Simpanan Tuan Muda Alvaro

Simpanan Tuan Muda Alvaro
Bab 14_Bukan Sekedar Mimpi


__ADS_3

Setelah lumayan panjang Alina bercerita kepada Alvaro tentang kehidupanya setelah kematian ibunya saat ini gadis itu tengah tertidur di pelukan Alvaro,sepertinya Alina sangat capek bercerita atau caoek menangis.


Alvaro yang mendengar nafas halus Alina yang terdengar di dadanya pun tersenyu manis karena ternyata Alina saat ini sudah tertidur di pelukanya.Dengan perlahan Alvaro mengangkat tubuh Alina dan membawa Alina menuju ruangan yang berada di pojok ruang kerjanya,ruangan yang tertutup oleh rak buku dengan buku yang tersusun rapi di raknya.


Ruangan itu adalah ruangan yang biasanya di gunakan oleh Alvaro untuk beristirahat sejenak di kala pekerjaannya yang menumpuk.Ruangan itu juga termasuk ruangan rahasia karena hanya Alvaro saja yang mengetahui,bahkan Reno sang asisten pribadinya saja tidak tau.Namun sepertinya mulai saat ini ruangan rahasia ini akan di ketahui oleh Alina juga,dan Alvaro tidak mempermasalahkannya karena Alina adalah orang nomor satu bagi Alvaro jadi tidak masalah bukan.


Saat sudah memasuki ruangan tersebut Alvaro menuju ke arah kasur king sizenya,dengan perlahan ia meletakan Alina yang masih tertidur pukas ke kasur tersebut.


Alina tertidur dengan sangat pulas hingga tidak menyadari saat ini dirinya sedang di pandang secara intens oleh Alvaro.


"Rose saat ini kamu adalah tujuan hidupku yang utama,walau aku harus menentang keluargaku sekalipun akan aku lakukan demi dirimu.Rasa cintaku terhadap kamu mengalahkan rasa cinta ku kepada keluargaku sayang.Akan aku jaga kamu selama aku masih bisa bernafas."guman Alvaro dengan sorot mata yang tajam namun perasaan yang hanga menjalar di hatinya karena memandang wajah polos Alina yang sangat cantik walau tertidur sekalipun.


Cukup lama Alvaro memandang wajah Alina yang saat ini tengah tertidur pulas dengan raut muka polos yang membuat Alvaro tidak bosan untuk memandang dirinya.Rasanya Alvaro ingin memiliki Alina untuk dirinya sendiri tidak akan ia biarkan Alina dilihat oleh orang lain sekalipun.Namun itu adalah hal yang mustahil karena Alina pasti tidak akan mau jika ia mengurung Alina hanya untuk dirinya sendiri.


Kegiatan Alvaro yang sedari tadi memandang Aera harus buyar tak kala ia mendengar bunyi panggilan telepon dari saku celananya.Karena tidak mau menganggu Alina yang tengah tertidur pulas,Alvaro beranjak menjauh dari kasur dan mengangkat panggilan dari pojok ruangan yang terdapat kaca besar,yang membuat kita bisa melihat kegiatan di luar perusahaan.


Segera Alvaro angkat panggilan tersebut,karena sedari tadi tidak henti-hentinya berbunyi.


"Hallo tuan"sapa seseorang di seberang sana yang ternyata adalah Reno.


"Hmm ada apa Ren?"tanya Alvaro saat mendengar sapaan dari asistennya di seberang sana.


"Maaf menganggu waktu anda tuan,saya hanya ingin menginformasikan bahwa tuan Aldero pemilik perusahaan Vendera Group telah sampai di perusahaan untuk membahas kerja sama kita"


"Hmm baiklah kalau begitu kau temani dahulu beliau sampai aku datang"perintah Alvaro.


"Baik tuan muda saya akan menemani tuan Aldero dahulu"


"Hmm"jawab Alvaro sambil mematikan panggilan secara sepihak,karena waktunya tidak banyak.

__ADS_1


Setelah mematikan telepon Alvaro segera melangkah ke kasur sizenya untuk melihat Alina,dan nampak Alina masih tertidur pulas tanpa terusik apapun.


"Hmm sayang aku pergi dahulu ya untuk meeting,aku janji tidak akan lama.Setelah selesai meeting maka aku akan kembali kemari,jaga dirimu baik-baik"guman Alvaro di sertai kecupan di kening Alina.Alvaro juga membenarkan letak selimut Alina yang sudah melorot.


Kemudian Alvaro beranjak keluar dari ruangan rahasia itu untuk segera melakukan meeting dengan tuan Aldero,walau sebenarnya ia masih ingin bersama Alina.Namun meeting ini juga lumayan penting dan tidak bisa di batalkan secara mendadak apalagi tuan Aldero telah sampai di perusahaannya.


Tak lupa Alvaro juga membawa berkas kerja sama yang akan di bahas saat ini,untungnya tadi Alvaro sudah sempat menganalisis sebentar berkas itu jadi ia saat ini tidak harus menganalisinya yang membuat tuan Aldero menunggu lama.


Alvaro beranjak keluar dari ruangan miliknya dan berjalan menuju ke arah ruang meeting yang berada satu lantai di bawah ruang kerja miliknya.


Ceklek.


"Selamat siang tuan muda Alvaro"sambut seorang pria paruh baya saat Alvaro memasuki ruang meeting.Di dalam ruang meeting terdapat tuan Aldero dan seketarisnya,ada juga Reno dan beberapa kepala divisi di perusahaan Alvaro yang akan terlibat dalam meeting ini.


"Selamat siang juga tuan Aldero"balas Alvaro sang tuan muda yang akan selalu bersikap dingin serta cuek jika bersama orang lain kecuali dengan Alina.


"Apakah meetingnya bisa di mulai sekarang tuan Aldero,karena saat ini saya sedang banyak pekerjaan"ucap Alvaro tanpa sungkan,karena itulah sifatnya yang tidak suka berbasa-basi,apalagi dirinya sudah tidak sabar bersama Alina.


Seketaris tuan Aldero mulai memulai presentasinya dengan jelas tanpa dan secara rinci yang membuat Alvaro puas dengan presentasinya.Setelah beberapa saat seketaris tersebut mengakhiri presentasinya dan menunduk hormat.


"Sekian presentasi dari perusahaan kami tuan,saya harap anda puas dengan poin-poin yang kami bacakan"ucap seketaris tuan Aldero saat sudah menyelesaikan presentasinya.


"Ya,jujur saya lumayan puas dengan apa yang anda sampaikan.Nanti akan saya tambahkan poin-poin penting agar lebih sempurna dan saya harap proyek pembangunan vila-vila ini akan berjalan dengan lancar dalam kurun waktu lima bulan karena akan sangat pas dengan cuaca di amerika saat itu karena banyaknya wisatawan akan mengunjungi daerah tersebut pada musim itu dan keuntungan kita akan sangat banyak jika mampu menyelesaikan dalam kurun waktu lima bulan"jelas Alvaro dengan singkat dan jelas yang mampu membuat semua orang di dalam ruangan tersebut kagum dengan sang CEO muda ini,karena sangatlah pintar dan cerdas dalam memimpin perusahaan.Walau penyampaian Alvaro terkesan dingin namun malah membuat orang di dalam ruangan itu semakin segan terhadap tuan muda Dirgantara ini.


"Kami akan mengusahakanya tuan,dan terima kasih atas kerja sama yang anda tawarkan kepada perusahaan kami"jawab tuan Aldero dengan senyum mengembang di wajahnya karena puas bisa bekerja sama dengan perusahan Dirgantra Group.


"Ya,kalau begitu saya permisi dahulu tuan"pamit Alvaro karena sudah tidak sabar betemu dengan Alina,apakah gadis itu masih tidur atau sudah bangun.


"Silahkan tuan muda"

__ADS_1


"Ren,kau bisa antarkan tuan Aldero sampai loby peruasahaan"perintah Alvaro kepada Reno yang sedari tadi berada di sampingnya.


"Baik tuan"jawab Reno.


Setelah itu Alvaro melangkah dengan cepat meninggalkan ruang meeting dan menuju ruangannya untuk segera bertemu dengan Alina.Namun saat dirinya akan membuka pintu ruangan rahasianya ia malam resah karena mendengar suara tangisan seseorang yang Alvaro yakini itu adalah Alina.


Dengan cepat Alvaro membuka pintu tersebut dan berlari menghampiri Alina yang menangis sesegukan di atas ranjang miliknya.


"Hey sayang kamu kenapa menangis?"tanya Alvaro panikĀ  sambil membawa Alina ke dalam pelukannya.


"Apakah ini benar kamu Al?"tanya Alina sembari kepalanya mengadah ke atas untuk melihat Alvaro.


"Tentu saja ini aku Rose,sekarang jawab pertanyaanku kenapa kamu menangis.Apakah terjadi sesuatu dengan dirimu?"tanya Alvaro kembali.


"Hiks hiks aku hanya takut tadi hanya sekedar mimpi"ucap Alina masih sesegukan karena saat dirinya bangum tidak ada Alina di sampingnya.


"Hey lihat dan sentuh aku"perintah Alvaro sembari membawa tangan Alina ke wajahnya.


"Apakah kamu merasakannya?"tanya Alvaro dan hanya di balas angukan pelan oleh Alina.


"Jadi Rose,ini bukan sekedar mimpi tapi nyata sayang.Al telah kembali untuk bersama Rose"ucap Alvaro sembari menenangkan Alina yang masih sesegukan.


"Jangan tinggalin aku lagi Al,aku takut sendiri di sini"guman pelan Alina tapi mampu di dengar oleh Alvaro.


"Hmm iya sayang,maaf tadi aku ada meeting sebentar"jawab Alvaro.


"Baiklah aku maafkan,tapi aku ingin memelukmu sampai nanti Al"jawab Alina dengan mengeratkan pelukanya kepada Alvaro.


"Baiklah tuan putri"jawab Alvaro sambil menidurkan Alina di ranjang dan membawa Alina ke pelukanya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2