Shocking love

Shocking love
R


__ADS_3

Kesokan harinya sepulang dari kantor, Aku datang kembali ke rumah sakit, tapi tidak bersama Rere. Aku harus bisa menghadapi ini seorang diri, aku sengaja pulang lebih cepat dari biasa nya karena tak mau jam besuk untuk pasien habis, karena aku datang kemalaman. Perasaan takut menyeruak ketika aku sudah berdiri diambang pintu memandangi Nicky yang belum menyadari keberadaan ku, ia sibuk memandangi langit sore yang mungkin saja membuat perasaan nya lebih tenang.


Setelah meyakinkan diri, aku segera melangkah memasuki ruangan inap Nicky, sambil menenteng bungkusan sterefom berisi bubur ayam. Aku sengaja membeli kan nya sebelum kemari, bunyi hils sepatu ku menggema diruangan membuat Nicky reflek menoleh ke arah ku.


Aku melihat tubuh nya menegang, mengetahui aku sudah berdiri disamping brangkar nya sambil menenteng bukusan makan. Tak ku o


Pedulikan tatapan nya yang memandang ku aneh, aku membalasnya dengan senyum lebar meski tak mendapat balasan.


"Hai, aku datang membawakan mu makanan. Kamu pasti nggak doyan dengan makanan rumah sakit, jadi aku pikir__"


"Kamu ngapain dikamari? Bukan kah aku sudah bilang untuk tidak menggangguku lagi" ucap Nicky cepat memotong perkataan ku, membuat ku berkacak pinggang karena tak mau berbasa basi lagi.


"Kenapa? Nggak boleh aku datang lagi kemari? Coba katakan alasan ku tak boleh datang menemui mu lagi, bukan kah aku penyebab kecelakaan itu, hingga membuat mu terbaring disini. Jadi aku akan selalu datang lagi dan lagi mamastikan kamu kembali pulih, karena aku nggak mau dianggap orang yang tak bertanggung jawab karena sudah membuat anak orang masuk rumah sakit"


"Semua itu bukan sepenuhnya kesalahan mu, karena biar bagaimanapun aku adalah seorang Dokter, dan tugas ku tentu saja untuk menyelamatkan nyawa orang" tukas nya membuat ku semakin gemas ingin menjambak rambut nya karena sudha membuat kesabaran ku hampir habis.

__ADS_1


"Ok, katakan lah begitu, tapi aku juga manusia biasa Nick, aku masih punya hati nurani. Bagaimana mungkin aku masih hidup tenang, sementara aku sudah melihat mu terkapar disini, terlebih karena kamu menyelemat kan hidup ku, tak bisa kah kamu memberiku sebuah kesempatan untuk merawat mu. Meski kamu membenciku, bukan berarti kamu tega kan membiarkan ku menanggung beban karena rasa bersalah ku telah membuat mu seperti ini" Nicky terdiam karena ucapan ku, entah perasaan ku saja atau gimana, aku melihat tatapan terluka Nicky, karena ucapan ku.


"Ok, kalau kamu takut kekasih mu cemburu, aku akan menemui nya dan menjelaskan semua nya. Aku tak akan melampaui batasan ku, aku hanya akan datang untuk mengecek kondisimu atau membawakan sesuatu untuk kamu makan, selebihnya aku nggak akan datang karena aku cukup tau diri kamu punya kekasih yang harus kamu jaga perasaan nya" meski sakit aku harus rela melakukan nya, ya katakan aku munafik, siapa yang tidak sakit melihat pria yang baru saja bisa membuat mu tertarik ternyata sudah memiliki wanita lain, tapi cuma itu yang aku pikirkan karena melihat gelagat Nicky seperti enggan melihat ku berada disini.


"Apa maksud mu dengan kekasih? Bagiamana kamu bisa menyimpulkan seperti itu?" Tanyanya dengan nada yang sedikit tersinggung membuat ku ikutan bingung akan reaksi yang ditunjukan nya.


"Bukan nya kamu sudah mempunyai kekasih?" Nicky seperti berpikir keras akan pertanyaan ku kemudian ia melengos wajahnya membuat ku geram seketika.


"Punya tidak nya aku seorang kekasih, itu semua bukan urusan mu, lagi pula, bukan kah kamu yang lebih dulu memintaku untuk menjauhi mu? Lalu kenapa kamu sekarang malah mengingkari janjimu mu sendiri, bukan kah kamu sudah tenang karena aku tidak mengganggu hidup mu lagi, lalu untuk apa kamu disini sekarang? Katakan padaku" ucap Nicky memandang ku dengan frustasi, jujur aku belum pernah melihat Nicky sefrustasi ini, ada nada getir yang aku tangkap disetiap ucapan Nicky, apa yang terjadi padanya sebenarnya, aku menelan ludah karena gugup sebelum menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan untuk ku.


Aku duduk sambil menangis berusaha menenangkan sesak didada ku, tak ku sangka aku akan mengalami hal semenyedihkan ini. Mungkin kah tuhan sedang mengujiku, lama menangis sampai aku tersadar seseorang telah duduk disamping ku sambil mengulurkan sapu tangan nya, tanpa melihat ke arah nya aku mengambil sapu tangan tersebut sambil mengucap kan terimakasih masih dengan wajah yang menunduk menyembunyikan wajah ku yang sembab.


"Tak ku sangka kamu bisa emnangis hebat seperti ini sekarang" ucap seseorang dengan suara familiar hingga membuat ku menoleh reflek.


"A,Andrian" ucap ku tergagap karena tak menyangka Andrian yang tengah mendapati ku duduk disini dengan wajah beruraian air mata.

__ADS_1


"Apa kabar Ki?" Ucap nya sambil tersenyum hangat terhadap ku, mambuat ku masih terpaku karena kehadiaran nya." Seharusnya aku tak menanyakan kabar mu, dilihat sekilas saja sudah tau kalau kamu begitu berantakan" lanjut nya sambil melihat wajah ku yang masih sembab, buru-buru aku mengusap air mata ku dan berdiri untuk menghidari nya.


"Ngapain kamu disini" ucap ku ketus sambil memperhatikan sekitar takut-takut aksi baper ku menyita perhatian banyak orang, dan syukurlah hanya ada beberapa orang dan suster yang berjalan dikoridor tanpa menoleh ke arah ku.


"Aku baru saja akan menengok istri teman ku yang baru saja melahir kan, tapi aku tersasar sampai sini dan tak sengaja melihat mu menangis disini sesenggukan akhirnya aku menghampiri mu" ucap nya santai, membuat ku membuang muka karena kesal, Mood ku sedang tidak dalam mode bagus kenapa harus bertemu dengan si berengsek Andrian.


"Kenapa kamu terlihat sangat menyedihkan? Apakah kamu dicampakan oleh Dokter bajingan itu?" Ucap nya emmbuat ku sukses melotot ke arah Andrian.


"Hello, siapa yang bajingan teriak bajingan?" Ucap ku tersinggung membuat nya mendengus dengan kesal, lalu ikut berdiri sambil memasukan kedua tangan nya kedalam saku celana nya.


"Ki, pliece aku sudah berubah, aku bukan lagi Andrian yang dulu, tak bisakan kamu memberikan ku kesempatan sekali lagi. Akan aku buktikan bahwa kata-kata ku bukan isapan jempol belaka" ucap nya sambil memandang ku serius, aku hanya mendengus malas.


"Terlambat, karena aku sudah nggak ada rasa lagi pada mu. Dan satu lagi katakan itu untuk gadis-gadis yang kamu kencani, pasti mereka akan dengan senang hati menerimamu dengan tangan terbuka" setelah mengucap kan itu, aku langsung melangkah tapi baru dua langkah aku berhenti lagi sambil berbalik ke arah nya.


" Oya lupa, sapu tangan mu. Aku tak mau lagi menyimpan barang dari Mantan, sebisa mungkin aku harus menyingkirkan nya, agar aku tak lagi teringat akan seseorang dimasa lalu. Mantan itu untuk dikenang, bukan untuk diabadikan aku bukan sejarah Andrian" setelah memberikan sapu tangan Andrian yang ada bekas ingus dan air mata ku tadi aku melangkah pergi meninggalkan Andrian yang masih mematung ditempatnya, tak ku pedulikan dia berpikir aku jorok atau gimana, yang aku pikirkan aku harus segera pergi dari sini, merendam kepalaku yang terasa panas, karena kelakuan kedua cowok berengsek yang sudah membuat mood ku benar-benar hancur hari ini, aku hanya butuh mandi air hangat agar pikiran ku tenang dan kembali lagi kesini dengan wajah ceria tanpa beban.

__ADS_1


******


__ADS_2