
"Ciuman secara tidak langsung"ucap Alvaro melanjutkan ucapnya yang sejak tadi ia tunda-tunda.
Blush.
Raut muka Alina yang tadinya sangat pensaran langsung terganti dengan raut muka memerah menahan malu.Bahkan rasa malu yang sekarang lebih parah dari rasa malu yang tadi,rasanya Alina ingin tengelam di laut saja saat ini.
Apalagi saat melihat dengan sangat santainya Alvaro mengatakan hal itu kepada Alina.Tidak taukah Alvaro bahwa ucapan dirinya yang sangat santai itu mampu membuat Alina sangat malu sekali.
"Aduh bodoh banget sih aku sampai ngak sadar kalau makan dengan sendok yang sama"ucap lirih Alina bahkan nyaris tak terdengar sama sekali karena posisinya menunduk tidak berani menatap Alvaro.
Dan lebih parahnya ternyata Alvaro mampu mendegarkan ucapan lirih Alina dengan jelas,di karenakan pendengeran Alvaro yang sangat tajam.Tentu saja saat mendegarkan ucapan Alina Alvaro rasanya mau tertawa keras namun ia tahan karena tidak ingin membuat Alina semakin malu.
"Rose kok kamu malah diam menunduk sih"ujar Alvaro agar Alina tidak menunduk lagi jujur saat Alvaro berucap kali ini ia harus bisa menahan tawanya agar tidak meledak saat melihat raut muka Alina.
"Emmm"ucap Alina yang bingung harus menjawab apa dari ucapan Alvaro,jujur Alina tidak berani mengangkat kepalanya malu melihat Alvaro.
"Rose"panggil Alvaro sekali lagi karena Alina tidak melanjutkan ucapanya dan malah kembali diam.
"Eh iya Al"ucap Alina tersadar dari pikiranya saat dirinya dipanggil oleh Alvaro.
"Kenapa kok sekarang kamu malah diam sih?"tanya Alvaro.
"En_ggk apa-apa kok Al"jawab dengan gugup Alina.
"Kamu malu ya Rose"ucap Alvaro lagi-lagi dengan santai tidak memikirkan perasaan Alina yang malu dan terkejut.
Bahkan perasaan Alina rasanya terombang-ambing karena ucapan Alvaro yang seakan-akan santai namun mengandung makna yang sangat luar biasa.
"Malu kenapa Al?"tanya Alina dengan berusaha menetralkan perasaannya agar kembali lebih tenang.
"Malu karena kamu sadar kalau tadi kita makan pakai sendok yang sama ya"jawab Alvaro sambil menarik dagu Alina agar mendongkrak ke atas.
Karena sedari Alvaro merasa gemas dengan Alina yang selalu menunduk dan tak mau memandang ke arahnya,tidak tau kah Alina bahwa Alvaro sangat lah ingin terus memandang wajah Alina yang imut dan ayu itu.
"Apa sih Al jangan terus-terusan mengoda aku deh"ucap Alina dengan kesal karena Alvaro terus mengoda dirinya.Raut muka Alina juga selalu memerah karena terus di goda oleh Alvaro.
"Hey siapa yang mengoda kamu Rose sejak tadi aku kan cuma berbicara"jawab Alvaro sambil tersenyum manis agar Alina terpesona dan tidak kesal lagi dengan dirinya.
__ADS_1
"Apa cuma berbicara?kamu itu sejak tadi selalu mengoda aku tau Al"ucap Alina sambil cemberut.
"Lho aku tuh kan cuma berbicara fakta kan emang kita tadi ciuman secara ngak langsung secara kan kita makan dengan satu sendok yang sama."jelas Alvaro sambil berusaha serius walau rasanya ingin memberontak untuk tertawa.
"Ihhh Alvaro jangan di ungkap-ungkapin lagi dong"balas Alina dengan muka memerah,bagimana tidak Alvaro malah memperjelas soal ciuman secara tidak langsung yang mereka lakukan tadi lewat sendok yang mereka gunakan secara bergantian.
"Apa sih Rose,aku itu menjelaskan kenyataannya jadi kamu jangan malu sama mengelak lagi,kan emang kita melakukan itu"ucap Alvaro dengan ambigu.
"Ihh pokonya kamu ngak usah bicara apa-apa lagi sekarang"ucap Alina dengan kesal.
"Iya aku ngak akan bicara apa-apa lagi,tapi kamu kok malu banget sih bukannya kita pernah melakukan hal yang lebih dari itu ya pas kita pacaran dulu"ucap Alvaro yang sepertinya akan membuat Alina kesal bukan main.
"ALVARO"teriak dengan keras Alina karena Alvaro malah menjelaskan peristiwa di masa lalu,tentu saja Alina rasanya pengen buat mulut Alvaro berhenti buat mengoda dirinya.
"Apa rose?"jawab santai Alvaro tanpa peduli dengan kekesalan Alina.
"Lebih baik kamu kunci mulut kamu buat ngak bicara"perintah Alina dengan tegas karena malunya sudah berada di ujung tanduk
"Oke Al akan turuti permintaan my Rose"jawab Alvaro patuh dengan perintah Alina.
Alina tidak menjawab apapun dari jawaban Alvaro,karena ia harus bisa menghindar dari wajah Alvaro yang membuat dirinya sangat malu karena wajah Alvaro sudah menjelaskan betapa ingin tertawanya Alvaro saat melihat tingkah dirinya yang Alina akui memang dirinya sangat malu.
Alina berharap dengan Alvaro yang tidak bicara lagi yang membuat dirinya malu karena Alina itu orangnya gampang malu hanya karena ucapan.
Tak lama kemudian mobil yang di kendarai oleh Alvaro hampir sampai di perusahaan dan tentu saja hal itu membuat Alina panik kalau sampai Alvaro menurunkan dirinya di basemant perusahaan,maka tamatlah tiwayatnya.
Pasti akan banyak karyawan yang heboh dan mengosipi dirinya yang berangkat bareng dengan pemilik persahaan dan Alina tidak mau itu terjadi di karenakan ia sangat tidak suka dengan namanya gosip dan menimbulkan sebuah kehebohan.
"Alvaro berhenti di halte depan itu"perintah Alina dengan suara lumaayan keras.
Namun bukannya menjawab pertanyaan Alina,Alvaro hanya diam membisu tanpa ada niatan untuk membalas ucapan Alina.
"Alvaro jawab dong"ujar Alina namun Alvaro tetap dengan keterdiamanya
Alina yang melihat itu pun menjadi kesal dengan keterdiaman Alvaro yang malah cuek dengan setir kemudi mobilnya.
"ALVARO"teriak Alina di samping telinga Alvaro,yang langsung membuat Alvaro pusing tujuh keliling mendegar suara Alina yang sangat keras itu.
__ADS_1
"Aduhhh apaan sih Rose"geruru dengan sebal Alvaro tanpa marah terhadap Alina.
"Kamu itu yah bikin aku kesal banget tahu sama aku,dari tadi kan kamu aku panggil-panggil namun kamu hanya diam saja."oceh Alina dengan kesal.
"Lho ya bukan salah aku ya Rose itu sih salah kamu"balas Alvaro.
"Lho kok jadi aku sih yang di salahin aku kan ngak ada salah apa-apa sama kamu"protes Alina yang tidak mau di salahkan oleh Alvaro.
"Lha emang salah kamu Rose"ucap Alvaro yang tetap menyalahkan Alina.
"Ihh emang salah aku apa sih Al?"tanya Alina yang jadi penasaran dengan kesalahannya.
"Kamu kan tadi yang menyuruh aku buat kunci mulut Rose,jadi aku turuti aja permintaan kamu itu"jawab Alvaro santai.
"Astaga Alvaro kamu yah bikin aku naik darah aja sejak tadi"gerutu Alina saat mendengar jawaban Alvaro yang sangat jauh dari ekspetasinya.
"Iyakah"ucap Alvaro.
"Ihh udah lah lupain lama-lama kamu bikin aku sebal aja,Al kamu turunin aku di halte sebelum perusahaan Dirgantara itu ya"perintah Alina kepada Alavaro.
"Ngapain sih Rose,kok minta turun di halte itu jaraknya lumayan jauh lho dari perusahaan.Kamu ngak capek apa kalau harus jalan kaki dari situ"protes Alvaro yang tidak setuju dengan ucapan Alina.
"Ngak papa Al,aku ngak mau nanti kalau aku kamu turunkan di baseman perusahaan malah akan membuat semua orang heboh"ucap Alina.
"Lho kok bisa heboh"ucap Alvaro yang belum paham dengan ucapan Alina.
"Aduh Alvaro kamu itu polos atau gimana sih,yah jelas heboh dong aku tuh sekretasis yang baru saja di terima masa udah bareng sama atasan aku sih."jelas Alina dengan greget dengan Alvaro
"Yah ngak papa kali Al,kita itu ngak usah dengerin gosip atau apa yang mereka bicarakan.Memangnya kita hidup di biayain sama mereka,jadi ngak ada hak buat mereka larang-larang aku buat nebeng in siapa saja.Lagian ini hak asasi aku sebagai atasan,untuk mengizinkan kamu bareng ke perusahaan"jelas Alvaro yang tidak peduli dengan yang namanya gosip.
"Pokoknya aku ngak mau yah Al kalau kamu turunin aku di perusahaan,kalau kamu nekat maka aku ngak mau bareng kamu lagi besok-besok"ancam Alina.
"Oke-oke aku turunin kamu di halte depan itu"ucap pasrah Alvaro saat mendengar ancaman Alina yang tidak main-main.
"Oh iya Al nanti kalau di perusahaan kita,layaknya orang yang ngak saling kenal ya"ucap Alina begitu mobil akan berhenti.
Mendegar ucapan Alina langsung saja Alvaro menghentikan mobilnya di tepat di depan halte secara mendadak.
__ADS_1
"Apa"
Bersambung