
"Malam Ki, nggak nyangka ya kita bisa ketemu disini" ucap seseorang yang dengan sengaja memotong ucapan Nicky dan sontak ucapan orang tersebut membuat ku dan juga Nicky menoleh dengan segera untuk melihat siapa gerangan datang tanpa di duga.
"Tommy, ngapain kamu disini?" Tanya ku kaget karena kehadiran sosok pria yang tak disangka-sangka itu.
"Aku mau makan malam sama Rere, tapi Rere masih ke toilet dulu katanya, makanya aku mo nyari meja buat kami makan nggak taunya ngeliat kamu disini" ucapnya santai sambil tersenyum melirik kearah Nicky dan itu membuat ku semakin salah tingkah, karena dia tau bakalan abis kalau udah berurusan sama yang namanya Rere gimana nggak kalau dari awal aku sudah terang-terangan cerita sama Rere kalau aku benci banget sama Nicky, kok bisa-bisa nya sekarang dia ketauhan makan bareng sama Nicky disini.
"Oya kenalin dia Nicky teman ku" ucap ku berusaha mengalihkan kegugupan, meski dalam hati ku gugup setengah mati karena kepergok jalan bareng Nicky yang notabenya cowok yang masuk dalam jajaran blacklist dalam agenda hidupnya.
"Tommy"
"Nicky" ucap keduanya secara serempak. Tak jelang lama Rere muncul dari arah toilet dan segera menghampiri tommy. Rere sedikit terkejut mendapatiku duduk berhadapan dengan Nicky, meski ditunjukan nya hanya sesaat setelahnya yang terlihat hanya senyum jahilnya yang menghiasi wajah cantiknya, membuatku memutar mata dengan malas karena aku tau apa yang ada dipikiran Rere saat ini.
"Jadi.... ini sebuah kebetulan semata atau memang kalian janjian untuk dinner bersama?" Tanya Rere to the point, dan aku sudah tak terkejut lagi akan hal itu, saat Nicky akan menjawab aku memotong ucapan nya dengan cepat.
"Ka..."
"Kebetulan tadi nggak sengaja ketemu didepan" sebelah alis Rere terangkat tanda dia tak percaya terhadap uacapan ku.
"Oya? Jadi hanya sebuah kebetulan ya, tapi apa sebuah kebetulan juga baju yang kalian kenakan ternyata sama,an" Rere memandang ku dengan seringai lebarnya membuat ku bungkam seketika, bagaimana bisa aku sebodoh itu melupakan hal sepele tapi sangat mencolok dihadapan umum.
"Ehm itu..." karena sudah kepalang basah, tanpa pikir panjang aku langsung berdiri dan menyeret Rere agak jauh dari tempat Nicky dan Tommy.
"Aku bakal jelasin semuanya tapi aku mohon tidak disini dan tidak untuk sekarang" ucapku panik sambil memohon kepada Rere, Rere hanya bersidekap sambil mengangkat sebelah alisnya memandang lurus ke arah ku, membuatku was-was karena menunggu jawaban nya.
"Ok, aku bakal tunggu penjelasanmu, kalau begitu nikmati malam ini aku pergi dulu" ucapnya sambil menepuk pelan bahuku membuat ku menghembuskan napas dengan lega karena Rere mau mengerti keadaanku.
"Beb" ucap Rere manja terhadap Tommy, sedangkan Tommy memandang bingung pada Rere yang sudah bergelanyut manja dilengan nya "sepertinya aku sedang ingin makan dilestoran favorit kita deh " ucap nya sambil memandang dengan pandangan memelasnya.
"Bukan kah kamu yang ngrengek-ngrengek dari tadi karena pengen makan disini" ucap Tommy tak bisa menyembunyikan rasa heran nya, karena dengan tiba-tiba Rere berubah fikiran dengan cepat.
__ADS_1
"Nggak tau kenapa mood ku langsung hilang, dan sekarang malah kepengen makan dilestoran tempat kita makan" Tommy hanya mampu pasrah dan menghembuskan mapas dengan pelan karena bingung dengan sikap kekasihnya, karena tak ada pilihan lain akhirnya ia mengangguk tanda ia setuju, Rere yang merasa Tommy menuruti keinginan nya tersenyum puas dan menghadiahi dengan kecupan singkat dipipi nya, Membuat ku yang berdiri tak jauh dari posisi Rere, hanya memutar bola mata tanda aku sudah malas melihat adegan lebay Rere ketika bersama dengan Tommy.
"Sudah dengar kan Ki, sekarang aku bakalan pergi, dan nggak bakal menganggu kencan kalian. So... selamat menikmati Dinner kalian aku pergi dulu, bye...." ucap Rere sambil menoleh ke arah Kikan yang masih bergeming ditempat semula, kikan hanya mampu menatap dengan malas ucapan lebay dari sahabatnya tersebut tanpa mengucapkan kata, setelah nya Rere sudah melenggang pergi dengan mengampit lengan Tommy meninggalkan ku dan juga Nicky yang masih bergeming ditempat masing-masing.
"Ngapain kamu bengong? cepetan makan, dan setelah ini kita langsung pulang" ucap ku jutek setelah duduk dihadapan Nicky, Nicky yang kemungkinan tak ambil pusing dengan perubahan Mood ku langsung makan dengan diam tak mengucapkan sepatah kata, begitupun ketika sudah dalam perjalanan pulang. Aku hanya membuang pandangan diluar jendela, tak mengindahkan Nicky yang menyetir disebelahku, meski aku tau sedari tadi Nicky selalu mencuri-curi pandang ke arah ku.
"Seperti perjanjian kita kemaren, setelah ini kita sudah tidak ada urusan satu sama lain dan aku harap setelah ini kamu nggak bakalan mengganggu aku lagi" ucap ku setelah sampai dihadapan pintu kamar apertemenku, Nicky memandang ku dengan senyum lembut nya tapi aku menatap ada tatapan kecewa disana.
"Ya aku bakalan tepatin janji ku untuk tidak mengganggu kamu lagi, aku harap setelah ini kamu bakalan bisa menjaga dirimu sebaik mungkin, jangan telat makan lagi, jaga jesehatan dengan benar, karena nggak ada yang bisa memperhatikan kesehatanmu, sebaik kamu menjaga pola hidup mu sendiri" ucap Nicky panjang lebar mambuatku mengernyit bingung. ucapan nya mengandung makna yang dalam, mambuatku bungkam tak menyahuti perkataan nya.
"Dan satu lagi..." ucap Nicky menggantung ucapan nya sambil tangan nya menyentuh rambutku yang terjuntai, menyelipkan dibelakang telingaku, membuatku terpaku seketika karena perlakuan Nicky "Aku harap setelah ini, kamu tidak merindukanku" lanjutnya setelahnya dia tersenyum lembut memandangku dengan tatapan penuh makna, pandangan yang mengartikan bahwa aku seseorang yang berharga dimatanya. sampai aku sadar bahwa Nicky sudah tak ada dihadapanku dia telah pergi dari hadapanku, menyisakan aku seorang diri tanpa sadar tanganku bergerak menuju dadaku.
"Sakit...." kenapa aku merasakan sakit disini bahkan ada ruang hatiku yang terasa hampa setelah Nicky berlalu dari hadapanku menyisakan aku yang masih mematung seorang diri disana.
♡♡♡♡
Sudah dua minggu setelah kejadian malam itu, aku berusaha bersikap biasa saja, kehidupanku berjalan seperti biasa nya, bahkan aku berusaha menyibukan diri dengan tender yang sedang aku kerjakan, tapi pekerjaan tak bisa mengalihkan pikiranku sepenuhnya. Meski ego ku menyangkal, tapi tidak dengan hati ku. Saat ini aku sedang diruang rapat, Bahkan rapat dengan dewan direksi tak membuat ku sepenuhnya bisa berkonsentrasi.
"Loe kalau mau ngelamun jangan disini dong" ucap Rere sambil berbisik pelan, aku yang masih sedikit linglung memandang sekitar dan mendapati semua orang sedang memandang serius pada wakil direktor yang sedang menjelaskan proyek yang akan segera aku tangani membuat ku langsung membenarkan letak duduk ku, dan memandang ke arah Rere dan menampilakn cengiranku tanpa rasa bersalah, Rere masih memandang ku dengan malas tanpa berusaha berkomentar lebih jauh lagi.
"Loe kenapa sih Ki, akhir-akhir ni jadi sedikit berubah" berondong Rere to the point saat sudah keluar dari ruang rapat.
"Berubah gimana? Gua bukan super girl tau" ucap ku santai sambil berjalan beriringan dengan nya menuju ruangan ku yang terletak tak jauh dari ruang rapat.
"Ya berubah aja, jadi sering melamun nggak jelas. Jangan loe pikir gua nggak perhatiin tingkah laku loe ya selama beberapa minggu ini dan sepertinya perubahan sikap loe karena kepergian Nicky"
Sontak Ucapan Rere membuat ku langsung menghentikan langkah ku, memandang Rere dan menghembuskan dengan kasar.
"Denger ya Re, gua nggak ngelamun, Gua cuma merasa jenuh aja pekerjaan yang menumpuk membuat kerja otak ku jadi panas, dan satu lagi, nggak usah bawa-bawa nama Nicky karena gua udah nggak ada urusan apa-apa lagi sama dia" ucap ku menegaskan dan Rere hanya memandang ku datar sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
"Jenuh? Sejak kapan seorang Kikan bisa jenuh dengan pekerjaan nya? bahkan dengan bekerja kamu udah bisa ngobatin rasa patah hati mu karena ditinggal andrian selingkuh, jadi cari alasan yang lebih masuk akal" ucap Rere menaikan sebelah alisnya sambil melawatiku yang masih berdiri di tempat.
"Sialan" batinku merutuk aku sudah salah menjawab.
"Terserah kamu mau bilang apa, aku nggak peduli. Hilangkan pikiran kepo mu, dan kembalilah bekerja " ucap ku sambil tersenyum manis, melewati Rere yang sudah melangkah memasuki kubikelnya.
"Dasar keras kepala, bilang aja lagi mikirin Nicky pakai ngelak lagi" rutuk Rere sambil menggerutu tapi masih terdengar oleh ku.
"Jangan menggerutu, atau kau lebih suka aku kasih pekerjaan extra, biar kamu nggak bisa kencan dengan Tommy" teriak ku dengan keras membuat Rere yang baru saja menempelkan bokong sexy nya dikursi membuatnya berdiri mendadak.
"Sialan, pakai ngancam lagi" umpat Rere, membuat ku terkikik geli karena berhasil membuat Rere kesal, setelahnya aku kembali berkutat dengan segudang pekerjaan yang sedang menunggu ku.
♡♡♡♡♡
Jam sudah menunjukan pukul 20:15 malam, ketika aku keluar dari kantor, aku memutuskan membawa sebagian pekerjaan pulang ke rumah, karena hari ini aku sedang malas melakukan lembur dikantor. Rere sudah pulang sedari jam 17:00 tadi karena Tommy berencana mengajak Rere untuk berkunjung ke kediaman orang tua nya.
Ada terbesit rasa iri, saat aku melihat Rere sudah berbahagia dengan pasangan nya, bahkan Tommy sudah berencana untuk mengajak Rere untuk berhubungan ke jenjang yang lebih serius lagi, lalu, bagaimana dengan diri ku? Bahkan harapan yang dulu melambung tinggi saat masih bersama dengan Andrian sudah pupus ditengah jalan.
Aku membelokan mobil ku untuk mamasuki parkiran apertemen ku, saat aku sudah mematikan mesin dan hendak keluar dari mobil, tak sengaja pandangan ku menangkap sosok yang tak asing lagi dimata ku, bahkan sosok yang dua minggu ini selalu menganggu pikiran ku.
"Shit" umpat ku pelan saat aku melihat Nicky sedang berciuman didalam mobil entah dengan siapa bahkan keberadaan mobil ku tak jauh dari tempat Nicky berada, seketika hati ku memanas. Aku langsung membuang pandangan ke arah lain, berusaha mengabaikan rasa sakit dihatiku.
Tangan ku tanpa terasa mencekeram setir mobil dengan erat, kenapa aku harus sakit hati? Bukan kah aku tak punya perasaan apapun terhadap Nicky, terserah dia mau dengan siapapun itu bukan urusan ku. Pelan-pelan aku menghibur diriku sendiri, aku masih belum beranjak dari tempat ku, hati ku masih bergemuruh menahan perih.
Tak mau ambil pusing lagi, aku segera mengambil berkas yang aku bawa dari kantor dan segera keluar dari dalam mobil, tak menghiraukan lagi kalau Nicky melihat ku melewati parkiran. Saat melewati post satpam tak ku hiraukan Pak Karim yang sedang berjaga didepan gerbang, baisanya aku akan beramah tamah dengan beliau tapi tidak dengan malam ini, perasaan ku sedang kurang baik, jadi aku hanya melewati Pak Karim tanpa menyapa nya terlebih dahulu, meski aku tau mungkin Pak Karim akan kebingungan dengan sikap ku.
Ding
Suara lift yang terbuka menyadarkan pikiran ku, sesegera mungkin aku memasuki lift dan memencet tombol hunian ku, dan pintu lift segera menutup setelahnya aku menyandarkan tubuhku didinding lift aku baru tersadar bahwa tangan dan kaki ku bergetar, ada apa dengan ku? Kenapa reaksiku seperti ini? ketika melihat Nicky berciuman dengan orang lain, bahkan waktu aku memergoki Andrian berselingkuh dibelakang ku, tak kurasakan reaksi seperti ini.
__ADS_1
********