Shocking love

Shocking love
32


__ADS_3

Aku berjalan dengan langkah pasti ketika memasuki sebuah apartemen mewah dibilangan jakarta pusat, aku harus segera menyelesaikan segera semuanya karena bila tidak, maka apa yang sudah aku lakukan selama ini akan sia-sia, setelah memasuki lift dan memencet tombol tujuan ku, aku menunggu dengan dada berdegup dengan kencang, aku tak peduli kedatangan ku kemari sama saja dengan mencari mati, bahkan aku sudah membulatkan tekat sebelum datang kemari.


Ding


Pintu lift terbuka dilantai tujuan ku, setelah mengatur detak jantung aku segera keluar dari lift aku melangkah dengan langkah pasti, aku segera menuju kamar hunian Rachel, ada Dua orang Bodyguart yang berjaga diluar kamar, mereka masing-masing mempunyai tubuh tinggi tegap, meskipun begitu aku tak pernah gentar sama sekali aku sudah berdiri didepan pintu salah satu penjaga segera bertanya padaku.


"Siapa Anda? Dan ada tujuan apa datang kemari?" Ucap nya tegas, membuat siapa saja yang tak terbiasa akan seorang Bodygart akan lari terbirit-birit tapi tidak dengan ku.


"Katakan pada Rachel aku ingin bertemu dengan nya, Aku Nicky" jawabku tak kalah tegas, Bodyguart tersebut segera menghubungi seseorang lewat interkom tak berapa lama ia segera membukakan pintu untuk ku, dan aku melngkah dengan wajah datar.


"Apa yang membuat mu nekat datang kemari?" Ujar Rachel tanpa basa-basi setelah melihat kedatangan ku dari arah pintu, ia sedang meminum teh dan duduk nyaman diatas sofa  melihat lurus kearah ku.


"Aku ingin memperjelas semuanya" dia hanya menarik sbelah alisnya tanpa berkata apapun.


"Aku ingin kamu tak mengusik ku lagi, karena sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa menikah dengan mu, meski kamu melakukan segala cara untuk menjeratku" lanjutku membuat wajahnya yang awalnya datar berubah menjadi dingin.


"Apa karena wanita itu? Kamu terus-terusan menolak ku?" Ujarnya sambil berdiri mendekati ku.


"Dia punya nama kalau kamu lupa, dan ia karena hatiku sepenuhnya sudah aku berikan padanya" jawabku tegas tak peduli dia terluka karena ucapanku.


"Kamu begitu memujanya, hingga kamu tak bisa melihat perempuan lain, apa yang sudah dia perbuat hingga kamu bisa menolak ku, apakah aku kurang cantik, atau aku kurang menarik dimatamu?" Ujarnya sambil menarik dasi dan memainkan jari lentiknya didadaku untuk menggoda, aku yang tak bernafsu terhadapnya hanya mencekal jari telunjuk nya untuk menghentikan godaanya, membuat dia hanya tersenyum kecut menatap kearah ku.

__ADS_1


"Tak ada yang salah dengan mu, kamu sempurna aku yakin semua pria akan menerimamu dengan tangan terbuka, tapi pengecualian untuk ku, sedari dulu hatiku hanya akan bergetar pada satu wanita yaitu Kikan, bukan karena kecantikan fisik atau tahta tapi aku menyukai dia dengan segala apa yang ada didirinya hingga aku tak mampu lagi mencintai wanita lain meski mereka berbondong-bondong menawarkan kecantikan mereka dihadapan ku"


"Kamu melukai harga diriku Nick, sedari dulu tak ada seorang priapun yang bisa menolak pesona ku, bahkan tanpa aku meminta pun mereka dengan senang hati menawarkan cinta untuk ku, memujaku, tapi untuk pertama kali aku mengahadapi pria seperti mu hingga membuat ku terobesesi untuk memilikimu, kalau aku menuruti ego aku akan melenyapkan wanita itu dan menjeratmu untuk selamanya tak peduli kamu menolak ku, tapi aku bukan wanita sepicik itu, aku masih punya harga diri hingga bisa mengendalikan diri untuk tak berbuat hal semenjijikan itu hanya untuk memilikimu, akan sangat menyedihkan bila seorang Kim Rachel yang terbiasa dipuja mengemis cinta pada seorang pria" ujarnya panjang lebar, aku terkejut sambil menatap wajah Rachel yangbmasih setia berdiri dihadapan ku dari semua ucapannya yang bisa aku tangkap adalah dia tak menuruti ego karena takut harga dirinya jatuh karena mengemis cinta pada seorang pria, wajah ku yang sebelumnya datar sekranag bisa menyunggingkan senyum cerah karena merasa lega.


"Kamu__, benarkah" tanya ku masih belum percaya dengan ucapan Rachel, dia bersidekap memandang malas kearah ku.


"Ya, dan tak ada siaran ulang untuk kata-kata ku tadi" ujar nya dengan wajah acuh tak acuh nya sambil membuang muka, aku tersenyum semakin lebar tanpa aku duga.


"Terimakasih, aku tau kamu wanita yang baik, aku berhutang budi padamu aku, aku__" ujar ku tak tau lagi harus berkata apa, karena saking bahagianya aku sampai kehilangan kata-kata ku.


"Aku memang gadis manja, tapi bukan berarti aku wanita yang kolot, aku lebih mementingkan harga diriku daripada ego maka dari itu aku lebih memilih mundur" ujar nya lagi, aku mengangguk paham.


"Sekarang pergilah, perjuangkan wanitamu jangan sampai kamu menyesal karena ada pria lain yang mendekatinya" ujar nya berusaha menggodaku, dan ucapanya membuat wajah bahagiaku berganti dengan wajah dingin.


********


Aku masuk ke dalam ruangan Kikan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, membuat Kikan dan Rere yang sedang berdiskusi masalah pekerjaan terkejut melihat kedatanagan ku yang tidak terduga, Alu melangkah dengan langkah tegas memasukan kedua tangan ku kedalam saku memandang datar ke arah Rere, mengisyaratkan dia untuk keluar, seperti mengerti arti tatapan ku dia keluar setelah berpamitan dengan Kikan.


"Mau apa lagi kamu datang kemari?" Ujarnya dingin sambil melempar pensil dnegan asal seolah aku telah merusak mood nya.


"Ternyata kamu masih hidup dengan normal meski kita baru saja berpisah"

__ADS_1


"Tentu saja, kamu kira aku bereaksi seperti gadis cengeng lain nya yang baru saja putus dari pacarnya" uajrnya pedas setengah tersinggung, aku hanya tersenyum simpul melihat reaksi yang diberikan padaku.


"Tentu saja tidak, aku tau apa yang terjadi padamu setelah keputusanmu untuk mengakhiri hubungan kita" ujarku setengah menyidir nya, dia hanya mendengus sebal sambil berkacang pinggang.


"Sok tau, aku masih baik-baik saja, malah hidupku jauh lebih tenang setelah kepergian mu, tak ada lagi yang mngusik hidupmu lagi" ujarnya tegas, dan malah membuatku terkekeh pelan karena aku tau dia tidak baik-baik saja setelah aku pergi.


"Baiklah, anggap saja aku percaya dengan kata-kata mu, aku kemari bukan ingin berdebat dengan mu, aku kemari karena ingin menegaskan satu hal padamu" alisnya terangkat cantik menatap kearahku, membuatku tersenyum simpul aku merogoh kedalam jasku dan mengeluarkan satu lembar tiket keatas meja kerjanya, Kikan hanya memandang datar ke arah ku lalu bergantian dengan tiket yang sudah berada diatas kerjanya.


"Apa itu?" Tanyanya dengan raut wajah penasaran, aku kembali memasukan kedua tangan ku ke dalam saku celana.


"Itu adalah tiket penerbangan ke Sidny, aku mau kamu mempertimbangkan untuk terakhir kali nya, berjuang bersama ku untuk meminta restu kedua orang tua ku, atau menjadi pengecut seumur hidupmu karena tak berani memperjuangkan cinta mu" ujar ku tegas membuat Kikan memandangku tepaku untuk beberapa detik, sebelum berkata.


"Apa yang mesti aku perjuangkan? Bukankah hubungan kita sudah berakhir?"


"Tidak, aku hanya memberi waktu kamu untuk berpikir selama ini, itu hanya keputusan sepihak kamu saja, aku hanya ingin melihat bagaimana kalau aku benar-benar pergi dari hidup mu dan menuruti keinginan mu untuk bersanding dengan perempuan lain, sakit bukan? Aku tau selama ini kamu tak pernah baik-baik saja selama kepergian ku" aku menangkap wajah tegang Kikan saat aku mengatakan kondisinya, pasti dia bertanya-tanya dari mana aku tau semua itu tapi aku tak peduli.


"Kamu tak tau apa-apa tentangku jangan pernah mengada-ngada, dan satu lagi tidak ada yang namanya keputusan sepihak kamu sendiri juga menyetujui keputusan ku bahkan aku melihat mu dengan senang hati makan bersama dengan calon tunanganmu itu" ujarnya berapi-api, aku hanya tersenyum memandang wajah tegangnya, aku mengulurkan sebelah tangan ku untuk mengelus sebelah pipinya membuatnya menegang seketika.


"Aku melakukan itu karena ingin melihat keseriusanmu menyuruhku untuk menerima pertunangan itu, teranyata kamu hanya membohongi perasaanmu sendiri" tegasku, dia diam tak membantah ucapanku.


"Maka dari itu aku kemari memberikan tiket ini untuk mu, lusa aku akan menunggumu dibandara dan kita langsung berangkat menemui kedua orang tuaku, kita berjuang besama-sama meyakinkan pada semua orang kalau kita layak diberikan kesempatan untuk hidup bahagia sampai maut memisahkan kita, kalau sampai jam penerbangan kamu tidak datang, aku menyerah dan akan pergi sejauh mungkin dari hidup mu karena seseorang yang aku perjuangkan tak benar-benar mencintaiku karena bila dia benar-benar mencintai ku dia tak mungkin menyuruhku menerima wanita lain untuk menikah dengan ku" ujar ku tegas membuat Kikan diam mematung, aku mendekat ke arah nya sangat ingin mendekap dia dalam dekapan ku tapi aku harus bisa menahan diri untuk itu.

__ADS_1


"Aku berharap kamu bisa mengambil keputusan dari lubuk hatimu yang terdalam, bukan dari ego semata, hingga mengorbankan perasaanmu sendiri" usai membisikan sindiran pedas aku langsung melangkah meninggalkan Kikan yang masih setia terdiam kaku ditempatnya.


*******


__ADS_2