
"Aku berharap kamu bisa mengambil keputusan dari lubuk hatimu yang terdalam, bukan dari ego semata, hingga mengorbankan perasaanmu sendiri" aku terus saja memikirkan kata-kata yang dilontarkan oleh Nicky ketika ia memberikan kesempatan terakhir padaku, untuk berjuang bersama, ya anggap saja aku pengecut sehingga memilih untuk mengambil keputusan mengakhiri hubungan ku dengan nya, aku berpikir keputusan itu akan baik untuk semuanya tapi aku salah, ternyata keputusan yang aku ambil malah menyakiti perasaan ku sendiri dan juga Nicky, bahkan Mama juga meminta aku untuk memikirkan sekali lagi sebelum gegabah dalam mengambil keputusan, karena jodoh hanya akan datang satu kali dalam hidup kita, maka dari itu aku memutuskan untuk memperjuangkan apa yang aku rasa benar, tuhan, ijinkan aku bersikap egois untuk kali ini saja.
Saat ini aku sudah berada diatas pesawat dengan Nicky, setelah berpikir beberapa hari aku memutuskan untuk datang ke bandara, beberapa jam yang lalu karena biar bagaimanapun aku tak bisa bila benar-benar kehilangan sosok Nicky, aku tak bisa membohongi perasaan ku sendiri karena aku benar-benar mencintai Nicky, aku merasakan usapan lembut ditangan ku membuat lamunanku buyar, segera kutolehkan kepalaku kearah samping mendapati Nicky dihadapan ku tersenyum lembut, membuat perasaan ku sedikit tenang.
Ya dialah laki-laki yang aku cintai hingga membuat ku kehilangan jati diri bila dia benar-benar pergi dariku, kurebahkan kepalaku dibahunya berharap hari esok akan lebih cerah bila aku melangkah bersama nya untuk memperjuangkan hubungan kami.
"Terimakasih Ki, aku akan membayar pengorbanan mu dengan kebahagiaan seumur hidup mu, tak kan ku biarkan kamu menangis karena rasa kecewa lagi" ujar Nicky sambil mengecup keningku pelan, aku memgangguk pelan sebagai jawaban, hatiku bagai diremas mendengar kata-kata nya, sanggupkah aku kehilangan dia satu-satu nya pria yang mencintaiku begitu dalam hingga aku tak bisa mengungkapkan rasa bahagia karena dicintai begitu besar olehnya.
Setelah menempuh perjalanan lebih dari sembilan jam akhirnya kami tiba dibandara "kingsford smith sydney, Australia" kami telah dijemput dengan mobil pajero hitam yang sudah terparkir didepan bandara, bahkan ada beberapa bodyguard yang mengawal mobil tersebut membuat ku seidikit kebingungan, aku memandang Nicky untuk meminta penjelasan malah diam saja dambil menggenggam tangan ku, tangan ku berusaha menyampaikan bahwa aku tak perlu kawatir, meski beribu pertanyaan sudah terjajar rapi diotak ku membuat ku terpaksa bungkam karena kini Nicky sudah menarik ku untuk masuk kedalam mobil.
Selama dalam perjalanan Nicky hanya diam membisu membuat ku sedikit gelisah, akankah setalah ini aku akan dibawa langsung bertemu dengan kedua orang tua Nicky? Lalu bagaimana tanggapan mereka ketika melihatku? Apakah mereka akan langsung menolak mentah-mentah kehadiranku atau malah akan langsung mengusirku begitu saja ketika aku masuk kehalaman rumah mereka.
Rasa gelisah membuat ku berkeringan dingin, bahkan aku tak sadar ketika Nicky merasakan telapak tangan ku yang sedingin es membuat nya langsung menolah kerah ku, mengunci tatapan ku, dia langsung menggenggam kedua tangan ku dnegan erat tanpa memutus tatapan kami.
"Apakah kamu gugup?" Aku mengangguk pelan karena rasanya suaraku tercekat didalam tenggorokan, dia tersenyum lembut lalu membelai wajah ku.
"Tenanglah, aku tak akan membawamu kemari bila aku belum mempersiapkan segalanya, tak ada yang perlu kamu takutkan selama aku ada disisimu, bahkan jauh sebelum hari ini tiba aku sudah memikirkan segalanya" ujar Nicky berusaha menenangkan kegelisahan ku, bukanya tenang aku semakin kebingungan karena semua kata-kata yang Nicky ucapkan seperti sebuah teka-teki untuk ku, bukankah kami kemari untuk menemui keduaorang tua Nicky, yang setauku belum merestui hubungan kami, lalu kenapa yang aku lihat justru wajah tenang Nicky berbanding terbalik dengan aku yang sudah gelisah semenjak menginjakan kaki dibandara tadi.
"Apakah kamu menyembunyikan sesuatu Nick? Kenapa yang aku tangkap malah seperti sesuatu yang mengerikan untuk ku?" Tanyaku gamblang membuat Nicky tertawa renyah, aku sedikit terpesona melihatnya tertawa, karena aura ketampanan Nicky bertambah berkali-kali lipat ketika ia tertawa lepas, membuat wajahku sedikit bersemu karena malu apa yang sedang aku pikirkan barusan.
"Aku tidak bisa mengatakan nya sekarang, tapi yang pasti kamu akan terkejut melihat kejutan yang aku berikan ketika kita sampai nanti" ujar nya setelah berhasil memberikan tawanya, aku hanya mendesngus sebagai tanggapan mungkin ini sebagian hal kecil yang dilakukan Nicky untuk menghilangkan kegugupan ku hingga membuat ku sedikit lebih rileks dari sebelumnya.
Setelahnya tak ada pembicaraan lagi diantara kami hingga tak terasa mobil yang kami tumpangi sudah memasuki mansion megah, bahkan dari gerbang hingga memasuki mansion membutuhkan waktu sepuluh menit hingga mobil berhenti didepan sebuah mansion megah, rasa rileks yang tadi aku rasakan hanya bertahan sebentar karena sekarang jantung ku berdetak dengan bertalu-talu karena rasa gugup, siapa sebenarnya Nicky? Kenapa begitu banyak rahasia yang tak ku ketahui tentangnya, aku masih bergelut dengan semua pikiran ku ketika aku menyadari sebuah tangan terulur menyambut ku untuk keluar dari mobil, aku bahkan tak menyadari Nicky sudah keluar dari mobil untuk membukakan pintu, dengan tangan gemetar aku menyambut uluran tangan Nicky hingga aku bisa melihat dengan jelas mansion megah yang berdiri kokoh didepan mataku.
"Rileks Ki, tenanglah aku ada disini" ujar nya berusaha membuat ku tenang, tapi aku tak bisa menyembunyikan wajah tegang ku begitu memasuki mansion megah tersebut, begitu banyak bodyguard dan para pelayan yang menyambut kedatangan kami, aku bahkan hanya mengira keadaan seperti ini hanya akan terjadi difilem-filem yang pernah aku tonton aku tak pernah mengira akan mengalami kejadian langsung didepan mataku, sekali lagi aku memandang Nicky tapi dia sama sekalli tak menoleh kearah ku, dia terus saja melangkah sambil menggenggam tangan ku erat.
Aku mengikuti langkah Nicky yang membawaku kedalam mansion bahkan ini seperti halnya istana bagiku karena begitu banyak ruangan yang akan membuat ku tersesat bila tidak ada seseorang yang menemaniku, hingga langkah kami terhenti ketika melihat seorang pria yang berpakaian dokter yang baru keluar dari sebuah ruangan yang aku perkirakan sebuah kamar.
"Masuklah, Dadymu sudah menunggu" ujar nya ketika dia melihat kedatangan kami.
"Terimakasih" ujar Nicky pada pria tersebut, aku memberikan senyum ramah padanya sebelum mengikuti langkah Nicky untuk membuka pintu dan manarik ku untuk masuk, ku tarik napas pelan demi berusaha menenangkan detak jantungku, tak berani mengangkat wajah ku karena takut, aku menggenggam tangan Nicky semakin erat sebagai pelampiasan rasa takut ku hingga sebuah suara membuat ku terkejut.
"Aunthy__" teriak sebuah suara yang membuat ku diam mematung karena aku seperti mendengar suara Theo, tidak itu pasti hanya halusinasiku saja mana mungkin Theo ada disini, tapi sekali lagi suara rengekan manja itu terdengar hingga membuat ku mendongak untuk memastikan
"Aunthy aku merindukan mu" rengek nya sekali lagi sambil berlari ke arah ku dan menubruk kakiku, aku memandang Theo seperti tak percaya, benarkah tapi kenapa?, belum hilang keterkejutanku akan keberadaan Theo aku kembali dikejutkan dengan keberadaan Mama, Kak Roby dan Mbak Disa dalam ruangan tersebut bahkan ada dua orang lagi yang berada disana tapi aku sama sekali tak tau mereka siapa.
"Ke,kenapa Mama ada disini?" Ujarku lirih lebih pada diriku sendiri, Nicky segera menggendong Theo dan menarik sebelah tangan ku untuk mendekat, meski masih terkejut aku mengikuti langkah Nicky, aku memandang satu persatu keluargaku bergantian untuk meminta penejelasan tapi yang ada mereka hanya tersenyum geli melihatku, Kak Roby segera meraih Theo dari gendongan Nicky, dan memangkunya diatas pangkuanya, Nicky segera meraih kedua tanganku dan menariknya untuk memandang nya.
"Aku tau, ada begitu banyak pertanyaan yang ada dibenakmu, dan aku akan menjelaskan satu persatu, kamu lihat kedua orang yang duduk disana, mereka adalah Mamy dan Daddy ku, dulu mereka memang memaksa ku untuk menikah dengan Rachel, karena mereka takut aku akan menikahi wanita yang salah, kekayaan keluargaku yang melimpah membuat kedua orangtuaku menjadi extra hati-hati dalam memilih calon menantu, mereka yang awalnya berpikir memilih menantu yang sama-sama dari keluarga bangsawan akan membuat pernikahan ini bisa berjalan dengan sempurna, tapi apa mau dikata aku kabur dan menghilang meninggalkan penyesalan bagi kedua orang tuaku, mereka sadar apa yang baik bagi mereka belum tentu baik juga untuk ku, hingga membuat daddy sakit dan terkena struk beberapa bulan yang lalu, hingga aku mengetahui nya seminggu yang lalu ketika aku ingin mengungkapkan keinginanku untuk membatalkan pertunanganku dengan Rachel, Daddy meminta maaf pada ku dan membiarkan aku mengambil keputusan sendiri asal aku mau kembali ke rumah" aku memandang Nicky dan kedua orang tua Nicky bergantian, terlebih Ayahnya Nicky yang duduk diatas kusi roda, ditemani seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusianya yang aku perkirakan masih diusia pertengahan empat puluhan, beliau memandang hangat terhadap ku dan ku balas dengan senyum lebar, kegugupan ku yang ku rasakan saat memasuki mansion tadi berubah saat aku melihat senyum kedua orang tua Nicky yang ditunjukan padaku, aku tau mereka telah menerimaku, kelegaan berangsur-angsur datang menelusup hatiku dan mengingat kehadiaran keluargaku, aku kembali menoleh kearah Nicky untuk bertanya prihal keberadaan mereka disini.
__ADS_1
"Dan untuk keluargamu, aku minta maaf, aku sengaja mendatangkan keluargamu kemari tanpa sepengetahuan mu, karena aku ingin kamu melawan ketakutanmu dan mengambil keputusan atas kemauanmu sendiri, bukan karena orang lain maka dari itu aku bertindak sejauh ini karena aku ingin menunjukan keseriusan ku padamu, bukan hanya janji semata yang akan aku berikan tapi sebuah tindakan nyata yang akan membuat mu menjadi milik ku untuk selamanya, aku tak akan membiarkan kamu pergi lagi dari hiudupku, cukup sekali dan untuk terkahir kalinya aku membiarkan mu pergi dan menyakiti perasaan kita berdua, maka dari itu hari ini didepan keluargamu dan juga kedua orang tuaku, aku ingin bertanya padamu? Will you marry me?" ujarnya sambil berlutut dan membuka kotak beludru berwarna biru tua.
Disana tersemat sebuah cincin berlian yang cantik dan berkilauan, aku yang tak menyangka akan lamaran dadakan hanya mampu terpekik dan menutup mulutku karena terkejut, buliran air mata mengalir tanpa bisa aku bendung, begitu banyak kejutan yang Nicky berikan padaku hingga membuat ku merasa sangat bahagia, Nicky masih setia berlutut sambil menyodorkan kotak cincin tersebut menunggu dengan wajah cemas akan jawaban ku, tanpa menunggu lagi aku mengangguk mantap sambil tersenyum lebar, detik berikutnya aku merasakan pelukan hangat Nicky sambil mengucapkan terimakasih entah untuk yang keberapa kalinya.
Nicky menyematkan cincin dijari manis ku setelahnya mengecup lembut membuat ku menangis terharu, tepuk tangan riah dari kwdua keluarga membuat wajah ku bersemu merah karena malu, Hingga teriakan Nicky membuat ku terpaksa mendongak karena terkejut.
"Lusa kita akan menikah, dan aku berharap kamu tak keberatan akan keputusan ku, karena aku sudah mempersiapkan segalanya, maka dari itu aku sengaja mendatangkan keluargamu untuk menjadi saksi di pernikhan kita"
"A,apa Lusa? Kamu bercanda kan" ujar ku tanpa berpikir panjang karena rasa terkejutku.
"Tak ada kata bercanda bila bersangkutan dengan mu, bahkan aku hampir gila ketika kamu memilih pergi dari hidup ku, maka dari itu aku ingin mengikatmu secepat yang aku bisa, sekarang restu sudah kita dapatkan, aku tak ingin membuang-buang waktu lagi dan membiarkan kamu berubah pikiran maka dari itu aku sudah memutuskan lusa kita akan menikah disini disaksikam kedua orang tua kita" ujarnya talak membuat ku bungkam seketika.
😘😘😘😘😘
Aku masih belum percaya dengan apa yang terjadi, semua ini terasa mimpi bagiku, kini setatusku sudah sah menjadi seorang isteri beberapa jam yang lalu, setelah Nicky membuat pengumuman akan menikahiku dan benar saja Dua hari kemudian dia melaksanakan keinginanya untuk menikahiku dengan persiapan yang entah kapan ia lakukan, bahkan panggilan isteri masih terasa asing ditelingaku.
Aku memandang jariku yang bertaut dengan jari besar Nicky, kami sedang berada didalam kamar pengantin, setelah prosesi akan nikah dan resepsi yang menguras tenaga, barulah kita bisa benar-benar diperbolehkan untuk beristirhat dengan tenang.
Aku tersenyum bahagia menatap tanganku yang saling bertautan dengan tangan besar Nicky, yang terasa begitu pas ketika menggenggamnya, terasa begitu nyaman ketika memeberikan ku kekuatan, dan terasa begitu lembut ketika memberikanku ketulusan.
"Kenapa?" Tanya Nicky yang duduk disamping ku seraya merangkulku dari samping, aku menggeleng pelan seraya tersenyum.
"Ya aku juga masih belum percaya, ini sungguhan kan?" Sahut Nicky ketika menjauhkan tanganku dari mulutnya, aku semakin menyamankan senderan kepalaku dibahunya.
"Aneh rasanya, aneh banget" sahutku lagi sambil memainkan tautan jari-jari kami.
"Kamu bahagia Nick?"
"Kamu sendiri bahagia tidak?" Nicky malah balik bertanya padaku, aku mencium pipi Nicky sambil tersenyum lebar.
"Aku bahagia banget" ujarku cepat membuat Nicky semakin mengeratkan pelukanya dibahuku.
"Kalau kamu bahagia, nggak ada alesan lagi untuk ku nggak bahagia" ujarnya lembut membuat ku kembaki tersipu malu.
"Terimakasih ya Nicky, sudah berusaha untuk memperjuangkan ku, mungkin kalau kamu tak menyadarakan ku kita tak akan pernah berada dititik ini"
"Karena kamu patut untuk diperjuangkan, dari dulu bahkan hanya kamu yang aku cintai, tak ada wanita lain lagi" jantung ku berdetak berkali lipat setelah mendengar ungkapan Nicky, aku memeluk Nicky semakin erat sebagai rasa syukurku karena laki-laki ini yang menjadi imamku.
Entah siapa yang memulai, tau-tau kami sudah berciuman dengan panas, lidah Nicky mengabsen seluruh gigiku, puas mengabsen, Nicky membelit-mbelitkan lidahnya pada lidahku dan saling bertukar saliva.
__ADS_1
Nicky membuka bethrobe ku dan membuangnya asal, kini aku hanya memakai underware yang berwarna merah darah, sangat kontras dengan kulit ku, membuatku seketika malu dan berusaha menutupi dengan kedua tangan ku, aku melirik ke arah mata Nicky yang sudah menggelap karena gairah hingga membuat ku berdebar karena nya, antara malu, dan bergairah menjadi satu.
"Cantik, kamu sungguh snagat cantik sayang" kalimat Nicky bagai mantra ditelingaku, Nicky mulai merebahkan tubuhku dan menciumi telingaku, menggigit-nggigit kecil membuatku mendesah, dia menurunkan ciumanya pada ceruk leherku, dan menghisapnya entah sudah berapa banyak kiss mark yang dibuatnya pada leher ku, lalu ia mengangkat wajahnya dan menatap mataku membuat ku merasa kebingungan karena kehilangan bibirnya.
Nicky mulai membuka bra ku, dan membuangnya entah kemana, dia menyernag payidaraku, diawali dnegan menggigit, menghisap menggelintir putingku membuatku mendesah keras karena terangsanga akan perlkuanya.
"Akhh..." desahan-desahan mulai keluar dari mulutku, untuk pertama kalinya aku mengalami hal ini, hingga membuatku susah untuk mengendalikan diri, aku mencengkeram seprei sebagai rasa pelampiasan karena menuntut lebih.
"N,Nicky__aahh..." desahku saat Nicky kembali membuat tanda ditubuhku ditubuhku.
"Ya... sebut namaku sayang..." kata-kata Nicky bagai mantra yang membuat ku makin terjatuh kedalam buaianya, ciumanya turun keperutku, mencium, menjilat dan menghisap, aku bisa gila bila terus seperti ini.
Nicky mulai membuka celana dalam ku, penghalang terakhir yang ada ditubuhku, dia mulai membuka kedua pahaku, membuat ku langsung menutup nya dengan.kedua tangan ku karena malu.
"Ja, jangan...." rintihku karena aku merasa tenagaku terkuras menahan gejolak birahi yang mulai aku rasa, tapi sepertinya Nicky tak peduli, Nicky berusaha menarik kedua tangan ku dengan lembut agar aku tak lagi menutupi daerah sensitifku, dia mulai menciumi paha dalamku dan merambat semakin dalam dan sampai pada vaginaku membuat ku terpekik karena terkejut.
"Akh, apa yang kau lakukan Nick?" Ujarku sambil terengah-engah dengan apa yang diperbuat oleh Nicky, hingga membuat ku berusaha lagi untuk menutup pahaku.
"Diamlah sayang, dan nikmati ini" kalimat terkahir Nicky sebelum menyentuh vaginaku dengan bibirnya.
"Akkhhh..." desah tertahanku saat jari Nicky menyentak masuk kedalam vaginaku yang bahkan aku sendiripun tak pernah menyentuhnya, dan ini rasanya membuatkubsedikit tak nyaman karena sedikit perih.
"Nicky.... akkh.... "jeritku saat gelombang kenikmatan itu datang untuk pertama kalinya.
"Keluarkan, keluarkan semuanya sayang" kata Nicky membuatku bergetar karena menahan *** yang membuatku sedikit lemas, belum sempat aku menetralkan detak jantungku Nicky sudah kembali merangkak keatas tubuhku dengan tubuh nya yang telanjang, bahkan aku tak sadar dia sudah melucuti bethrobe yang tadi dia pakai, dia mencium ku dengan lembut berusaha membuaiku membuat ku kembali merasakan gairah yang tadi aku rasakan padahal baru saja merasakan oragasme, aku sudah tidak bisa berpikir secara jernih ketika tiba-tiba kurasakan benda tumpul mencoba masuk kedalam vaginaku, dan ini cukup menyakitkan untuk ku, hingga membuatku meringis merasakanya.
"Akkh... Nick, sakit....." aku semakin terisak saat benda tumpul itu masuk sepenuhnya dan mengoyak selaput daraku, setelah berhasil menembusnya dia mendiamkan diri sejenak memberikanku waktu untuk membiasakan dirinya didalam diriku, dipandangnya lekat-lekat manik mataku yang membuat deguban jantungku bertambah kencang.
Nicky mencium bibirku sekali lagi dan payudaraku untuk mengalihkan rasa sakitku, saat aku mulai tenang dan melemas, Nicky mulai bergerak untuk memaju mundurkan pinggulnya, desahan demi desahan kami saling bersahutan memenuhi kamar pengantin, saling mencari kepuasan diantara para penyatuan kami. Semakin lama gerakan Nicky semakin kuat dan cepat membuatku merasakan gelombang kenikmatan itu akan datang kembali, Nicky sadar vaginaku penisnya begitu kuat, pertanda aku akan datang kembali.
"Bersama-sama sayang...." kata Nicky serak diambang hentakan Nicky yang masuk semakin dalam.
"Akkhhh..." raungku dan Nicky bersamaan, kurasakan semburan panas menjalar didalam vaginaku, aku seperti kehilangan seluruh tulang ketika yang kedua melandaku, yang lebih dahsyat yang Nicky berikan padaku, meski aku sudah tak betenaga tapi aku bisa tersenyum dengan lebar, kurasakan usapan lembut dibahuku setelahnya aku merasakan Nicky merengkuhku kedalam pelukanya membuatku hanya bisa pasrah bergelung hangat dalam dekapanya.
"Terimakasih sayang, Aku mencintaimu, selalu" ujarnya, setelahnya ciuman panas dan panjang ia berikan padaku sebelum menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang kami.
"Tidurlah sayang, esok kita akan melewati kehidupan baru sebagai suami isteri, semoga kita selalu berbahagia hingga maut memisahkan kita" ujar Nicky dan ku amini dalam hati, tak butuh waktu lama untuk mewujudkanya karena selang beberapa bulan kemudian kabar kehamilanku membuat semua orang berbahagia, jangan tanyakan bagaimana sikap Nicky setelah mengetahui aku mengandung buah hatinya, dia menjadi suami super posesif dan pecemburu mungkin bagi sebagian wanita akan jenuh memiliki suami yang kelewat posesif, tapi tidak dengan ku, aku bahagia karena aku tau dengan cara itu Nicky menunjukan cintanya pada kami, cukup sekali aku membuat kebodohan untuk melepasnya dan untuk kali ini aku akan berjuang bersamanya, meraih kebahagiaan yang nyata, bersama anak-anak kami kelak, karena cinta bukan hanya soal menerima, tapi cinta juga butuh perjuangan, tanpa perjuangan tak kan ada yang namanya cinta yang sempurna.
END
__ADS_1