang masih tergeletak tak berdaya karena darah yang terus saja keluar dari luka nya, aku segera ikut naik dan duduk disamping Nicky, aku terus saja menangis karena kuatir, aku telah melupakan janji untuk menjaga jarak dari Nicky yang aku pikirkan sekarang adalah semoga saja tak terjadi hal apapun terhadap Nicky.
Aku terus mondar-mandir didepan ruangan UGD, aku sudah tak memperdulikan penampilan ku yang bersimbah darah karena telah menompang kepala Nicky tadi, kaos yang aku kenakan sudah bercampur darah dan tak lagi berwarna putih bersih seperti tadi. Tangan ku gementaran menahan rasa kawatir, apakah terjadi sesuatu terhadap Nicky, kenapa dokter lama sekali dalam menangani Nicky, saat rasa cekasku melanda aku melihat seseorang tengah terburu-buru dari lawan arah, seseorang yang aku kenali saat pesta ulang tahun rumah sakit tempo hari kalau tidak salah ingat bernama Amanda.
"Bagaiamana keadaan Dokter Nicky?" Ucap nya sambil melewatiku, entah dia sadar atau tidak keberadaan ku yang berdiri persis didepan pintu ruang UGD.
"Luka nya lumayan parah Dok, dan dia mengeluarkan banyak darah sekaran Dokter Burhan sedang manangani nya" ucap salah satu suster yang mengikuti langkah Amanda, Aku terdiam kaku, mendengar nya luka nya cukup Parah? Oh tuhan apa yang ahrus aku lakukan, bagaimana kalau terjadi apa-apa terhadap nya.
Aku terisak kecil karena rasa bersalah kian merebak, membuat Amanda menoleh ke arah ku dan dia terkejut bukan main mengetahui keberadaan ku.
"Apa yang kau lakukan disini?" Ucap nya dingin, membuat ku langsung menoleh ke arah nya.
__ADS_1
"Aku yang membawa Nicky kemari"
"Sebaiknya kamu pulang saja, apakah kamu tidak risih dengan penampilan mu yang bersimbah darah seperti itu" ucap nya santai tapi aku menangkap ada nada sinis didalam nya.
"Kenapa aku harus pulang? Aku ingin disini memastikan keadaan Nicky baik-baik saja, dan satu lagi aku sama sekali tak risih dengan penampilan ku. yang ku hawatirkan hanya keselamatan Nicky" ucap ku menantang, apa-apa an dia menyuruh ku pulang seenak nya memangnya apa urusan nya bila aku mau menunggu Nicky disini.
Amanda hanya memandang ku lekat, setelah nya dia masuk ke dalam.UGD diikuti suster tedi, menanggalkan ku tanpa berujar apapaun dan membuat ku bingung akan sikap Amanda yang berbeda ketika pertama kali bertemu dnegan ku.
"Dasar sinting" ucap ku mendesis sebal, jangan dikira aku akan diam saja dia bersikap seperti itu, aku bukan lemah lembut yang akan mundur hanya dengan.satu sindiran pedas. Aku baru teringat bila dia mempermasalahkan penampilan ku, aku menunduk memandang kaos yang ku kenakan dan aku mendesah kasar, aku segera merogoh ponsel yang berada disaku celana ku meski berat tapi ini keadaan darurat, aku menekan angka yang sudah aku hapal diluar kepala, dalam hitungan dering ke empat sudah terderang makian dari seberang sana.
"Ki, bisakah kau tak mengganggu ku dihari libur? Aku sedang berkencan dengan Tommy" cerocos nya tanpa memberi ku jeda untuk sekedar bicara.
"Re, aku butuh bantuan mu segera, dan maaf bukan maksud ku mau mengganggu kencan mu, tapi ini darurat aku baru saja mengalami kecelakaan__"
"Apa, Kecelakaan? Dimana? Aku akan ketempat mu segera" ucap nya cepat tanpa menunggu aku menyelesaikan ucapan ku, aku tau dia sayang pada ku meski Tommy kekasih nya tapi bila aku mengalami kesusahan Rere akan lebih mementing kan aku dari pada Tommy.
"Baiklah, aku akan segera kesana, kamu jangan kemana-mana sebekum akau datang" ucap nya dengan panik setelah mengucap kan terimakasih aku segera mematikan sambungan telephone ku, bertepatan dnegan terbuka nya pintu ruang UGD membuat ku menoleh dan mendapati Dokter yang tadi masuk untuk menangani Nicky.
"Bagaimana keadaan Nicky Dok?" Ucap ku panik setelah berhadapan dengan Dokter Burhan.
"Luka nya sudah saya jahit, selebih nya keadaan Dokter Nicky baik-baik saja. Syukurlah Dokter Nicky dibawa kemari dengan segera, karena benturan dikepala nya membuat ia memiliki sedikit luka robek dibagian pelipis nya, Dokter Nicky kehilangan banyak darah tapi saya sudah memastikan tidak ada luka serius, saat Ini dia masih dalam pengaruh obat bius sebentar lagi akan dipindah kan ke rawat inap" ucap nya menjelaskan dan itu cukup membuat perasaan ku sedikit lega.
"Apakah saya bisa menjenguk nya Dok?" Tanya ku berharap karena biar bagaimana pun hati ku tak akan tenang bisa belum melihat dengan mata kepala ku sendiri.
__ADS_1
"Sebaiknya jangan dulu, biar kan Dokter Nicky istirahat sejenak sebelum menerima kunjungan. apakah masih ada yang perlu ditanyakan"
"Tidak ada dok, terimakasih saya akan menunggu nya" ucap ku sambil tersenyum ramah, meski sebenarnya aku sedikit kecewa karena Nicky bekum diperboleh kan untuk dikunjungi tapi aku akan sabar menunggu.
"Kalau begitu saya permisi dulu" ucap Dokter buat berpamitan setelah nya ia meninggalkan ku dan berjalan ke arah yang berlawanan.
Aku akan kembali duduk, ketika tiba-tiba Amanda keluar dari raungan, ia hanya memandang ku datar tanpa berujar apapun, dan melewati ku begitu saja. Bahkan aku menatap ada tatapan sinis disana, aku hanya terdiam tak menanggapi nya, seperti nya aku nggak pernah mencari urusan dengan nya, kenapa tiba-tiba dia bersikap seolah-olah aku sudah mencari masalah dengan nya.
Tak mau ambil pusing aku menghempaskan Bokong ku dikursi tunggu, menunggu Rere yang tak kunjung datang, belum hilang rasa jengkel ku karena ulah Amanda aku dikaget kan dengan kehadiran Rere.
"Ki, maaf lama tadi sedikit macet" ucap nya dengan buru-buru disusul Tommy yang mengikuti nya dari belakang.
"Ya nggak papa, kamu bawain kan baju yang aku pesan?" Rere segera menyodorkan paper bag ke pada ku dan aku langusng mengambil nya.
"Aku tinggal ganti baju dulu ya, kamu disini dulu nanti aku bakal jelasin semua nya" ucap ku, langsung menyambar paper bag dan pergi meninggal kan Rere dan Tommy yang masih kebingungan karena penampilan ku. Tak butuh waktu lama untuk ku berganti baju, aku segera kembali menuju UGD untuk menemui Rere.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" Berondong Rere saat melihat ku sudah duduk disamping nya. Aku menarik napas sebelum memulai bercerita, Rere hanya diam tak bergeming begitupun dnegan Tommy.
"Jadi Nicky yang udah nyelamatin kamu?" Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Gila, gentle juga ya si Nicky, dia rela lo Ki, ngorbanin nyawa buat nyelametin kamu" ucap nya bersungut-sungut membuat ku emmutar bola dengan malas.
"Terus__ aku mesti gimana sekarang? Bukan nya kemaren aku udah cerita kalau si Nicky udah punya perempuan yang dia suka?" Ucap ku lirih karena teringat kejadian malam itu hingga membuat perasaan ku tak katuan.
__ADS_1
"Terus kenapa? Baru pacar kan, bukan isteri? Dengan begini tuh udah nunjukin kalau si Nicky masih ada rasa buat kamu" aku masih terdiam memikirkan semua nya, haruskan aku berjuang, sedangkan Nicky sudah tak sendiri lagi. Aku masih bergelut dengan semua pikiran ku apa yang mesti aku lakuin. Lebih memilih berjuang? Atau mengiklaskan??
******