Simpanan Tuan Muda Alvaro

Simpanan Tuan Muda Alvaro
Bab 36_Apakah Kamu Juga Masih Mencintaiku Rose.


__ADS_3

"Aku masih sangat mencintai kamu Rose"


Ucapan Alvaro yang mengatakan bahwa Alvaro masih mencintai dirinya membuat Aluna langsung diam mematung tanpa melakukan kegiatan apapun.


Sungguh ucapan Alvaro mampu membuat dirinya sangat terkejut bahkan nyaris membuat dirinya terkena serangan jantung, bagaimana dirinya tidak terkena serangan jantung secara mendadak coba.


"Apa Al, kamu masih sangat mencintai aku? " tanya Alina memastikan Apa yang di ucapkan oleh Alvaro.


"Tentu saja aku masih sangat mencintai kamu Rose, bahkan saat dulu kita berpisah pun tidak pernah hilang cintaku kepadamu karena aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk terus setia mencintaimu sampai suatu saat nanti jika aku telah tiada" ucap Alvaro dengan tegas tanpa adanya unsur kebohongan.


Alima yang mendengar apa yang di ucapkan oleh Alvaro kembk merasa syok lantaran ia tidak pernah berharap kalau Alvaro masih mencintai dirinya, apalagi dirinya dulu juga sudah meninggalkan Alvaro di saat mereka masih dalam puncak saling mencintai.


"Rose" panggil Alvaro lantaran Alina hanya diam saja.


"Eh iya Al" jawab Alina dengan sangat gugup lantarn Alvaro memanggil dirinya di saat dirinya sedang melamunkan masa lalu yang terjadi.


"Apakah kamu tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan Rose?" tanya Alvaro saat melihat ekspresi dari Alina, Alvaro menduga kalau Alina tidak percaya dengan apa yang ia ucapkan padahal Alvaro bicara jujur tanpa adanya kebohongan sama sekali.


"Bukanya tidak percaya Al, tapi aku sudah menorehkan luka di hatimu dengan cara aku leninggakna dirimu dulu Al, apakah kamu tidak merasa dendam dan menghilangkan perasaan cintamu kepadaku lantaran perilaku aku di masa lalu Al" jlas Alina yang merasa sangat aneh, seharusnya Alvaro telah menghilangkan perasaan cinta terhadap dirinya.


"Rose, dengarkan aku" ucap Alvaro sambil memegang wajah Alina dan ia arahkan untuk memandang ke arah wajahnya.


"Aku paham apa yang terjadi dengan kamu di masa lalu Rose maka dari itu aku tak pernah ada rasa benci terhadap kamu, dan aku yakin itu juga bukan kemauan kamu untuk meninggalkan diri ku" ucap Alvaro sambil memandang teduh mata Aera dengan perasaan yang sangat tulus.


"Karena semua yang terjadi di masa lalu adalah ulah keluargaku Rose" lanjut Alvaro di dalam hati sambil menahan emosi dan api kemarahan terhadap keluarganya.


"Makasih Al, sudah mau mengerti bagaimana keadaan aku duku. Selama ini aku selalu di hantui rasa bersalah kepada kamu lantaran aku dulu meninggalkan kamu tanpa penjelasan yang jelas. Setiap hari aku selalu di hantui perasaan yang cemas tentang bagaimana keadaan kamu. Aku sangat merasa bersalah sekaligus menyesal saat itu telah meninggalkan kamu tanpa pamitan juga Al" ucap Alina dengan perasaan yang menyedihkan sambil terisak pelan merasa sangat kecewa dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Hey dengarkan aku Rose, jangan pernah merasa bersalah dengan yang terjadi di masa lalu karena mungkin itu sudah menjadi takdir cinta kisah kita. Kita lupakan masa lalu dan buka lembaran baru oke" jawab Alvari yang juga merasakan apa yang di rasakan oleh Alina, dengan perasaan sakit hatinya lantaran melihat gadis yang di cintainya menangis Alvaro segera membawa Alina ke pelukanya dan memenangkan dengan kalimat lembutnya.


"Sudah ya jangan menangis nanti kalau kamu menangis cantiknya hilang" ucap Alvaro menghibur Alina agar tidak menangis.


"Hiks hiks kamu mah" ucap Alina dengan senyum kecil yang terbirit di bibirnya mendengar apa yang di ucapkan oleh Alvaro.


"Hehehe kamu kalau nangis jadi kayak badut Rose" ejek Alvaro dengan senyum kecil, agar Aluna tidak sedih lagi dan melupakan apa yang baru saja terjadi.


"Ihhh Al, kamu kok masih ingat sih kalau aku benci banget sama badut" ucap Alina dengan mengerucutkan bibirnya dengan kesal..


Sata ini Alina juga sudah tidak menangis, namun masih berada di dalam pelukan Alvaro. Entah mengapa saat dirinya dalam dekapan Alvaro dirinya sangat merasa nyaman seperti saat dirinya berada di dalam dekapan ayahnya.


"Hahaha kamu kan pas SMA tuh nangis terus aku bilang kamu kayak badut, eh kamu jadi berhenti menangis karena nggak mau di samakan sama badut" 


"Padahal ya Rose, kamy itu kalau habis nangis emang kayak badut" lanjut Alvaro sambil tersenyum mengejek ke arah Alina.


"Awss sakit Rose kamu keterlaluan banget yah sama aku" ringis Alvaro yang sebenarnya merasa tidak sakit sama sekali namun ia bilang seperti itu mengerjai Alina.


"Eh beneran sakit Al, maaf ya aku kan nggak sengaja. Padahal aku nyubit nya nggak keras banget kok Al masa kamu merasa kesakitan sih" ucap Alina yang merasa heran padahal kan dirinya mencubit perut Alvaro pelan namun kok Alvaro merasa kesakitan sih.


"Yah nggak tau lah Rose, kamu nggak sadar paling kalau cubitan kamu itu ieras nanget. Kalau kamu nggak percaya kamu bisa lihat sendiri tuh perut aku pasti merah-merah karena bekas cubitan kamu"


"Bneran Al, maafin aku ya aku nggak sengaja. Sini biar aku lihat dan coba sembuhkan" ucap Alina yang merasa menyesal dengan dirinya sendiri lantaran mencubit Alvaro.


"Yaudah lihat sendiri sana" ucap Alvaro dengan nada cuek untuk mengerjai Alina.


"Ihh maaf dong Al, yaudah sini perut kamu aku lihat merah nggak" ucap Alina dengan perasaan bersalah ia juga merasa takut karena nada bicara Alvaro terdengar cuek.

__ADS_1


Tidak tahu saja kalau Alvaro sengaja mengerjai Aera.


"Hmm" jawab Alvaro cuek namun berbeda dengan hatinya ia rasanya ingin tertawa melihat raut muka bersalah dari wajah Aera, namun ia tahan.


Lantaran perasaan bersalahnya Alina dengan perlahan menyibak kaos yang di kenakan Alvaro, namun ia malah salah fokus dengan perut Alvaro yang lebih sixpack dari yang pernah dulu ia lihat dulu saat SMA.


"Cie cie kagum sama terpesona sama perut aku yang sekarang semakin sixpack ya Rose" ledek Alvaro saat melihat Alina malah diam melongo.


Alina yang mendengar ledekan dari Alvaro jadi merasa di kerjain, sekarang ia tahu kalau dirinya sengaja di kerjai oleh Alvaro tadi. 


Lantaran merasa tidak terima Alina mendorong Alvaro dan memukul perut Alvaro dengan brutal namun tidaklah sangat keras.


"Ihh sebel aku sama kamu Al, nih rasain biar sakit beneran" ucap Alina dengan kesal, dengan terus memukul perut Alvaro dengan tangan kecilnya.


Alvaro yang melihat itu pun tertawa ngagak bahkan tanpa persiapan dirinya malah menarik Alina hingga mereka berdua berbaring di kasur dengan kondisi Alina yang berada di atas tubuh Alvaro dengan tanpa menghentikan gerakan brutal memukul Alvaro lantaran perasaan kesal terhadap Alvaro.


"Hahaha ampun Rose, lagi pula kamu polos banget sih nggak tau kalau aku kerjain, tapi masih nggak tau saja" ucap Alvaro di sela-sela tawanya tanpa merasa sakit sama sekali karena bagi dirinya pukulan Alina tidaklah seberapa.


"Ihhh marah aku sama kamu" ucap Alina yang semakin kesal dengan Alvaro tanpa menghentikan pukulanya.


Alvaro yang malah merasa geli saat Alina memukul pelan perutnya dengan segera ia gulingkan tubuhnya hingga Alina saat ini betda di bawah kukungan Alvaro.


"Rose" ucap Alvaro yang menjadi sangat serius.


"Hmm kenapa Al?" tanya Alina dengan sangat gugup bahkan secara refleks ia berhenti memukul Alvaro, ia sangat guguo dengan posisinya saat ini bahkan mata Aera saat ini bertatap-tatapan dengan bola mata tajam milik Alvaro.


"Jadi, apakah kamu juga masih mencintaiku Rose"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2