
"Kenapa kakak tidak mencari pacar saja jika kakak kesepian di rumah?"
"Apa? Memangnya kamu mau jadi pacarku?"
Deg!
Ucapan Kak Ryan menyerangku telak. Aku jadi tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Dapat ku tangkap dari ekor mataku Kak Ryan sedang menatapku. Posisiku saat ini benar-benar terpojok karena pertanyaan konyolku.
Sebelum aku bisa membuka mulut, ayah pun tiba dan segera mengajakku pulang. Aku jadi bisa kabur dari situasi canggung ini. Aku sangat menyesal bertanya seperti ini pada Kak Ryan yang akhirnya menjadi bumerang untukku sendiri.
"Kak Ryan, aku pulang duluan, ya!?", aku segera berdiri dan berpamitan.
"Tentu, hati-hati di jalan, ya!? Salam juga untuk ayah", Kak Ryan mengerlingkan mata membuat bulu kudukku berdiri.
Aku segera berlari tanpa melihat tanggapan Kak Ryan selanjutnya kemudian naik ke atas motor ayah. Ayah melajukan motornya perlahan, aku pun menoleh pada Kak Ryan dan berharap Kak Ryan sudah pergi.
Tapi angan-anganku tidak terjadi. Kak Ryan tetap berada di posisinya seraya melambaikan tangannya padaku dan terkekeh. Aku lupa, Kak Ryan adalah tipe orang yang usil. Dan hari ini aku kembali dikerjai, aku membatin mengingat kelakuan Kak Ryan.
Jika dipikirkan ulang, sepertinya aku harus lebih hati-hati dan tidak terlalu terbawa perasaan saat Kak Ryan menggodaku seperti tadi. Dia hanya suka mengerjaiku dan membuatku kesal karena memang sifatnya yang jahil itu.
Hampir saja aku terbawa perasaan karena Kak Ryan spontan mengajakku pacaran dengannya. Aku harus lebih realistis menghadapi sikapnya dan juga harus sadar posisiku saat ini atau mungkin selamanya tidak pantas bersamanya.
Ya, aku harus membuat batas semacam itu agar bisa menepati janjiku pada Rita untuk tidak pacaran. Aku juga khawatir tidak fokus dengan prioritasku jika aku pacaran. Jadi aku harus membatasi diri untuk berinteraksi dengan lawan jenis.
...♡♡♡...
Seminggu sudah sejak Kak Ryan mengajakku pacaran. Setiap pulang sekolah aku selalu menghindar untuk bertemu dengannya, dan kadang jam istirahat juga. Tapi aku masih sering bertemu ketika aku pergi ke perpustakaan, kantin ataupun toilet siswa.
__ADS_1
Aku jadi jarang bertemu sepulang sekolah karena sekarang aku sudah menggunakan sepeda, sehingga tidak perlu menunggu ayah menjemputku lagi. Beberapa kali aku sempat berpapasan, dan setiap itu pula detak jantungku tidak normal.
Aku sangat canggung bertemu dengannya, sedangkan Kak Ryan tetap bersikap jahil seperti biasanya. Aku berpikir akan biasa saja jika aku tak bertemu sama sekali dengannya, tapi entah kenapa rasanya aku kehilangan sesuatu di hidupku.
Mungkin karena aku terbiasa dijahili olehnya dan sering kali merasa kesal, dan sekarang tidak ada seseorang yang menjahiliku lagi. Ada rasa lega dan sesak yang datang bersamaan jika aku mengingat Kak Ryan. Namun sebisa mungkin aku menepis segala kemungkinan dan selalu berpikir logis.
Aku tidak ingin terlalu berekspektasi pada orang lain dan kecewa karena ekspektasiku sendiri. Aku teringat pesan ayah ketika aku merasa sedih karena jualan tidak laku di awal aku mencoba usaha.
"N**duk, kalau kamu tidak ingin kecewa dan bersedih, jangan berekspektasi apapun pada orang lain. Berusahalah sebisa mungkin untuk menjadikan dirimu sendiri versi terbaik tanpa menginginkan balasan", nasehat ayah.
"Ekspektasi itu apa, yah?", aku menatap ayah meminta penjelasan untuk kata yang telah ayah ucapkan tadi.
"Ekspektasi itu semacam harapan atau anggapanmu pada orang lain, nduk. Contohnya, ayah menolong tetangga dengan harapan mereka juga akan membalas untuk membantu keluarga kita, jika kita sedang kesusahan", ayah menjelaskan dengan pelan agar aku paham.
"Iya kalau mereka mampu membantu. Kalau ternyata mereka tidak mampu, kita akan kecewa karena berharap mengharap balasan dari bantuan kita sebelumnya. Bantulah orang lain, bertemanlah dan bersikaplah dengan baik pada orang lain tanpa memikirkan balasan apa yang ingin kamu dapatkan dari mereka", begitulah wejangan ayah yang begitu aku ingat.
Aku mengangguk paham dan berusaha untuk terus mengingatnya. Dan saat ini nasehat ayah benar-benar baru aku ketahui maknanya. Aku berusaha mencontoh ayah yang senantiasa membantu orang lain sebisa mungkin dan mencoba untuk tidak mengharap balasan.
Aku dengar kelas IX juga sudah memasuki masa-masa hampir ujian. Jadi aku tidak terlalu khawatir akan bertemu dengan Kak Ryan, karena dia pasti disibukkan dengan belajar dan juga persiapan lainnya untuk memilih sekolah yang sebagai tujuan mengenyam pendidikan selanjutnya.
Dengan kesibukannya, aku dapat menghindar tanpa Kak Ryan sadari dan aku akan membiasakan diri untuk tidak memikirkannya lagi. Aku yakin ini adalah keputusan yang tepat dengan tidak bertemu lagi dengan Kak Ryan.
Aku juga harus belajar dengan sungguh-sungguh agar nilaiku bisa naik dan tetap mendapatkan beasiswa untuk mengurangi beban biaya pendidikanku yang harus ayah tanggung. Aku tidak ingin ayah bekerja terlalu keras untuk memenuhi seluruh kebutuhan kami dengan meminimalisirnya lewat beasiswa yang aku dapatkan ini.
...♡♡♡...
Besok kelas IX mulai ujian try out, jadi pelajaran kelas VII dan VIII akan sedikit longgar karena guru-guru akan sibuk mengawasi kelas IX. Seperti saat ini, kelasku tengah jam kosong karena guru mata pelajaran fisika kami sedang mempersiapkan ujian kelas IX besok.
__ADS_1
Seisi kelas ramai karena seluruh teman kelasku bergurau dengan temannya masing-masing. Aku ingin belajar, tapi Rita mengajakku ke toilet. Dia memang agak manja, mau ke toilet saja harus aku temani.
Aku dan Rita meminta izin pada Jordan terlebih dahulu sebelum benar-benar keluar dari kelas. Awalnya Rita tidak mau izin dan akan pergi begitu saja. Tapi aku ngotot untuk izin terlebih dahulu agar tidak dibilang bolos, meski hari ini tidak ada jam pelajaran.
Kemudian Rita segera menarikku karena terburu-buru ingin pergi ke toilet. Sesampainya di toilet, aku menunggu di depan toilet sembari membaca buku yang aku bawa dari kelas. Tiba-tiba saja Rita memanggilku dari dalam.
"Tikaa!", Rita sedikit berteriak, mungkin khawatir aku tidak mendengarnya.
"Iya, Rit? Ada apa?", aku mengetuk pintu toilet untuk memberikan tanda aku mendengarkannya.
"Aku boleh minta tolong, ngga!?", Rita membuka setengah pintu kamar mandi sambil menjulurkan kepalanya melalui celah pintu.
"Boleh. Kamu mau minta tolong apa?", aku menyanggupi permintaannya.
"Tolong ambilin tasku dong", Rita menunjukkan keraguan dengan raut wajah kebingungan.
"Kenapa harus ngambil tas Rit? Ada yang ketinggalan!?", tanyaku lagi.
Rita melambaikan tangannya padaku, mengisyaratkan aku untuk mendekat padanya. Saat aku mendekat, Rita mendekatkan tangannya ke telingaku kemudian berbisik.
"Aku lagi dapet"
...♡♡♡...
Halooo, selamat datang di karya perdana author!
Klik favorit, like dan beri komentar untuk mendukung author ya!?
__ADS_1
Saran reader sekalian juga dapat membantu untuk membuat kisah Tika dan Ryan lebih baik ke depannya 🥰
Terima kasih 🙏🏼