Since I Meet You

Since I Meet You
Bolos


__ADS_3

Tess!. Butiran air jatuh dari pelupuk mataku tanpa aku sadari.


"Kak, kenapa menangis? Sakit ya!?", Ardi menatapku


"Nggak dek, kakak bahagia sekali punya adek yang sayang banget sama kakak", aku mengatakannya tulus.


"Ardi akan selalu sayang sama kakak. Apapun yang terjadi, kakak tetap akan menjadi orang yang paling Ardi sayang", kulihat matanya begitu berbinar saat mengucapkannya.


"Kakak juga. Kakak akan tetap menyayangi adek, meski suatu saat kakak harus jauh dari adek", aku mencoba menggodanya.


"Kakak mau ninggalin adek? kok kakak bilang gitu", raut mukanya langsung berubah sendu saat mendengar ucapanku.


"Kakak nggak bakal ninggalin adek, kok. Tapi kan mungkin saja kalau suatu saat kakak bekerja dan harus jauh dari adek", sambil tersenyum aku menjelaskan.


"Adek nggak mau jauh dari kakak, kakak harus selalu nemenin adek. Dan suatu saat adek ingin kakak yang pertama melihat adek sukses", Ardi memelukku penuh sayang.


"Itu pasti. Kakak pasti jadi orang pertama yang akan melihat adek sukses. Sekarang tugas adek cuma belajar agar suatu saat keinginan adek tercapai", aku membalas pelukannya.


Waktu berlalu, dan ayah pun tiba dengan membawa 2 bungkus nasi yang ayah janjikan tadi. Tak luput pula dari pandanganku, ayah membeli beras dan juga bahan makanan lainnya yang biasa aku beli. Ardi menyambut ayah dengan memeluknya.


"Ayah, kakak bilang, suatu saat kakak akan pergi jauh meninggalkan kita", Ardi mengadukan ucapanku tadi.


"Apa? Kemana?", seketika ayah kaget mendengarnya kemudian mengalihkan pandangannya padaku.


Aku hanya terkekeh. Padahal aku hanya berniat menggoda adikku, tapi justru ditanggapi serius olehnya.


"Tidak, ayah. Tika hanya menggoda Adek saja tadi", tuturku diikuti kekehan.


"Hah.. Ayah kira serius. Hampir saja ayah jantungan", ayah menghela nafas lega.


"hehe.. Mana mungkin Tika tega meninggalkan ayah dan adek. Hanya kalian yang Tika punya, jadi tidak mungkin Tika pergi", elakku tulus.


"Syukurlah kalau begitu. Sekarang ayo kita makan!", seru ayah.

__ADS_1


"Yeay, akhirnya kita makan", Ardi kegirangan.


Hatiku menghangat merasakan moment ini, dan sangat bersyukur karena mendapat keluarga yang begitu menyayangiku. Aku berharap moment ini tidak segera berakhir. Bahkan jika waktu bisa ku hentikan, aku ingin waktu hanya berhenti saat ini saja. Aku tidak rela moment bahagia kami segera berlalu.


Ayah mulai membuka bungkusan nasi dan menyatukannya menjadi satu, sehingga kami seakan makan 1 bungkus nasi bertiga. Kami mulai makan dengan berdoa lebih dulu dan makan dengan mendengar sedikit cerita keseharian Ardi. Aku dan ayah yang hanya mendengarkan, kadang dibuat tertawa oleh cerita Ardi dengan teman-temannya.


Moment makan bersama memang menjadi moment kami untuk saling mengeratkan hubungan dengan menceritakan hal-hal sederhana tentang dunia masing-masing. Jadi, lambat laun aku mengerti tentang hal-hal yang kemungkinan dirasakan oleh ayah dan Ardi.


Seperti saat Ardi menceritakan bahwa salah satu temannya dibelikan sepatu dan tas baru untuk sekolah, aku mengerti bahwa adikku juga menginginkan hal tersebut karena tas dan sepatu miliknya mulai rusak. Jadi, aku berinisiatif untuk menyimpan uang saku dan penghasilan jualanku untuk membelikan adikku sepatu dan tas baru meski dengan waktu yang cukup lama. Betapa senangnya Ardi saat menerimanya, dan aku bahagia melihatnya tersenyum begitu merekah.


...♡♡♡...


Waktu terus berganti hingga esok paginya. Hari ini aku terpaksa tidak masuk sekolah karena keadaanku benar-benar tidak baik. Sejak sampai di rumah setelah terserempet motor itu, badanku terasa remuk dan hari ini benar-benar makin terasa. Kakiku yang bengkak sejak kemarin pun tak bisa aku gerakkan, benar-benar menyakitkan sekaligus merepotkan.


Aku katakan demikian karena aku kesakitan secara fisik dan batin. Batinku sakit melihat ayah harus pontang-panting bangun lebih pagi untuk mengerjakan segala hal yang biasanya ku kerjakan sendiri. Aku tidak tega melihatnya. Aku ingin segera sembuh agar ayah tidak mengerjakan hal tersebut sendirian.


Saat ayah dan Ardi telah berangkat, aku benar-benar kesepian di rumah. Ini alasan lain yang membuatku tidak ingin bolos sekolah. Aku jadi tidak punya kegiatan apapun, dan aku memutuskan untuk masuk sekolah besok. Tak lupa aku telah menulis surat izin dan memberikannya pada ayah agar dititipkan di pos satpam, kemudian berharap Bung Tomo yang aku kenal akan menyerahkannya pada ketua kelas dan absenku tidak bermasalah.


Mataku menangkap segulung benang wol yang dulu pernah aku beli untuk keperluan praktek kerajinan tangan sekolah. Aku pun teringat bahwa aku juga pernah membeli jarum rajutnya. Aku beringsut menggeser tubuhku menuju ujung tempat tidur untuk memudahkanku meraih benang tersebut.


Setelah ku dapatkan, aku mengambil kotak pensil dan mengambil jarum rajutnya karena sudah ku simpan di sana sejak terakhir kali aku gunakan. Aku mulai merajut dengan perlahan agar pekerjaan ini tidak cepat selesai dan aku akan kembali kebosanan.


Waktu berlalu, hingga tanpa terasa waktu telah menunjukkan jam 11.30 WIB dan terdengar suara motor dari arah luar yang menandakan bahwa adikku telah pulang sekolah bersama ayah. Mereka masuk dan melihatku sedang terduduk dengan rajutan hiasan yang sudah hampir selesai.


"Ardi pul**ang, kakak! Apa yang sedang kakak lakukan?," Ardi kemudian masuk ke kamarku kemudian memelukku.


"Oh, adik kakak tersayang sudah pulang", aku membalas pelukannya. "Ini, kakak sedang membuat taplak meja kecil", lanjutku.


"Wah, bagus sekali. Kakak memang terbaik dalam segala hal", Ardi memujiku dengan sorot mata berbinar.


"Ayah kemana, dek?", aku bertanya karena ayah tidak menemuiku.


"Sepertinya di dapur, tadi ayah bilang akan memasak untuk makan siang kita", Ardi menjawabnya sedikit ragu.

__ADS_1


Aku terenyuh dan sedih. Padahal ayah baru saja pulang kerja dan menjemput Ardi, sekarang ayah masih harus memasak untuk makan siang kami. Aku pun beranjak dengan kaki tertatih.


"Kakak mau kemana?", Ardi kaget melihatku bangun.


"Kakak akan ke dapur untuk membantu ayah, sebaiknya adek mandi dan berganti pakaian dulu agar lebih segar", aku menoleh Ardi yang masih berseragam lengkap.


"Baiklah, Ardi akan mandi dan ganti baju. Tapi sebelum itu, Ardi ingin mengantar kakak ke dapur dan memastikan kakak baik-baik saja", bocah itu beranjak dan memegang lenganku untuk membantuku berjalan.


Aku terkekeh mendengarnya. Ardi mulai menuntunku keluar kamar menuju dapur yang berada di belakang rumah. Dengan terseok-seok aku berjalan perlahan dan sampailah kami di dapur.


Aku lihat ayah tengah duduk di atas sebuah balok kayu yang biasa aku gunakan sebagai kursi selagi menunggu makanannya matang di depan tungku. Ayah yang menyadari kedatanganku dan Ardi segera menoleh.


"Kenapa kalian kemari? Sebentar lagi nasi dan lauknya akan segera matang", ucap ayah seraya bangkit dari posisinya.


"Tidak apa-apa yah, Tika hanya ingin menemui ayah", jawabku.


"Ada apa, nduk? Apa putri ayah ingin mengatakan sesuatu?", tanya ayah lagi.


"Iya, Tika ingin mengatakan sesuatu", aku tidak yakin akan mengatakan apa.


"Baiklah, tunggu di depan, ya!? Masakannya sebentar lagi matang, kemudian kita makan bersama-sama. Ayah akan antar kakak ke depan dulu sambil menunggu, dan adek mandi dan ganti baju dulu, ya!? Kita bicara setelah makan", ayah memberikan pengertian.


"Baik, yah", aku dan Ardi menjawabnya serempak.


...♡♡♡...


Kami makan dengan tenang, ditambah dengan sedikit cerita Ardi tentang sekolahnya. Kami selalu menikmati moment seperti ini, karena kami merasa jauh lebih dekat daripada moment lainnya.


"Ayah..", dengan suara lirih aku memecah suasana saat acara makan kami selesai.


"Iya, ada apa, nduk?", ayah mengalihkan pandangannya padaku.


...♡♡♡...

__ADS_1


__ADS_2