
Ding. Tiba-tiba terdengar pintu lift terbuka, sukses mengalihkan perhatian kami berdua. Setelah melihat ada kesempatan kabur, kutendang tulang kering Nicky dan kudorong tubuh pria itu yang menutupi tubuhku, lantas segera berlari menuju kamar. Setelah itu, aku menutup pintu dengan cepat, takut Nicky masih mengikuti. Kuintip lubang pintu, memastikan tidak ada siapa pun di luar sana. Setelahnya, aku bernapas lega.
Aku tak peduli pada keadaan Nicky yang mengaduh kesakitan atas ulahku tadi. Salah siapa suruh dia berniat memojokkanku dengan pertanyaan yang kuanggap sinting itu. Janji apa? Aku tak pernah ingat punya janji apa pun padanya. Dan, apa itu tadi? Sikapnya seperti mau memakanku hidup-hidup! Ternyata sepuluh tahun berlalu tak mengubah apa pun. Nicky ... fisiknya saja yang berubah, tetapi tidak dengan mentalnya. Untuk kali ini aku tidak akan segampang itu menyerah. Enak saja, aku bukan Kikan anak SMA yang lemah! Waktu sudah merubah karakter dalam diriku.
Setelah yakin aku sudah mengunci pintu dengan benar, aku menuju kamar, berharap berendam air hangat bisa sedikit mambantu menghilangkan penat.
Pagi harinya saat bangun tidur, kepalaku terasa berat dan pusing. Tubuhku benar-benar tak bisa diajak kompromi, tetapi aku tak bisa bolos kerja karena aku ada jadwal meeting dengan beberapa relasi penting. Jadi, aku paksakan untuk masuk kerja. Mungkin setelah meeting selesai, aku bisa izin pulang untuk istirahat, pikirku.
Aku segera mandi untuk membersihkan tubuh. Setelah rapi, aku menuju dapur karena aku belum makan apa pun dari semalam. Kuputuskan untuk membuat kopi dan memakan selembar roti tawar untuk mengganjal perut karena tak menemukan apa pun di dalam kulkas. Aku belum sempat belanja. Karena padatnya pekerjaan di kantor, aku lupa untuk belanja bulanan. Mungkin nanti sepulang kerja, pikirku lagi.
Usai sarapan aku segera mengambil berkas pekerjaanku dan segera keluar kamar. Saat mengunci kamar apartemen, aku dikagetkan dengan keberadaan Nicky yang berdiri di depan kamarku. Pria itu mengenakan pakaian formal——kemeja putih lengan panjang dan celana denim hitam——dan menenteng tas. Penampilan Nicky pagi ini benar-benar sempurna menurutku.
Ah, tunggu, apa yang kupikirkan barusan? Kenapa aku malah memuji penampilan cowok tengil ini? "Ehm ... belum kapok juga sama yang semalam? Apa perlu aku tambahin lagi?" ucapku memecah kecanggungan.
"Kamu kenapa?" tanya Nicky. Pria itu tak menghiraukan pertanyaanku dan malah melontarkan pertanyaan balik kepadaku.
"Apanya yang kenapa?" tanyaku tak paham dengan pertanyaannya.
"Muka kamu pucat. Apa kamu sakit?" tanyanya dengan nada sedikit khawatir. Saat akan menempelkan tangannya ke dahiku, aku segera menepisnya, berusaha menghindari kontak fisik dengannya.
"Bukan urusanmu. Kamu nggak usah ngikutin aku lagi. Kamu tahu, aku risih ngeliat kamu ada di mana-mana, apalagi sekarang malah satu apartemen sama kamu, benar-benar membuatku muak setengah mati!" ucapku berapi-api meluapkan segala yang ada di pikiranku. Saat aku melihat Nicky, pria itu hanya berdiri mematung setelah mendengar penuturanku.
Oke, sebenarnya aku merasa jika aku sedikit berlebihan di setiap kata-kataku, tetapi bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjur kuucapkan dan tidak bisa kutarik lagi. Setelah merasa tidak ada tanggapan dari Nicky, aku segera meninggalkan Nicky yang masih bergeming di tempatnya. Kepalaku makin berdenyut pusing, namun aku berusaha mati-matian bersikap biasa saja. Aku tidak mau Nicky tahu bahwa aku sedang sakit karena itu hanya akan memberinya kesempatan untuk makin dekat denganku.
Segera aku melangkah menuju lift. Untung saja pintu lift segera terbuka lebar. Aku segera masuk ke dalam tanpa menoleh lagi ke arah Nicky. Setelah pintu tertutup rapat, aku menyandarkan tubuhku di dinding. Kakiku makin lemas, rasanya sudah seperti jeli, sudah tak bisa menopang berat tubuhku. Kepalaku sakit tak tertahankan dan entah kenapa pandanganku tiba-tiba menjadi buram. Setelah itu, semuanya menjadi gelap.
__ADS_1
***
Samar-samar aku mendengar suara orang mengobrol tak jauh dari tempatku berada, tetapi aku tak mengenali suara siapa itu. Yang aku tahu, mereka laki-laki dan perempuan. Kubuka mata perlahan, kesadaranku belum sepenuhnya pulih. Aku mengerang tertahan karena tubuhku terasa berat dan tak bisa digerakkan. Setelah mendapatkan kesadaranku, aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Aku mengernyit. Di mana ini? Seperti dejavu, aku mengalami kejadian yang pernah kualami beberapa minggu lalu. Seketika terlintas Nicky di benakku. Sontak aku langsung bangkit duduk dan mengangkat selimut yang menutupi setengah tubuhku.
Fyuuuhhh .... Aku bernapas lega karena melihat pakaianku masih lengkap. Aku mengernyit bingung.
Pakaian siapa yang aku pakai? Seingatku, aku memakai kemeja biru muda dan rok hitam. Kenapa sekarang aku malah memakai baju longgar seperti baju rumah sakit?
Saat masih bingung dengan apa yang terjadi, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka, membuyarkan pikiranku.
"Kamu sudah sadar, Ki?" Rere melangkah mendekatiku sambil tersenyum.
"Kenapa aku bisa ada di sini?" tanyaku bingung.
"Kamu tadi pagi pingsan di dalam lift. Memangnya kamu nggak inget?" tanya Rere balik dan kujawab dengan gelengan kepala, "itu karena kamu keras kepala. Sudah kubilang, biarpun bekerja, kesehatan tetap dijaga. Kalau sampai kayak gini, siapa yang bakal kamu salahin?" Rere memandangku sendu.
"Kamu demam. Kenapa maksain buat masuk kantor? Kalau emang lagi nggak enak badan kan bisa telepon aku, biar aku yang handle kerjaan kamu. Nggak usah maksain kalau lagi nggak enak badan," ucapnya lagi, membuatku tersenyum.
"Selama aku bisa, ngapain aku nyuruh kamu handle kerjaan aku, Re. Kerjaan kamu saja sudah banyak, masa aku mau ngasih tambahan kerjaan lagi? Aku nggak mau makan gaji buta. Selama aku bisa handle, kenapa aku harus ngerepotin kamu?" ucapku tak terima disalahkan Rere. "Memangnya aku atasan yang killer, sukanya menindas anak buah? Kalau aku bisa handle sendiri, nggak perlu aku minta bantuan kamu, tapi kalau keadaan aku udah kayak gini, baru deh aku bisa ngasih kerjaanku ke kamu," ucapku sambil merebahkan tubuhku lagi di atas ranjang karena masih sedikit pusing. "By the way ... kamu kok tau aku pingsan di dalam lift? Apa kamu yang bawa aku ke sini?" Pertanyaan yang sempat menyangkut dalam benakku segera kulontarkan karena sedikit bingung.
"Yang bawa kamu ke sini bukan aku, tapi Nicky, cowok yang tinggal satu apartemen sama kamu itu. Kok kamu nggak ngasih tau aku sih, kalau dia tinggal satu apertemen sama kamu," ucapnya sedikit menginterogasiku.
"What? Nicky?" tanyaku tak percaya.
"Iya, Nicky yang katamu mantan teman SMA-mu dulu itu, ternyata dia dokter loh, di rumah sakit ini," jelasnya lagi sambil cengar-cengir."
__ADS_1
"Ye ... jangan nyalahin aku, aku sendiri baru tau semalam kalau Nicky pindah ke apertemen ku. Eh ... tunggu, apa kamu bilang tadi? Nicky dokter di rumah sakit ini?" tanyaku tak percaya.
"Iya, dia dokter di sini, dan dia sendiri yang nanganin kamu sewaktu kamu pingsan tadi. Mestinya kamu ngeliat tadi, Ki, wajahnya terlihat khawatir banget gitu, kayaknya dia ada rasa sama kamu deh. Feeling-ku tuh nggak pernah meleset," ucapnya berapi-api sambil tersenyum memandangku dan kutanggapi dengan malas.
"Berlebihan kamu, Re, nggak mungkin Nicky ada rasa sama aku. Yang ada dia masih dendam sama aku gara-gara kutendang semalam," ucapku sambil mengibas-kibaskan tanganku ke arah Rere.
Pemikiran konyol apa lagi itu? Nicky punya rasa sama aku? Sekalipun ada hujan salju di Jakarta, cowok itu nggak mungkin suka padaku!
"Tapi serius, Ki, kamu nggak lihat sih tadi tatapan dia saat kamu masih pingsan! Dia mandangin kamu kayak sedih banget gitu dan semua gerak-geriknya nggak pernah luput dari pandangan mataku," ucap Rere masih belum terima.
Aku tak menanggapi serius perkataan Rere. "Ya, ya, ya ... terserah, deh. Terus kok kamu tahu aku dibawa ke sini?" ucapku berusaha mengalihkan pembicaraan, sebab kalau diteruskan, tidak akan ada hentinya Rere membahas Nicky dan itu hanya akan membuat kepalaku makin pusing.
"Jadi tadi pas aku udah sampai kantor, kupikir kok tumben kamu belum datang, so aku inisiatif telepon kamu. Nggak tahunya yang angkat tuh Nicky. Dia bilang kamu ada di rumah sakit karena kamu kecapekan dan demam tinggi. Akhirnya aku mutusin buat datang ke tempat meeting sama Dila, terus setelahnya baru aku datang ke sini," jelasnya lagi.
"O iya, gimana hasil meeting tadi? Sukses kan?" tanyaku lagi, berharap tak mendengar protesan Rere karena aku mengalihkan pembicaraan.
"Sukseslah ... tapi untuk saat ini kamu nggak usah mikirin kerjaan dulu, biar aku saja yang handle. Kamu istirahat saja sambil memulihkan diri. Aku udah telepon mama kamu, ngabarin kalau kamu ada di sini."
Aku langsung terduduk dari tidurku dan melotot kaget ke arah Rere. "What ... kamu ngasih tau mamaku? Buat apa kamu lapor kalau aku sakit?" Aku sedikit emosi melihat ekspresi Rere yang biasa saja tanpa rasa bersalah.
"Ya ampun, Ki, santai. Lagian kalau aku nggak ngabarin mama kamu, siapa yang bakal jagain kamu di sini sementara aku kerja? Nicky tadi bilang setidaknya kamu harus bedrest selama beberapa hari buat pemulihan, jadi aku memang nggak ada pilihan lain selain hubungin mama kamu," jelasnya lagi.
"Tapi nggak usah bilang kalau aku masuk rumah sakit juga, kali .... Kan kasian mamaku kalau harus jauh-jauh datang ke sini cuma buat jagain aku. Memangnya aku anak kecil? Aku bisa ngurus diri sendiri," ucapku setengah tidak rela mendengar penuturan Rere yang harus melibatkan mamaku. Bisa-bisa mama bakal memarahiku habis-habisan kalau tahu aku diopname. Duh sahabatku yang satu ini ... nggak ngertiin aku banget, sih? Aku masih mengerucutkan bibir karena kesal dengan keputusan Rere yang seenaknya saja.
"Tapi, kenyataannya emang kamu nggak bisa urus diri sendiri. Lihat, sekarang malah sakit dan masuk rumah sakit kan? Gara-gara nggak bisa jaga pola makan. Kalau udah kayak gini, kamu bakalan kapok dan nggak bakalan lagi nyepelein kesehatan," cerocosnya lagi tanpa memedulikan wajahku yang semakin cemberut karena ulahnya.
__ADS_1
***