Shocking love

Shocking love
30


__ADS_3

"Apa? Kamu maafin Andrian dan mau berteman dengan nya?" Teriak Rere membuat beberapa pengunjung cafe melirik ke arah meja kami, saat aku menceritakan kejadian tadi malam kepada Rere.


"Biasa aja kali nggak perlu teriak gitu, seolah-olah kamu mau ngumumin pada semua orang prihal hal ini" ujar ku malas, sambil kembali memakan sepageti yang hanya aku gulung-gulung sedari tadi.


"Ya kali aku akan dengan senang hati tertawa riang kamu bilang kek gitu, lagian apa yang ada dipikiranmu Ki? Bukan kah dulu dia yang udah menyakiti mu hingga kamu lebih memilih putus, kenapa dengan.gampangnya kamu memaafkan nya" dengus Rere sebal.


"Aku masih waras Re untuk terjerumus dalam lubang yang sama, lagian perasaan ini sudah bukan untuknya lagi, jadi ketakutanmu tidak beralasan" ujar ku sedikit emosi dan membuat mood makan ku hilang seketika.


"Dengar ya Ki, sekali berengsek tetep aja berengsek sekalipun dia bilang bertobat tak langsung membuatku percaya" ujar Rere berapi-api membuatku melirik malas kearahnya.


"Lalu apa bedanya dengan Nicky? Dia juga gitu kan bahkan lebih parah dia mendekatiku meskipun setatusnya sudah bertunangan dengan wanita lain"


"Salah, yang bener adalah calon tunangan, lagian ngapain juga kamu bawa-bawa nama Nicky dalam obrolan kita, yang sedang kita bahas itu Andrian bukan Nicky" sekak mat, aku yang hendak membuka mulut untuk menyela ucapan Rere membuatku bungkam seketika, benar juga kenapa meski harus bawa-bawa nama Nicky ini kan nggak ada hubunganya.


"Bu,bukan begitu, tapi ah__sudah lah kamu semakin membuat aku pusing" ujar ku sebal sambil meminum milkshake ku yang tinggal setengah gelas.


"Aku sudah selesai, tapi aku pergi ke toilet sebentar" ujar Rere lalu melenggang pergi, aku hanya mampu manghembuskan napas karena kecerobohan ku tadi membawa-bawa Nicky kekesalan ku tak bisa menemui Nicky membuat mood ku hancur beberapa hari ini, aku hanya mengaduk-ngaduk milk shake ku tanpa minat hingga suara seseorang memanggilku membuatku mendongak seketika.


"Kikan__" ujarnya membuat ku menegang seketika, meski aku sudah memutuskan untuk berdamai entah kenapa masih ada rasa nyeri dihati ketika melihatnya kembali.


"H,Hai__" ujar ku tergagap tak bisa menyembunyikan kegugupan ku apalagi aku sedang bersama Rere saat ini.


"Kamu ngapain disini sendirian?" Ujar nya cepat sambil duduk ditempat duduk yang Rere duduki tadi.


"Aku lagi makan, dan aku tidak sedirian, aku lagi sama Rere tapi dia lagi ke toilet bentar" ujar ku menjelaskan, alisku terangkat sebelah memperhatikan Andrian tanpa rasa canggung duudk disebelahku.


"Kamu sendiri ngapain disini?" Tanyaku akhirnya karena tak tau harus bagaimana.

__ADS_1


"Aku habis nemuin clien, dan nggak sengaja ngelihat kamu disini makanya aku samperin" ujar nya santai, membuat suasana kembali hening sepertinya Andrian juga tak berniat bertanya-tanya lagi hingga membuat ku kembali terdiam karena bingung juga harus bertanya apa, hingga kehadiran Rere membuat suasana yang tadinya Akwawrd jadi sedikit mencair.


"Kamu ngapain disini? Masih punya nyali buat muncul dihadapan Kikan?" Sindir Rere pedas sambil berdiri disamping ku, aku yang melihat wajah galak Rere melirik ke arah Andrian yang tak terusik atas kata-kata pedas yang Rere ucapkan dia hanya tersenyum datar sebagai respon.


"Re__ udah, malu dilihatin orang" ujar ku akhirnya berusaha menenangkan Rere.


"Aku yakin Kikan udah cerita kejadian semalam sama kamu, jadi nggak ada salahnya kan nyapa temen saat nggak sengaja ketemu" ujar Andrian santai, membuat Rere mendengus sebal.


"Nggak sengaja? Aku nggak percaya"


"Yaudah, aku nggak maksa kamu percaya atau nggak, yang penting aku udah ngomong jujur kalau aku nggak sengaja ngelihat Kikan sendirian duduk disini abis aku nemuin clien tadi" ujar Andrian santai tanpa terpengaruh dengan tatapan mengintimidasi dari Rere.


"Udah-udah Re, lagian Andrian juga nggak berniat jahat sama aku dia cuma datang untuk nyapa apa salah nya sih" ujar ku akhirnya, Rere yang mendengar jawaban ku hanya melotot sebal kearah ku, meski sebenarnya aku tak berniat membela Andrian tapi aku tak mau bila Rere meledak-ledak didepan umum.


Meski aku tahu apa yang aku lakukan akan membuat Rere tersinggung, itu lebih baik daripada mempermalukan dirinya sendiri dihadapan umum karena bertengkar dengan Andrian. Belum redup suasana antara Rere dan Andrian yang masih saja perang mata, tak sengaja tatapan ku mengarah pada seseorang yang baru memasuki pintu cafe seorang pria yang sudah beberapa minggu ini menghilang bagai ditelan bumi dan membuat ku merindukan kehadiran nya, bahkan sebagian akal sehatku hilang karena sibuk memikirkan dia, lalu pandangan ku jatuh pada sosok perempuan cantik yang berjalan bersisihan dengan nya, perempuan yang sama persis seperti didalam foto yang dikirim ke kantor ku waktu itu.


Andrian yang awalnya terkejut mendapati perubahan ku juga tak kalah terkejutnya melihat pemandangan didepan kedua matanya.


"Bukankah dia Nicky? Kenapa dia bersama wanita lain? Dan berpura-pura tak melihat mu berdiri disini" tanya Andrian, tak bisa menyembunyikan pertanyaan yang ada dibenak nya, suaraku seperti tersangkut ditenggorakan tak bisa menjawab pertanyaan yang Andrian lontarkan.


"Ki__"


"Aku baik-baik saja" ujarku akhirnya saat sudah sedikit bisa menenangkan debar jantung ku meski tak ku pungkiri hatiku sudah hancur tak berbentuk sekarang, Rere memandangku dengan tatapan sendu nya, aku berusaha tersenyum meski kaku.


"Re aku pergi dulu, kamu nggak papa kan kalau kembali sendiri ke kantor?" Rere mengangguk pelan sebagai jawaban meski tersirat rasa khawatir diwajahnya, tak lupa juga aku berpamitan kepada Andrian, aku hendak melangkah tapi tanganku dicekal oleh Rere.


"Hati-hati" ujar Rere dan aku hanya mengangguk pelan sebagai jawaban, stelahnya aku kembali melangkah tanpa menoleh kebelakang karena bagaimana pun hatiku belum siap ketika melihat dia yang ku cintai bersanding dengan perempuan lain.

__ADS_1


**********


Aku terduduk diatas ranjang kamar ku yang berada dirumah Mama, tadi setelah dari cafe entah kenapa aku langsung menyetop taxi, dan tujuan ku menuju rumah Mama, aku menenggelamkan wajahku diatara kedua lututku, aku kacau saat melihat Nicky benar-benar melakukan ancaman nya untuk pura-pura tidak mengenaliku saat betemu kembali dengan ku, sakit__tentu saja bahkan rasa sakit ini melebihi saat aku diselingkuhi Andrian dibelakang ku. Meski kecewa tapi aku tak bisa menyalahkan Nicky sepenuhnya, bukankah ini keputusan ku sendiri yang lebih memilih mengalah daripada mempertahan kan hubungan ku dengan nya, lalu kenapa saat Nicky sudah benar-benar menjauh seperti ada lubang menganga yang tak dapat aku tutupi keberadaan nya, sekali lagi aku terisak menangisi nasipku yang tak pernah bahagia bila menyangkut pasangan hidup.


Suara pintu terbuka dengan pelan, dan Mama muncul sambil membawa segelas air, setelah meletakan gelas diatas nakas samping tempat tidurku, dengan pelan Mama duduk disamping ku sambil mengelus pelan kepala ku, aku menatap Mama dengan mata sembab karena menangis sedari didalam taxi tadi.


"Kamu kenapa? Kok datang-datang langsung nangis? Kalau ada masalah tuh cerita, siapa tau Mama bisa bantu" ujar Mama sambil membelai rambutku, tanpa kata aku langsung menubruk tubuh Mama dan menangis dengan keras dalam dekapan Mama, aku tak tau harus berkata apa, tak sekali dua kali aku mengalami patah hati tapi entah kenapa kali ini hatiku benar-benar sakit sehingga aku tak bisa lagi pura-pura baik-baik saja dihadapan orang lain maupun Mama.


"Aku menyesal Ma, menyesal sudah melepaskan dia" ujar ku disela isak tangisku, membuat Mama langsung melepas pelukan nya dan menatap lurus kearah dua mataku.


"Apa yang kamu bicarakan? Melepaskan apa?" Tanya Mama dengan raut ajah kebingungan, lalu disela-sela tangisku akhirnya aku menceritakan perjalanan hubungan ku dengan Nicky mulai dari Nicky ternyata sudah dijodohkan oleh kedua orang tuanya hingga aku lebih memilih menyerah dan melepaskan Nicky dan yang terakhir aku melihat Nicky bersama calon tunanganya dicafe hingga membuatku berakhir kacau seperti ini, Mama hanya menarik napas dan mengembuskan napas sebelum berkata padaku.


"Jadi begitu? Kamu memilih mundur karena tau bahwa sebenarnya Nicky sudah mempunyai calon tunangan" aku hanya mengangguk pelan sebagai jawaban, meski sedikit heran karena reaksi Mama biasa saja padahal ku pikir Mama akan emosi mendengar putri satu-satu nya telah dikecewakan oleh pria yang dia sangka baik.


"Aku nggak salah kan Ma? Lagian dari sini saja aku sudah tau kalau kedua orang tua Nicky pasti nggak akan setuju bila Nicky menikahi Kikan yang jauh dari kriteria menantu mereka" ujar ku lemas, Mama menepuk tangan ku lembut sambil tersenyum memandangku.


"Dengar, Mama akan selalu mendukung apapun yang terbaik untuk kamu, tapi untuk masalah Nicky Mama berharap kamu memikirkan lagi masalah ini, jangan mengambil keputusan berdasarkan ego tapi harus dalam hati, kalau sekiranya hati nuranimu tak merelakan kamu melepas Nicky ya perjuangkan jangan malah melepaskan karena bukan hanya kamu yang akan tersakiti tapi juga Nicky" ujar Mama membuat ku merenung, menatap Mama dengan pendangan penuh tanya.


"Kenapa Mama malah menyuruhku memikirkan lagi, Mama tidak marah pada Nicky karena sudah berbohong tentang setatusnya?"


"Ibu mana yang tidak marah melihat putri semata wayangnya dibohongi, jelas saja Mama marah, tapi sebelum Nicky menjelaskan segalanya pada Mama, Mamasempat mengusir Nicky beberapa kali sebelum Mama memberi kesempatan dia untuk menjelaskan segalanya" ujar Mama membuatku terkejut, aku manatap Mama dengan pandangan tak percaya.


"Sebenarnya sebelum kamu cerita hari ini, Nicky sudah lebih dulu menemui Mama Ki, bahkan awalnya Mama murka dan mengusirnya tapi keesokan harinya dia datang lagi dan lagi membuat Mama tak punya pilihan lain sehingga memberikan dia kesempatan untuk menjelaskan segalanya, awalnya Mama ragu, tapi melihat keseriusan dan kegigihan Nicky, Mama tau bahwa perasaan Nicky benar-benar tulus untuk mu" ujar Mama memandang sendu mataku, hatiku bergetar benarkah itu bahwa Nicky sudah menjelaskan segalanya pada Mama.


"kapan itu Ma? Bahkan dia sudah beberapa minggu menghilang dan Kikan sama sekali tak bisa menemuinya" ujarku menjelaskan, Mama *** tanganku pelan membuat dadaku berdebar menunggu jawaban Mama.


"Sehari setelah kamu memilih untuk mengakhiri hubungan mu dengan Nicky, dia datang kerumah, dia berterus terang dan meminta maaf dia menceritakan segalanya termasuk kedua orang tuanya yang mamaksa dia untuk bertunangan dengan wanita yang tidak dia cintai, dan memilih kabur karena perasaanya hanya tertuju pada satu wanita yaitu kamu, semua ibu berharap anaknya akan hidup bahagia nak termasuk Mama, bila melihat betapa kerasnya Nicky memperjuangkan mu hati Mama luluh karena dia sama sekali tak pernah putus asa meski banyak pihak yang tidak mendukung keputusan nya, dan lihat kamu sendiri tersakiti bukan karena keputusan mu maka lihatlah ketulusan nicky dengan hati nuranimu jangan hanya dari ego" ujar Mama menasehatiku, benarkah itu Nicky berjuang seorang diri untuk memperjuangkan ku? Tapi untuk apa? Bukankah dia sudah menyetujui keputusan untuk mengakhiri hungunan kami, sebenarnya apa yang Nicky rencanakan?.

__ADS_1


*******


__ADS_2