
Setelah dari tempat balapan Alvaro ternyata pulang ke kediaman utama yaitu mansion besar keluarga Dirgantara.Mansion besar dengan segala bentuk kemewahan yang ada di dalamnya dimana semua keluarga Dirgantara menempati rumah tersebut.
Saat sudah sampai di depan mansion tersebut Alvaro tanpa memarkirkan mobil miliknya dirinya langsung memasuki mamsion yang megah itu.Saat melewati ruang keluarga dapat Alvaro lihat keluarganya sedang bercengkraman dengan tawa yang menghiasi di wajahnya,dimana hal tersebut sontak saja membuat Alvaro mengepalkan tangannya menahan emosi kembali.Karena setiap ia melihat kebahagiaan di antara keluarga besarnya ia langsung teringat dengan apa yang mereka telah lakukan terhadap Alvaro,yaitu membuat kebahagiaan Alvaro dan Alina harus berganti menjadi sebuah kesedihan.
Para anggota keluarga Dirgantara yang melihat kedatangan Alvaro di ruang keluarga,sontak mereka langsung menghentikan canda dan tawa mereka.
Anggota keluarga Dirgantara sudah paham dengan tabiat Alvaro yang akan sinis saat melihat mereka,jadi mereka langsung menghentikan perbincangan mereka.
"Kau sudah kembali pulang Varo"sapa kakek Dirgantara dengan senyum tersungging di bibirnya begitu melihat kedatangan cucu yang sangat ia sayangi di bandingkan cucu yang lainnya.
"Bukankah anda sudah melihat kedatangan saya tuan Dirgantara"balas Alvaro dengan dingin di sertai tatapan yang tajam yang ada di wajahnya.
"Apakah sikapmu ini sangat mencerminkan seorang tuan muda dari keluarga Dirgantara Alvaro?"tanya kakek Dirgantara menyindir sang cucu yang menurutnya sangat tidak sopan dan tidak menghargai dirinya sebagai orang nomor satu di keluarga Dirgantara.
"Dengan cara apa saya harus menghormati anda tuan Dirgantara.Bukankah sejak dulu saya sudah menghargai anda sebagai tuan besar di rumah ini"ucap Alvaro dengan menantang kakeknya.
"Dasar cucu kurang ajar kau Alvaro,entah sikapmu menurun dari siapa hingga kau memiliki sifat seperti seorang bajingan"teriak kakek Dirgantara sambil berdiri dengan tatapan penuh emosi kepada cucunya yang selama ini ia banggakan.
"Seharusnya anda sadar tuan kalau sifatku tentu saja turunan dari tuan Steven yang terhormat"balas Alvaro dengan tenang membalas ucapan kakek Dirgantara yang sudah di liputi dengan perasaan emosi.
Alvaro sengaja melibatkan ayahnya,yaitu tuan Steven Dirgantara yang sejak tadi hanya diam mendengarkan perdebatan antara Alvaro dan kakek Dirgantara.
Steven yang di libatkan dalam perdebatan antara kakek Dirgantara dan anaknya,Alvaro langsung saja menatap sang anak sulungnya dengan muka menahan kesal.
"Kenapa kau membawa-bawa aku dalam perdebatan kau dan ayah Alvaro?"tanya Steven dengan pandangan tajam ke arah anaknya.
"Hmm bukankah kakek bertanya sifatku menurun dari siapa?maka aku jawab dari dirimu bukankah kau ayah kandungku"jawab Alvaro tenang dengan menyudutkan ayahnya.
Steven yang merasa di sudutkan Alvaro berusaha menahan amarah karena ia merasa semakin Alvaro dewasa Alvaro semakin berani terhadap dirinya.Walau saat sudah kecil Alvaro adalah anak pembangkang,tapi sifat Alvaro semakin menjadi saat Alvaro menginjak usia remaja,.Steven juga tidak mengetahui alasan perubahan sifat Alvaro selama ini.
"Sudah hentikan perdebatan kalian,apakah kalian tidak malu dengan kami yang sedari tadi melihat perdebatan kalian."ucap nenek Alvaro,yang bernama Nadia Dirgantara.
__ADS_1
"Dan kau Alvaro seharusnya kamu bisa menghargai kakek dan ayah kamu"lanjut nenek Nadia dengan lembut berusaha membuat Alvaro sadar dengan sikapnya yang sudah kelewat batas karena melawan orang yang lebih tua.
"Maaf tapi saya tidak peduli"ucap Alvaro dengan beraninya ia malah memandang sinis neneknya.
"STOP ALVARO KAMU MEMANG ANAK YANG SANGAT KETERALUAN,BERANI-BERANINYA KAMU MELAWAN NENEKMU"teriak kakek Dirgantara dengan lantang dan marah yang membuat semua orang yang berada di ruang keluarga begitu terkejut bahkan para maid dan bodyguard juga ikut mendengar teriakan kakek Dirgantara yang saat ini tengah marah dengan cucu kesayangannya.
Memang Alvaro adalah cucu kesayangan kakek Dirgantara karena hanya Alvaro yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan mampu membuat perusahaan Dirgantara Group menjadi perusahaan nomor satu di negara ini.
Bahkan Alvaro Dipta Dirgantaralah yang menjadi kandidat nomor satu yang akan mewarisi perusahaan Dirgantara Group.Sosok Alvaro yang menjadi cucu kesayangan dari kakek Dirgantara mampu membuat para saudara dan sepupu Alvaro menjadi iri dengan Alvaro,bahkan paman dan bibinya juga iri dengan keberhasilan Alvaro yang mampu membuat perusahaan Dirgantara Group berada di puncak kejayaannya bahkan menjadi kandidat nomor satu perusahaan besar tersebut.
"Kenapa anda berteriak kepada saya,sudah saya katakan bukan saya tidak peduli dengan kalian semua.Jadi saya ingatkan jangan mencampuri urusan saya,kalau kalian tidak ingin saya mengundurkan jabatan sebagai pemimpin di perusahaan Dirgantara Group"peringatan Alvaro dengan dingin yang mampu membuat semua orang yang berada di ruang keluarga menjadi diam tak berkutik.
Kakek Dirgantara yang diam karena takut Alvaro benar-benar mengundurkan diri dari perusahaan.Sementara paman serta para sepupu laki-laki Alvaro yang sangat bahagia dengan ucapan Alvaro.
"Varo kau tidak boleh berbicara kasar kepada kakek,nenek dan ayahmu karena mereka adalah orang yang seharusnya kamu hormati"ucap dengan lembut seorang wanita yang sedari tadi mendengarkan perdebatan antara para anggota keluarga Dirgantara.
"Diam kau tidak ada hal untuk mencampuri urusanku Aurin"bentak Alvaro dengan marah saat mendengar ucapan wanita yang mampu mengingatkan Alvaro dengan statusnya saat ini.
"Varo jangan sekali-kali kamu membentak istrimu,apalagi di depan keluarga besar seperti ini.Hormatilah istrimu yang selalu berada di sampingmu Varo.Bunda tidak ingin anak laki-laki mommy berlaku kasar kepada wanita,apakah kamu tidak menghargai bunda sebagai orang yang telah melahirkan kamu"tegur bunda Alvaro dengan lembut agar bisa membuat amarah yang berada di dalam hati anaknya menyusut.
Alvaro yang mendengar teguran dari bundanya hanya diam membisu karena bundanya adalah orang pertama yang sangat Alvaro hormati di keluarga Dirgantara,sosok wanita yang lemah lembut yang mampu membuat Alvaro nyaman dengan sosok tersebut.
"Varo akan berusaha bunda"ucap Alvaro dengan nada dingin sambil berusaha untuk tidak membuat wanita yang melahirkan dirinya menjadi sedih karena perilakunya.
"Baiklah bunda percaya kepada kamu Varo,lebih baik kamu ke kamar dan ajaklah istrimu untuk istirahat"perintah bunda Alvaro dengan nada lembut yang mampu membuat Alvaro menahan emosinya.
"Hmm"jawab singkat Alvaro kemuduan berlalu dari ruang keluarga tanpa berpamitan kepada anggota keluarga Dirgantara.
Bunda Alvaro yang melihat tingkah anak sulungnya hanya bisa diam tanpa berkomentar,karena ia paham kalau saat ini anaknya tersebut sedang di landa masalah yang mungkin sedikit rumit.
"Aurin kamu bisa susul Alvaro ke kamar,ajaklah dia berbicara dan menceritakan masalahnya.Walau nanti kamu akan di acuhkan oleh Alvaro kamu harus tetap tersenyum jangan sampai sedih,bunda yakin semakin lama Alvaro akan menghargai kamu sebagai istrinya."perintah bunda Alvaro kepada Aurin,menantu kesayangan di keluarga Dirgantara.
__ADS_1
"Baik bunda kalau begitu Aurin ke kamar dahulu untuk menyusul Alvaro"jawab Aurin patuh dengan senyum tersunging di wajah cantiknya.
"Iya sayang tetap semangat membujuk Alvaronya"ucap bunda Alvaro memberi semangat kepada menantunya.
"Baik bunda,Aurin pamit ke kamar dahulu semuanya"pamit Aurin kepada seluruh anggota keluarga Dirgantara.
"Iya sayang"jawab kakek,nenek,ayah,dan bunda Alvaro beserta para saudara yang menyukai sosok Aurin yang cantik dan dari keluarga terpandang.
Setelah Aurin meninggalan ruang keluarga kini di ruang keluarga Dirgantara memulai obrolan kembali.
"Entah kenapa sepertinya aku merasa sifat Alvaro semakin lama semakin susah untuk di kendalikan"keluh kakek Dirgantara kepada anak,menantu serta cucunya.
"Benar pa,aku saja sebagai ayahnya sudah tidak bisa mengendalikan sifat Alvaro yang semakin kejam saat ini,bahkan kemaren ia baru saja mengakusisi perusahaan yang berani menyingung dirinya.Apakah kamu tahu bun apa yang terjadi dengan Alvaro saat ini,kenapa sifatnya semakin hari semakin berubah?"tanya Steven kepada istrinya,karena ia merasa Alvaro akan terbuka dengan bundanya yang selama ini Alvaro hormati.
"Entah yah,sudah beberapa tahun belakangan ini Alvaro sudah tidak pernah lagi terbuka dengan bunda.Bunda rasa Alvaro sedang menyimpan sebuah dendam kepada seseorang"jawab bunda Alvaro dengan pandangan sedih karena sang anak sudah tidak mau terbuka dengan dirinya lagi.
"Ku rasa memang Alvaro sekarang sudah berubah karena dia bisa menjadi pemimpin di perusahaab Dirganatara Group"ucap sinis bibi Alvaro yang sedari tadi diam karena ia hanya berani membicarakan Alvaro di belakang,karena ia juga takut dengan Alvaro yang sudah berubah menjadi sosok yang kejam dan juga beringas.
"Kenapa kamu bisa bicara seperti itu kepada anakku mbak,selama ini menurutku Alvaro tidak pernah sombong dengan jabatan yang saat ini ia miliki"jawab bunda Alvaro yang tidak terima jika anaknya di katakan sombong.
"Memang itu kenyataannya kok"ucap bibi Alvaro dengan sinis,ia tidak terima kalau Alvaro menjadi pemimpin Dirgantara Group karena ada anaknya yang menurut dirinya lebih baik dari Alvaro.
"Sudah-sudah lebih baik kita akhiri saja obrolan kita malam ini karena aku tidak mau terjadi keributan kembali"ucap kakek Dirgantara untuk mengakhiri acara malam ini,karena ia sudah hafal akan ada perdebatan jika sudah menyangkut pemimpin Dirgantara Group.
"Tapi pa_"
"Tidak ada tapi-tapian,sekarang kita bubar dan istirahat di kamar masing-masing"potong kakek Dirganantara dengan tegas.
"Baik pa"
"Baik kek"
__ADS_1
Kemudian satu persatu mulai meninggalkan tempat tersebut untuk beristirahat,karena tidak ada satupun yang berani menentang ucapan kakek Dirgantara selain Alvaro.
Bersambung.