
Nicky Pov
Otak ku beku ketika mendengar Kikan ingin mengakhiri hubungan kami, karena tau aku sudah mempunyai calon tunangan, bagaimana bisa perempuan yang aku perjuangkan dari dulu lebih memilih menyerah sebelum berjuang, tidak aku tidak bisa membiarkan ini terjadi, aku pura-pura menyetujui keinginanya dan mengancam akan bersikap pura-pura tidak mengenalinya bila bertemu kembali. Itu karena bentuk kekecewaan ku pada nya, tak tau kah dia bahwa aku sudah melangkah sejauh ini untuk memperjuangkan nya, yang perlu aku lakukan adalah mendiamkanya sejenak dan berkosentrasi dengan Ibu nya, setidaknya aku harus bisa meyakinkan ibu nya terlebih dahulu sebelum mendapatkan kembali hati Kikan, meski aku yakin sebenarnya Kikan sudah mempunyai perasaan terhadap ku, tapi akan lebih baik aku mendengar langsung dari mulutnya bahwa dia benar-benar mencintai ku.
"Kamu pikir aku ibu macam apa, membiarkan putri ku satu-satu nya berhubungan dengan pria yang sudah mempunyai calon tunangan aku tidak akan pernah membiarkan anak ku terluka karena mu" ujar Tante ketika aku berkunjung dikediaman beliau, dan itu reaksi yang beliau tunjukan ketika aku menjelaskan maksud kedatangan ku kesana, Tante buru-buru berdiri setelah mengatakan penolakan nya.
"Lebih baik kamu pergi dari sini, bahkan kalau perlu pergi dari hidup anak ku biarkan dia hidup dengan tenang, tampa kehadiran mu yang membuat banyak masalah dalam hidup nya, saya menyesal telah percaya dengan mu pria yang saya anggap baik dan layak untuk putriku ternyata tak lebih dari seorang bajingan" ujar nya lagi lalu meninggalkan ku sendirian berdiri didepan teras rumah nya memandang nanar pintu rumah yang sudah tertutup rapat.
Meski sakit tapi aku tak mau menyerah, aku selalu datang lagi dan lagi, tak peduli sedang hujan deras maupun panas terik, aku selalu datang kembali didepan rumah kediaman Mama Kikan hingga beberapa hari kemudian pintu rumah itu kembali terbuka membuat aku sedikit merasa lega, aku melihat Tante keluar dengan wajah yang tak lagi seramah dulu.
"Kenapa kamu selalu saja datang kemari, kamu nggak kapok juga saya usir terus-terusan? Mau kamu sebenarnya apa?" Ujar nya setengah emosi.
"Tante dengarkan saya dulu, memang benar orang tua saya sudah memilihkan calon untuk saya, tapi saya sama sekali tak pernah setuju Tante hanya Kikan yang saya cintai maka dari itu Saya memilih kabur dari acara pertunangan tersebut tanpa berpikir perasaan kedua orang tua saya, Tante berikan saya kesempatan untuk meyakinkan hati kedua orang tua Saya supaya mereka mau membatalkan pertunangan tersebut dan menerima Kikan, saya janji Tan akan membahagiakan Kikan lahir dan batin kalau itu yang Tante takutkan" ujar ku sambil berlutut dihadapan nya, lama beliau hanya memandangi wajah ku tanpa berkata apapun membuat ku sedikit was-was jawaban apa yang akan diberikan oleh Mama nya Kikan hingga detik berikutnya dia akhirnyabmau membuka suaranya.
"Berdirilah__" ujar nya akhirnya, aku yang seperti masih bingung belum berani beranjak dari berlutut ku hingga melihat Tante berdecak gamas dan mengulangi kata-kata nya.
"Saya bilang berdiri, kamu berlutut seperti itu membuat Saya merasa seperti seseorang yang jahat karena terus-terusan mengusir mu dari rumah ini" ujar nya membuat ku tersenyum lebar dan langsung berdiri meski yang ku rasakan ngilu dikedua lutut karena terlalu lama berlutut, meski begitu aku tak perduli asal Tante bersedia berbicara dan memberi kesempatan ku untuk menjelaskan.
"Kamu yakin dengan keputusan mu untuk memperjuangkan Kikan?" Tanyanya membuat ku mengangguk dengan mantap tanpa adanya keraguan.
__ADS_1
"Kalau tante masih ragu saya bisa menikahi Kikan sekarang juga meski tanpa restu kedua orang tua, saya mampu untuk membuktikan betapa saya sangat mencintai putri tante"
"Ck, kamu nih benar-benar, kalau saja Tante tak melihat perasaan cinta dimata Kikan untuk kamu, saya sudah nggak mau ketemu kamu lagi, saya tidak bilang mau kasih kamu kesempatan karena semua yang bisa mutusin Kikan sendiri, tapi karena kamu sudah bersikeras memohon setiap hari saya hanya bisa meminta untuk meluruskan dulu permasalahan mu dengan gadis itu dan kedua orang tuamu baru kamu bisa mendekati Kikan kembali" ujar nya membuat ku langsung mengerti maksud dari ucapan nya.
"Saya mengerti Tante secepatnya saya akan menyelesaiakan urusan saya sehingga Tante bisa tenang bila saya kembali mendekati Kikan" ujarku meyakin kan, aku bisa bernapas sedikit kega karena satu masalah bisa terselesaikan sekarang yang menjadi pikiran ku masalah dengan kedua gadis yang selama ini mengganggu hidup ku.
Setelah urusan dirumah orang tua Kikan selesai aku segera melesat menuju rumah sakit untuk menyelesaikan urusan ku yang lain, karena apapun yang terjadi dalang dibalik semua masalah ini adalah Amanda, jangan dikira aku bodoh, dia yang mengundang Rachel untuk datang kemari setelah kehabisan akal untuk memisahkan aku dengan Kikan sehingga menggunakan Rachel untuk membuat Kikan merasa tertekan dan dengan terpaksa meninggalkan aku.
Setelah sampai diparkiran rumah sakit aku segera berjalan menuju ruangan Amanda, rahang ku mengetat kala melihat Amanda yang sedang berbincang-bincang dengan salah seorang perawat didepan ruangan nya, tanpa perlu memanggil nama nya ternyata dia sudah menyadari kehadiran ku dan tersenyum hangat kearah ku, membuat ku semakin muak dengan sikap munafik nya.
"Bisa kita bicara hanya empat mata" ujar ku To the point tanpa memutus tatapan ku kepada nya, Amanda yang masih mengulas senyum mengangguk sebagai jawaban, perawat yang menyadari kehadiran ku segera unjuk diri dan meninggalkan ku hanya berdua dengan Amanda, setekah melihat suasana sedikit aman aku segera menarik tangan Amanda dan membawanya masuk kedalam ruangan nya karena aku sudah muak berbasa-basi dengan nya tak ku hiraukan ringis kesakitan yang dia lontarkan aku segera menutup pintu agar pembicraan kami tak didengar oleh siapapun.
"Kenapa kamu kasar sekali?" Rengek nya membuat ku mendengus sebal.
"Setidaknya kamu bisa bicara baik-baik, lagian siapa yang menghancurkan hidupmu? Bukan kah hidupmu sudah hancur sebelum aku berbuat apa-apa" sindirnya membuat ku langsung mencengkeram rahangnya sebagai pelampiasan, dia hanya diam tak berekasi tapi tatapan matanya menatap tajam kearah ku.
"Hentikan semua ini Amanda atau aku akan__"
"Atau apa?" Potongnya cepat berusaha melepas tangan ku yang mencengkeram rahangnya.
__ADS_1
"Atau aku akan menghancurkan hidupmu, bukan hanya hidupmu tapi juga karir mu" ujar ku menekan setiap kata membuat Amanda yang awalnya menatapku murka seketika diam menegang demi mendengar ancaman ku.
"Kamu tak bisa melakukan nya" ujarnya yakin, aku tertawa mengejek.
"Apa yang tidak bisa? Kamu menantang ku? Bahkan detik ini juga aku bisa memastikan berita tentang kebusukan mu akan bersebar disemua setasiun televisi bahkan nama mu yang awalnya disanjung-sanjung oleh semua orang akan berubah menjadi makian dan hinaan" ujar ku tersenyum licik, Amanda masih berdiri tegak tak gemetar sama sekali mendengar ancaman ku, dia malah tersenyum culas sambil memandang mataku menantang.
"Apa yang kamu punya sehingga bisa mengancamku hingga sejauh itu?"
"Kamu tak tau siapa aku Amanda, kamu lupa meski aku kabur dari keluargaku bukan berarti aku akan dengan mudah kamu tekan, kamu lupa percobaan pembunuhan yang dulu pernah kamu rencanakan akan menjadi bumerang untukmu" jelasku membuatnya menegang dan tak bisa berkata-kata "Aku menemukan nya, menemukan orang yang sudah kamu bayar untuk menabrak Kikan" lanjutku lagi membuat Amanda diam mematung.
"Tidak, tidak mungkin kamu pasti berbohong" ujar nya berusaha meyakinkan diri nya sendiri, aku tertawa senang.
"Berbohong? Tak ada gunanya aku berbohong, kalau kamu tetap bersikukuh untuk membuat Kikan meninggalkan ku, akan ku buat rekaman pengakuan Erwin tersebar dimedia, aku pastikan bukan hanya namamu yang akan hancur, tapi juga karirmu, bahkan aku tidak bisa membayangkan bila kedua orang tuamu mengetahui putri kesayangan mereka adalah seorang kriminal" ujar ku menekan kata kriminal membuat Amanda sedikit gemetar, aku tertawa senang melihat Amanda katakutan seperti itu anggap saja aku gila karena sudah bersikap sejauh ini, jangan salahkan aku dia yang duluan memulai maka aku akan ajarkan bagaimana bermain dengan benar.
"Tidak, tidak kamu pasti berbohong" ujar nya masih berusaha menyangkal, aku sedikit geram akhirnya aku merogoh saku celanaku mengeluarkan ponsel dan mencari sebuah video dan menyerahkan pada Amanda, wajah Amanda yang awalnya biasa saja berubah menjadi pucat setelah menonton video tersebut, video yang memuat rekaman Erwin pria yang dia bayar dengan wajah babak belur karena dipukuli oleh orang-orang suruhan ku, dia yang awalnya tidak mau buka suara akhirnya mengaku bahwa ia dibayar oleh Amanda bahkan dia menunjukan ponselnya dan semua percakapan nya dengan Amanda.
Aku menarik selembar berkas yang aku bawa sedari tadi, dan menunjukan didepan mata Amanda, berkas yang berisi bukti transferan dirinya untuk Erwin menambah bukti yang akan memperkuat kesalahan nya, aku menarik kasar ponselku dari genggaman tangan nya membuat Amanda memandang nanar ke arah ku.
"Bagaimana? Masih belum percaya kalau aku sudah mendapatkan orang suruhan mu? Atau masih nekat ingin merusak hubungan ku dengan Kikan?" Aku bertanya dengan sinis Amanda tak lagi bisa bwrkata apa-apa dia yang udah pucat pasi hanya bisa tergugu ditempatnya.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mau hancur, jangan pernah mengahancurkan hidup orang lain, kamu terobsesi hingga mengorbankan orang lain, kamu menghalalkan segala cara untuk menjerat ku bahkan kamu meminta bantuan Rachel untuk memisahkan ku dengan Kikan, sebenarnya aku tak akan melakukan sejauh ini kalau kamu tidak ikut campur terlalu jauh akan hidup ku, sekali lagi kamu berulah maka jangan salahkan aku bila semua bukti yang aku punya akan menghancurkan hidup mu" setelah berhasil menekan Amanda aku segera beranjak meninggalkan Amanda yang masih terdiam ditempatnya, aku segera melangkah meninggalkan tempat itu dengan langkah yang sedikit lebih ringan setidaknya tinggal sedikit lagi dan aku akan membawa Kikan kembali dalam pelukan ku.
******