Simpanan Tuan Muda Alvaro

Simpanan Tuan Muda Alvaro
Bab 22_Keributan Di Pagi Hari.


__ADS_3

Saat ini Aurin berlari mengejar langkah Alvaro yang telah meninggalkan dirinya di dalam kamar sendirian.Walau sangat kesal dengan sifat Alvaro terhadap dirinya tidak membuat Aurin pantang semangat mengambil hati Alvaro sepertinya karena rasa cinta atau bahkan obsesi untuk memiliki Alvaro sangat besar di dalam hati Alvaro.


"Varo tunggu,ada yang mau aku ucapkan lagi dengan kamu"


"Varo"panggil Aurin sambil mengejar langkah cepat Alvaro yang sudah mau turun lewat lift,dengan berlari Aurin masuk ke dalam lift agar bisa turun bersama dengan Alvaro dan membicarakan hal yang ingin ia sampaikan.


Dan ternyata Aurin berhasil masuk ke dalam lift bersama Alvaro yang sejak tadi tidak menghiraukan panggilan Aurin yang sangat membuat ia emosi.


"Keluar"perintah Alvaro dengan tegas dan tatapan tajam miliknya memandang acuh ke arah Aurin,sebelum ia menekan tombol lift untuk membawa dirinya ke bawah.


"Ngak-ngak mau Var,sebelum aku menjelaskan sesuatu sama kamu"tolak Aurin mentah-mentah saat di suruh Alvaro untuk keluar.


"Oke kalau loe gamau keluar maka gue yang akan keluar"ucao kesal Alvaro merasa kesal dengan kelakukan istrinya yang menurut dirinya sangat keras kepala.


Degan gerakan cepat Alvaro mendorong Aurin ke belakang dan menekan tombol ke bawah dan dengan gerakan gesit Alvaro keluar dari dalam lift sebelum pintu tertutup sempurna.


"Varo keteraluan kamu"teriak Aurin dengan kesal begitu Alvaro keluar dari dalam lift setelah mendorong dirinya ke belakang dan jatuh ke bawah.


"Terserah"ucah Alvaro dingin dan cuek tidak peduli dengan teriakan Aurin sebelum pintu tertutup sempurna.


"Varo"


"Varo"


Teriakan Aurin terus bersahutan,namun teriakan Aurin tidaklah penting bagi Alvaro.Alvaro hanya menghiraukan teriakan tersebut, bahkan setelah lift tertutup Alvaro dengan cuek  melangkah ke arah tangga menuju ke lantai bawah,tidak masalah bagi dirinya untuk mengeluarkan tenaga untuk menuruti anak tangga yang sangat banyak itu menuju ke lantai bawah sementara ia berada di lantai teratas asalkan tidak satu lift dengan Aurin yang menurut dirinya sangatlah mengesalkan.


Sementara Aurin yang berada di dalam lift sendirian merasa kesal yang luar biasa,perasaan emosi yang ada di dalam hatinya langsung menguap begita saja.


"Kurang ajar kamu Varo,aku pastiakan kamu akan membayar semua perilaku kamu yang sangat tidak menghargai aku sebagai istrimu"guman Aurin dengan geram terhadap perilaku Alvaro yang sudah di luar batas.

__ADS_1


Tak lama kemudian lift berhenti di lantai dasar,dengan perasaan yang masih bergemuruh Aurin dengan cepat menuju ke arah tangga yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai atas untuk menunggu kedatangan Alvaro yang sudah membuat dirinya emosi.


Tak beberapa lama orang yang Aurin tunggu akhirnya tiba,dengan gerakan santai dan berwibawa Alvaro menuruni satu persatu anak tangga yang melingkar di rumah mewah ini.


Saat sudah sampai di undakan paling bawah Alvaro menghentikan langkahnya di karenakan Aurin menghalangi jalannya.


"Minggir"perintah Alvaro dengan dingin serta tatapan tajam dan mematikan miliknya.


"Engak-engak sebelum aku bicara sama kamu"tolak Aurin dengan mentah-mentah.


Walau sebenarnya di dalam hatinya Aurin merasa sangat takut dengan tatapan tajam milik Alvaro namun demi kelancaran misinya ia harus bisa melawan rasa takut itu.


"MINGGIR AURIN"bentak Alvaro dengan keras merasa sangat emosi dengan kelakuan Aurin yang semakin membuat ia naik darah.


Teriakan Alvaro yang keras mampu membuat seisi mansion itu mendegar suara Alvaro yang sangat keras itu.Banyak penghuni manison yang berlari melangkah menuju ke arah sumber suara untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Cukup Varo"teriak kakek Dirgantara begitu dirinya sampai di tempat kejadian,dengan mata kepalanya sendiri dirinya melihat cucu kesayangannya membentak menantu kesayanganya.


"Kamu keteraluan Varo,membentak istrimu yang kakek yakin hanya masalah sepele"ucap kakek Dirgantara sambil memandang tajam ke arah Alvaro yang hanya diam dengan pandangan ke depan tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Tapi saya tidak peduli dengan wanita yang anda sebut sebagai istri saya"jawab Alvaro dengan santai tanpa takut sedikit pun.


"Cukup Varo,kamu sudah keteraluan terhadap istrimu dan kakekmu"ucap Steven sambil menatap tajam anak sulungnya.


"Apa istri?di ingat baik-baik semuanya bahwa aku menikah hanya berlandaskan perjodohan paksa jadi jangan harap aku akan menganggap bahwa aku mempunyai istri"ucap Alvaro dengan menatap tajam seluruh penghuni mansion ini.


Semua orang penguni mansion ini bisa melihat tatapan mematikan dari seorang Alvaro Dipta Dirgantara yang mampu membuat semua orang menelan ludahnya.


"Apa maksut kamu Alvaro?seharusnya kamu bisa menerima Aurin dengan baik walau pernikahan kalian hanya sebatas perjodohan namun Aurin selalu berusaha menjadi istri yang baik bagi kamu,dan sebagai suami kamu seharusnya juga bisa menghargai istri kamu"nasehat nenek Nadia dengan bijak namun Alvaro tetap diam dengan pandangan lurus ke depan tanpa menghiraukan nasehat neneknya yang ia anggap nasehat itu adalah angin lewat.

__ADS_1


"Saya tetap tidak peduli,bukankah saya sudah menurut untuk menikah dengan gadis yang kalian jodohkan seharusnya saat ini kalian tidak usah ikut campur dengan apa yang terjadi karena itu sudah menjadi hak saya"ucap Alvaro dengan tegas tanpa gentar sedikit pun.


"Cukup Varo,hentikan semua ini bunda sangat kecewa dengan kamu.Bunda juga adalah seorang wanita,kamu tahu rasanya saat di bentak oleh suaminya sendiri maka rasanya sangat sakit dan bunda harap Varo jangan mengulangi hal yang sama kembali kepada istrimu nak karena hati seorang wanita sangat rapuh.Bunda juga minta kamu mulai sekarang belajar menghargai Aurin"ucap dengan bijak bunda Alvaro sambil menenangkan Aurin yang sudah menangis tak kala mendegar bentakan dari suaminya sendiri.


Semua penghuni mansion merasa iba dengan Aurin yang di bentak oleh Alvaro,padahal menurut mereka Aurin adalah sosok yang sangat sempurna untuk di jadikan istri,namun malah di tidak di anggap oleh Alvaro sebagai istrinya.


"Maaf bunda kalau Alvaro salah,namun harus bunda ingat jika pernikahan aku dengan dia hanya sebuah perjodohan paksa tanpa adanya perasaan saling cinta jadi maaf sekali lagi bunda bahwa Alvaro tidak bisa menerima dia sebagai istri Varo"jawab Alvaro dengan dingin namun masih ada suara lembutnya,karena hanya kepada bundanya ia akan menurunkan sedikit sifatnya,mungkin dengan Rose juga hehe.


"Tapi bunda yakin Varo semakin lama maka perasaan cinta akan muncul dengan sendirinya"ucap Bunda Nilam yang masih berusaha membujuk sang anak sulungnya agar bisa sadar.


"Sekali lagi maaf bunda Alvaro benar-benar tidak bisa"


"Alvaro pamit ke kantor"lanjut Alvaro sambil melangkah dengan tegas keluar dari dalam mansion yang bagaikan neraka bagi Alvaro.


"Alvaro Dipta Dirgantara berhenti kamu"


"Varo tunggu"


"Varo"


Teriakan demi teriakan terus mengema di dalam mansion itu mengiring langkah Alvaro yang sudah menghilang di balik pintu utama.


Alvaro yang mendegar teriakan itu tidaklah peduli dan menghiraukan.Dengan cepat ia menjalankan mobil miliknya untuk pergi menenangkan pikiranya yang kacau dan penuh emosi dengan keribuatan yang terjadi di pagi hari ini.


"Maaf mom membuat mommy kecewa dengan sikap Varo,namun aku tidak tahan lagi berada di tengah manusia-manusia licik itu"guman Alvaro dengan pandangan lurus ke depan merasa tidak enak dengan mommynya.


Pikiran Alvaro saat ini sangat kacau,bahkan dirinya menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata menuju ke suatu tempat yang akan ia tuju.


Berasambung.

__ADS_1


__ADS_2