
Pikiranku masih belum kembali kala laki-laki itu melangkah melewatiku dan juga Karin yang juga terbengong-bengong, terhipnotis akan aura ketampanannya. Pandanganku masih mengikuti ke arah mana laki-laki itu pergi, sampai seseorang menepuk bahuku, membuatku terlonjak kaget.
"Gila, sekarang Nicky jadi keren gitu, ya?" ucap Elsa yang baru datang dan berdiri di samping kiriku.
"Apa lo bilang? Nicky? Maksud lo Nicky yang dulu sekelas sama kita yang suka bikin onar itu?" tanyaku tak percaya akan ucapan Elsa.
"Iya Nicky yang itu, memangnya ada Nicky yang mana lagi, Ki? Kan soulmate lo tuh dulunya." Elsa dan Karin terkikik bersamaan.
"Enak aja, soulmate dari Hongkong! Yang ada gua eneg tiap liat tampangnya!" jawabku sedikit kesal dengan kata-kata yang dilontarkan Elsa.
"Gimana kagak soulmate, setiap ada lo pasti ada dia, meski kebersamaan kalian cuma cekcok mulu tiap harinya," timpalnya lagi sambil terkik diikuti dengan Karin.
"Lagian tu cowok kagak bisa sehari ja biarin hidup gua tenang? Gua gak bakalan datang ke acara ini kalau tau bakal ketemu sama cowok nyebelin satu itu!" dengusku sambil bersidekap dan membuang muka ke arah lain.
"Yaelah, Ki ... udah sepuluh tahun berlalu, masih aja dendam ma Nicky, lagian nih ya benci tu yang sewajarnya, ntar kualat baru tau rasa lo, bukannya benci malah jadi cinta lagi! Kan banyak tuh kisahnya," timpal Karin menyahuti kata-kataku.
"Idih ... amit-amit ya gua jatuh cinta ma tu cowok sableng! Mang gua segitu idiotnya apa sampai mau jatuh cinta ma tu cowok?" jawabku sedikit ngeri saat terbayang aku akan jatuh cinta pada Nicky, Sampai dunia kiamat pun aku ogah suka pada cowok tipikal seperti Nicky!
"Oke, kalau dulu lo nggak suka sama Nicky, nggak masalah, secara dulu lo kan selalu musuhan sama dia. Lah sekarang situasinya kan udah beda Ki, kalau lihat Nicky versi dewasa, mang lo kagak kesengsem tuh? Lo liat sendiri gimana tampang Nicky versi dewasa, keliatan banget wibawanya gila! Kok bisa sih Nicky yang dulu kurus kering sekarang jadi lebih err ... hot banget?" ucap Elsa yang sedikit berbinar sambil memandang Nicky yang berdiri tak jauh dari tempat kami berkumpul.
Aku hanya memutar bola mataku malas mendengar penuturan Elsa yang sedikit berlebihan itu. Oke, aku akui bahwa beberapa menit yang lalu aku memang sempat mengagumi sosok Nicky versi dewasa karena tubuhnya banyak berubah dari semasa SMA dulu, bahkan aku sama sekali tak bisa mengenalinya! Kenapa aku baru menyadari sekarang kalau Nicky ternyata mempunyai tatapan yang menusuk seperti itu? Padahal dulu aku sekelas dengannya dan otomatis selalu bertemu dia setiap hari.
Lamunanku buyar karena mendengar suara tawa dari arah sebelahku. Ya, Karin dan Elsa yang masih berkicau ria membahas masalah Nicky.
__ADS_1
Fix ... aku benar-benar menyesal datang ke sini. Tujuanku ke sini berharap bisa mengubah mood-ku, tetapi siapa sangka malah memperburuk mood-ku gara-gara kemunculan cowok tengil satu itu di hadapanku.
Pesta segera dibuka dan para tamu undangan sudah mulai berkumpul di aula gedung. Suara nyaring musik yang dimainkan DJ seketika menggelegar di seluruh penjuru ruangan. Aku melihat Karin dan juga Elsa sudah turun ke lantai dansa sementara aku hanya duduk di depan meja bartender. Karin dan Elsa berusaha mengajakku untuk turun dan bergabung dengan mereka, tetapi kutolak dengan alasan aku sedikit haus. Tiba-tiba saja ada orang yang muncul dan segera duduk tepat di hadapanku. Aku cuma bisa mendengus sebal melihat kedatangannya yang sama sekali tidak kuharapkan.
"Hai, Ki," sapanya sambil tersenyum padaku, tetapi tak kuhiraukan sapaanya. Lagi pula untuk apa aku jawab, toh kami bukan sahabat atau teman yang harus beramah-tamah. "Ternyata sekian lama tak bertemu tidak mengubah sikapmu terhadapku ya?" ucapnya berusaha membuka percakapan denganku.
"Emangnya penting, ya? Lagian seingatku kita bukan teman lama yang dengan santainya akan mengucapkan say 'hello' saat kembali bertemu setelah sekian lama berpisah," kataku sedikit keki terhadapnya.
"Jadi lo masih dendam sama gua?" Nicky bertanya sedikit tidak percaya dengan ucapannya sendiri.
"Ya, bisa dibilang seperti itu," jawabku ketus sambil menyeruput jus jeruk yang belum sempat kuminum sedari tadi.
"Ya ampun Ki ... sudah sepuluh tahun tapi lo masih mengingat masa lalu kita? Hemm ... so sweet banget sih, nggak nyangka seorang Kikan masih mengingat kenangan kita saat SMA," ucapnya sedikit tertawa dan menggodaku.
"Eh, siapa yang bakal lupa? Masa SMA-ku sengsara gara-gara kamu!" ucapku sedikit kesal yang melihat ekspresinya biasa saja.
"Tapi masa SMA-ku begitu menyengankan karena bisa melewati tiga tahun sekelas terus sama kamu," ucapnya sambil tersenyum simpul.
Aku sedikit salah tingkah karena ucapannya. Belum sempat menjawab kata-kata Nicky, tiba-tiba Karin dan Elsa bergabung dan duduk di sebelah kiriku bersama tiga orang cowok yang samar-samar kuingat merupakan alumni angkatanku juga.
"Yang lain asyik nge-dance, kalian malah anteng-anteng aja di sini. Nggak seru banget, sih," seru salah satu cowok yang seingatku bernama Anton.
"Lagi haus aja makanya duduk di sini," jawabku sambil mengangkat gelas yang isinya tinggal setengah.
__ADS_1
"Ya ampun, Ki ... udah dewasa minumnya jus. Yang menantang dikitlah, masak jus jeruk?" ejek Elsa kepadaku.
Ya, kuakui aku nggak bisa minum alkohol. Terakhir kali aku minum saat perayaan acara kelulusanku di kampus dan berakhir dengan aku teler seharian tidak bisa bangun gara-gara pusing di kepalaku. Jadi, semenjak kejadian itu aku berusaha menghindari minuman beralkohol. "Bukanya gitu, aku bawa mobil sendiri soalnya, takut ntar nggak bisa konsen aja pas nyetir," elakku berusaha memberi pengertian.
"Kan nggak banyak juga minumnya, nggak sampe teler juga, kok. Kita rayain, anggap aja ini sebagai perayaan kesuksesan buat karir kita masing-masing dan pertemuan kembali setelah sepuluh tahun tak berjumpa," ucap Elsa dan ditanggapi anggukan dari yang lain sedangkan aku hanya bisa pasrah dengan ide gila itu, "ayolah Ki ... kan nggak tiap hari juga kita bisa kayak gini. Kalau lo ntar takut nggak bisa nyetir biar gua yang anterin," ucap Elsa lagi, kini sedikit memohon dengan puppy eyes-nya dan aku cuma bisa menanggapinya dengan senyum pasrah.
Tidak mungkin juga aku tolak dengan alasan tidak bisa minum alkohol., bisa diledekin habis-habisan oleh teman-teman yang lain, terutama oleh cowok super nyebelin satu itu!
"Benar-benar malam yang sial" umpatku dalam hati.
****
Cahaya yang mengintip dari celah tirai jendela mengganggu sepasang mataku yang bahkan masih tertutup rapat. Sepasang alis indahku bertaut saat merasakan silaunya mentari pagi. Aku mengarjap beberapa kali.
"Emm ... " geramku, tak kuasa menerima sorotan matahari. Setelah beberapa saat beradaptasi dengan keadaan, baru kemudian aku membuka sepasang mataku perlahan hingga aku menyadari bahwa aku tidak berada di dalam kamarku. Kerja otakku lumayan cepat juga ternyata. Aku mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Aku tidak mengenal tempat ini. "Tsk, akh ...!! " erangku saat rasa sakit menyerang kepala. Sambil menahan sakit, sorot mataku kembali mengelilingi ruangan yang tampak terasa asing.
"Aku di mana?" Aku mencoba mengingat-ingat di mana aku berada, namun makin jauh mengingat, kepalaku akan makin sakit. Hawa dingin dari AC yang terus menyala membuat kulitku yang tak berpenghalang itu kedinginan. Kusingkap selimut yang menutupi tubuh, bermaksud untuk berdiri, tetapi kulihat bahwa aku tak mengenakan apa-apa di bawah selimut selain bra dan celana dalamku. Buru-buru kutarik selimut itu hingga ke dagu. Sekali lagi aku mengintip ke dalam selimut untuk memastikan bahwa aku memang mengenakan pakaian dalam.
Pemandangan di bawah tak berubah dari sepuluh detik yang lalu dan untuk kedua kalinya aku menggeram.
"Sudah bangun, Tuan Putri," ucap suara bariton yang muncul dari arah pintu kamar mandi di sebelah tempat tidur yang kutempati. Selama sepersekian detik aku menahan napas melihat siapa orang yang ada di hadapanku.
***
__ADS_1