Shocking love

Shocking love
O


__ADS_3

Aku memasuki kantor tepat pukul 09:00 AM hari ini penampilan ku cukup berbeda dari biasanya, karena tak biasanya aku memakai kaca mata hitam, karena aku harus menyamarkan mata bengkak ku, sehingga aku harus mengenakan kaca mata agar tidak terlihat. Aku yang biasanya suka berbasa-basi dengan teman sekantor, tidak dengan hari ini, Mood ku sedang tidak memungkinkan untuk beramah tamah dengan orang. Sehingga aku memutuskan untuk langsung memasuki ruangan ku, membuat Rere yang duduk dikubikel nya mengernyit bingung atas sikap ku pagi ini.


"Tumben pakai kacamata? Lagi bintitan ya?" Canda Rere, membuat ku mendengus dengan keras.


"Nggak kenapa-napa, lagi pengen aja" ucap ku masih berusaha bersikap biasa aja.


"Kalau nggak kenapa-napa, kenapa nggak dilepas? Udah diruangan gini, ngak gelap apa" ucap Rere ngedumel, membuat ku merutuki kebodohan ku karena aku melupakan Rere tipe orang yang tak mudah untuk dibohongi. Dia tipikal orang dengan kewaspadaan yang tinggi, sehingga membuat ku percuma saja bila membohonginya.


Dengan pasrah aku membuka kaca mata ku, aku masih menunduk tak berani manatap wajah Rere, aku menunggu reaksi Rere saat melihat kedua mataku yang bengkak menyerupai bola kasti, tapi sepersekian detik tak ku dengar suara Rere yang meledeki ku membuat ku dengan takut-takut menatap ke arah Rere yang berdiri tepat didepan meja kerja ku sambil bersidekap.


"Jadi__ apa yang membuat mu hingga seperti ini?" Ucap Rere to the point menatap datar ke arah ku membuat ku menarik napas dan menghembuskan nya dengan kasar, tak tau harus memulai cerita dari mana.


"Aku bertemu dengan Nicky semalam__" ucap ku menggantung, menunggu reaksi Rere yang hanya menanggapi ucapan ku dengan.l sebelah alis terangkat "Dia tengah berciuman didepan mata ku" lanjut ku akhirnya, sepersekian detik hati ku kembali merasakan nyeri dan mata ku kembali memanas.


Dan mengalirlah cerita dari ku, Aku menceritakan kejadian semalam dengan isakan kecil yang keluar dari mulut ku. Rere yang tau aku tak sedang dalam mood yang baik hanya menanggapi ceritaku dengan diam sesekali mengelus pundak ku memberi dukungan.


"Jadi intinya kamu sakit hati, melihat Nicky ciuman sama cewek lain?" Ucap Rere akhirnya saat aku sudah mengakhiri cerita ku dan sibuk tengah menghapus air mata ku yang nggak gau malu nya kembali menetes.


"Aku sendiri juga bingung, kenapa juga aku harus menangisi nya, saat dia sudah pergi dari hidup ku dan tak menganggu ku lagi" ucap ku berterus terang, ya harusnya aku senang dan bahagia hidupku bakalan tak akan ada gangguan lagi. Tapi nggak tau entah kenapa, saat melihat Nicky tengah berciuman dengan perempuan lain, membuat hati nuraniku merasakan perasaan tak rela.


"Kamu sadar sadar nggak sih Ki, kalau sebenarnya kamu itu ada suatu perasaan sama Nicky. Tapi entah kenapa, kamu selalu berusaha menyangkal nya, bukan kah kamu sendiri yang meminta Nicky untuk menjauhi kamu, tak mengganggu kamu lagi, trus sekarang saat Nicky tiba-tiba udah deket sama cewek lain, kenapa kamu merasakan perasaan tak rela?"


Aku hanya terdiam merenungi perkataan Rere, ya, benar bukan kah ini kemauan ku sendiri membuat Nicky menjauhi ku, lalu kenapa aku harus merasakan perasaan tak rela? Suka? Benar kah aku mulai suka terhadap Nicky? Aku menggeleng pelan berushaa menepis pikiran konyol ku.


"Yang perlu kamu lakukan, hanya berusaha jujur terhadap perasaan mu sendiri, jangan membesarkan Ego. Kamu itu sudah Dua puluh delapan tahun, nggak ada istilah besarin Ego kayak anak remaja gitu. Dan aku melihat si Nicky sebenarnya ada rasa sama kamu dilihat dari tatapan mata nya terhadap mu, tapi, karena kamu nya yang bebel Nicky mungkin saja sudah menyerah akan perasaan nya. Dengar ya ki, cowok itu nggak suka ribet, nggak kayak cewek, yang harus Jaim bila didepan cowok yang dia suka. Dan cowok itu nggak suka nunggu, bila dirasa mereka suka sama cewek ya udah langsung aja dideketin, tapi kalau tipikal cewek yang dideketin kayak loe gini aku rasa bakalan susah" ucap Rere panjang lebar membuat ku mengernyit kan dahi karena bingung.

__ADS_1


"Susah gimana maksud mu?"


"Ya iyalah susah, loe itu encernya kalau dalam masalah pekerjaan doang, gua akuin otak loe benar-benar berlian bisa ngluarin ide-ide yang tak terduga, tapi kalau masalah percintaan, gini nih" ucap Rere sambil mengarah kan jempolnya kebawah pertanda aku payah.


"Masih belum nyadar juga loe? Sekarang loe mikir deh Ki, saat loe putus sama Andrian reaksi loe bisa sampai kayak gini nggak?" Tanyanya dan aku menggelengkan kepala sebagai jawaban, Aku memang sakit hati saat mengetahuin Andrian selingkuh dibelakang ku tapi cuma sekedar itu, tak kurasakan perasaan sakit yang benar-benar hingga pengen guling-guling karena merasakan rasa sakit dihati.


"Nah, tu loe ingat sendiri, trus waktu Loe lihat Nicky ciuman sama cewek lain, kenapa reaksi loe malah kayak gini padahal loe nggak ada hubungan apapun sama Nicky, itu pertanda bahwa kehadiran Nicky pelan-pelan sudah masuk dalam otak dan hati mu"


"Aku juga nggak tau Re, yang aku tau cuma ada perasaan tak rela saat tau Nicky deket sama cewek lain"


"Kenapa sih Loe nggak mau jujur kalau loe suka sama Nicky, kenapa loe lebih suka belibet nggak jelas kayak gini. yang ada sekarang loe nyesel sendiri kan si Nicky udah berpaling" ya aku memang sudah menceritakan segala nya sama Rere, masalah perjanjian waktu itu perjanjian yang menyuruh Nicky untuk tidak mengganggu ku lagi setelah aku memenuhi permintaan untuk datang bersama dipesta ulang tahun Rumah sakit.


"Sudah lah Re, aku tak mau membahas itu lagi sekarang, lagi pula kalaupun aku mau jujur sudah terlambat bagi ku, dia sudah ada yang lain, dan mungkin memang lebih baik begini. Setidak nya aku sudah tau perasaan ku menaruh hati pada Nicky, cukup semalam saja aku menangisi nya. Tidak akan ada lagi acara tangis menangis lagi nanti nya" ucap ku berusaha menguatkan diri, ya mungkin ucapan Rere memang benar ada nya, dan aku tak akan mengulangi kebodohan ku karena mengharapkan sesuatu yang sudah jelan-jelas tak akan pernah terjadi didalam hidup ku.


Sepulang dari kantor aku segera pulang menuju Apertemen, saat berhenti dilampu merah, aku melihat seorang anak kecil seusia Theo yang bergandengan tangan dengan ayah dan ibu nya, membuatku teringat dengan Theo, sehingga aku langsung memutar arah menuju kediaman Kak Roby, selama ini aku cukup jarang berkunjung ke kediaman Kak Roby, bukan tanpa alasan aku seperti ini. Tapi karena kesibuakn ku dalam bekerja lah yang membuat ku tak punya waktu untuk berkumpul bersama keluarga, tapi untuk kali ini aku hanya ingin menenangkan pikiran, dengan berkunjung ke tempat Keponakan ku, sudah lama juga aku tak bertemu dengan bocah menggemaskan itu.


Aku mematikan mesin mobil ku dan menarik kaca untuk melihat mata ku yang sudah tak sebengkak tadi pagi, tadi Rere dengan baik hati membantu mengompres mata ku, sehingga bisa memudarkan bengkak dimata ku, setelah aku rasa penampilan ku cukup memuaskan, aku segera turun dari mobil, baru saja aku memasuki teras rumah Kak Roby, aku mendengar Rengekan Theo yang menolak untuk disuapi makan Bunda nya, aku tersenyum lebar sebelum membuka pintu dan mendapati Theo sedang berlarian menghindari Bunda nya.


"Aunty__" teriak Theo ketika melihat kedatangan ku, diikuti langkah lebar dan segera menghampiri keberadaan ku yang masih diambang pintu.


"Duh keponakan Aunty kenapa lari-lari?" Ucap ku sambil menunduk mensejajarkan tinggi ku dnegan Theo,


Dia memanyunkan Bibir nya lucu sambil menutup mulut nya.


"Theo nggak mau makan, ty, tapi Bunda maksa terus" ucap nya manja sambil memeluk leherku dengan erat, aku tersenyum ramah ke arah Mbak Disa yang menghampiri ku dnegan piring ditangan nya.

__ADS_1


"Ck, giamana mau jadi jagoan? Kalau makan aja susah, Theo mau cepat besar kan, biar bisa kayak Ayah yang pinter main sepak bola?" ucap ku membujuk, dan ditanggapi dengan anggukan mantap dari Theo, dia segera mengurai pelukan nya dan memandang wajah ku lekat.


"Tapi Theo nggak mau woltel Ty" ucap nya cadel membuat ku tertawa dengan gemas sambil mencubit pipi nya yang gembul.


"Ya udah, kalau gitu biar Aunty yang nyuapin ya, Aunty bakal sisihin wortel nya" ucap ku berusaha bersabar menghadapi Theo, Mbak Disa hanya tersenyum melihat interaksi ku dengan Theo, aku segera meraih piring ditangan Mbak Disa dan menggiring Theo menuju sofa.


"Loh, tumben kamu main kesini dhek?" Ucap Kak Robi saat baru menyadari keberadaan ku diruang tamu nya, ia segera duduk menghampiri ku yang sedang asik menyuapi Theo.


"Ia nih, lagi kangen sama ponakan Aunty yang ganteng ini" ucap ku sambil mencubit pipi gembil Theo membuat bocah berusia tiga tahun tersenyum kearah ku.


"Kamu udah makan Dhek? Mbak siapain makan ya" ucap Mbak Disa saat akan beranjak dari tempat duduknya.


"Nggak usah mbak, nanti saja biar aku ambil sendiri, kayak sama tamu aja disiapin segala" ucap ku nggak enak hati.


"Nggak papa, kamu pasti capek baru pulang kerja langsung ke sini" ucap nya beranjak dari duduk nya, setelahnya langsung melenggang pergi, Kak Robi memang ku yang masih menyuapi Theo.


"Nggak biasa-biasa nya kamu datang tanpa dipaksa, biasa nya juga kalau nggak diancam dulu baru mau datang" ucap Kak roby menyindir ku, membuat ku hanya bisa nyengir tanpa bersalah.


"Kamu itu Mas, adhek nya main kesini kok malah diledekin aja, bukan nya malah seneng" ucap Mbak Disa datang dari arah dapur dan langsung duduk disamping Theo yang masih saja menempeli ku seperti anak koala.


Ada rasa iri yang merayapi hati ku ketika melihat keharmonisan keluarga Kakak ku, bahkan tak pernah sekalipun aku melihat Kakak ku bertengkar dengan Mbak Disa, hingga membuat Mbak disa menangis mereka saling kasih dan mengasihi.


Bisakah suatu hari nanti, aku memiliki keluaga seperti ini? Bahagia, tanpa beban dan sepertinya harapan ku masih jauh untuk bisa berbahagia, karena dia yang aku harapakan adalah sebuah ketidak mungkinan dari kemungkinan yang ada, dan ketidak mungkinan itu, tidak akan pernah berubah, baik hari ini atau dikemudian hari maka dari itu aku tak mau membuang-buang waktu untuk sesuatu yang memang tidak memungkinkan untuk ku.


******

__ADS_1


__ADS_2