
Sudah Dua minggu lebih semenjak kejadian pertemuan terakhir ku dengan Nicky, kehidupan ku kembali ke sedia kala saat sebelum Nicky datang, bahkan aku yang dulu sangat berharap kehidupan ku tenang tanpa kehadiran Nicky sekarang malah merasa menyesal. Ternyata setelah terbiasa akan kehadiranya, kini aku merasa kesepian, tak akan ada lagi yang akan datang ke apartemen ku atau kantor ku untuk mengajak ku makan bahkan ponsel yang dulu tak bisa berhenti bergetar karena pesan-pesan singkat yang dikirim oleh Nicky kini seperti benda yang tak berfungsi sama sekali karena tak ada satu pesan pun yang masuk dari Nicky.
Aku mengehembuskan napas dengan gusar, seperti kehilangan arah bahkan hingga saat ini sekalipun aku tak pernah bertemu dengan Nicky meski letak apartemen kami berada di lantai yang sama, dia seperti hilang di telan bumi atau mungkin Nicky sudah sangat kecewa terhadap ku hingga memilih pergi menjauh dari ku, sekali lagi aku manarik napas frustasi untuk menenangkan rasa gelisah didalam dadaku.
"Sudah lebih dari satu jam aku memperhatikan mu hanya menarik napas dan terdiam melamun seperti ini, kalau kamu nggak bisa konsen bekerja, lebih baik kamu pulang dan beristirahat lah, aku yang akan menyelesaikan pekerjaan mu" ujar Rere membuat lamunan ku buyar, aku melihat Rere tak minat akhir-akhir ini memang aku tak maximal dalam bekerja, bahkan otak ku seperti tak berfungsi dengan baik karena terlalu memikirkan Nicky yang menghilang tanpa kabar, sekali lagi aku manarik napas ku.
"Sepertinya aku butuh liburan__" ujar ku sekenanya, membuat Rere yang awalnya berkutat dengan pekerjaan melirik ke arah ku sebentar sebelum melanjutkan aktifitasnya.
"Kalau begitu lakukan lah, aku akan dengan senang hati bekerja seorang diri tanpa beban, dari pada hanya melihat mu datang ke kantor tapi pikiran mu entah melayang kemana, dan lihat penampilan mu seperti seorang perempuan yang sedang dicampakan" ujarnya pedas tanpa perasaan membuat ku mendengus sebal karena ocehanya.
"Re__ bisakah kamu diam sebentar, kamu hanya membuat kepalaku pusing karena omelan mu itu, lagian siapa yang dicampakan" ujar ku tak terima, membuat Rere melempar pensil sembarangan dan berkacak pinggang melotot ke arah ku.
"Ini sudah jam lima sore, waktumu pulang, biarkan aku lembur seorang diri dari pada melihat mu seperti Mummi patah hati seperti ini, ini tas dan ponsel mu, lebih baik kamu pulang dan tidurlah siapa tau besok pagi kamu sudah bisa berpikir dengan normal" ujar nya sambil menyodorkan tas dan ponsel serta menarik ku berdiri dari kursi ku, aku hanya mendengus sebal sambil menuruti tarikan tangan Rere hingga aku didepan Lift.
"Kamu mengusirku? Ayolah__tak bisakah kamu membiarkan ku sedikit lebih lama disini, aku tidak ingin pulang dan hanya mematung sedirian dikamar apartemen ku yang gelap dan dingin itu" ujar ku memelas, tapi aku lupa betapa keras kepalanya Rere dia tak mengindahkan permohonanku dan malah menyeretku ke dalam lift yang telah terbuka.
"Tidak sebelum semua pikiran mu kembali ke tempat nya, aku heran bukan kah ini keputusmu untuk mengakhiri hubungan mu dengan Nicky yang kamu bilang demi kebaikan bersama, tapi kenapa yang ku lihat justru kamu menderita karena kepergian Nicky" aku hanya mengerucutkan bibir ku kala Rere terus saja menceramahiku sola ini dan ini sudah berkali-kali aku mendengarnya selama dua minggu terakhir ini.
__ADS_1
"Kamu membahasnya lagi, bukankah kamu sahabat ku? Kenapa kesanya kamu malah menyudutkan ku karena keputusan ku itu"
"Tentu saja, bukankah aku menyuruhmu untuk memikirkan dulu semuanya jangan langsung ambil keputusan untuk mengakhiri hubunganmu dengan nya, bila ujung-ujung nya kamu tak bisa terima akan keputusan mu sendiri, lagian kamu lebih percaya pada omongan orang lain dari pada pada omongan pacar mu sendiri" skak matt, omongan Rere memang benar ada nya lalu aku harus bagaimana semua sudha terlanjur terjadi dan aku tak bisa memutar ulang waktu untuk memperbaiki keadaan.
"Baiklah, baiklah__ aku akan pulang aku malas membahas masalah ini terus membuat kepala ku hampur pecah karenanya" ujar ku akhir nya, Rere hanya memandang ku tanpa minat meski aku sudah berusaha mengalah.
"Kalau begitu pulanglah, hati-hati dijalan, kalau kamu butuh liburan sebaiknya ambilah cuti beberapa hari untuk menenangkan pikiran, aku akan membereskan pekerjaan mu yang terbengkalai disini" ujar nya, aku sedikit merasa bersalah pada nya, meski begitu aku mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Terimakasih, aku tau kamu sahabat ku yang paling bisa aku andalkan" ujar ku sambil memeluknya pelan setelah nya aku berpamitan dan segera menutup pintu lift.
Aku bersandar dinding lift sambil pikiran entah menerawang kemana, tau-tau lift yang aku naiki sudah terbuka lebar tanda aku sudah sampai di loby tanpa banyak kata aku langsung keluar tanpa mengidahkan satpam yang berjaga didepan loby yang biasanya ku sapa ramah, aku mengikuti langkah kaki ku, yang entah membawa ku kemana, padahal seharusnya aku mengikuti saran Rere untuk segera pulang dan beristirahat dirumah tapi entah kenapa aku masih ingin berlama-lama diluar rumah untuk melepas penat sesaat, aku tertegun karena tau-tau aku sudah berada ditaman tak jauh dari kantor ku berada, ternyata aku berjalan cukup jauh hingga tak sadar aku sudah berada disana.
"Kikan__" panggil suara bass seorang pria yang sudah lama aku lupakan keberadaan nya, aku menoleh sesaat untuk melihat siapa gerangan yang mengusik ketenangan ku.
"Andrian?" Ujar ku terkejut, tanpa rasa canggung Andrian menghampiri ku dan duduk disamping kursi yang masih tersedia disana, membuat wajah ku yang awalnya baik-baik saja berubah masam karena kehadiranya.
"Ngapain kamu disini?" Ujarku ketus, membuat Andrian hanya tersenyum kecut karena ucapan ku.
__ADS_1
"Ternyata kamu masih saja membenciku, dan belum berniat memaafkan ku"
"Tentu saja, meski sudah lama berlalu aku tak akan pernah melupakan semua kesalahan mu, lebih baik kamu pergi dari sini karena aku sedang tidak dalam mood yang baik untuk berdebat dengan mu" ujar ku membuang wajah ku untuk kembali menatap anak kecil tadi sehingga ada sedikit rasa kecewa karena aku kehilangan sedikit hiburan yang aku dapatkan beberapa menit yang lalu.
"Maafkan aku, aku tau selama ini aku sudah sangat salah karena telah berlaku egois terhadap mu, bahkan aku sudah tak punya keberanian untuk mnagajak mu kembali bersama ku, tapi aku harap kamu mau memaafkan semua kesalahan ku, mungkin hubungan kita tak bisa diputar kembali seperti sedia kala tapi aku berharap kamu masih mau menerimaku sebagai seorang teman" ujarnya pelan, membuat ku langsung menatap lurus kearah matanya.
"Kebohongan apalagi yang mau kamu rencanakan?" Ujarku sarkatis karena aku masih belum percaya akan kata-kata nya, dia hanya tersenyum sendu mendengar jawaban ku.
"Aku tak pernah berniat untuk berbohong padamu, mungkin dulu aku sering melakukan nya, tapi tidak dengan sekarang aku sudah sadar akan besar kesalahan ku hingga membuat ku harus melepaskan perempuan sebaik kamu, aku sudah mendapatkan ganjaran setimpal atas kesalahan ku Ki, semenjak kamu memutuskan hubungan kita aku bahkan tak bisa hidup dengan baik aku seperti kehilangan arah karena kamu pergi, aku yakin aku tak akan hidup dengan tenang sebelum kamu bersedia memaafkan ku" ujar Andrian setengah memohon, aku bimbang sesaat, sebenarnya aku tak pernah menaruh dendam terhadap Andrian aku bahkan sudah melupakn semua kesalahan nya, tapi aku masih sedikit ragu akankah Andrian bersungguh-sungguh dengan ucapan nya untuk tidak mengharapkan ku kembali pada nya?.
Sekali lagi aku manarik napas dan menghembuskan nya dengan pelan berharap jawaban yang akan ku berikan membawa dampak baik dalam hidup ku atau bahkan memperburuk keadaan ku, aku memandang sekali lagi wajah Andrian yang aku yakini sedikit mengurus entah beban apa yang membuat nya seperti itu atau hanya pikiran ku saja dia seperti ini karena memikirkan ku.
"Hanya sebagai teman?" Tanyaku memastikan, dia mengernyit bingung atas pertanyaan ku tapi detik berikutnya dia mengerti arah pertanyaan ku.
"Ya hanya sebagai teman, lagipula aku sudah tak punya keberanian untuk mengajak mu balikan aku sudah menunjukan seberapa berengseknya diriku padamu, sehingga yang bisa aku harapkan adalah hanya sebagai teman tidak berharap lebih karena aku berharap kamu bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari ku yang bisa membahagiakan mu" ujarnya meyakinkan ku, setelah memantapkan hatiku aku memantapkan hatiku.
"Baiklah, aku memaafkan mu dan bersedia menjadi teman mu" ujarku tersenyum, Andrian yang mendengar jawaban ku yang awalnya sedikit peseimis akhirnya berubah dengan senyum cerah, beribu terimakasih dia ucapkan karena aku memaafkan kesalahan nya, apa salah nya memberi kesempatan kedua semua orang berhak mendapatkan kesempatan meski yang bisa kutawarkan hanyalah sebuah pertemanan.
__ADS_1
******