
Pagi ini aku kembali disibukkan dengan aktivitas rumah. Aku bersyukur dengan kembalinya Ardi pulang ke rumah. Keadaannya juga berangsur pulih, tapi ayah belum mengizinkannya untuk sekolah sampai benar-benar sembuh.
Aku bangun lebih pagi karena harus melakukan pekerjaan rumah dan juga memasak untuk sarapan kami. Aku ingin Ardi makan teratur dan juga tepat waktu agar lekas pulih. Aku juga harus berangkat lebih pagi karena aku harus berangkat dengan berjalan kaki. Ini dikarenakan sepedaku sudah ayah jual untuk keperluan perawatan Ardi.
Mungkin harganya memang tidak seberapa karena sepedanya juga sudah usang, tapi hanya dengan cara itu aku bisa membantu ayah meringankan biaya yang harus dibayar. Aku rela berjalan kaki dari rumah asal kebutuhan kami tercukupi.
Jadilah sekarang aku menempuh sekitar 35 menit menuju sekolah dengan berjalan kaki. Jika pakai sepeda, biasanya aku menempuh waktu 15-20 menit. Keringat mulai bercucuran di dahi dan seragamku terasa lembab.
Sejak hari ini pula pembelajaran kembali normal karena ujian sekolah untuk kelas IX telah selesai. Sebenarnya aku tidak cukup nyaman dengan keadaan seragamku, tapi mau bagaimanapun ini sudah terlanjur begini. Biarkan saja, nanti juga kering sendiri.
Beruntungnya aku juga bisa lebih konsentrasi belajar hari ini karena tidak terlalu khawatir dengan kondisi Ardi lagi. Aku merasa hari ini merupakan hari keberuntunganku. Bukan tentang mendapat lotre atau hadiah apapun, tapi lebih ke semua keadaan membaik setelah kemalangan yang menimpaku kemarin.
Ini akan jadi hari yang menyenangkan dan pasti cepat berlalu. Jadi aku akan menikmati setiap waktuku dengan baik mulai detik ini. Benar kata pepatah, akan ada pelangi yang bersinar indah setelah badai menerjang.
...♡♡♡...
Waktu terus berlalu, dan aku kembali pada keseharian lamaku yang berjualan gorengan yang aku titipkan di kantin lagi. Tapi bedanya aku tetap harus berjalan kaki menuju sekolah karena aku belum bisa membeli sepeda lagi.
Kemarin kelas IX juga sudah disibukkan dengan rangkaian ujian nasional dan sekarang mereka telah libur dan menunggu pengumuman kelulusan. Hubungan pertemananku dan Kak Ryan tetap berlangsung, tapi sejak 2 minggu yang lalu aku tidak bertemu dengannya lagi.
Sepertinya dia sibuk belajar dan mempersiapkan diri untuk masuk SMA favorit. Padahal setahuku dia sangat pintar, tapi aku bisa berkomentar apa jika dia memang suka sekali belajar.
__ADS_1
Hubungan persahabatanku dengan Rita juga semakin dekat. Aku pernah bermain ke rumahnya, dan aku sangat takjub dengan rumahnya. Kamarnya saja hampir seluas 2 kamar kontrakanku, dengan cat krem dan abu membuat suasana kamar terasa hangat dan elegan. Sepertinya rumah ini salah satu desain Ayah Rita sendiri.
Aku benar-benar kagum dengan desain dan interior rumahnya. Tidak heran jika Ayah Rita sering mendapat projek besar di dalam ataupun luar kota. Hasil karyanya sangat indah dan pantas mendapat apresiasi.
Setiap hari aku bersama Rita entah ke kantin, perpustakaan dan juga ke kamar mandi. Rita selalu mengajakku ketika ingin ke kamar mandi. Aku tidak masalah jika diajak ke kantin atau perpus, tapi jika ke kamar mandi aku khawatir dianggap melakukan hal mesum karena ke sana berdua.
Rita bisa cuek begitu saja ketika mereka mengejek kami, sedangkan aku akan merasa risih. Aku ingin bersikap cuek juga, tapi nyatanya aku tetap kepikiran.
Mengingat kelas IX yang sudah libur, sepertinya kesempatanku untuk bertemu Kak Ryan juga sudah berakhir. Ada sedikit rasa sedih dan kehilangan karena tak bisa bertemu di sekolah lagi dengannya. Akupun hanya bisa berharap dia bisa meraih apa yang dia inginkan dan bisa mencapai cita-citanya meski aku tidak tahu pasti.
Aku pasti akan merindukan setiap bantuannya yang seperti superhero datang saat orang lain kesusahan. Begitulah karakter Kak Ryan yang terkenang olehku.
...♡♡♡...
Aku berharap bisa bertemu dengan Kak Ryan untuk sekedar mengucapkan selamat atas kelulusannya dan berterima kasih untuk bantuannya selama ini. Aku juga ingin memberikan semangat padanya agar lebih giat belajar untuk mencapai cita-citanya.
Rangkaian acara kami ikuti, dan aku lihat Rita mulai kelelahan karena sudah menghabiskan snacknya dan juga sedari tadi mengomel karena sambutan dari kepala sekolah yang cukup lama. Aku akui sempat mengantuk juga tadi, tapi melihat Rita yang kesal setengah mati sambil mengomel tidak jelas sedikit menghiburku dan menghilangkan kantukku.
Kini tiba pengumuman peraih nilai ujian nasional tertinggi di sekolah. Jantungku berdetak kencang menunggu satu nama yang akan dipanggil. Rasanya seperti aku sendiri yang ikut ujian.
Nama Kak Ryan keluar sebagai peraih nilai tertinggi ujian nasional di sekolah kami sekaligus tertinggi nomor 2 se kabupaten. Aku bertepuk tangan bangga dengan pencapaiannya, dan merasa beruntung memiliki teman yang pintar sepertinya namun dia tetap rendah hati dan dermawan.
__ADS_1
Rita tersentak kaget mendengar riuh tepuk tangan dan juga sorakan yang mengiringi langkah Kak Ryan menuju depan aula. Dia terlihat berkharisma dengan senyum yang merekah diikuti lesung pipinya yang menambah ketampanannya.
Aku tertawa melihat wajah Rita yang celingak-celinguk menahan kantuk dengan tepuk tangan yang bisa aku pastikan tidak dia pahami. Aku heran sekali dengan temanku ini. Dia seringkali mengeluh lapar dan setelah makan akan mengantuk seperti bayi. Kadang aku menjulukinya bayi besar karena dia mudah sekali mengantuk saat kenyang.
Perhatianku kembali teralih saat kepala sekolah dan Kak Ryan telah berdiri di depan dan mereka berjabat tangan kemudian mengalungkan medali pada Kak Ryan. Rita masih sibuk mengumpulkan nyawanya dengan mengucek matanya agar kesadarannya penuh.
Begitu sadar yang berada di depan sana adalah Kak Ryan, dia mulai bertepuk tangan dan berseru heboh. Aku sampai malu dipandangi teman-teman sekitar yang menatap agak aneh pada kami. Bagaimana tidak aneh, tadi dia sudah makan, mengomel, tidur, dan sekarang berjingkrak-jingkrak kesenangan.
Punya satu teman kelakuannya ajaib sekali. Padahal dia cantik, tapi kelakuannya bikin istighfar melulu. Tapi sisi inilah yang membuatku betah berteman dengannya. Setidaknya kelakuannya mampu menghiburku saat sedang sedih.
Dia tidak jaga image dan juga tidak membedakan aku dengan yang lain. Bahkan jauh lebih perhatian dan mempedulikan aku daripada lainnya. Dia yang punya segalanya tidak pernah menyombongkan apapun yang dimilikinya, dan selalu membagi yang dia punya padaku pertama kali sebelum yang lainnya.
Hal begini yang kadang membuatku insecure karena tidak bisa memberikan apapun padanya sebagai balasan dariku. Dia memang tidak meminta balasan apapun, tapi aku merasa tidak nyaman jika harus menjadi pihak yang selalu menerima.
...♡♡♡...
Haloooo, selamat datang di karya author!
Maaf jika masih banyak typo bertebaran dan alur yang agak monoton 🙏🏼
Author sedang mengusahakan yang terbaik untuk novel ini 🙂
__ADS_1
Dukung terus author dengan memberikan saran untuk kelanjutan kisah Tika dan Ryan yaa!? 😊🤗
Terima kasih 😊🙏🏼