Simpanan Tuan Muda Alvaro

Simpanan Tuan Muda Alvaro
Bab 34_Kondisi Bunda Alvaro.


__ADS_3

"Apakah masih lama sampainya?" tanya Alina kepada anak buah Alvaro  begitu ia merasa tempat yang di tuju sangatlah lumayan jauh karena mobil ini dapat Alina perkirakan telah berkendara selama satu jam an lebih.


"Benat nona karena letaknya yang sangat privasi membuat letaknya lumayan jauh dari pusat kota" jawabnya dengan tetap fokus ke arah kemudi.


"Hmm baiklah" jawab Alina yang sesungguhnya dirinya merasakan sangat bosan di dalam mobil ini apalagi sejak tadi hanya terjadi keheningan.


Sembari menunggu sampai di villa yang akan di tuju, Alina memutuskan untuk menghubungi Alvaro lantaran takut terjadi apa-apa, apalagi dengan jelas tadi dirinya mendengar dari nada suara Alvaro yang sangat putus asa.


Namun semakin khawatir saja Alina lantaran ternyata Alvaro memilih tempat yang sangat jarang penduduk dan itu artinya saat ini Alvaro sedang mengalami masalah yang sangat berat. Lantaran kalau Alvaro sedang emosi atau memendam masalah yang sangat berat maka akan memilih tempat yang sangat privasi dan sulit di jangkau oleh siapapun tanpa izin dari Alvaro.


"Nona nona" sayup-sayup Alina mendegar suara seseorang yang memanggil dirinya, saat ini Alina sedang tertidur di dalam mobil manyaran merasa capek, namun saat ada orang yang memanggil dirinya ia memutuskan untuk membuka secara perlahan kedua kelopak matanya.


"Emm yah" ucap Alina dengan lumayan terkejut lantaran seseorang yang memanggilnya ternyata anak buah yang diutus oleh Alvaro.


"Maaf saya membangunkan anda, namun saat ini kita sudah sampai tempat dimana ini adalah tempat yang di beritahu oleh tian Alvaro" jelasnya sambil menunjuk ke arah depan sana.


Dapat Alina lihat jika di depan sana terlihat ada sebuah villa yang sangat mewah menjulang tinggi di antara perbukitan dan persawahan.


"Oh baiklah tidak apa-apa pak, terima kasih sudah mengantarkan saya kemari" ucap Alina sambil tersenyum manis.


"Sama-sama nona, kalau begitu saya kembali ke kota dahulu"


"Hmm baiklah, hati-hati di jalan pak" ucap Alina sambil turun dari dalam mobil mewah tersebut.


"Baik nona" jawab anak buah Alvaro tersebut kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan Alina yang saat ini masih berada di depan villa.


Kemudian setelah melihat mobil yang di kendarai oleh anak buah Alvaro pergi dari hadapannya, Alina memutuskan untuk melangkah ke dalam villa ia juga sempat mel8hat mobil yang tadi pagi di kenakan oleh Alvaro sudah terparkir di depan villa,artinya Alvaro sudah berada di dalam.


Saat sudah sampai di depan pintu Alina memutuskan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu, lantaran sebagai sopan santun.


Tok.tok..tok

__ADS_1


Namun sudah lumayan lama Alina mengetuk pintu tidak dibuka-buka maka Alina merasa semakin khawatir dengan Alvaro, namun Alina tetap menunggu saja karena merasa sangat sungkan.


BRAK 


BRUK


PYAR


Tiba-tiba saja terdengar suara gaduh dari dari villa yang membuat Alina sangat panik dan khawatir yang sangat luar biasa bahkan dirinya dengan spontan langsung membuka pintu villa tersebut dan menuju ke arah sumber suara.


"AL" teriak Alina saat dirinya membuka pintu kamar salah satu villa tersebut dirinya langsung terkejut melihat Alvaro yang sedang mengobrak-abrik seluruh barang-barang di dalam kamar tersebut, Alina begitu sangat terkejut melihatnya bahkan banyak sekali pecahan-pecahan beling yang membuat Alina khawatir kalau Alvaro terkena pecahan tersebut.


"Rose" guman Alvaro lirih dengan pakaiannya yang sudah sangat berantakan, wajahnya pun begitu suram seakan memendam banyak masalah.


"Kamu jangan ke sini Al, nanti terkena pecahan beling itu" teriak Alina begitu melihat Alvaro akan melangkah menuju dirinya, tentu saja Alina tidak akan membiarkan hal iti terjadi.


"Nggak papa Rose, daripada kamu yang terkena pecahan beling ini" ucap Alvaro yang sepertinya tidak menghiraukan ucapan Alina, dengan langkah cepat ia menuju ke arah Alima yang masih berada di depan pintu.


"Al" teriak Alina dengan spontan lantaran melihat Alvaro dengan tanpa sengaja menginjak pecahan beling yang membuat darah dari telapak kaki Alvaro yang terkena pecahan beling berlumuran darah.


"Jangan ke sini Rose, biar aku saja yang kesana" peringat Alvaro mengabaikan rasa sakitnya dengan tetap berjalan menuju ke arah Alina. 


Dimana hal tersebut membuat darah yang keluar dari telapak kaki Alvaro menepak di sepanjang langkah yang ia lalui.


"Kamu baik-baik saja kan Al" tanya Alina dengan sangat panik saat Alvaro sudah berada di hadapannya.


"Aku nggak kenapa-kenapa saat kamu sudah datang Rose" jawab Alvaro sambil tersenyum manis ke arah Alina namun dengan sorot mata sendu, lantaran masalah yang menimpa dirinya kali ini cukup berat.


"Yaudah sekarang kita obati dulu luka kamu Al, aku nggak mau kamu infeksi gara-gara luka ini" ucap Alina sambil memapah Alvaro yang sepertinya sangat sakit jika di paksakan untuk jalan terus menerus.


Alina sangat khawatir takut kalau ternyata telapak kaki Alvaro yang terkena dengan beling tersebut sangatlah dalam lantaran melihat banyaknya darah yang keluar merembes hingga tercecer di lantai.

__ADS_1


"Kita ke kamar sebelah saja Rose, di sana juga ada kotak P3K" ajak Alvaro yang diam saja saat Alina memapah dirinya.


"Baiklah" ucap Alina menyetujui apa yang di ucapkan oleh Alvaro, kemudian Alina kuga juga menuruti ucapan Alvaro dengan memapah Alvaro ke dalam kamar yang di tunjukan oleh Alvaro.


Setelah sampai di kamar Alina membawa Alvaro untuk duduk di ranjang sementara dirinya mengambil kotak P3K yang letaknya tak jauh dari ranjang.


"Sekarang luruskan kaki kamu Al, biar aku obati kaki kamu agar tidak terjadi infeksi karena terlalu lama di biarkan" ucap Alina sambil berjongkok di bawah ranjang dan mengambil kaki Apvari untuk ia obati.


Tanpa mengucapkan suatu patah kata apapun Alvaro mengukurkan kakinya dengan perlahan ke arah Alina untuk di obati.


"Awss" ringis Alvaro tak kala sebuah alkohol yang di gunakan oleh Alina menyentuh luka yang berada di kakinya.


"Apakah rasanya sangat nyeri Al,?" tanya Alina sambil meringis pelan, walau bukan dirinya yang luka namun Alina merasa ngeri sendiri dengan luka yang di alami oleh Alvaro, lantaran lukanya setelah Alina lihat ternyata sangat dalam.


"Hmm" ucap Alvaro sambil memejamkan matanya menahan nyeri.


"Ini smenetara akan nyeri, nanti kalau alkohilnya udah kering nggak bakal nyeri lagi kok"ucap Alina sambil membalut luka Alvari dengan plester.


"Nah selesai" ucap Alina setelah melihat telapak kaki Alvaro yang terkena pecahan kaca sudah terbalut plester dengan sempurna yang membuat darahnya berhenti mengalir.


"Terimakasih Al" ucap Alvaro dengan sangat tulus, Alvaro merasa sangat beruntung Alina bersama dirinya saat ini.


"Sama-sama, baiklah sekarang kamu cerita sama aku kenapa kamu kayak gini terus emosi hingga menghancurkan kamar?" tanya Alina sambil duduk di satu ranjang di sebelah Alvaro.


Alvaro yang mendengar pertanyaan Alina menjadi menunduk menjadi sangat sedih lantaran mengingat ucapan dokter tadi bahwa.


"Al" panggil Alina menyadarkan Alvaro dari lamunannya.


"Bundaku sakit kanker otak Rose"


"APA"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2