Since I Meet You

Since I Meet You
Diantar pulang


__ADS_3

"Membantumu? lagi?", Rita membeo sambil melirikku dan Kak Ryan bergantian dengan seringainya.


Aku hanya menatap Rita aneh dan Kak Ryan hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, tapi dengan melihat seringainya aku menebak bukanlah hal bagus.


"Baiklah, ayo kita pulang!", Rita menarik tanganku.


"Kak, kita pulang duluan, ya!? Sekali lagi makasih", aku menahan tangan Rita sebelum beranjak pulang.


"Iya, hati-hati di jalan", mengingat Kak Ryan sudah tahu bahwa aku pulang sekolah dengan sepeda.


"Ayo!", aku mengangguk sambil menggandeng lengan Rita.


...♡♡♡...


Aku baru sampai di gerbang bersama Rita setelah mengambil sepedaku di parkiran. Rita melambaikan tangannya pada seorang perempuan yang kira-kira berusia 45 tahunan dengan gaya baju yang cukup modis.


Sepertinya itu Mama Rita yang sering Rita ceritakan. Aku memang baru bertemu dengan Mama Rita sekarang karena sebelumnya aku sering pulang paling akhir dan sering menolak saat Rita mengajakku main ke rumahnya pada hari minggu.


Mama Rita segera menghampiri kami dan menyapa kami.


"Halo sayang!", aku lihat Mama Rita mengelus kepala dan pipi Rita.


"Hai, Ma! Mama udah nungguin Rita dari tadi!?", tanya Rita sambil mendongak.


"Nggak kok, mama baru aja nyampek. Tumben kamu nggak nunggu mama di luar, lagi ada tugas ya!?", pikiran Mama Rita benar-benar positif.


"Nggak kok, ma. Hari ini Rita nggak ikut pelajaran, perut Rita kram. Untung ada Tika yang ngebantuin Rita", Rita menjelaskan sambil menatapku.


"Ya ampun kasihannya anak mama. Jadi, ini yang namanya Tika? Rita sering loh ceritain kamu", Mama Rita mengelus wajahku dengan lembut, mengingatkanku pada ibu.


"Eh iya, tante. Nama saya Tika", aku memperkenalkan diri.


"Nama mama, Clarissa. Kamu boleh panggil mama atau Mama Risa saja", pantas saja Rita mudah bergaul, ternyata turunan dari mamanya.


"Baik, tante", ucapku paham.

__ADS_1


"No, tante. Panggil mama aja", aku melirik Rita.


"Nggak apa-apa Tik, semua temen yang aku kenalin ke mama juga gitu", Rita menjelaskan.


"B-baik, ma", aku canggung untuk mengucapkannya.


"Good girl. Ayo kamu pulang sama kami biar mama antar ke rumahmu", Mama Rita tersenyum mengajakku pulang bersama.


"Ng-nggak usah, ma. Tika pulang pake sepeda aja", tolakku sambil menoleh ke arah sepeda yang aku pegang.


"Ayolah! Biar Rita dan mama tahu rumah kamu, katanya Rita dia belum tahu rumahmu", sepertinya Rita sering bercerita dengan mamanya dan mamanya tidak melupakan detail apapun tentang ceritanya.


"Tapi ma, nanti sepeda Tika mau ditaruh mana? Besok kan Tika harus berangkat pake sepeda", aku beralasan agar mereka tidak jadi ke rumah karena aku malu untuk menunjukkannya.


"Nanti minta tolong pak satpam biar sepedamu taruh di atas mobil atau mungkin nanti bisa dimasukkan ke dalam kalau muat", bujuk Mama Risa.


Aku masih ragu untuk berkata iya karena aku khawatir mobilnya akan lecet jika sepedaku ikut dinaikkan ke mobil Mama Risa.


"Kamu pasti khawatir mobil kami lecet, ya!? Coba lihat dulu", Mama Risa meyakinkan sambil menunjuk sebuah mobil Ford Ranger berwarna silver.



"Sudahlah, jangan banyak berpikir. Kebetulan mama sedang membawa mobil itu karena mama mau belanja kebutuhan butik dan rumah nanti setelah jemput Rita", Mama Risa tetap membujukku untuk ikut.


"Ayolah Tik! Sekali ini aja, aku pengen tahu rumah kamu biar aku ngga bingung lagi kayak kemaren pas kamu sakit", Rita tak kalah ngotot ingin mengantarku.


"Baiklah kalau begitu", aku menyetujui untuk pulang bersama dan diantar oleh Mama Risa dan Rita.


Rita berseru senang setelah sekian lama aku menghindar ketika dia mengatakan ingin mengantarku atau bermain ke rumahku. Aku bukannya tidak ingin mengajak Rita ke rumah, aku hanya malu mengingat kondisi rumahku yang berbanding terbalik dengan rumah Rita.


Mama Risa meminta tolong kepada Pak Tomo untuk mengangkat sepedaku kemudian meletakkannya di atas mobilnya. Sebelum pergi, aku lihat Mama Risa menyodorkan uang kepada Pak Tomo sebagai bentuk ucapan terima kasihnya karena telah bersedia membantu. Pak Tomo sedikit membungkuk dan berterima kasih kepada Mama Risa kemudian tersenyum ke arahku dan Rita.


Kami pun meninggalkan sekolah. Selama perjalanan, Mama Risa banyak bertanya tentang keluargaku dan sekolahku. Beliau sangat perhatian seperti menganggapku anaknya juga. Aku jadi terharu karena merasa ibu sedang bersamaku.


Tiba-tiba saja Mama Risa berhenti di pinggir jalan dan keluar dari mobil. Aku pikir mobilnya bermasalah, ternyata beliau membeli sesuatu di warung yang dibungkus dengan kantung plastik hitam dan membawanya ke dalam mobil.

__ADS_1


Kami melanjutkan perjalanan dengan hening, dan rumahku sudah hampir sampai. Aku menginstruksikan untuk membelokkan mobil Mama Risa ke arah gang rumahku, dan beliau pun mengangguk paham.


Sesampainya di depan rumah, Mama Risa memarkirkan mobilnya di pinggir jalan karena tidak ada lapangan atau lahan kosong di sekitar rumahku dan hanya di penuhi deretan rumah kontrakan di kanan kiri jalan.


Mama Risa menurunkan sepedaku lebih dahulu sebelum kami masuk ke rumah. Aku juga ikut membantu agar Mama Risa tidak kesulitan, kemudian kami masuk ke rumahku.


"Adek, kakak pulang!", aku naikkan suaraku memanggil Ardi.


"Silakan masuk, Ma, Rit! Ini rumahku", ucapku mempersilakan Mama Risa dan Rita masuk ke rumah dengan senyum canggung.


"Kamu tinggal di sini Tik?", tanya Rita.


"Iya Rit, maaf ya rumahku berantakan gini", aku malu dengan keadaan rumahku yang sedikit acak-acakan dan beberapa barang tidak tersimpan rapi.


"Nggak apa-apa, sayang. Ini bahkan lebih rapi daripada kamar anak bujang mama", Mama Risa merendah diri.


"Iya, ya ma. Kamar Mas Riko lebih berantakan, udah kayak kapal pecah", Rita membuka tangannya seakan memperlihatkan betapa berantakan kamar kakaknya.


"Duduk dulu ma, Tika mau ganti baju dulu", aku meminta mereka untuk duduk kemudian aku berlalu menuju dapur untuk membuatkan teh hangat.


Aku mengambil baju ganti dari kamar dan membawanya ke dapur untuk berganti di kamar mandi sambil aku menghidupkan tungku menanak air. Aku tidak tahu apa yang akan dipikirkan oleh Mama Risa dan Rita melihat keadaan rumahku.


Saat aku sedang menuangkan gula ke dalam gelas dan hendak memeriksa air di atas tungku, Mama Risa tiba-tiba masuk ke dapur menghampiriku tanpa aku sadari.


"Tika, apa yang kamu lakukan, nak!?", beliau memergokiku yang hampir duduk di depan tungku untuk melihat air di dalam panci.


...♡♡♡...


Halooo, selamat datang di karya perdana author!


Klik favorit, like dan beri komentar untuk mendukung author ya!?


Maaf bila terdapat banyak typo dan tanda baca yang keliru 🙏🏼


Saran reader sekalian juga dapat membantu untuk membuat kisah Tika dan Ryan lebih baik ke depannya 🥰

__ADS_1


Terima kasih 🙏🏼


__ADS_2