
Aku baru aja akan memejam kan mata, ketika mendengar bel pintu Apertemen, yang membuat ku membuka kembali mata ku yang sudah hampir terlelap. Dengan perasaan dongkol Aku menendang selimut sebagai pelampiasan, aku berjalan sambil menggerutu sebal pada siapapun yang saat ini telah lancang datang disaat jam yang menunjukan pukul Sebelas malam. Tanpa melihat dari lubang pintu, aku segera membuka pintu, dan betapa terkejut nya aku mendapati Nicky yang berdiri diambang pintu dengan wajah pucat nya.
"Kenapa kamu__" belum sempat aku menyelesaikan ucapan ku, tiba-tiba Nicky sudah mendorongku untuk masuk diikuti dirinya sambil menutup pintu dengan cepat tak lupa menguncinya, membuat ku terkejut.
Nicky langsung memeluk ku dengan begitu erat, membuat dada ku berdetak dengan kencang seperti orang linglung aku hanya berdiri menegang karena tak menyangka Nicky akan berbuat demikian.
"Apa yang__" ucap ku saat kesadaran ku kembali tapi Nicky dengan cepat memotong ucapan ku.
"Ku mohon, jangan tinggalkan aku__" ucap Nicky lirih dalam dekapan nya, aku merasakan tubuh Nicky bergetar sebelum merasakan beban tubuh Nicky semakin berat.
"Nick__"panggilku lirih aku merasakan tak ada pergerakan lagi dari nya, seketika rasa takut menjalari ku. Sekuat tenaga aku berusaha menahan beban tubuh Nicky dan melihat wajah nya.
"Oh tidak, dia pingsan?" Ucap ku lirih setengah tak percaya, aku berusaha menopang tubuh Nicky dan memapahnya menuju Sofa, karena tak memungkin kan aku membawanya masuk ke dalam kamar ku karena jarak nya cukup jauh dan aku yakin sebentar lagi aku akan ikutan pingsan karena beban tubuh Nicky yang dua kali lipatnya dari ku.
Setelah berhasil merebahkan Nicky di sofa, aku segera meraih bantal untuk Nicky, dengan sangat hati-hati aku mengangkat kepala Nicky. Karena aku tau luka jahitanya belum kering betul setelah dirasa Nicky mendapatkan posisi nyaman aku segera meninggalkan nya mengambil selimut untuk menutupi tubuh nya. Sebenarnya aku sangat tak mngerti, bagaimana bisa Nicky berada disini sekarang? Apakah dia kabur dari rumah sakit? Tapi kenapa? Beberapa pertanyaan berkecamuk didalam kepalaku karena tak bisa berpikir, lebih baik.
"Bagaimana ini, dia demam tinggi. Apa yang harus aku lakukan? Membawanya kembali ke rumah sakit atau merawat nya disini" ucap ku lebih pada diri ku sendiri, aku melihat jam dan ternyata sudah jam sebelas lebih, bagiamana aku mambawa Nicky bila sudah selarut ini.
Aku memutuskan merawat nya, mungkin aku akan mengantarkan nya kembali ke rumah sakit keesikan hari nya. Segera aku mengambil ember dan juga handuk lalu mengambil air untuk mengompres Nicku, aku memperhatikan wajah Nicky ada gurat kelelahan dan kesedihan disana. Sebenarnya apa yang terjadi pada nya? Aku tak bisa menebak isi kepala nya, bukan kah dia bersikap ketus pada ku beberapa jam yang lalu? Tapi kenapa sekarang dia kemari dan seolah-olah bersikap sangat khawatir pada ku?. Beberapa kali aku mengganti handuk yang aku gunakan untuk mengompres kening Nicky sampai aku kelelahan dan tanpa sadar tertidur dengan posisi bersandar dipinggung sofa.
💋💋💋💋
Pagi hari nya aku terbangun dengan posisi yang tdak nyaman, karena kaki ku menekuk sewaktu tidur. Aku langsung melihat jam menggantung didinding melihat ternyata hari sudah cukup siang untu ku bersiap-siap berangkat ke kantor. Demi tuhan aku baru tidur jam 04.30 pagi tadi, Seperti baru tersadar aku segera menoleh kearah Nicky dan memeriksa apakah Nicky masih dalam keadaan demam, helaan napas ku cukup membuat aku lega demam Nicky sudah turun dan aku segera beranjak ke kamar untuk mengambil handpone ku.
__ADS_1
Aku berpikir memanggil Ambulance sebelum menelpon Rere, dan mengabarkan aku tak bisa masuk kerja hari ini. Tapi sepertinya aku harus menelpon Rere terlebih dahulu, karena aku melihat ada Tiga belas panggilan dan semua nya dari Rere.
Aku mencari-cari alasan terlebih dahulu sebelum menekan tombol calling untuk menghubungi Rere, dalam deringan ke dua, Rere langsung mengangkat telephone ku.
"Demi tuhan Ki, kemana saja kamu? Aku menghubungimu berkali-kali tapi tak ada jawaban sama sekali" ucap Rere panjang lebar sebelum aku sempat berbicara apapun.
"Re Sorry__, aku lagi diare, jadi dari tadi aku mondar- mandir ke kamar mandi. Dan aku tak tau kamu sudah menghubungi ku karena aku belum melihan ponsel ku sedari tadi" aku menggigit bibir ku, berharap alasan yangvaku pakai akan membuat Rere percaya. Demi tuhan aku tak mau jujur telah memasukan laki-laki asing ke dalam Apartemen ku.
"Kamu sakit? Perlu aku bawakan sesuatu untuk mu?" Tanyanya dengan nada hawatir, membuat ku membuang napas dengan lega karena ternyata Rere percaya dengan ucapan ku.
"Ti,tidak perlu, aku sudah meminum obat. Dan persediaan makanan dikulkas juga masih ada, jadi lebih baik kamu lanjutkan kerja mu, aku minta maaf karena tak bisa masuk hari ini" ucap ku was-was mendengar Rere akan kemari, bisa berabe kalau masih ada Nicky disini.
"Ya sudah, nanti sepulang kerja akan aku sempatkan waktu untuk mampir.
"Ki__" suara serak has orang bangun tidur, membuat ku terkejut dan segera berbalik seketika mendapati keberadaan Nicky yang sudah masuk ke dalam kamar ku, tak menduga keberadaan kami didalam kamar yang hanya berduaan membuat ku gugup seketika.
"A,apa yang kamu lakukan disini?" Ucap ku tanpa sadar tergagap.
"Aku mencari mu, takut kamu meninggalkan ku" ucap nya tanpa basa-basi membuat pipi ku bersemu merah karena malu, demi tuhan aku gugup setengah mati ditatap intens oleh Nicky seperti ini.
"Ehm__, aku ingin menanyakan sesuatu pada mu. Tapi bisakah kita keluar dari sini terlebih dahulu, ini membuat ku sedikit tak nyaman" ucap ku berterus terang, seperti tersadar akan posisi kami berdua Nicky segera keluar dari kamar dan aku mengikuti nya dari belakang.
"Kenapa kamu kemari? Bukan kah keadaan mu belum sepenuhnya membaik?" Cecar ku saat kami sudah duduk berhadapan di meja makan.
__ADS_1
"Maaf kan aku, mungkin sikap ku beberapa hari ini membuat mu bingung, tapi asal kamu tau aku melakukan semua itu karena aku takut menyakitimu" ucap Nicky tanpa menjawab pertanyaan ku dia amlah mengatakan hal yang diluar dugaan ku.
"Apa maksud mu? Jangan berbelit-belit bila ingin menjelaskan" ucap ku penasaran sekaligus sebal saat mengingat perlakuan nya dirumah sakit. Karena aku merasa Nicky seperti sedang menarik ulur hati ku, dia meraih tangan ku dengan salah satu tangan nya yang tak di perban, membuat dadaku berdentum dengan kerasnya karena gugup.
"Ki, sebenarnya sudah lama aku menyukai mu, lebih tepatnya mencintai mu, maaf kan aku tak mengatakan ini sebelum nya. Tapi aku bersungguh-sungguh dengan ucapan ku" lidah ku kelu, tak tau harus berkata apa, ada rasa haru dan juga bahagia saat tau bahwa perasaan ku tak bertepuk sebelah tangan, tapi ada rasa ragu saat aku mengingat semua perlakuan nya beberapa hari ini.
"Ehm__ apa kamu serius dengan ucapan mu?" Ucap ku masih setangah tak yakin dengan ungkapan perasaan Nicky. Aku merutuki kebodohan Nicky karena tak Romantis sama sekali bagaimana bisa dia menyatakan perasaan dalam keadaan bangun tidur, belum mencuci muka apalagi menggosok gigi, Aku tak bisa membayangkan wajah ku saat ini seperti apa?.
"Apakah aku seperti bercanda Ki? Dalam keadaan sakit aku memaksa keadaan ku datang kemari bahkan aku sengaja kabur dari rumah sakit karena aku takut, takut bila aku datang terlambat sedikit saja kamu akan menghilang dari hidup ku. Banyak yang aku korbankan untuk berada disini Ki" tanpa aku duga Nicky bangkit dari duduk nya dan mengitari meja lalu berdiri disamping ku membuat ku terkejut bukan main karena setelahnya Nicky menjatuhkan lutut nya untuk mensejajarkan tinggi nya aku menatap nya dengan rasa penasaran apa yang akan dilakukan Nicky selanjutnya.
"Sejak kapan?" Tanya ku akhir nya, karena penasaran.
"Aku sudah memperhatikan mu saat awal masuk MOS" jawab nya membuat mataku melotot dengan sempurna, selama itu? Batin ku berujar. Sebelum Nicky kembali melanjutkan ceritanya.
"Saat itu Aku melihat mu membela teman yang kebetulan satu kelompok dengan mu, dia lupa membawa salah satu atribut yang sudah ditetapkan oleh pengurus OSIS, bahkan semua orang berharap tak mendapatkan hukuman. Tapi berbeda dengan mu, kamu rela dihukum agar teman mu tak sendirian saat dihukum, meski terik panas, kamu masih tetap bisa tersenyum dan besikap seolah-olah hukumaan dari anggota OSIS, bukan apa-apa untuk mu. Dari situ aku mulai memperhatikan mu, sengaja mencari gara-gara agar kamu selalu melihat pada ku. Aku bukan cowok yang berpengalaman dalam hal mendekati wanita, maka dari itu maaf kan aku, bila cara ku mungkin agak kurang Romantis dibanding dengan pria-pria lain yang mendekati mu" ucap Nicky dengan mata menatap lurus ke manik mata ku, jujur aku tak menyangka Nicky sudah menaruh rasa pada ku lama sejak kami masuk SMA, ada rasa haru ketika mendengar Nicky mengungkap kan semua nya.
Tanpa sadar mata ku sudah berkaca-kaca, aku telah salah menilai Nicky selama ini, aku kira dia sangat membenciku hingga sering kali mengganggu ku, tapi detik ini aku tau kalau ternyata dia tak seburuk yang aku kira.
"Lalu kenapa kamu bersikap ketus waktu kamu masuk rumah sakit? Apakah itu sikap seseorang pria yang menyukai wanita?" Aku masih belum puas dengan penjelasan Nicky sehingga aku harus menanyakan, sejelas-jelas nya sebeleum aku mengambil keputusan.
"Maaf kan aku, itu semua karena Amanda, dia mengancam ku akan menyakitimu. sehingga aku terpaksa menuruti keamuan nya untuk menjauhi mu. Melihat dia begitu terobsesi pada ku, membuat ku takut dia akan berbuat hal yang tak terduga" hati ku terenyuh mendengar penejelasan nya, aku mengerti sekarang. Dia begitu melindungiku membuat hati ku menghangat, aku segera berdiri menarik dia untuk berdiri dengan hati-hati karena takut menyakiti nya, aku memandang wajah Nicky, dia telah banyak berkornmban selama ini. Bodoh bila aku akan menolah pria seperti dirinya, meski aku baru menyadari perasaan ku saat ini.
"Terimakasih__" ucap ku sebelum memeluk Nicky, aku menangis didalam dekapan nya, tangis bahagia karena tuhan dengan baik hati nya menghadirkan pria seperti Nicky didalam hidup ku, Terimakasih atas cinta yang begitu besar untuk ku, meski di awal aku sempat salah paham atas semua sikap nya, tapi aku besyukur setidaknya Nicky sudah meluruskan segala nya.
__ADS_1