
"Bagiamana keadaan bunda saya dok"
"Bagaimana keadaan istri saya"
"Bagaimana keadaan menantu saya"
Beberapa lontaran pertanyaan terus menerus mengiringi keluarnya dokter dari dalam ruang UGD yang menangani Bunda Alvaro.
"Mohon tenang semuanya, saya akan membicarakan hal ini dengan tuan Steven selaku suami dari nyonya Nilam karena hal yang ingin saya sampaikan sangatlah penting" ungkap dokter Kendric, dokter pribadi keluarga Dirgantara yang umurnya hampir sama dengan Alvaro.
"Apa saya tidak boleh ikut dokter Kendric?" tanya Alvaro dengan raut muka yang datar, namun di dalam hatinya Alvaro sangat berharap di izinkan boleh mendengar penjelasan dari dokter Kendric lantaran dirinya sangat khawatir dengan kondisi bunda Nilam.
"Mohon maaf tuan Varo, kali ini saya hanya menjelaskan dengan tuan Steven selaku suami dari nyonya Nilam" tolak tuan Kendric dengan halus, mau bagaimanpun dirinya juga cukup takut dengan Alvaro lantaran rumor yang beredar jika Alvaro sangatlah kejam dan dirinya pun pernah menjadi saksinya.
"Baiklah kalau begiru dok, silahkan anda berbicara dengan ayah saya terkait kondisi bunda saya, namun kalau ada hal yang sangat penting tolong bilang saja kepada saya" putus Alvaro yang mengalah lantaran lebih baik seperti itu, Alvaro juga paham prosedur dalam bidang kesehatan.
"Baik terima kasih atas kesetujuan anda tuan Alvaro, kalau begitu mari tuan Steven ke ruangan saya untuk membahas keadaan nyonya Nilam" seru dokter Kendric sambil mengajak tuan Steven untuk ke ruanganya.
"Baik dok" ucap tuan Steven sambil mengikuti langkah dokter Kendric menuju ke ruanganya.
Setelah melihat tuan Steven dan dokter Kendric meninggalkan tempat itu, Alvaro langsung beranjak ke pojok ruangan dan duduk sambil menyandarkan punggungnya ke tembok, tanpa menghiraukan kakek,nenek dan istrinya.
Saat ini pikiran Alvaro di hantui rasa khawatir dengan kondisi bundanya, Alvaro sangatlah takut kalau ada masalah serius dengan bundanya.
"Semoga bunda baik-baik saja" guman Alvaro dengan pelan.
Kemudian Alvaro mengambil handphonenya dan menghubungi Alina agar Alina tidak khawatir dengan dirinya serta Alina tidak kecewa dengan dirinya lantaran meninggakan Alina sendirian tadi tanpa mendengar kelanjutan ungkapan Alina tentang kejujuran.
Alvaro dengan berani menghubungi mantan kekasihnya di saat ada kakek, nenek bahkan istrinya yang masih berada di sekitar Alvaro walau jaraknya masih lumayan jauh. Mungkin saja mereka paham kalau saat ini Alvaro sedang tidak ingin di ganggu serta tadi mereka juga terlibat perselisihan lantaran bibi dan paman Alvaro yang tidak memilki perasaan itu tidak ada rasa prihatin dengan keadaan bunda Alvaro.
Tut.tut.tut …
"Hallo Al" jawab Alina dengan suara yang terdengar begitu serak.
__ADS_1
"Rose, apa kamu menangis?" tanya Alvaro dengan sangat khawatir lantaran dirinya mendegar suara Alina yang serak.
"Enggak Al, aku habis membersihkan ruangan jadi kena debu deh jadi serak" jawab Alina di seberang sana yang tentu saja berbohong.
"Beneran Rose" seru Alvaro yang tidak percaya begitu saja dengan ucapan Alina.
"Iya Al, masa aku bohong sih" jawab Alina di seberang sana dengan ucapan yang berusaha menyakinkan Alvaro.
"Hmm baiklah aku percaya, Rose aku minta maaf sama kamh tadi langsung ninggalin kamu begitu saja tanpa kejelasan yang jelas" ungkap Alvaro dengan perasaan yang sangat bersalah kepada Alina.
"Iya nggak papa Al, tapi kalau boleh tau kamu kenapa kok tiba-tiba pergi sih tadi?" tanya Alina yang memang sejak tadi sangat penasaran.
"Aku tadi khawatir dengan kondisi bunda aku Rose, aku mendapat kabar kalau bunda pingsan di taman" ungkap Alvaro dengan jujur tanpa menutup-nutupi kejadian yang sebenarnya terhadap Alina.
"Astaga, terus keadaan bunda kamu sekarang gimana Al?" tanya Alina dengan perasaan khawatir, perasaan kesal terhadap Alvaro seketika lenyap tak kala mendengar penjelasan Alvaro yang terdengar menyedihkan.
"Belum tahu Rose, ini aku masih menunggu kabar terkait kondisi bunda"
"Baiklah semoga bunda kamu baik-baik saja Al, kamu jangan sedih-sedih terus ya Al pokoknya harus terus semangat biar bunda kamu juga cepat sembuh" seru Alina memberi semangat kepada Alvaro.
"Iya, oh ya kamu hari ini nggak ke kantor kan?" tanya Alina memastikan kalau Alvaro ke kantor atau tidak lantaran ia sangat membutuhkan kepastian Alvaro untuk menghubungi kolega bisnis yang hari ini ada janjian meeting dengan Alvaro.
"Kayaknya tidak dulu Rose, aku akan memastikan keadaan bunda dulu" putus Alvaro dengan tegas, lantaran kondisi bundanya tetap nomor satu.
"Baiklah Al, em Al_"
"Varo"
Deg..
Panggilan dari Aurin membuat Alvaro takut kalau Aurin mengetahui statusnya saat ini.
Langsung saja Alvaro mematikan sambungan telefon dari Alina tanpa mengetahui apa kelanjutan kata yang akan di ucapan oleh Alina,bahkan saat Alina mengatakan kata terakhir Alvaro langsung tidak fokus, fokunya langsung kepada Aurin yang sudah melangkah ke arahnya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Alvaro dengan dingin kepada Aurin, Alvaro sangat kesal lantaran telefonya dengan Alina di ganggu oleh panggilan dari Aurin.
"Kamu telefonan sama siapa Varl kok kayaknya penting banget sih" ungkap Aurin dengan sangat penasaran sejak tadi hingga dirinya menghampiri Alvaro.
"Sama sekretarisku" jawab singkat Alvaro dengan jujur, lagi pula Alvaro memamg bertelefonan dengan sekretrisnya.
"Oh aku kirain siapa" ucap Aurin dengan lega karena ia kira dengan perempuan lain. Aurin jadi tidak berfikiran negatif karena ia jadi tahu kalau dengan sekretarisnya maka pasti urusan pekerjaan.
"Hmm kenapa kamu ke sini?" tanya Alvaro dengan dingin.
"Aku cuma mau duduk di samping kamu aja Var, tapi kamu lagi telefonan sama sekretaris kamu jadi aku tanya dulu deh sama kamu" jawab Aurin dengan enteng.
"Hmm" jawab Alvaro hanya dengan deheman.
"Btw aku boleh duduk di samping kamu nggak Var" ungkap Aurin meminta izin untuk duduk di sebelah Alvaro.
"Hmm ya" jawab singkat Alvaro memperbolehkan istrinya duduk di sampingnya.
Dengan cepat di sertai perasaan senang karena di izinkan oleh Alvaro, Aurin segera duduk di samping Alvaro.
Kemudian hanya keheningan yang tercipta,Aurin hanya diam membisu lantaran ia tahu kalau Alvaro sedang khawatir dengan kondisi bunda mertuanya.
Tapi tanpa Aurin tahu juga kalau Alvaro tidak hanya khawatir dengan keadaan bunda Nilam melainkan juga dengan status hubunganya dengan Aurin yang sebagai suami istri.
***
Sementara Alina yang sambungan telefonya di matikan secara langsung oleh Alvaro menjadi sangat penasaran, apalagi dirinya mendegar suara perempuan yang memanggil Alvaro.
"Siapa tadi ya, kok suaranya cewek terus panggil Varo sih." guman Alina dengan penasaran.
"Emm mungkin dia saudara Alvaro, jangan overthingking deh Lin. Kamu harus percaya dengan Alvaro lagi pula saat ini Alvaro lagi dalam kondisi sedih karena bundanya sedang sakit."lanjut Alina dengan berusaha berfikir positif.
"Huh lebih baik sekarang aku kerja lagi deh dari pada mikirin Alvaro, lagi pula ngapain sih tadi aku nangis segala. Kalau tau alasan Alvaro ninggalin aku karena masalah tentang kondisi bundanya tentu saja aku akan baik-baik saja" ucap Alina terhadap dirinya sendiri.
__ADS_1
Kemudian Alina melanjutkan pekerjaanya yang tertunda lantaran tadi ia sempat menangis lantaran tiba-tiba saja Alvaro meninggalkan dirinya tanpa alasan yang jelas.Namun saat Alvaro menghubungi dirinya ia berubah menjadi tenang dan kembali fokus ke pekerjaanya kembali agar cepat selesai, lantaran ia harus membuat jadwal ulang terkait meeting yang di tunda hari ini lantaran Alvaro tidak bisa hadir.
Bersambung.