
Pagi ini aku berlarian mengejar bemo yang akan mengantarku ke sekolah. Ya, aku masih sekolah. Lebih tepatnya masih kelas VIII di SMP negeri di kotaku. Dengan berlari tergopoh-gopoh aku membawa keranjang yang berisi gorengan untuk aku jual dan biasa aku titipkan di kantin sekolah.
Aku masih muda, tapi aku tetap harus berusaha untuk bisa membantu ayah yang hanya jadi tukang ojek agar kehidupan kami dapat terpenuhi. Ibuku dulunya jadi buruh cuci, dan sekarang ibuku sudah tiada satu bulan lalu karena penyakit jantung.
Sebenarnya tanpa naik bemo aku bisa saja meminta ayah untuk mengantarku, tapi aku tidak tega membuat ayah harus memutari jalan yang jauh hanya untuk mengantarku setelah mengantar adikku yang berusia 9 tahun sekolah. Dan pada hari biasa pun aku menggunakan sepeda bekas yang sudah ayah belikan untuk aku gunakan pergi kemanapun, tapi sepeda itu kini rusak sebab bannya bocor dan aku belum punya uang yang cukup untuk menggantinya.
"sudah jam berapa ini, mengapa susah sekali mendapatkan bemo menuju ke sekolah", sambil ku lihat matahari yang mulai meninggi.
Aku terus menyusuri jalan berharap akan menemukan angkutan umum yang dapat mengantarku ke sekolah. Dan di ujung jalan, akhirnya aku melihat seorang tukang becak yang tengah bersantai menunggu penumpang. Aku pun melajukan langkah kakiku menuju becak itu berada.
"Maaf bapak, apakah bapak bisa mengantarkan saya ke SMPN 5?", tanyaku pada seorang pria paruh baya yang aku kira lebih tua dari ayah.
"oh, tentu neng. mari naik", dengan sorak bergembira di hati akupun menaiki becak itu
......♡♡♡......
Selama perjalanan aku sedikit berinteraksi dengan bapak yang mengantarku tadi, dan akhirnya aku sampai di sekolah tepat sebelum gerbang sekolah hampir di tutup. Aku segera membayar ongkos becak dan turun dengan berlari menuju gerbang sebelum benar-benar ditutup oleh satpam sekolah.
"Selamat pagi, Bung Tomo!", sapaku sambil nyengir tak merasa bersalah karena memanggil beliau begitu.
"Selamat Pagi, Neng Tika!. Tumben nggak bawa sepeda!?", tanya beliau dengan sedikit terkekeh karena panggilanku tadi.
__ADS_1
Oh iya, namaku Anne Rahmatika. Dan semua orang biasanya memanggilku Tika. Rahmatika itu gabungan nama ayah dan ibuku, Rahmat dan Ika.
"Sepedanya rusak, pak. Saya pergi dulu ya, takut telat", ucapku seraya berlari menuju arah kantin untuk menitipkan jualanku.
Sesampainya di kantin, aku segera menaruh gorengan seraya menyapa Bu Ida yang tengah membereskan jualannya.
"Selamat Pagi, Bu! saya titip gorengan, ya!? jumlahnya 60 biji", ucapku sambil tersenyum ke arah Bu Ida
"Selamat pagi, dek Tika! tumben agak telat", tanya Bu Ida yang membalas senyumku.
"ah, sepeda saya rusak bu, makanya tadi masih muter-muter nyari angkutan umum", kekehku
"wah, iya. Saya hampir lupa kalau hari ini jam nya Pak Sukri. Terima kasih, ya bu! saya permisi dulu", kemudian aku berlalu dari kantin
Aku memang sudah terbiasa menyapa semua orang yang aku temui di sekolah. Mereka sudah aku anggap seperti orang tuaku sendiri karena mereka begitu perhatian padaku yang notabenenya hanya siswi biasa. Aku bersyukur sekali bisa bertemu dengan orang-orang seperti itu.
...♡♡♡...
Kehidupan sekolahku tergolong normal. Itu sih menurutku, tapi tidak menurut teman-temanku. Ketika aku bercerita jika aku harus bangun jam 2 pagi dan mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu, memasak dan mencuci setiap hari, mereka seakan kaget. Ya, siapapun pasti akan kaget dengan kebiasaanku yang tergolong dewasa sekali daripada usiaku. Tidak apa-apa, ini semua sudah biasa ku lakukan untuk membantu ayah yang harus bekerja sepanjang siang.
Aku tergolong orang yang mudah bergaul dengan teman-teman. Mungkin ada beberapa orang yang tidak menyukaiku, tapi aku bisa apa ketika mereka mengatai aku sesuai dengan fakta yang ada pada diriku. Aku hanya tersenyum kecut ketika mendengar hinaan tentangku. Biarkan saja, pikirku.
__ADS_1
Semua pasti ada masanya, jadi aku hanya perlu berusaha menyelesaikan sekolah dengan baik dan kemudian mencari pekerjaan untuk membantu ayah. Itu tekadku. Sebenarnya bisa saja aku meminta uang untuk uang saku tiap hari pada ayah, tapi aku menolak dan mengatakan untuk menjadikan uang yang ayah hasilkan untuk modal jualan saja, sehingga kami bisa punya penghasilan tambahan.
Awalnya ayah tidak setuju jika aku harus berjualan, tapi aku keukeuh memaksa ayah untuk mengizinkanku. Akhirnya ayah setuju dengan syarat, aku tidak boleh kelelahan dan tidak mengabaikan tugas sekolahku. Akupun setuju. Sungguh semua ini tidak semudah yang aku bayangkan. Ketika pertama kali mencoba menjajakan gorengan yang aku buat di pinggir jalan pada orang yang lewat sepulang sekolah, orang-orang enggan dan walaupun ada yang membeli tetap saja modal yang aku gunakan tak menghasilkan sama sekali.
Hingga suatu saat aku tidak sengaja bertemu Bu Ida yang mau membantuku dengan membeli gorenganku kemudian beliau memintaku untuk membawanya ke sekolah saja. Aku senang sekali mendengarnya, dan semakin semangat untuk membantu perekonomian keluargaku.
...♡♡♡...
Kembali ke dunia sekolah, aku hanya remaja biasa yang menghabiskan waktunya untuk belajar dan bekerja. Nilai pendidikanku juga standar tapi cukup memuaskan untuk seorang anak yang menyibukkan diri untuk membantu perekonomian orang tua. Aku bisa bersekolah di sekolah ini pun berkat beasiswa yang aku dapat. Ujian masuk di sekolah ini cukup sulit, tapi syukurnya aku diterima di sekolah karena nilai ujianku cukup tinggi dan berada di deretan atas. Ini melegakan karena akan meringankan biaya pendidikanku yang akan ayah pikul.
Di kelas pun aku masuk 10 besar, mengingat nilaiku cukup tinggi di atas rata-rata. Tapi tetap saja tidak bisa dibandingkan dengan siswa-siswi lain yang telah mengikuti bimbel di luar jam sekolah. Aku tetap bersyukur karena aku memiliki daya saing yang cukup dengan keterbatasanku, dan semoga saja aku tetap bisa mempertahankannya demi membuat ayahku bangga.
Pelajaran hari ini cukup menguras otak karena aku perlu memikirkan teori-teori yang dijelaskan oleh guru. Aku lebih suka berhitung daripada harus menghafal teori. Bukannya aku benci, hanya saja otakku tidak cukup kuat untuk menghafal teori-teori yang ada. Seperti pagi ini yang dimulai dengan penjelasan Pak Sukri tentang sejarah. Ah, banyak sekali yang harus aku ingat tentang sejarah ini.
Waktu semakin berlalu dan istirahat sekolah pun tiba. Perutku terasa lapar dan uangku hanya tersisa untuk ongkos pulang nanti siang. Jika biasanya aku membawa sepeda, maka aku akan bisa membeli sesuatu untuk aku jadikan pengganjal lapar. Sedangkan hari ini aku harus pulang menggunakan angkutan umum untuk pulang. Aku bingung. Apakah aku harus membeli makanan dan pulang berjalan kaki atau menahan lapar dan pulang menggunakan angkutan umum?
Aku bisa saja meminta hasil penjualan gorengan hari ini lebih awal, tapi aku segan untuk menemui Bu Ida. Aku pun memilih untuk menyibukkan diri ke perpustakaan untuk belajar saja agar tidak mengingat rasa laparku. Aku berjalan sepanjang koridor sekolah, dan Brukk!
'Ah, sepertinya aku menabrak sesuatu!', batinku
...♡♡♡...
__ADS_1